{"id":42888,"date":"2021-02-28T09:22:00","date_gmt":"2021-02-28T02:22:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42888"},"modified":"2021-02-13T12:16:29","modified_gmt":"2021-02-13T05:16:29","slug":"apakah-ada-penjelasan-mengenai-keberadaan-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-ada-penjelasan-mengenai-keberadaan-allah\/","title":{"rendered":"Apakah ada penjelasan mengenai keberadaan Allah?"},"content":{"rendered":"<p><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -\u00a0 Pertanyaan mengenai apakah ada penjelasan yang pasti mengenai keberadaan Allah telah diperdebatkan sepanjang sejarah, dengan melibatkan tokoh intelektual dari kedua belah pihak yang saling berlawanan. Di jaman ini, penjelasan yang menolak keberadaan Allah telah menimbulkan semangat yang militan untuk menuduh pihak yang percaya dengan keberadaan Allah itu sebagai orang yang mengalami delusi dan irasional. Karl Marx menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada Allah pasti memiliki kelainan mental sehingga menimbulkan pemikiran yang salah. Psikiatris Sigmund Freud menyatakan kalau orang yang percaya adanya Allah Pencipta adalah orang yang mengalami delusi dan memilih mempercayai hal tersebut karena memiliki \u201chasrat bagi terkabulnya keinginan\u201d (wish-fulfillment desire), sehingga menghasilkan apa yang disebut Freud sebagai hal yang tidak bisa dibenarkan. Filsuf Frederick Nietzsche malah menyatakan kalau iman sama saja dengan \u201ctidak ingin mengetahui apa itu kebenaran.\u201d Pendapat ketiga tokoh ini (dan tokoh lainnya), diikuti oleh generasi baru ateis, menyebut kepercayaan kepada Allah sebagai \u201csesuatu yang tidak memiliki dasar ilmiah.\u201d Apakah ini sebuah masalah? Apakah kepercayaan kepada Allah merupakan sebuah hal yang tidak dapat diterima secara rasional? Apakah ada penjelasan yang logis dan ilmiah mengenai keberadaan Allah? Di luar referensi dari Alkitab, dapatkah keberadaan Allah dijelaskan untuk membantah argumen dari kaum ateis, dan memutlakkan manusia untuk mempercayai adanya Pencipta? Jawabannya: ya, bisa. Lebih jauh, adanya keabsahan penjelasan tentang keberadaan Allah, bagi kaum ateis akan tetap terlihat sebagai sesuatu yang lemah secara intelektual. Untuk menjelaskan keberadaan Allah, kita harus mulai dengan pertanyaan yang tepat. Kita mulai dengan pertanyaan metafisika dasar: \u201cMengapa sesuatu itu menjadi \u201cada\u201d dan bukan sebaliknya?\u201d Ini pertanyaan dasar mengenai keberadaan \u2013 mengapa kita di sini; mengapa dunia di sini; mengapa alam semesta ini ada dan bukan sebaliknya? Menjawab hal ini, seorang teolog mengatakan, \u201cDi satu sisi, manusia sebenarnya tidak bertanya tentang Allah, keberadaan dirinyalah yang menimbulkan pertanyaan tentang Allah.\u201d Mempertimbangkan pertanyaan ini, ada empat kemungkinan jawaban mengenai mengapa sesuatu itu menjadi \u201cada\u201d dan bukan sebaliknya: 1. Realitas hanyalah sebuah ilusi. 2. Realitas tercipta dengan sendirinya (self-created). 3. Realitas merupakan sesuatu yang \u201csudah ada pada dirinya sendiri\u201d (self-existent)\/ abadi (eternal). Realitas diciptakan oleh sesuatu yang \u201csudah ada pada dirinya sendiri.\u201d Jadi, mana yang lebih masuk akal? Mari mulai dengan pernyataan kalau \u201crealitas hanyalah ilusi,\u201d seperti yang dipercayai oleh kebanyakan agama dari Timur. Pemikiran ini terbentuk berabad-abad lalu oleh filsuf Rene Descartes yang terkenal dengan pernyataannya, \u201cSaya berpikir, maka saya ada.\u201d Descartes, seorang ahli matematika, berpandangan bahwa jika ia berpikir, maka ia pasti \u201cada.\u201d Dengan kata lain, \u201cSaya berpikir, maka saya bukanlah sebuah ilusi.\u201d Ilusi membutuhkan sesuatu yang diyakini sebagai ilusi. Apalagi, Saudara tidak dapat meragukan keberadaan diri Saudara tanpa membuktikan keberadaan Saudara. Ini adalah argumen yang tak terbantahkan. Jadi, kemungkinan kalau \u201crealitas hanyalah ilusi\u201d menjadi terbantahkan dengan sendirinya. Selanjutnya, pernyataan bahwa \u201crealitas tercipta dengan sendirinya.\u201d Ketika kita belajar filsafat, kita belajar tentang pernyataan yang \u201csalah secara analisis\u201d, yang berarti sesuatu sudah pasti salah menurut definisinya. Kemungkinan bahwa \u201crealitas tercipta dengan sendirinya\u201d merupakan contoh dari pernyataan itu, terkait alasan sederhana bahwa sesuatu tidak mungkin ada mendahului dirinya sendiri. Jika Saudara menciptakan diri Saudara sendiri, maka Saudara harus \u201cada\u201d terlebih dahulu. Dalam evolusi, kadangkala mereka merujuk pada istilah \u201cgenerasi spontan\u201d \u2013 sesuatu yang menjadi \u201cada\u201d dari yang \u201ctidak ada\u201d sebelumnya\u2013 sebuah pemikiran yang sudah jarang dipegang, karena orang-orang tahu kalau sesuatu tidak mungkin menjadi \u201cada\u201d dari sesuatu yang tadinya \u201ctidak ada.\u201d Bahkan seorang ateis, David Hume mengatakan, \u201cSaya tidak pernah bisa menerima betapa tidak masuk akalnya sesuatu bisa menjadi \u201cada\u201d tanpa adanya penyebab.\u201d Karena sesuatu tidak mungkin menjadi \u201cada\u201d dari yang \u201ctidak ada\u201c sebelumya, maka pernyataan kalau \u201crealitas tercipta dengan sendirinya\u201d menjadi terbantahkan dengan sendirinya. Sekarang kita tinggal memiliki dua pernyataan \u2013 sebuah \u201crealitas yang ada pada dirinya sendiri\/kekal\u201d atau \u201crealitas yang diciptakan oleh sesuatu yang ada pada dirinya sendiri\/kekal:\u201d oleh \u201calam semesta yang kekal\u201d atau \u201cPencipta yang kekal.\u201d Teolog abad ke-18 Jonathan Edwards menyimpulkan situasi ini menjadi: \u2022 Sesuatu itu \u201cada.\u201d \u2022 \u201cTidak ada\u201d itu tidak dapat menciptakan sesuatu. Sehingga, \u201csesuatu yang kekal\u201d haruslah ada. Pada akhirnya, kita harus percaya dengan keberadaan \u201csesuatu yang kekal.\u201d Para ateis, yang mencemooh pihak yang percaya kepada Allah karena percaya adanya \u201cPencipta yang abadi,\u201d harus berbalik dan menerima keberadaan yang kekal itu; satu-satunya pilihan yang masuk akal bagi mereka. Namun pertanyaannya adalah, bukti seperti apa yang kita cari? Apakah ada bukti yang menunjukkan kalau ciptaan itu terlebih dahulu \u201cada\u201d ketimbang Pencipta? Atau Pencipta yang terlebih dahulu \u201cada\u201d ketimbang ciptaan? Sampai saat ini, semua bukti ilmiah dan filsafat membawa kita meninggalkan pemikiran mengenai adanya \u201calam semesta yang kekal\u201d menuju \u201cPencipta yang kekal.\u201d Dari pandangan ilmiah, ilmuwan yang jujur akan mengakui kalau alam semesta itu memiliki awal. Apapun yang memiliki awal pastilah tidak kekal. Dengan kata lain, apapun yang memiliki awal pasti memiliki penyebab. Jika alam semesta memiliki awal, maka ia memiliki penyebab. Fakta bahwa alam semesta memiliki awal ditegaskan oleh beberapa bukti seperti hukum kedua termodinamika, gema radiasi dalam teori \u201cBig Bang\u201d yang ditemukan di awal tahun 1990-an, fakta bahwa alam semesta ini terus berkembang dan dapat ditelusuri ke titik awal mulanya, dan teori Einstein tentang relativitas. Semua ini membuktikan kalau alam semesta tidak kekal. Lebih lanjut, \u201chukum penyebab\u201d membantah pemikiran kalau alam semesta ini bisa sebagai penyebab utama, terkait fakta sederhana ini: sebuah akibat pasti menyerupai penyebabnya. Hal ini benar adanya, karena tak ada seorang ateis pun yang dapat menjelaskan bagaimana sebuah alam semesta yang tidak memiliki kepribadian, tidak bertujuan, tidak berarti, dan tidak bermoral dapat tiba-tiba menciptakan manusia yang penuh kepribadian, memiliki tujuan, berarti, dan bermoral. Hal ini, dari pandangan \u201chukum penyebab,\u201d sepenuhnya akan menyangkal ide bahwa alam semesta secara alami bisa melahirkan segala sesuatu yang \u201cada.\u201d Jadi, pada akhirnya, pernyataan bahwa \u201calam semesta itu kekal\u201d menjadi terbantahkan dengan sendirinya. Filsuf J. S. Mill, bukan seorang Kristen, meringkaskan pemikiran ini: \u201cTerbukti dengan sendirinya bahwa hanya Pencipta yang dapat menciptakan ciptaan.\u201d Kesimpulan yang rasional dan beralasan adalah, Pencipta yang kekal menjadi pihak yang bertanggung jawab atas realitas yang ada saat ini. Rentetan logisnya menjadi: \u2022 Sesuatu itu \u201cada.\u201d \u2022 Saudara tidak akan memperoleh sesuatu dari yang sebelumnya \u201ctidak ada\u201d menjadi \u201cada.\u201d \u2022 Karena itu, dibutuhkan \u201csesuatu\/seseorang\u201d yang kekal untuk \u201cada\u201d sebelumnya. \u2022 Hanya ada dua opsi yaitu \u201calam semesta yang kekal\u201d atau \u201cPencipta yang kekal.\u201d \u2022 Ilmu pengetahuan dan filsafat tidak dapat membuktikan keberadaan \u201calam semesta yang kekal.\u201d Karena itu, \u201cPencipta yang kekal\u201d itu ada. Mantan ateis, Lee Strobel, yang menyimpulkan fakta ini beberapa tahun yang lalu, berkomentar, \u201cIntinya, saya menyadari bahwa untuk menjadi seorang ateis, saya harus mempercayai bahwa sesuatu yang \u201ctidak ada\u201d bisa menghasilkan segalanyasesuatu yang tidak hidup\u201d menciptakan kehidupan; \u201csesuatu yang tidak teratur\u201d menghasilkan sesuatu yang teratur; \u201ckekacauan\u201d menghasilkan informasi; \u201cketidaksadaran\u201d menghasilkan kesadaran; dan yang \u201ctidak beralasan\u201d menghasilkan alasan. Lompatan keyakinan ini terlalu besar bagi saya, terutama dalam dalam hal mempercayai keberadaan Allah \u2026 Dengan kata lain, dalam penilaian saya, pandangan orang Kristen menyumbangkan bukti yang jauh lebih menyakinkan daripada pandangan ateis.\u201d Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab : jika \u201cPencipta yang kekal\u201d itu ada, seperti apakah Dia? Dapatkah kita mengambil kesimpulan tentang-Nya dari apa yang Ia ciptakan? Dengan kata lain, dapatkan kita mengerti \u201cpenyebab\u201d dengan mempelajari \u201cakibat\u201dnya? Jawaban untuk hal ini adalah: ya, kita bisa. Kemungkinan besar: \u2022 Ia pasti ajaib di alam semesta (karena Ia yang menciptakan waktu dan ruang). \u2022 Ia pasti (sangat) penuh dengan kuasa. \u2022 Ia pasti ada pada dirinya sendiri\/kekal (self-existent). \u2022 Ia pasti Mahahadir (Ia menciptakan ruang dan tidak terbatas oleh hal itu). \u2022 Ia pasti tidak terbatas oleh waktu dan tidak berubah (karena Ia yang menciptakan waktu). \u2022 Ia pasti tidak berwujud karena Ia melampaui ruang\/fisik. \u2022 Ia pasti berkepribadian (sesuatu yang tidak berkepribadian tidak bisa menciptakan kepribadian). \u2022 Ia pasti tidak terbatas dan tunggal karena Saudara tidak bisa memiliki dua hal yang sama-sama tidak terhingga. \u2022 Ia pasti berbeda-beda namun tetap satu karena kesatuan dan perbedaan itu ada di alam semesta. \u2022 Ia pasti (sangat) cerdas. Hanya makhluk berakal yang dapat menciptakan makhluk berakal. \u2022 Ia pasti penuh dengan tujuan karena Ia sengaja menciptakan segalanya. \u2022 Ia pasti bermoral (tidak ada hukum moral yang bisa tercipta tanpa penciptanya). Ia pasti peduli (tidak ada hukum moral yang tercipta dengan sendirinya). Karakter-karakter ini pasti benar adanya. Kita dapat menanyakan hal tersebut kepada setiap agama di dunia untuk menggambarkan Pencipta, dan pasti menemukan deskripsi yang sama. Jawaban untuk hal ini adalah: ya, Allah dalam Alkitab sesuai dengan deskripsi di atas. Ia ajaib (Kej 1:1), penuh kuasa (Yer 32:17), kekal (Maz 90:2), Mahahadir (Maz 139:7), tidak terbatas oleh waktu\/tidak berubah (Mal 3:6), tidak berwujud (Yoh 5:24), berkepribadian (Kej 3:9), dibutuhkan (Kol 1:17), tidak terbatas\/tunggal (Yer 23:24, Ul 6:4), berbeda namun tetap satu (Mat 28:19), cerdas (Maz 147:4-5), penuh tujuan (Yer 29:11), bermoral (Dan 9:14), dan peduli (1 Pet 5:6-7). Kita juga harus memahami cara pikir orang-orang ateis yang sesungguhnya. Karena ateis menuduh orang-percaya sebagai orang yang tidak logis, maka hal yang perlu dilakukan ialah mengajukan pertanyaan seputar itu dan menanyakan balik kepada mereka. Hal pertama yang harus dimengerti adalah klaim yang dibuat ateis \u2013 bahwa \u201cAllah itu tidak ada,\u201d sebagaimana arti kata \u201cateis\u201d \u2013 adalah sebuah posisi yang tidak dapat dipertahankan secara filsafat. Sebagai lulusan hukum dan filsafat, Mortimer Adler mengatakan, \u201cDalil keberadaan dapat dibuktikan, tapi tidak demikian halnya dengan dalil keberadaan yang negatif \u2013 seseorang yang menolak keberadaan sesuatu \u2013 tidak dapat dibuktikan.\u201d Sebagai contoh, seseorang dapat mengatakan elang merah itu ada dan yang lainnya mengatakan elang merah itu tidak ada. Pihak pertama hanya perlu mencari seekor elang merah untuk membuktikan keyakinannya. Sementara pihak terakhir harus menyisir seluruh alam semesta dan benar-benar hadir di setiap tempat sekaligus untuk memastikan bahwa ia tidak melewatkan seekor elang merah di suatu tempat dan di suatu waktu, yang sebetulnya tidak mungkin dilakukan. Ini sebabnya ateis jujur ketika mengakui bahwa mereka tidak dapat membuktikan bahwa Allah itu tidak ada. Penting untuk memahami prinsip mengenai kaitan antara seserius apa level kebenaran yang akan dinyatakan dengan jumlah bukti yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Sebagai contoh, seseorang menaruh dua kontainer lemon di depan Saudara dan menyatakan kalau salah satu isi kontainer bisa saja lebih asam dari yang satunya. Karena risiko mendapatkan minuman yang lebih asam bukan hal yang serius untuk dimutlakkan, maka Saudara tidak diharuskan menemukan banyak bukti sebelum menentukan jawabannya. Tapi, jika seseorang menambahkan pemanis di satu gelas dan menambahkan racun tikus di gelas yang lain, maka Saudara harus menemukan bukti kuat sebelum menentukan pilihan. Ini seperti halnya bagi seseorang untuk memilih menjadi ateis atau orang yang percaya kepada Allah. Karena ateisme berpotensi tidak berubah dan berdampak kekal, maka orang ateis harus menghasilkan bukti yang berbobot dan tepat untuk mendukung posisinya, walau mereka tidak bisa melakukannya. Ateisme tidak dapat menguji bukti akan keseriusan teori yang mereka buat. Sebaliknya, para ateis malah berharap mereka tidak akan menemukan kebenaran bahwa kekekalan itu memang ada. Seperti kata Mortimer Adler, \u201cLebih banyak konsekuensi bagi kehidupan dan aksi yang timbul dari keputusan untuk percaya atau menyangkal keberadaan Allah dibandingkan dengan pertanyaan lain.\u201d Jadi, apakah percaya kepada Allah bisa diterima secara ilmiah? Apakah ada penjelasan yang rasional, logis, dan ilmiah untuk keberadaan Allah? Tentu saja. Ateis seperti Freud mengklaim bahwa mereka yang percaya kepada Allah memiliki \u201chasrat bagi terkabulnya keinginan\u201d (wish-fulfillment desire), sangat mungkin Freud dan pengikutnya sendiri yang menderita \u201chasrat bagi terkabulnya keinginan\u201d (wish-fulfillment desire) itu sendiri: berharap dan percaya kalau Allah itu tidak ada, sehingga tidak perlu ada pertanggungjawaban di akhir kehidupan ini, sehingga tidak ada penghakiman. Namun, Freud keliru. Melalui Alkitab, Allah menyatakan sendiri keberadaan-Nya dan penghakiman yang akan datang kepada mereka yang mengetahui kebenaran bahwa Ia ada, namun menolak kebenaran tersebut (Rom 1:20). Sementara bagi mereka yang percaya kalau Pencipta itu memang ada, Ia menawarkan jalan keselamatan yang telah dibuat oleh Anak-Nya, Yesus Kristus: \u201cTetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah\u201d (Yoh 1:12-13). (gotquestions)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Pertanyaan mengenai apakah ada penjelasan yang pasti mengenai keberadaan Allah telah diperdebatkan sepanjang sejarah, dengan melibatkan tokoh intelektual dari kedua belah pihak yang saling berlawanan. Di jaman ini, penjelasan yang menolak keberadaan Allah telah menimbulkan semangat yang militan untuk menuduh pihak yang percaya dengan keberadaan Allah itu sebagai orang yang mengalami delusi dan irasional.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Karl Marx menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada Allah pasti memiliki kelainan mental sehingga menimbulkan pemikiran yang salah. Psikiatris Sigmund Freud menyatakan kalau orang yang percaya adanya Allah Pencipta adalah orang yang mengalami delusi dan memilih mempercayai hal tersebut karena memiliki \u201chasrat bagi terkabulnya keinginan\u201d (<i>wish-fulfillment desire<\/i>), sehingga menghasilkan apa yang disebut Freud sebagai hal yang tidak bisa dibenarkan. Filsuf Frederick Nietzsche malah menyatakan kalau iman sama saja dengan \u201ctidak ingin mengetahui apa itu kebenaran.\u201d Pendapat ketiga tokoh ini (dan tokoh lainnya), diikuti oleh generasi baru ateis, menyebut kepercayaan kepada Allah sebagai \u201csesuatu yang tidak memiliki dasar ilmiah.\u201d<\/p>\n<p>Apakah ini sebuah masalah? Apakah kepercayaan kepada Allah merupakan sebuah hal yang tidak dapat diterima secara rasional? Apakah ada penjelasan yang logis dan ilmiah mengenai keberadaan Allah? Di luar referensi dari Alkitab, dapatkah keberadaan Allah dijelaskan untuk membantah argumen dari kaum ateis, dan memutlakkan manusia untuk mempercayai adanya Pencipta? Jawabannya: ya, bisa. Lebih jauh, adanya keabsahan penjelasan tentang keberadaan Allah, bagi kaum ateis akan tetap terlihat sebagai sesuatu yang lemah secara intelektual.<\/p>\n<p>Untuk menjelaskan keberadaan Allah, kita harus mulai dengan pertanyaan yang tepat. Kita mulai dengan pertanyaan metafisika dasar: \u201cMengapa sesuatu itu menjadi \u201cada\u201d dan bukan sebaliknya?\u201d Ini pertanyaan dasar mengenai keberadaan \u2013 mengapa kita di sini; mengapa dunia di sini; mengapa alam semesta ini ada dan bukan sebaliknya? Menjawab hal ini, seorang teolog mengatakan, \u201cDi satu sisi, manusia sebenarnya tidak bertanya tentang Allah, keberadaan dirinyalah yang menimbulkan pertanyaan tentang Allah.\u201d<\/p>\n<p>Mempertimbangkan pertanyaan ini, ada empat kemungkinan jawaban mengenai mengapa sesuatu itu menjadi \u201cada\u201d dan bukan sebaliknya:<\/p>\n<p>1. Realitas hanyalah sebuah ilusi.<br \/>\n2. Realitas tercipta dengan sendirinya (<i>self-created<\/i>).<br \/>\n3. Realitas merupakan sesuatu yang \u201csudah ada pada dirinya sendiri\u201d (<i>self-existent<\/i>)\/ abadi (<i>eternal<\/i>).<br \/>\nRealitas diciptakan oleh sesuatu yang \u201csudah ada pada dirinya sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Jadi, mana yang lebih masuk akal? Mari mulai dengan pernyataan kalau \u201crealitas hanyalah ilusi,\u201d seperti yang dipercayai oleh kebanyakan agama dari Timur. Pemikiran ini terbentuk berabad-abad lalu oleh filsuf Rene Descartes yang terkenal dengan pernyataannya, \u201cSaya berpikir, maka saya ada.\u201d Descartes, seorang ahli matematika, berpandangan bahwa jika ia berpikir, maka ia pasti \u201cada.\u201d Dengan kata lain, \u201cSaya berpikir, maka saya bukanlah sebuah ilusi.\u201d Ilusi membutuhkan sesuatu yang diyakini sebagai ilusi. Apalagi, Saudara tidak dapat meragukan keberadaan diri Saudara tanpa membuktikan keberadaan Saudara. Ini adalah argumen yang tak terbantahkan. Jadi, kemungkinan kalau \u201crealitas hanyalah ilusi\u201d menjadi terbantahkan dengan sendirinya.<\/p>\n<p>Selanjutnya, pernyataan bahwa \u201crealitas tercipta dengan sendirinya.\u201d Ketika kita belajar filsafat, kita belajar tentang pernyataan yang \u201csalah secara analisis\u201d, yang berarti sesuatu sudah pasti salah menurut definisinya. Kemungkinan bahwa \u201crealitas tercipta dengan sendirinya\u201d merupakan contoh dari pernyataan itu, terkait alasan sederhana bahwa sesuatu tidak mungkin ada mendahului dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Jika Saudara menciptakan diri Saudara sendiri, maka Saudara harus \u201cada\u201d terlebih dahulu. Dalam evolusi, kadangkala mereka merujuk pada istilah \u201cgenerasi spontan\u201d \u2013 sesuatu yang menjadi \u201cada\u201d dari yang \u201ctidak ada\u201d sebelumnya\u2013 sebuah pemikiran yang sudah jarang dipegang, karena orang-orang tahu kalau sesuatu tidak mungkin menjadi \u201cada\u201d dari sesuatu yang tadinya \u201ctidak ada.\u201d Bahkan seorang ateis, David Hume mengatakan, \u201cSaya tidak pernah bisa menerima betapa tidak masuk akalnya sesuatu bisa menjadi \u201cada\u201d tanpa adanya penyebab.\u201d Karena sesuatu tidak mungkin menjadi \u201cada\u201d dari yang \u201ctidak ada\u201c sebelumya, maka pernyataan kalau \u201crealitas tercipta dengan sendirinya\u201d menjadi terbantahkan dengan sendirinya.<\/p>\n<p>Sekarang kita tinggal memiliki dua pernyataan \u2013 sebuah \u201crealitas yang ada pada dirinya sendiri\/kekal\u201d atau \u201crealitas yang diciptakan oleh sesuatu yang ada pada dirinya sendiri\/kekal:\u201d oleh \u201calam semesta yang kekal\u201d atau \u201cPencipta yang kekal.\u201d Teolog abad ke-18 Jonathan Edwards menyimpulkan situasi ini menjadi:<br \/>\n\u2022 Sesuatu itu \u201cada.\u201d<br \/>\n\u2022 \u201cTidak ada\u201d itu tidak dapat menciptakan sesuatu.<\/p>\n<p>Sehingga, \u201csesuatu yang kekal\u201d haruslah ada.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kita harus percaya dengan keberadaan \u201csesuatu yang kekal.\u201d Para ateis, yang mencemooh pihak yang percaya kepada Allah karena percaya adanya \u201cPencipta yang abadi,\u201d harus berbalik dan menerima keberadaan yang kekal itu; satu-satunya pilihan yang masuk akal bagi mereka. Namun pertanyaannya adalah, bukti seperti apa yang kita cari? Apakah ada bukti yang menunjukkan kalau ciptaan itu terlebih dahulu \u201cada\u201d ketimbang Pencipta? Atau Pencipta yang terlebih dahulu \u201cada\u201d ketimbang ciptaan?<\/p>\n<p>Sampai saat ini, semua bukti ilmiah dan filsafat membawa kita meninggalkan pemikiran mengenai adanya \u201calam semesta yang kekal\u201d menuju \u201cPencipta yang kekal.\u201d Dari pandangan ilmiah, ilmuwan yang jujur akan mengakui kalau alam semesta itu memiliki awal. Apapun yang memiliki awal pastilah tidak kekal. Dengan kata lain, apapun yang memiliki awal pasti memiliki penyebab. Jika alam semesta memiliki awal, maka ia memiliki penyebab. Fakta bahwa alam semesta memiliki awal ditegaskan oleh beberapa bukti seperti hukum kedua termodinamika, gema radiasi dalam teori \u201cBig Bang\u201d yang ditemukan di awal tahun 1990-an, fakta bahwa alam semesta ini terus berkembang dan dapat ditelusuri ke titik awal mulanya, dan teori Einstein tentang relativitas. Semua ini membuktikan kalau alam semesta tidak kekal.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, \u201chukum penyebab\u201d membantah pemikiran kalau alam semesta ini bisa sebagai penyebab utama, terkait fakta sederhana ini: sebuah akibat pasti menyerupai penyebabnya. Hal ini benar adanya, karena tak ada seorang ateis pun yang dapat menjelaskan bagaimana sebuah alam semesta yang tidak memiliki kepribadian, tidak bertujuan, tidak berarti, dan tidak bermoral dapat tiba-tiba menciptakan manusia yang penuh kepribadian, memiliki tujuan, berarti, dan bermoral. Hal ini, dari pandangan \u201chukum penyebab,\u201d sepenuhnya akan menyangkal ide bahwa alam semesta secara alami bisa melahirkan segala sesuatu yang \u201cada.\u201d Jadi, pada akhirnya, pernyataan bahwa \u201calam semesta itu kekal\u201d menjadi terbantahkan dengan sendirinya.<\/p>\n<p>Filsuf J. S. Mill, bukan seorang Kristen, meringkaskan pemikiran ini: \u201cTerbukti dengan sendirinya bahwa hanya Pencipta yang dapat menciptakan ciptaan.\u201d Kesimpulan yang rasional dan beralasan adalah, Pencipta yang kekal menjadi pihak yang bertanggung jawab atas realitas yang ada saat ini. Rentetan logisnya menjadi:<br \/>\n\u2022 Sesuatu itu \u201cada.\u201d<br \/>\n\u2022 Saudara tidak akan memperoleh sesuatu dari yang sebelumnya \u201ctidak ada\u201d menjadi \u201cada.\u201d<br \/>\n\u2022 Karena itu, dibutuhkan \u201csesuatu\/seseorang\u201d yang kekal untuk \u201cada\u201d sebelumnya.<br \/>\n\u2022 Hanya ada dua opsi yaitu \u201calam semesta yang kekal\u201d atau \u201cPencipta yang kekal.\u201d<br \/>\n\u2022 Ilmu pengetahuan dan filsafat tidak dapat membuktikan keberadaan \u201calam semesta yang kekal.\u201d<\/p>\n<p>Karena itu, \u201cPencipta yang kekal\u201d itu ada.<\/p>\n<p>Mantan ateis, Lee Strobel, yang menyimpulkan fakta ini beberapa tahun yang lalu, berkomentar, \u201cIntinya, saya menyadari bahwa untuk menjadi seorang ateis, saya harus mempercayai bahwa sesuatu yang \u201ctidak ada\u201d bisa menghasilkan segalanyasesuatu yang tidak hidup\u201d menciptakan kehidupan; \u201csesuatu yang tidak teratur\u201d menghasilkan sesuatu yang teratur; \u201ckekacauan\u201d menghasilkan informasi; \u201cketidaksadaran\u201d menghasilkan kesadaran; dan yang \u201ctidak beralasan\u201d menghasilkan alasan. Lompatan keyakinan ini terlalu besar bagi saya, terutama dalam dalam hal mempercayai keberadaan Allah \u2026 Dengan kata lain, dalam penilaian saya, pandangan orang Kristen menyumbangkan bukti yang jauh lebih menyakinkan daripada pandangan ateis.\u201d<\/p>\n<p>Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab : jika \u201cPencipta yang kekal\u201d itu ada, seperti apakah Dia? Dapatkah kita mengambil kesimpulan tentang-Nya dari apa yang Ia ciptakan? Dengan kata lain, dapatkan kita mengerti \u201cpenyebab\u201d dengan mempelajari \u201cakibat\u201dnya? Jawaban untuk hal ini adalah: ya, kita bisa. Kemungkinan besar:<br \/>\n\u2022 Ia pasti ajaib di alam semesta (karena Ia yang menciptakan waktu dan ruang).<br \/>\n\u2022 Ia pasti (sangat) penuh dengan kuasa.<br \/>\n\u2022 Ia pasti ada pada dirinya sendiri\/kekal (self-existent).<br \/>\n\u2022 Ia pasti Mahahadir (Ia menciptakan ruang dan tidak terbatas oleh hal itu).<br \/>\n\u2022 Ia pasti tidak terbatas oleh waktu dan tidak berubah (karena Ia yang menciptakan waktu).<br \/>\n\u2022 Ia pasti tidak berwujud karena Ia melampaui ruang\/fisik.<br \/>\n\u2022 Ia pasti berkepribadian (sesuatu yang tidak berkepribadian tidak bisa menciptakan kepribadian).<br \/>\n\u2022 Ia pasti tidak terbatas dan tunggal karena Saudara tidak bisa memiliki dua hal yang sama-sama tidak terhingga.<br \/>\n\u2022 Ia pasti berbeda-beda namun tetap satu karena kesatuan dan perbedaan itu ada di alam semesta.<br \/>\n\u2022 Ia pasti (sangat) cerdas. Hanya makhluk berakal yang dapat menciptakan makhluk berakal.<br \/>\n\u2022 Ia pasti penuh dengan tujuan karena Ia sengaja menciptakan segalanya.<br \/>\n\u2022 Ia pasti bermoral (tidak ada hukum moral yang bisa tercipta tanpa penciptanya).<\/p>\n<p>Ia pasti peduli (tidak ada hukum moral yang tercipta dengan sendirinya).<\/p>\n<p>Karakter-karakter ini pasti benar adanya. Kita dapat menanyakan hal tersebut kepada setiap agama di dunia untuk menggambarkan Pencipta, dan pasti menemukan deskripsi yang sama. Jawaban untuk hal ini adalah: ya, Allah dalam Alkitab sesuai dengan deskripsi di atas. Ia ajaib (Kej 1:1), penuh kuasa (Yer 32:17), kekal (Maz 90:2), Mahahadir (Maz 139:7), tidak terbatas oleh waktu\/tidak berubah (Mal 3:6), tidak berwujud (Yoh 5:24), berkepribadian (Kej 3:9), dibutuhkan (Kol 1:17), tidak terbatas\/tunggal (Yer 23:24, Ul 6:4), berbeda namun tetap satu (Mat 28:19), cerdas (Maz 147:4-5), penuh tujuan (Yer 29:11), bermoral (Dan 9:14), dan peduli (1 Pet 5:6-7).<\/p>\n<p>Kita juga harus memahami cara pikir orang-orang ateis yang sesungguhnya. Karena ateis menuduh orang-percaya sebagai orang yang tidak logis, maka hal yang perlu dilakukan ialah mengajukan pertanyaan seputar itu dan menanyakan balik kepada mereka. Hal pertama yang harus dimengerti adalah klaim yang dibuat ateis \u2013 bahwa \u201cAllah itu tidak ada,\u201d sebagaimana arti kata \u201cateis\u201d \u2013 adalah sebuah posisi yang tidak dapat dipertahankan secara filsafat.<\/p>\n<p>Sebagai lulusan hukum dan filsafat, Mortimer Adler mengatakan, \u201cDalil keberadaan dapat dibuktikan, tapi tidak demikian halnya dengan dalil keberadaan yang negatif \u2013 seseorang yang menolak keberadaan sesuatu \u2013 tidak dapat dibuktikan.\u201d Sebagai contoh, seseorang dapat mengatakan elang merah itu ada dan yang lainnya mengatakan elang merah itu tidak ada. Pihak pertama hanya perlu mencari seekor elang merah untuk membuktikan keyakinannya. Sementara pihak terakhir harus menyisir seluruh alam semesta dan benar-benar hadir di setiap tempat sekaligus untuk memastikan bahwa ia tidak melewatkan seekor elang merah di suatu tempat dan di suatu waktu, yang sebetulnya tidak mungkin dilakukan. Ini sebabnya ateis jujur ketika mengakui bahwa mereka tidak dapat membuktikan bahwa Allah itu tidak ada.<\/p>\n<p>Penting untuk memahami prinsip mengenai kaitan antara seserius apa level kebenaran yang akan dinyatakan dengan jumlah bukti yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Sebagai contoh, seseorang menaruh dua kontainer lemon di depan Saudara dan menyatakan kalau salah satu isi kontainer bisa saja lebih asam dari yang satunya. Karena risiko mendapatkan minuman yang lebih asam bukan hal yang serius untuk dimutlakkan, maka Saudara tidak diharuskan menemukan banyak bukti sebelum menentukan jawabannya. Tapi, jika seseorang menambahkan pemanis di satu gelas dan menambahkan racun tikus di gelas yang lain, maka Saudara harus menemukan bukti kuat sebelum menentukan pilihan.<\/p>\n<p>Ini seperti halnya bagi seseorang untuk memilih menjadi ateis atau orang yang percaya kepada Allah. Karena ateisme berpotensi tidak berubah dan berdampak kekal, maka orang ateis harus menghasilkan bukti yang berbobot dan tepat untuk mendukung posisinya, walau mereka tidak bisa melakukannya. Ateisme tidak dapat menguji bukti akan keseriusan teori yang mereka buat. Sebaliknya, para ateis malah berharap mereka tidak akan menemukan kebenaran bahwa kekekalan itu memang ada. Seperti kata Mortimer Adler, \u201cLebih banyak konsekuensi bagi kehidupan dan aksi yang timbul dari keputusan untuk percaya atau menyangkal keberadaan Allah dibandingkan dengan pertanyaan lain.\u201d<\/p>\n<p>Jadi, apakah percaya kepada Allah bisa diterima secara ilmiah? Apakah ada penjelasan yang rasional, logis, dan ilmiah untuk keberadaan Allah? Tentu saja. Ateis seperti Freud mengklaim bahwa mereka yang percaya kepada Allah memiliki \u201chasrat bagi terkabulnya keinginan\u201d (wish-fulfillment desire), sangat mungkin Freud dan pengikutnya sendiri yang menderita \u201chasrat bagi terkabulnya keinginan\u201d (wish-fulfillment desire) itu sendiri: berharap dan percaya kalau Allah itu tidak ada, sehingga tidak perlu ada pertanggungjawaban di akhir kehidupan ini, sehingga tidak ada penghakiman. Namun, Freud keliru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui Alkitab, Allah menyatakan sendiri keberadaan-Nya dan penghakiman yang akan datang kepada mereka yang mengetahui kebenaran bahwa Ia ada, namun menolak kebenaran tersebut (Rom 1:20). Sementara bagi mereka yang percaya kalau Pencipta itu memang ada, Ia menawarkan jalan keselamatan yang telah dibuat oleh Anak-Nya, Yesus Kristus: \u201cTetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah\u201d (Yoh 1:12-13). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Pertanyaan mengenai apakah ada penjelasan yang pasti mengenai keberadaan Allah telah diperdebatkan sepanjang sejarah, dengan melibatkan tokoh intelektual dari kedua belah pihak yang saling berlawanan. Di jaman ini, penjelasan yang menolak keberadaan Allah telah menimbulkan semangat yang militan untuk menuduh pihak yang percaya dengan keberadaan Allah itu sebagai orang yang mengalami delusi dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[134,1],"tags":[154],"class_list":["post-42888","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-alkitab"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1162","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42888","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42888"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42888\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42888"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42888"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42888"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}