{"id":42740,"date":"2025-08-21T18:15:37","date_gmt":"2025-08-21T11:15:37","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/allah-yang-menghiburkan-orang-yang-rendah-hati-1-2-korintus-76-2\/"},"modified":"2025-08-21T18:15:39","modified_gmt":"2025-08-21T11:15:39","slug":"allah-yang-menghiburkan-orang-yang-rendah-hati-1-2-korintus-76-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/allah-yang-menghiburkan-orang-yang-rendah-hati-1-2-korintus-76-2\/","title":{"rendered":"Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. [Amsal 11:25]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kita di sini diajarkan pelajaran berharga, bahwa untuk memperoleh, kita harus memberi; untuk mengumpulkan, kita harus menabur; untuk membuat diri kita bahagia, kita harus membuat orang lain bahagia; dan untuk menjadi kuat secara rohani, kita harus berusaha demi kebaikan rohani orang lain. Dalam memberi minum orang lain, kita sendiri diberi minum. Bagaimana caranya? Upaya kita untuk menjadi berguna, membawa keluar segala kekuatan kita untuk menjadi berguna. Kita memiliki bakat terpendam dan kemampuan yang tertidur, yang menjadi terlihat melalui latihan. Kekuatan kita untuk bekerja tersembunyi bahkan dari diri kita sendiri, sampai kita berani maju untuk berperang dalam peperangan Tuhan, atau mendaki pegunungan kesulitan. Kita tidak tahu simpati lembut macam apa yang kita miliki sampai kita mencoba menyeka air mata seorang janda, dan menenangkan kesedihan anak yatim piatu. Kita sering mendapatkan, ketika berupaya mengajar orang lain, justru diri kita yang mendapatkan pelajaran. Oh, betapa anggun pelajaran yang diperoleh sebagian dari kita di ranjang kesakitan! Kita pergi untuk mengajarkan Firman, kita malahan berbalik dengan malu, menyadari betapa sedikitnya kita tahu tentang Firman. Dalam percakapan kita dengan orang-orang kudus yang malang, kita diajarkan tentang jalan Tuhan lebih sempurna lagi bagi diri kita, dan mendapatkan wawasan lebih dalam menuju kebenaran ilahi. Jadi, memberi minum orang lain membuat kita rendah hati. Kita menemukan betapa banyak anugerah yang ada di tempat di mana kita tidak mencarinya; dan betapa banyak orang kudus yang malang dapat melebihi kita dalam pengetahuan. Kenyamanan kita juga makin meningkat dengan bekerja bagi orang lain. Kita berupaya menghibur mereka, dan penghiburan itu meriangkan hati kita sendiri. Seperti halnya dua orang di tengah salju, yang satu menggosok anggota badan orang lain untuk mencegahnya sekarat, tapi juga sekaligus menjaga darahnya sendiri beredar, dan menyelamatkan dirinya sendiri. Janda miskin di Sarfat memberi dari persediaannya yang minim apa yang dibutuhkan sang nabi, dan sejak hari itu dia tidak pernah lagi mengetahui apa itu kekurangan. Berilah dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, dan yang tumpah keluar [Lukas 6:38]. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Kita di sini diajarkan pelajaran berharga, bahwa untuk memperoleh, kita harus memberi; untuk mengumpulkan, kita harus menabur; untuk membuat diri kita bahagia, kita harus membuat orang lain bahagia; dan untuk menjadi kuat secara rohani, kita harus berusaha demi kebaikan rohani orang lain. Dalam memberi minum orang lain, kita sendiri diberi minum. Bagaimana caranya? Upaya kita untuk menjadi berguna, <i>membawa keluar segala kekuatan kita untuk menjadi berguna<\/i>. Kita memiliki bakat terpendam dan kemampuan yang tertidur, yang menjadi terlihat melalui latihan. Kekuatan kita untuk bekerja tersembunyi bahkan dari diri kita sendiri, sampai kita berani maju untuk berperang dalam peperangan Tuhan, atau mendaki pegunungan kesulitan. Kita tidak tahu simpati lembut macam apa yang kita miliki sampai kita mencoba menyeka air mata seorang janda, dan menenangkan kesedihan anak yatim piatu. Kita sering mendapatkan, ketika berupaya mengajar orang lain, justru <i>diri kita yang mendapatkan pelajaran<\/i>. Oh, betapa anggun pelajaran yang diperoleh sebagian dari kita di ranjang kesakitan! Kita pergi untuk mengajarkan Firman, kita malahan berbalik dengan malu, menyadari betapa sedikitnya kita tahu tentang Firman. Dalam percakapan kita dengan orang-orang kudus yang malang, kita diajarkan tentang jalan Tuhan lebih sempurna lagi bagi diri kita, dan mendapatkan wawasan lebih dalam menuju kebenaran ilahi. Jadi, memberi minum orang lain <i>membuat kita rendah hati<\/i>. Kita menemukan betapa banyak anugerah yang ada di tempat di mana kita tidak mencarinya; dan betapa banyak orang kudus yang malang dapat melebihi kita dalam pengetahuan. <i>Kenyamanan<\/i> kita juga <i>makin meningkat<\/i> dengan bekerja bagi orang lain. Kita berupaya menghibur mereka, dan penghiburan itu meriangkan hati kita sendiri. Seperti halnya dua orang di tengah salju, yang satu menggosok anggota badan orang lain untuk mencegahnya sekarat, tapi juga sekaligus menjaga darahnya sendiri beredar, dan menyelamatkan dirinya sendiri. Janda miskin di Sarfat memberi dari persediaannya yang minim apa yang dibutuhkan sang nabi, dan sejak hari itu dia tidak pernah lagi mengetahui apa itu kekurangan. Berilah dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, dan yang tumpah keluar [<a href=\"http:\/\/alkitab.sabda.org\/?Lukas%206:38\">Lukas 6:38<\/a>].<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kita di sini diajarkan pelajaran berharga, bahwa untuk memperoleh, kita harus memberi; untuk mengumpulkan, kita harus menabur; untuk membuat diri kita bahagia, kita harus membuat orang lain bahagia; dan untuk menjadi kuat secara rohani, kita harus berusaha demi kebaikan rohani orang lain. Dalam memberi minum orang lain, kita sendiri diberi minum. Bagaimana caranya? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-42740","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"169","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42740","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42740"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42740\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68069,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42740\/revisions\/68069"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42740"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42740"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42740"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}