{"id":42457,"date":"2020-11-25T09:23:43","date_gmt":"2020-11-25T02:23:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42457"},"modified":"2020-11-14T18:18:02","modified_gmt":"2020-11-14T11:18:02","slug":"apa-yang-dimaksud-oleh-hati-nurani-yang-gelap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-dimaksud-oleh-hati-nurani-yang-gelap\/","title":{"rendered":"Apa yang dimaksud oleh hati nurani yang gelap?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Alkitab berbicara tentang hati nurani yang gelap di dalam 1 Timotius 4:2. Hati nurani adalah kesadaran moralitas yang telah ditanamkan Allah di dalam diri kita (Roma 2:15). Jika hati nurani di &quot;cap&quot; atau &quot;diselar&quot; atau &quot;digelapkan&quot; - secara harafiah &quot;dibakar&quot; - maka sudah tidak sensitif lagi. Hati nurani dalam keadaan tersebut sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya; seolah-olah &quot;jaringan parut rohani&quot; telah menumpulkan pembedaan antara yang benar dengan yang salah. Sama seperti punggung seekor hewan yang telah di cap tidak lagi merasakan sakit, hati seorang yang nuraninya telah di cap juga tidak mampu sensitif terhadap kepedihan moral. Paulus berbicara mengenai mereka yang hati nuraninya di cap dalam1 Timotius 4:1-2: &quot;Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.&quot; Dalam perikop ini, kita memahami tiga hal mengenai pengajar palsu yang menyebabkan orang murtad: 1) mereka adalah juru bicara roh jahat, karena mereka mengajarkan &quot;ajaran setan-setan&quot;; 2) mereka munafik, karena mereka mengenakan topeng kekudusan namun hidup dalam kepalsuan; dan 3) mereka tidak bermoral, karena hati mereka telah dibakar. Bagaimana pengajar palsu dapat menyebarluaskan tipuan tanpa adanya sedikit penyesalan? Hati nurani mereka sudah gosong. Mereka sudah tidak merasa bahwa dusta itu salah. Sebelum ayat ini, Paulus membahas &quot;hati nurani yang murni&quot; sebagai perbandingan terhadap hati nurani yang gelap; Paulus berkata bahwa &quot;memajukan rencana Allah,&quot; datangnya melalui &quot;hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas&quot; (1 Timotius 1:4-5). Hati nurani yang murni dapat membedakan yang benar dari yang salah dan bebas dari rasa bersalah. Seorang yang berhati nurani murni mempertahankan integritasnya. Ia menikmati persekutuan bersama mereka yang &quot;hidup di dalam terang sama seperti [Yesus] ada di dalam terang&quot; (1 Yohanes 1:7). Dusta setan bertolak belakang dengan hati nurani yang murni. Orang yang berhati nurani murni tidak akan mengikuti dusta kemurtadan, melainkan &quot;memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni&quot; (1 Timotius 1:18-19). Amsal 6:27 mengajukan pertanyaan retoris mengenai konsekuensi perzinahan: &quot;Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya?&quot; Jika pertanyaan retoris tersebut dikenakan pada topik artikel kami, mungkin akan berbunyi: &quot;Dapatkah orang murtad mengajarkan dusta neraka dengan tidak terbakar hati nuraninya?&quot;\u00a0 (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Alkitab berbicara tentang hati nurani yang gelap di dalam 1 Timotius 4:2. Hati nurani adalah kesadaran moralitas yang telah ditanamkan Allah di dalam diri kita (Roma 2:15). Jika hati nurani di &#8220;cap&#8221; atau &#8220;diselar&#8221; atau &#8220;digelapkan&#8221; &#8211; secara harafiah &#8220;dibakar&#8221; &#8211; maka sudah tidak sensitif lagi. Hati nurani dalam keadaan tersebut sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya; seolah-olah &#8220;jaringan parut rohani&#8221; telah menumpulkan pembedaan antara yang benar dengan yang salah. Sama seperti punggung seekor hewan yang telah di cap tidak lagi merasakan sakit, hati seorang yang nuraninya telah di cap juga tidak mampu sensitif terhadap kepedihan moral.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Paulus berbicara mengenai mereka yang hati nuraninya di cap dalam1 Timotius 4:1-2: &#8220;Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.&#8221; Dalam perikop ini, kita memahami tiga hal mengenai pengajar palsu yang menyebabkan orang murtad: 1) mereka adalah juru bicara roh jahat, karena mereka mengajarkan &#8220;ajaran setan-setan&#8221;; 2) mereka munafik, karena mereka mengenakan topeng kekudusan namun hidup dalam kepalsuan; dan 3) mereka tidak bermoral, karena hati mereka telah dibakar. Bagaimana pengajar palsu dapat menyebarluaskan tipuan tanpa adanya sedikit penyesalan? Hati nurani mereka sudah gosong. Mereka sudah tidak merasa bahwa dusta itu salah.<\/p>\n<p>Sebelum ayat ini, Paulus membahas &#8220;hati nurani yang murni&#8221; sebagai perbandingan terhadap hati nurani yang gelap; Paulus berkata bahwa &#8220;memajukan rencana Allah,&#8221; datangnya melalui &#8220;hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas&#8221; (1 Timotius 1:4-5). Hati nurani yang murni dapat membedakan yang benar dari yang salah dan bebas dari rasa bersalah. Seorang yang berhati nurani murni mempertahankan integritasnya. Ia menikmati persekutuan bersama mereka yang &#8220;hidup di dalam terang sama seperti [Yesus] ada di dalam terang&#8221; (1 Yohanes 1:7). Dusta setan bertolak belakang dengan hati nurani yang murni. Orang yang berhati nurani murni tidak akan mengikuti dusta kemurtadan, melainkan &#8220;memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni&#8221; (1 Timotius 1:18-19).<\/p>\n<p>Amsal 6:27 mengajukan pertanyaan retoris mengenai konsekuensi perzinahan: &#8220;Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya?&#8221; Jika pertanyaan retoris tersebut dikenakan pada topik artikel kami, mungkin akan berbunyi: &#8220;Dapatkah orang murtad mengajarkan dusta neraka dengan tidak terbakar hati nuraninya?&#8221;\u00a0 (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Alkitab berbicara tentang hati nurani yang gelap di dalam 1 Timotius 4:2. Hati nurani adalah kesadaran moralitas yang telah ditanamkan Allah di dalam diri kita (Roma 2:15). Jika hati nurani di &#8220;cap&#8221; atau &#8220;diselar&#8221; atau &#8220;digelapkan&#8221; &#8211; secara harafiah &#8220;dibakar&#8221; &#8211; maka sudah tidak sensitif lagi. Hati nurani dalam keadaan tersebut sudah tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[8],"class_list":["post-42457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-dosa"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1362","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42457"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42457\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}