{"id":42542,"date":"2020-11-04T11:23:41","date_gmt":"2020-11-04T04:23:41","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42542"},"modified":"2020-10-31T16:19:23","modified_gmt":"2020-10-31T09:19:23","slug":"bagaimana-seharusnya-orang-kristen-menanggapi-doa-yang-tidak-dijawab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-seharusnya-orang-kristen-menanggapi-doa-yang-tidak-dijawab\/","title":{"rendered":"Bagaimana seharusnya orang Kristen menanggapi doa yang tidak dijawab?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Berapa banyak orang Kristen yang berdoa bagi seseorang, yang kemudian melihat bahwa doa-doa mereka tidak dijawab? Berapa banyak yang telah berdoa dan mungkin telah &quot;menyerah,&quot; baik karena mereka menjadi berkecil hati karena imannya yang lemah, atau karena mereka sudah menyimpulkan bahwa apa pun yang mereka doakan itu bukanlah kehendak Allah? Bagaimana cara kita menangani doa-doa yang tidak dijawab ini bukan saja membawa kebaikan bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Ketika kita berdoa, kita sedang terlibat dengan komunikasi yang paling penting; yang diberikan Allah, melalui Pribadi yang kepada-Nya kita bertanggung jawab atas semua urusan kita. Kita benar-benar telah dibeli dengan harga yang terlalu mahal \u2013 darah Tuhan Yesus Kristus \u2013 dan karenanya membuat kita menjadi milik Allah. Hak istimewa bagi kita untuk berdoa diberikan oleh Allah sendiri. Hak yang diberikan kepada kita ini sama bobotnya dengan yang diberikan kepada bangsa Israel (Ul 4:7). Namun, ketika kita berdoa atau berbicara dengan Allah, adakalanya Dia seperti tidak menjawab. Ada banyak alasan untuk hal ini. Alkitab menyatakan mengapa dan bagaimana doa kita diresponi oleh Dia, yang begitu lembut dan penuh kasih; Dia yang mengasihi persekutuan kita dengan Allah Bapa, karena Dia, diri-Nya sendiri, merupakan Perantara bagi kita (Ibr 4:15). Alasan utama mengapa doa tidak dijawab adalah dosa. Allah tidak bisa dipermainkan atau ditipu. Dia yang bertakhta di sorga mengenal kita dengan begitu baiknya, hingga ke setiap pikiran kita (Mzm 139:1-4). Jika kita tidak berjalan di Jalan-Nya, atau jika kita menaruh permusuhan di dalam hati kita terhadap saudara kita, atau jika kita meminta sesuatu dengan motivasi yang salah (contohnya dari keinginan yang mementingkan diri sendiri), maka besar kemungkinan kalau Allah tidak akan menjawab doa kita, karena Dia tidak mendengar (2 Taw 7:14; Ul 28:23; Mzm 66:18; Yak 4:3). Dosa adalah &quot;penghalang&quot; dari semua berkat yang berpotensi untuk kita terima dari &quot;botol&quot; belas kasih Allah yang tak terbatas! Memang, ada saat-saat di mana doa-doa kita adalah kekejian di mata Allah, terutama ketika kita jelas-jelas tidak berdoa sebagai milik Allah. Baik karena ketidakpercayaan kita (Ams 15:8), atau kita adalah orang yang munafik (Mrk 12:40). Alasan lain mengapa doa tampaknya tidak dijawab adalah: Allah sedang dalam proses menumbuhkan ketergantungan dan kepercayaan yang lebih dalam kepada-Nya dari iman kita, yang seharusnya akan menimbulkan rasa syukur, kasih dan kerendahan hati yang lebih mendalam. Pada akhirnya, hal ini akan memberikan keuntungan kepada kita secara rohani. Dia akan memberikan anugerah kepada mereka yang rendah hati (Yak 4:6; Ams 3:34). Bayangkan, bagaimana perasaan orang-orang kepada wanita Kanaan yang miskin, yang berteriak tak henti-hentinya memohon belas kasihan Allah ketika Ia mengunjungi daerah Tirus dan Sidon (Mat 15:21-28)! Dia bukanlah seseorang yang mungkin akan diperhatikan oleh rabi Yahudi. Dia bukanlah orang Yahudi. Dia hanyalah seorang wanita. Dua alasan yang menyebabkan orang Yahudi mengabaikannya. Allah tampaknya tidak menjawab doa perempuan itu, tapi Dia tahu tentang segala sesuatu yang dihadapinya. Dia mungkin tidak menjawab kebutuhannya dengan segera, tapi Dia tetap mendengarkannya dan mengabulkan permintaannya. Allah seringkali terlihat mendiamkan kita. Tetapi, Dia tidak pernah mengutus kita dengan tangan kosong. Bahkan, ketika doa kita belum dijawab, kita harus mengandalkan Allah supaya Ia menjawabnya menurut waktu-Nya sendiri. Berdoa itu sendiri sudah merupakan berkat bagi orang-percaya; mengingat karena iman, barulah kita bisa digerakkan untuk bertekun dalam doa. Inilah iman yang menyenangkan Allah (Ibr 11:6). Jika kehidupan doa kita menyedihkan, bukankah hal itu juga mencerminkan kondisi rohani kita juga? Allah mendengar teriakan untuk meminta belas kasihan. Keheningan-Nya semakin mengobarkan kita untuk bertekun dalam doa. Allah menyukai ketika kita datang untuk berbincang-bincang dengan-Nya. Marilah kita mengejar hal-hal yang berkenan di hati Allah. Marilah kita berjalan di jalan-Nya, bukannya di jalan kita sendiri. Jika kita setia untuk berdoa tanpa henti-hentinya, maka kita hidup dalam kehendak Allah. Hal seperti ini tidak akan pernah bisa salah (1 Tes 5:17-18). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Berapa banyak orang Kristen yang berdoa bagi seseorang, yang kemudian melihat bahwa doa-doa mereka tidak dijawab? Berapa banyak yang telah berdoa dan mungkin telah &#8220;menyerah,&#8221; baik karena mereka menjadi berkecil hati karena imannya yang lemah, atau karena mereka sudah menyimpulkan bahwa apa pun yang mereka doakan itu bukanlah kehendak Allah? Bagaimana cara kita menangani doa-doa yang tidak dijawab ini bukan saja membawa kebaikan bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi orang lain.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ketika kita berdoa, kita sedang terlibat dengan komunikasi yang paling penting; yang diberikan Allah, melalui Pribadi yang kepada-Nya kita bertanggung jawab atas semua urusan kita. Kita benar-benar telah dibeli dengan harga yang terlalu mahal \u2013 darah Tuhan Yesus Kristus \u2013 dan karenanya membuat kita menjadi milik Allah.<\/p>\n<p>Hak istimewa bagi kita untuk berdoa diberikan oleh Allah sendiri. Hak yang diberikan kepada kita ini sama bobotnya dengan yang diberikan kepada bangsa Israel (Ul 4:7). Namun, ketika kita berdoa atau berbicara dengan Allah, adakalanya Dia seperti tidak menjawab. Ada banyak alasan untuk hal ini. Alkitab menyatakan mengapa dan bagaimana doa kita diresponi oleh Dia, yang begitu lembut dan penuh kasih; Dia yang mengasihi persekutuan kita dengan Allah Bapa, karena Dia, diri-Nya sendiri, merupakan Perantara bagi kita (Ibr 4:15).<\/p>\n<p>Alasan utama mengapa doa tidak dijawab adalah dosa. Allah tidak bisa dipermainkan atau ditipu. Dia yang bertakhta di sorga mengenal kita dengan begitu baiknya, hingga ke setiap pikiran kita (Mzm 139:1-4). Jika kita tidak berjalan di Jalan-Nya, atau jika kita menaruh permusuhan di dalam hati kita terhadap saudara kita, atau jika kita meminta sesuatu dengan motivasi yang salah (contohnya dari keinginan yang mementingkan diri sendiri), maka besar kemungkinan kalau Allah tidak akan menjawab doa kita, karena Dia tidak mendengar (2 Taw 7:14; Ul 28:23; Mzm 66:18; Yak 4:3).<\/p>\n<p>Dosa adalah &#8220;penghalang&#8221; dari semua berkat yang berpotensi untuk kita terima dari &#8220;botol&#8221; belas kasih Allah yang tak terbatas! Memang, ada saat-saat di mana doa-doa kita adalah kekejian di mata Allah, terutama ketika kita jelas-jelas tidak berdoa sebagai milik Allah. Baik karena ketidakpercayaan kita (Ams 15:8), atau kita adalah orang yang munafik (Mrk 12:40).<\/p>\n<p>Alasan lain mengapa doa tampaknya tidak dijawab adalah: Allah sedang dalam proses menumbuhkan ketergantungan dan kepercayaan yang lebih dalam kepada-Nya dari iman kita, yang seharusnya akan menimbulkan rasa syukur, kasih dan kerendahan hati yang lebih mendalam. Pada akhirnya, hal ini akan memberikan keuntungan kepada kita secara rohani. Dia akan memberikan anugerah kepada mereka yang rendah hati (Yak 4:6; Ams 3:34).<\/p>\n<p>Bayangkan, bagaimana perasaan orang-orang kepada wanita Kanaan yang miskin, yang berteriak tak henti-hentinya memohon belas kasihan Allah ketika Ia mengunjungi daerah Tirus dan Sidon (Mat 15:21-28)! Dia bukanlah seseorang yang mungkin akan diperhatikan oleh rabi Yahudi. Dia bukanlah orang Yahudi. Dia hanyalah seorang wanita. Dua alasan yang menyebabkan orang Yahudi mengabaikannya. Allah tampaknya tidak menjawab doa perempuan itu, tapi Dia tahu tentang segala sesuatu yang dihadapinya. Dia mungkin tidak menjawab kebutuhannya dengan segera, tapi Dia tetap mendengarkannya dan mengabulkan permintaannya.<\/p>\n<p>Allah seringkali terlihat mendiamkan kita. Tetapi, Dia tidak pernah mengutus kita dengan tangan kosong. Bahkan, ketika doa kita belum dijawab, kita harus mengandalkan Allah supaya Ia menjawabnya menurut waktu-Nya sendiri. Berdoa itu sendiri sudah merupakan berkat bagi orang-percaya; mengingat karena iman, barulah kita bisa digerakkan untuk bertekun dalam doa.<\/p>\n<p>Inilah iman yang menyenangkan Allah (Ibr 11:6). Jika kehidupan doa kita menyedihkan, bukankah hal itu juga mencerminkan kondisi rohani kita juga? Allah mendengar teriakan untuk meminta belas kasihan. Keheningan-Nya semakin mengobarkan kita untuk bertekun dalam doa. Allah menyukai ketika kita datang untuk berbincang-bincang dengan-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Marilah kita mengejar hal-hal yang berkenan di hati Allah. Marilah kita berjalan di jalan-Nya, bukannya di jalan kita sendiri. Jika kita setia untuk berdoa tanpa henti-hentinya, maka kita hidup dalam kehendak Allah. Hal seperti ini tidak akan pernah bisa salah (1 Tes 5:17-18). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Berapa banyak orang Kristen yang berdoa bagi seseorang, yang kemudian melihat bahwa doa-doa mereka tidak dijawab? Berapa banyak yang telah berdoa dan mungkin telah &#8220;menyerah,&#8221; baik karena mereka menjadi berkecil hati karena imannya yang lemah, atau karena mereka sudah menyimpulkan bahwa apa pun yang mereka doakan itu bukanlah kehendak Allah? Bagaimana cara kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":34316,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[151],"class_list":["post-42542","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-doa"],"better_featured_image":{"id":34316,"alt_text":"","caption":"","description":"7a7e3ac3db4c91efd4c1589a74bd2aae","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/doa-yang-terhalang-1-petrus-37_5df77e8823bcf.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/doa-yang-terhalang-1-petrus-37_5df77e86da007.jpeg?fit=720%2C540&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/doa-yang-terhalang-1-petrus-37_5df77e86da007.jpeg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/doa-yang-terhalang-1-petrus-37_5df77e8823bcf.jpeg?fit=960%2C720&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1365","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42542"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42542\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}