{"id":42444,"date":"2020-12-12T09:23:43","date_gmt":"2020-12-12T02:23:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42444"},"modified":"2020-11-15T10:26:03","modified_gmt":"2020-11-15T03:26:03","slug":"bagaimana-seharusnya-umat-kristen-memandang-kecanduan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-seharusnya-umat-kristen-memandang-kecanduan\/","title":{"rendered":"Bagaimana seharusnya umat Kristen memandang kecanduan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kata kecanduan mempunyai makna yang ganda. Yang pertama adalah &quot;kondisi dimana seseorang tergantung baik secara psikologis maupun secara fisiologis pada sesuatu yang menyebabkan kebiasaan. Mereka yang kecanduan atau &quot;menjadi hamba anggur&quot; (Titus 1:7; 2:3), &quot;peminum&quot; (1 Timotius 3:3), &quot;penggemar anggur&quot; (1 Timotius 3:8) telah di diskualifikasi dari posisi otoritas atau pengajar di dalam gereja. Sudah cukup jelas bahwa kepemimpin gereja harus dipenuhi oleh orang yang siuman dan dapat menjaga diri sehingga, oleh contoh kehidupan mereka, mereka dapat mengajar menurut teladan mereka, karena kita tahu bahwa &quot;pemabuk...tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah&quot; (1 Korintus 6:10). Orang percaya tidak boleh tergantung pada alkohol, dan pengertian ini juga dapat diterapkan pada hal lainnya, seperti narkoba, pornografi, judi, kerakusan, tembakau, dsb. Definisi kedua dari kecanduan adalah &quot;keadaan dimana seseorang menyibukkan diri atau terlibat dalam sesuatu secara berlebihan.&quot; Hal ini berbicara tentang obsesi seorang Kristen pada hal selain Allah: olah raga, pekerjaan, belanja, bahkan keluarga atau anak. Kita perlu menaati perintah: &quot;Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu&quot; (Ulangan 6:5). Perintah ini, menurut Yesus, adalah perintah yang utama dan terpenting (Matius 22:37-38). Dengan demikian kita mencapai konklusi bahwa kecanduan terhadap segala sesuatu selain Allah adalah salah. Allah seharusnya menjadi satu-satunya sasaran yang kita kejar. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang lain menjauhkan kita dari-Nya dan tentu tidak menyenangkan-Nya. Ia saja yang layak diperhatikan, dikasihi, dan dilayani. Memberi perhatian, kasih, dan tenaga kita pada siapapun atau hal apapun lainnya adalah berhala. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Kata <em>kecanduan<\/em> mempunyai makna yang ganda. Yang pertama adalah &#8220;kondisi dimana seseorang tergantung baik secara psikologis maupun secara fisiologis pada sesuatu yang menyebabkan kebiasaan. Mereka yang kecanduan atau &#8220;menjadi hamba anggur&#8221; (Titus 1:7; 2:3), &#8220;peminum&#8221; (1 Timotius 3:3), &#8220;penggemar anggur&#8221; (1 Timotius 3:8) telah di diskualifikasi dari posisi otoritas atau pengajar di dalam gereja. Sudah cukup jelas bahwa kepemimpin gereja harus dipenuhi oleh orang yang siuman dan dapat menjaga diri sehingga, oleh contoh kehidupan mereka, mereka dapat mengajar menurut teladan mereka, karena kita tahu bahwa &#8220;pemabuk&#8230;tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah&#8221; (1 Korintus 6:10). Orang percaya tidak boleh tergantung pada alkohol, dan pengertian ini juga dapat diterapkan pada hal lainnya, seperti narkoba, pornografi, judi, kerakusan, tembakau, dsb.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Definisi kedua dari <em>kecanduan<\/em> adalah &#8220;keadaan dimana seseorang menyibukkan diri atau terlibat dalam sesuatu secara berlebihan.&#8221; Hal ini berbicara tentang obsesi seorang Kristen pada hal selain Allah: olah raga, pekerjaan, belanja, bahkan keluarga atau anak. Kita perlu menaati perintah: &#8220;Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu&#8221; (Ulangan 6:5). Perintah ini, menurut Yesus, adalah perintah yang utama dan terpenting (Matius 22:37-38). Dengan demikian kita mencapai konklusi bahwa kecanduan terhadap segala sesuatu selain Allah adalah salah. Allah seharusnya menjadi satu-satunya sasaran yang kita kejar. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang lain menjauhkan kita dari-Nya dan tentu tidak menyenangkan-Nya. Ia saja yang layak diperhatikan, dikasihi, dan dilayani. Memberi perhatian, kasih, dan tenaga kita pada siapapun atau hal apapun lainnya adalah berhala. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kata kecanduan mempunyai makna yang ganda. Yang pertama adalah &#8220;kondisi dimana seseorang tergantung baik secara psikologis maupun secara fisiologis pada sesuatu yang menyebabkan kebiasaan. Mereka yang kecanduan atau &#8220;menjadi hamba anggur&#8221; (Titus 1:7; 2:3), &#8220;peminum&#8221; (1 Timotius 3:3), &#8220;penggemar anggur&#8221; (1 Timotius 3:8) telah di diskualifikasi dari posisi otoritas atau pengajar di dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[235],"class_list":["post-42444","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-kecanduan"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1123","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42444","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42444"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42444\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}