{"id":42463,"date":"2020-11-26T09:23:43","date_gmt":"2020-11-26T02:23:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42463"},"modified":"2020-11-14T18:19:40","modified_gmt":"2020-11-14T11:19:40","slug":"apakah-perbedaan-di-antara-percabulan-persundalan-dan-perzinahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-perbedaan-di-antara-percabulan-persundalan-dan-perzinahan\/","title":{"rendered":"Apakah perbedaan di antara percabulan, persundalan, dan perzinahan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Definisi kamus modern tentang percabulan (sebuah hubungan seksual yang sukarela di antara orang di luar hubungan nikah, akan mencakup perzinahan) dan perzinahan (sebuah hubungan seksual antara seorang yang menikah dengan pasangan selain yang ia nikahi) sudah sangat jelas, tetapi Alkitab memperjelas pandangan Allah terhadap kedua dosa seksual ini. Di dalam Alkitab, keduanya disebut secara harafiah, tetapi keduanya juga dapat digunakan secara figuratif dalam kaitannya dengan berhala. Di dalam Perjanjian Lama, semua dosa seksual dilarang keras oleh Hukum Musa dan tradisi Yahudi. Namun, kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai &quot;percabulan&quot; dalam Perjanjian Lama juga dapat digabungkan dengan konteks berhala, atau persundalan rohani. Di dalam 2 Tawarikh 21:10-14, Allah menghukum Yoram dengan berbagai penyakit dan tulah karena ia memimpin bangsanya ke dalam berhala. Ia &quot;membujuk penduduk Yerusalem untuk berzinah dan ia menyesatkan Yehuda&quot; (ayat 11) dan &quot;membujuk Yehuda dan penduduk-penduduk Yerusalem untuk berzinah, sama seperti yang dilakukan keluarga Ahab&quot; (ayat 13). Raja Ahab adalah suami dari Izebel, seorang imam perempuan dari dewa mesum Baal, yang memimpin Israel ke dalam praktik berhala yang keji. Di dalam Yehezkiel 16, nabi Yehezkiel menjelaskan sejarah umat Allah yang berpaling dari-Nya dan &quot;bersundal&quot; dengan allah-allah lain. Kata &quot;bersundal&quot;, yang diartikan sebagai berhala, digunakan berkali-kali dalam pasal ini saja. Sambil bangsa Israel semakin terkenal di antara bangsa-bangsa tetangganya karena hikmat, kekayaan, dan kuasa mereka, seperti kecantikan wanita menarik pria pada dirinya, mereka dikagumi, dirayu, dan dipuji oleh tetangganya, dan terlibat dalam praktik berhala mereka. Kata yang digunakan dalam &quot;persundalan&quot; atau &quot;percabulan&quot; dihubungkan dengan berhala karena &quot;penyembahan&quot; yang dilakukan dalam ritual berhala itu melibatkan aktifitas seksual di dalamnya. Pelacur kuil adalah hal yang umum dalam penyembahan Baal dan allah-allah palsu lainnya. Berbagai macam dosa seksual tidak hanya diterima dalam agama-agama ini, tetapi malah didukung sebagai cara memperoleh berkat yang lebih banyak dari obyek sembahan mereka, terutama dalam meningkatkan panen pertanian ataupun binatang ternak mereka. Di dalam Perjanjian Baru, &quot;percabulan&quot; diambil dari kata Yunani porneia, yang mencakup perzinahan dan hubungan inces. Porneia berasal dari kata Yunani yang juga melibatkan pemuasan nafsu yang haram, yang juga mencakup hubungan homoseksualitas. Penggunaan istilah ini dalam injil dan kitab surat-surat selalu sebagai rujukan terhadap dosa seksual, sedangkan &quot;percabulan&quot; dalam kitab Wahyu berhubungan dengan berhala. Tuhan Yesus mengecam dua gereja di Asia Minor atas keterlibatannya dengan berhala (Wahyu 2:14,20), dan Ia juga berbicara mengenai &quot;pelacur besar&quot; di jaman akhir, yang merupakan agama palsu yang berhala yang dengannya &quot;raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya&quot; (Wahyu 17:1-2). Pada sisi lainnya, Perzinahan, selalu merujuk kepada dosa seksual antara pihak yang sudah menikah dengan orang lain selain pasangan nikahnya, dan kata ini digunakan dalam Perjanjian Lama secara harafiah dan secara figuratif. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai &quot;perzinahan&quot; secara harafiah berarti &quot;mematahkan ikatan pernikahan.&quot; Allah menggambarkan pembelotan umat-Nya pada allah-allah lain sebagai perzinahan. Orang Yahudi dianggap sebagai pasangan nikah Tuhan, dan ketika mereka berpaling pada allah-allah bangsa lain, mereka dibandingkan dengan istri yang berzinah. Perjanjian Lama seringkali merujuk kepada berhalanya Israel seperti wanita cabul yang &quot;melacur&quot; dengan allah-allah lainnya (Keluaran 34:15-16; Imamat 17:7; Yehezkiel 6:9). Selebihnya, kitab Hosea menyamakan hubungan Allah dengan Israel seperti pernikahan antara nabi Hosea dan Gomer, istrinya yang berzinah. Pernikahan mereka merupakan gambaran dari dosa dan ketidak-setiaan Israel, yang berulang kali, meninggalkan suaminya yang betul (Allah) untuk berzinah secara rohani dengan allah-allah lain. Di dalam Perjanjian Baru, dua kata Yunani diterjemahkan sebagai &quot;berzinah,&quot; dan dalam konteksnya, merujuk secara harafiah pada dosa seksual yang melibatkan pihak yang sudah menikah. Satu-satunya pengecualian di antaranya dapat ditemukan dalam surat kepada gereja di Tiatira yang dikecam karena mereka telah &quot;membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah&quot; (Wahyu 2:20). Wanita ini menyebabkan gereja jatuh ke dalam keasusilaan dan praktik berhala dan siapapun yang tergoda oleh doktrin palsunya dinyatakan telah melakukan perzinahan dengannya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Definisi kamus modern tentang percabulan (sebuah hubungan seksual yang sukarela di antara orang di luar hubungan nikah, akan mencakup perzinahan) dan perzinahan (sebuah hubungan seksual antara seorang yang menikah dengan pasangan selain yang ia nikahi) sudah sangat jelas, tetapi Alkitab memperjelas pandangan Allah terhadap kedua dosa seksual ini. Di dalam Alkitab, keduanya disebut secara harafiah, tetapi keduanya juga dapat digunakan secara figuratif dalam kaitannya dengan berhala.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Di dalam Perjanjian Lama, semua dosa seksual dilarang keras oleh Hukum Musa dan tradisi Yahudi. Namun, kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai &#8220;percabulan&#8221; dalam Perjanjian Lama juga dapat digabungkan dengan konteks berhala, atau persundalan rohani. Di dalam 2 Tawarikh 21:10-14, Allah menghukum Yoram dengan berbagai penyakit dan tulah karena ia memimpin bangsanya ke dalam berhala. Ia &#8220;membujuk penduduk Yerusalem untuk berzinah dan ia menyesatkan Yehuda&#8221; (ayat 11) dan &#8220;membujuk Yehuda dan penduduk-penduduk Yerusalem untuk berzinah, sama seperti yang dilakukan keluarga Ahab&#8221; (ayat 13). Raja Ahab adalah suami dari Izebel, seorang imam perempuan dari dewa mesum Baal, yang memimpin Israel ke dalam praktik berhala yang keji. Di dalam Yehezkiel 16, nabi Yehezkiel menjelaskan sejarah umat Allah yang berpaling dari-Nya dan &#8220;bersundal&#8221; dengan allah-allah lain. Kata &#8220;bersundal&#8221;, yang diartikan sebagai berhala, digunakan berkali-kali dalam pasal ini saja. Sambil bangsa Israel semakin terkenal di antara bangsa-bangsa tetangganya karena hikmat, kekayaan, dan kuasa mereka, seperti kecantikan wanita menarik pria pada dirinya, mereka dikagumi, dirayu, dan dipuji oleh tetangganya, dan terlibat dalam praktik berhala mereka. Kata yang digunakan dalam &#8220;persundalan&#8221; atau &#8220;percabulan&#8221; dihubungkan dengan berhala karena &#8220;penyembahan&#8221; yang dilakukan dalam ritual berhala itu melibatkan aktifitas seksual di dalamnya. Pelacur kuil adalah hal yang umum dalam penyembahan Baal dan allah-allah palsu lainnya. Berbagai macam dosa seksual tidak hanya diterima dalam agama-agama ini, tetapi malah didukung sebagai cara memperoleh berkat yang lebih banyak dari obyek sembahan mereka, terutama dalam meningkatkan panen pertanian ataupun binatang ternak mereka.<\/p>\n<p>Di dalam Perjanjian Baru, &#8220;percabulan&#8221; diambil dari kata Yunani porneia, yang mencakup perzinahan dan hubungan inces. Porneia berasal dari kata Yunani yang juga melibatkan pemuasan nafsu yang haram, yang juga mencakup hubungan homoseksualitas. Penggunaan istilah ini dalam injil dan kitab surat-surat selalu sebagai rujukan terhadap dosa seksual, sedangkan &#8220;percabulan&#8221; dalam kitab Wahyu berhubungan dengan berhala. Tuhan Yesus mengecam dua gereja di Asia Minor atas keterlibatannya dengan berhala (Wahyu 2:14,20), dan Ia juga berbicara mengenai &#8220;pelacur besar&#8221; di jaman akhir, yang merupakan agama palsu yang berhala yang dengannya &#8220;raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya&#8221; (Wahyu 17:1-2).<\/p>\n<p>Pada sisi lainnya, Perzinahan, selalu merujuk kepada dosa seksual antara pihak yang sudah menikah dengan orang lain selain pasangan nikahnya, dan kata ini digunakan dalam Perjanjian Lama secara harafiah dan secara figuratif. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai &#8220;perzinahan&#8221; secara harafiah berarti &#8220;mematahkan ikatan pernikahan.&#8221; Allah menggambarkan pembelotan umat-Nya pada allah-allah lain sebagai perzinahan. Orang Yahudi dianggap sebagai pasangan nikah Tuhan, dan ketika mereka berpaling pada allah-allah bangsa lain, mereka dibandingkan dengan istri yang berzinah. Perjanjian Lama seringkali merujuk kepada berhalanya Israel seperti wanita cabul yang &#8220;melacur&#8221; dengan allah-allah lainnya (Keluaran 34:15-16; Imamat 17:7; Yehezkiel 6:9). Selebihnya, kitab Hosea menyamakan hubungan Allah dengan Israel seperti pernikahan antara nabi Hosea dan Gomer, istrinya yang berzinah. Pernikahan mereka merupakan gambaran dari dosa dan ketidak-setiaan Israel, yang berulang kali, meninggalkan suaminya yang betul (Allah) untuk berzinah secara rohani dengan allah-allah lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam Perjanjian Baru, dua kata Yunani diterjemahkan sebagai &#8220;berzinah,&#8221; dan dalam konteksnya, merujuk secara harafiah pada dosa seksual yang melibatkan pihak yang sudah menikah. Satu-satunya pengecualian di antaranya dapat ditemukan dalam surat kepada gereja di Tiatira yang dikecam karena mereka telah &#8220;membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah&#8221; (Wahyu 2:20). Wanita ini menyebabkan gereja jatuh ke dalam keasusilaan dan praktik berhala dan siapapun yang tergoda oleh doktrin palsunya dinyatakan telah melakukan perzinahan dengannya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Definisi kamus modern tentang percabulan (sebuah hubungan seksual yang sukarela di antara orang di luar hubungan nikah, akan mencakup perzinahan) dan perzinahan (sebuah hubungan seksual antara seorang yang menikah dengan pasangan selain yang ia nikahi) sudah sangat jelas, tetapi Alkitab memperjelas pandangan Allah terhadap kedua dosa seksual ini. Di dalam Alkitab, keduanya disebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[8,231,230,232,233],"class_list":["post-42463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-dosa","tag-percabulan","tag-persundalan","tag-perzinahan","tag-seksual"],"better_featured_image":{"id":33511,"alt_text":"","caption":"","description":"8acade6fafae0d999304dbd2924da6f5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/masalah-anda-bukan-dosa-anda_5df753c799a58.jpeg?fit=310%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2233","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42463"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42463\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}