{"id":42421,"date":"2020-12-22T09:27:03","date_gmt":"2020-12-22T02:27:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42421"},"modified":"2020-11-15T10:26:34","modified_gmt":"2020-11-15T03:26:34","slug":"apakah-konsekuensi-dari-dosa-yang-belum-diakui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-konsekuensi-dari-dosa-yang-belum-diakui\/","title":{"rendered":"Apakah konsekuensi dari dosa yang belum diakui?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Satu Yohanes 1:9 mengajar, &quot;Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.&quot; Ayat ini dituliskan bagi umat Kristen dan bertumpu pada kata jika. Allah menawarkan pengampunan bagi tiap dosa yang dilakukan para anak-anakNya JIKA kita mengakuinya kepada-Nya. Kata mengaku berarti kita sedang setuju dengan Allah dengan kekejian dosa kita. Pertobatan, atau berpaling dari dosa, adalah bagian dari pengakuan ini. Mereka yang belum diampuni melalui darah Yesus, setiap dosa dianggap belum diakui dan belum diampuni. Hukuman kekal menanti mereka yang menolak bertobat atas dosa mereka dan menerima pengurbanan Yesus (2 Tesalonika 1:8-9; Yohanes 3:15-18). Akan tetapi, bagaimana kasusnya jika seorang Kristen mempunyai dosa yang belum diakui? Menurut Alkitab, semua hutang hukuman dosa kita dilunasi ketika kita menerima pengurbanan Yesus bagi pihak kita. Dua Korintus 5:21 mengajar, &quot;Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.&quot; Ketika kita menerima pertukaran ilahi pada salib Kristus, Allah memilih untuk melihat kita dengan lensa kebenaran Anak-Nya. Bukan lagi kebenaran kita melainkan kebenaran Kristus-lah yang Ia amati (Titus 3:5). Ia menukarkan rekor kita yang penuh kegagalan dengan rekor-Nya yang sempurna. Sejak itu, kita mendapatkan penerimaan penuh dari Allah. Namun apa yang terjadi ketika kita berdosa setelah menerima rekor-Nya yang sermpurna? Bayangkan Anda sedang berdiri di depan jendela yang menghadap ke selatan pada suatu hari di musim salju. Udaranya dingin, namun cahaya sinar matahari itu masuk ke jendela dan menghangatkan Anda. Kemudian Anda menutup gorden. Secara langsung, kehangatan itu terhenti. Apakah itu dikarenakan matahari berhenti memancarkan sinarnya? Tidak, hal itu dikarenakan sesuatu telah menghalangi cahaya matahari dan Anda. Ketika Anda membuka gorden itu, matahari akan menghangatkan Anda lagi. Semuanya tergantung Anda. Penghalang itu berada di dalam rumah, bukan dari luar. Dosa yang tidak diakui berfungsi seperti gorden itu. Allah berkenan pada anak-anakNya (Mazmur 37:23; Roma 8:38-39). Ia ingin memberkati kita, bersekutu dengan kita, dan mencurahkan persetujuan-Nya pada kehidupan kita (Mazmur 84:11, 115:13; 1 Samuel 2:30). Ia ingin supaya kita menikmati hangatnya senyuman-Nya. Namun ketika kita memilih untuk berdosa, kita sedang menghalangi hubungan kita dengan Bapa yang kudus. Kita menutup gorden pada persekutuan dengan-Nya dan mulai merasakan kesepian secara rohani. Seringkali, kita marah karena merasa Allah telah meninggalkan kita, padahal, sebenarnya kita yang telah meninggalkan Dia. Ketika kita bersikeras tidak bertobat, kita akan di disiplin oleh Bapa surgawi kita (Ibrani 12:7-11). Disiplin Tuhan juga tidak main-main, bahkan dapat merenggut nyawa jika sebuah hati sudah terlewat keras (1 Korintus 11:30; 1 Yohanes 5:16). Allah lebih menghendaki persekutuan dengan kita yang terpulihkan, daripada kita (Yesaya 65:2, 66:13; Matius 23:37; Yoel 2:12-13). Ia mengejar kita, mendisiplin kita, dan mengasihi kita walaupun kita tengah berada dalam dosa (Roma 5:8). Namun Ia memberi kita kehendak bebas. Kita perlu membuka gorden itu dengan mengakui dosa dan bertobat. Jika, sebagai anak-anak Allah, kita memilih untuk bertahan dalam dosa, maka kita memilih akibat dari pilihan itu. Persekutuan yang putus dan tiadanya pertumbuhan akan muncul. Akan tetapi, mereka yang terus berlanjut berdosa perlu mengkaji ulang hubungan mereka dengan Allah (2 Korintus 13:5). Alkitab sudah begitu jelas mengajar bahwa mereka yang mengenal Allah, tidak akan berlanjut dalam gaya hidup berdosa yang tidak dipertobatkan (1 Yohanes 2:3-6, 3:7-10). Sebuah kerinduan untuk hidup kudus adalah citra dari mereka yang mengenal Allah. Mengenal Allah adalah sama dengan mengasihi-Nya (Matius 22:37-38). Mengasihi-Nya adalah sama dengan ingin menyenangkan-Nya (Yohanes 14:15). Dosa yang tidak diakui dan dipertobatkan menggagalkan upaya kita untuk menyenangkan-Nya, sehingga seorang anak Allah yang sejati selalu berusaha untuk mengakuinya, mengubahnya, dan memulihkan kembali persekutuannya dengan Allah.\u00a0(gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Satu Yohanes 1:9 mengajar, &#8220;Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.&#8221; Ayat ini dituliskan bagi umat Kristen dan bertumpu pada kata <i>jika<\/i>. Allah menawarkan pengampunan bagi tiap dosa yang dilakukan para anak-anakNya JIKA kita mengakuinya kepada-Nya. Kata <i>mengaku<\/i> berarti kita sedang setuju dengan Allah dengan kekejian dosa kita. Pertobatan, atau berpaling dari dosa, adalah bagian dari pengakuan ini. Mereka yang belum diampuni melalui darah Yesus, setiap dosa dianggap belum diakui dan belum diampuni. Hukuman kekal menanti mereka yang menolak bertobat atas dosa mereka dan menerima pengurbanan Yesus (2 Tesalonika 1:8-9; Yohanes 3:15-18). Akan tetapi, bagaimana kasusnya jika seorang Kristen mempunyai dosa yang belum diakui?<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Menurut Alkitab, semua hutang hukuman dosa kita dilunasi ketika kita menerima pengurbanan Yesus bagi pihak kita. Dua Korintus 5:21 mengajar, &#8220;Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.&#8221; Ketika kita menerima pertukaran ilahi pada salib Kristus, Allah memilih untuk melihat kita dengan lensa kebenaran Anak-Nya. Bukan lagi kebenaran kita melainkan kebenaran Kristus-lah yang Ia amati (Titus 3:5). Ia menukarkan rekor kita yang penuh kegagalan dengan rekor-Nya yang sempurna. Sejak itu, kita mendapatkan penerimaan penuh dari Allah.<\/p>\n<p>Namun apa yang terjadi ketika kita berdosa setelah menerima rekor-Nya yang sermpurna? Bayangkan Anda sedang berdiri di depan jendela yang menghadap ke selatan pada suatu hari di musim salju. Udaranya dingin, namun cahaya sinar matahari itu masuk ke jendela dan menghangatkan Anda. Kemudian Anda menutup gorden. Secara langsung, kehangatan itu terhenti. Apakah itu dikarenakan matahari berhenti memancarkan sinarnya? Tidak, hal itu dikarenakan sesuatu telah menghalangi cahaya matahari dan Anda. Ketika Anda membuka gorden itu, matahari akan menghangatkan Anda lagi. Semuanya tergantung Anda. Penghalang itu berada di dalam rumah, bukan dari luar.<\/p>\n<p>Dosa yang tidak diakui berfungsi seperti gorden itu. Allah berkenan pada anak-anakNya (Mazmur 37:23; Roma 8:38-39). Ia ingin memberkati kita, bersekutu dengan kita, dan mencurahkan persetujuan-Nya pada kehidupan kita (Mazmur 84:11, 115:13; 1 Samuel 2:30). Ia ingin supaya kita menikmati hangatnya senyuman-Nya. Namun ketika kita memilih untuk berdosa, kita sedang menghalangi hubungan kita dengan Bapa yang kudus. Kita menutup gorden pada persekutuan dengan-Nya dan mulai merasakan kesepian secara rohani. Seringkali, kita marah karena merasa Allah telah meninggalkan kita, padahal, sebenarnya kita yang telah meninggalkan Dia. Ketika kita bersikeras tidak bertobat, kita akan di disiplin oleh Bapa surgawi kita (Ibrani 12:7-11). Disiplin Tuhan juga tidak main-main, bahkan dapat merenggut nyawa jika sebuah hati sudah terlewat keras (1 Korintus 11:30; 1 Yohanes 5:16). Allah lebih menghendaki persekutuan dengan kita yang terpulihkan, daripada kita (Yesaya 65:2, 66:13; Matius 23:37; Yoel 2:12-13). Ia mengejar kita, mendisiplin kita, dan mengasihi kita walaupun kita tengah berada dalam dosa (Roma 5:8). Namun Ia memberi kita kehendak bebas. Kita perlu membuka gorden itu dengan mengakui dosa dan bertobat.<\/p>\n<p>Jika, sebagai anak-anak Allah, kita memilih untuk bertahan dalam dosa, maka kita memilih akibat dari pilihan itu. Persekutuan yang putus dan tiadanya pertumbuhan akan muncul. Akan tetapi, mereka yang terus berlanjut berdosa perlu mengkaji ulang hubungan mereka dengan Allah (2 Korintus 13:5). Alkitab sudah begitu jelas mengajar bahwa mereka yang mengenal Allah, tidak akan berlanjut dalam gaya hidup berdosa yang tidak dipertobatkan (1 Yohanes 2:3-6, 3:7-10). Sebuah kerinduan untuk hidup kudus adalah citra dari mereka yang mengenal Allah. Mengenal Allah adalah sama dengan mengasihi-Nya (Matius 22:37-38). Mengasihi-Nya adalah sama dengan ingin menyenangkan-Nya (Yohanes 14:15). Dosa yang tidak diakui dan dipertobatkan menggagalkan upaya kita untuk menyenangkan-Nya, sehingga seorang anak Allah yang sejati selalu berusaha untuk mengakuinya, mengubahnya, dan memulihkan kembali persekutuannya dengan Allah.&nbsp;(gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Satu Yohanes 1:9 mengajar, &#8220;Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.&#8221; Ayat ini dituliskan bagi umat Kristen dan bertumpu pada kata jika. Allah menawarkan pengampunan bagi tiap dosa yang dilakukan para anak-anakNya JIKA kita mengakuinya kepada-Nya. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[8,122],"class_list":["post-42421","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-dosa","tag-eskatologi"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1510","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42421","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42421"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42421\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}