{"id":42412,"date":"2020-12-09T09:27:03","date_gmt":"2020-12-09T02:27:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42412"},"modified":"2020-11-15T09:34:33","modified_gmt":"2020-11-15T02:34:33","slug":"apakah-dosa-kelalaian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-dosa-kelalaian\/","title":{"rendered":"Apakah dosa kelalaian?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Yakobus 4:17 menyatakan, &quot;Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.&quot; Dosa kelalaian terjadi ketika kita tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita perbuat menurut ajaran Firman Allah. Ungkapan ini seringkali dibandingkan dengan &quot;dosa perbuatan,&quot; atau tindakan berdosa yang dilakukan seseorang. Paulus membandingkan kedua konsep ini dalam Roma 7:14-20. Ia bergumul dengan kecenderungannya terhadap kedua jenis dosa tersebut. Ia melakukan hal yang tidak ia inginkan dan yang ia ketahui salah \u2014 dosa perbuatan \u2014 dan ia tidak melakukan hal yang ia ketahui benar dan yang ingin ia lakukan \u2014 dosa kelalaian. Dari perikop itu kita memperoleh gambaran konflik antara khodrat baru dengan kedagingan yang didiaminya. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus memberi sebuah contoh dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik. Setelah seseorang dihajar dan ditinggalkan, kedua orang pertama yang lewat \u2014 seorang imam dan seorang Lewi, yang tahu seharusnya membantu \u2014 gagal bertindak. Orang ketiga, seorang Samaria, berhenti dan menunjukkan belas kasihan kepada korban kekerasan itu (Lukas 10:30-37). Yesus menggunakan contoh ini untuk mengajar bahwa kita perlu membantu mereka yang berkebutuhan. Dengan demikian, secara jelas Ia menyampaikan bahwa menghindari perbuatan baik adalah dosa, sama-halnya dengan berbuat kejahatan. Yesus kemudian menekankan dosa kelalaian dalam Matius 25:31-46. Para kambing, mereka yang diusir oleh Kristus, adalah mereka yang melihat adanya orang lapar dan haus, tetapi tidak menyediakan makanan dan minuman bagi mereka. Mereka mengamati adanya orang yang butuh pakaian, yang sakit dan dipenjara namun tidak menyumbang sandang ataupun melegakan mereka. Semua ini adalah contoh dosa kelalaian. Mereka tidak melakukan perbuatan jahat kepada orang-orang ini \u2014 mereka tidak merampas baju atau memenjarakan orang-orang ini. Akan tetapi dosa kelalaian terjadi ketika mereka yang dapat menolong memilih untuk tidak menolong. Pada akhirnya, rasul Paulus memberi sebuah ajaran yang merangkum mengapa kita tidak boleh lalai berbuat baik: &quot;Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah&quot; (Galatia 6:9). Ketika kita melakukan kehendak Bapa Surgawi kita (Matius 12:50), kita terhindar dari dosa kelalaian dan hidup kita menjadi bermanfaat dan berbuah bagi kemuliaan Allah (Roma 12:1-2; Yohanes 15:1-11). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Yakobus 4:17 menyatakan, &#8220;Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.&#8221; Dosa kelalaian terjadi ketika kita <i>tidak<\/i> melakukan sesuatu yang seharusnya kita perbuat menurut ajaran Firman Allah. Ungkapan ini seringkali dibandingkan dengan &#8220;dosa perbuatan,&#8221; atau tindakan berdosa yang dilakukan seseorang. Paulus membandingkan kedua konsep ini dalam Roma 7:14-20. Ia bergumul dengan kecenderungannya terhadap kedua jenis dosa tersebut. Ia melakukan hal yang tidak ia inginkan dan yang ia ketahui salah \u2014 dosa perbuatan \u2014 dan ia tidak melakukan hal yang ia ketahui benar dan yang ingin ia lakukan \u2014 dosa kelalaian. Dari perikop itu kita memperoleh gambaran konflik antara khodrat baru dengan kedagingan yang didiaminya.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Di dalam Perjanjian Baru, Yesus memberi sebuah contoh dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik. Setelah seseorang dihajar dan ditinggalkan, kedua orang pertama yang lewat \u2014 seorang imam dan seorang Lewi, yang tahu seharusnya membantu \u2014 gagal bertindak. Orang ketiga, seorang Samaria, berhenti dan menunjukkan belas kasihan kepada korban kekerasan itu (Lukas 10:30-37). Yesus menggunakan contoh ini untuk mengajar bahwa kita perlu membantu mereka yang berkebutuhan. Dengan demikian, secara jelas Ia menyampaikan bahwa menghindari perbuatan baik adalah dosa, sama-halnya dengan berbuat kejahatan.<\/p>\n<p>Yesus kemudian menekankan dosa kelalaian dalam Matius 25:31-46. Para kambing, mereka yang diusir oleh Kristus, adalah mereka yang melihat adanya orang lapar dan haus, tetapi tidak menyediakan makanan dan minuman bagi mereka. Mereka mengamati adanya orang yang butuh pakaian, yang sakit dan dipenjara namun tidak menyumbang sandang ataupun melegakan mereka. Semua ini adalah contoh dosa kelalaian. Mereka tidak melakukan perbuatan jahat kepada orang-orang ini \u2014 mereka tidak merampas baju atau memenjarakan orang-orang ini. Akan tetapi dosa kelalaian terjadi ketika mereka yang <i>dapat<\/i> menolong memilih untuk tidak menolong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, rasul Paulus memberi sebuah ajaran yang merangkum mengapa kita tidak boleh lalai berbuat baik: &#8220;Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah&#8221; (Galatia 6:9). Ketika kita melakukan kehendak Bapa Surgawi kita (Matius 12:50), kita terhindar dari dosa kelalaian dan hidup kita menjadi bermanfaat dan berbuah bagi kemuliaan Allah (Roma 12:1-2; Yohanes 15:1-11). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Yakobus 4:17 menyatakan, &#8220;Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.&#8221; Dosa kelalaian terjadi ketika kita tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita perbuat menurut ajaran Firman Allah. Ungkapan ini seringkali dibandingkan dengan &#8220;dosa perbuatan,&#8221; atau tindakan berdosa yang dilakukan seseorang. Paulus membandingkan kedua konsep ini dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[8,122],"class_list":["post-42412","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-dosa","tag-eskatologi"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1854","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42412","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42412"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42412\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42412"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42412"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42412"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}