{"id":42902,"date":"2021-03-29T09:22:00","date_gmt":"2021-03-29T02:22:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42902"},"modified":"2021-05-08T10:54:43","modified_gmt":"2021-05-08T03:54:43","slug":"bagaimana-seharusnya-orang-kristen-memandang-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-seharusnya-orang-kristen-memandang-politik\/","title":{"rendered":"Bagaimana seharusnya orang Kristen memandang politik?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Jika ada sebuah topik yang bisa memicu perdebatan spontan ataupun perbedaan pendapat \u2013 bahkan di antara sesama orang-percaya \u2013 itu adalah diskusi mengenai politik. Sebagai pengikut Kristus, bagaimana seharusnya sikap dan keterlibatan kita dalam ranah politik? Ada sebuah pendapat bahwa \u201cagama dan politik tidak bisa menyatu.\u201d Apakah pendapat itu benar? Dapatkah kita memiliki pandangan politik yang bertentangan dengan iman Kristen kita? Jawabannya adalah tidak bisa. Alkitab menyatakan dua kebenaran mengenai sikap kita terhadap politik dan pemerintahan. Kebenaran yang pertama: adalah kehendak Allah meliputi dan mengambil alih setiap aspek dalam kehidupan kita. Kehendak Dia-lah yang harus diutamakan di atas segala sesuatu dan semua orang (Mat 6:33). Rencana dan tujuan Allah itu pasti dan kehendak-Nya tidak bisa diganggu gugat. Apapun yang Allah rencanakan, Dia akan melaksanakannya. Tidak ada satupun pemerintahan yang dapat menghalangi kehendak-Nya (Dan 4:34-35). Bahkan, Dialah yang \u201cmemecat raja dan mengangkat raja\u201d (Dan 2:21) karena \u201cYang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya\u201d (Dan 4:17). Pemahaman yang benar terhadap kebenaran ini akan membantu kita untuk melihat bahwa politik hanyalah sebuah cara yang Allah gunakan untuk menggenapi kehendak-Nya. Meskipun orang-orang jahat menyalahgunakan kekuasaan politik mereka, yang memanfaatkannya untuk melakukan hal-hal yang jahat, namun Allah memakainya untuk kebaikan, karena Dia turut bekerja \u201cdalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah\u201d (Rm 8:28). Kedua, kita harus memahami fakta bahwa pemerintah tidak bisa menyelamatkan kita! Hanya Allah yang bisa. Alkitab tidak pernah mengindikasikan Yesus ataupun para rasul mencurahkan waktu dan tenaga untuk mengajar orang-percaya mengenai bagaimana mereformasi dunia tanpa iman melalui praktek penyembahan berhala, asusila dan korupsi dengan bantuan pemerintah. Para rasul tidak pernah memanggil orang-percaya supaya tidak taat, sebagai cara untuk memprotes ketidakadilan hukum atau rencana jahat Kerajaan Romawi. Sebaliknya, para rasul memerintahkan orang Kristen mula-mula, termasuk semua orang-percaya hari ini, untuk memberitakan Injil dan menjalani hidup yang menunjukkan bukti nyata dari kekuatan Injil yang mengubahkan. Sudah dipastikan bahwa tanggung jawab kita kepada pemerintah adalah untuk menaati hukum dan menjadi warga negara yang baik (Rom 13:1-2). Allah telah menetapkan semua otoritas. Dia melakukannya untuk kepentingan kita, \u201cdan menghormati orang-orang yang berbuat baik\u201d (1 Ptr 2:13-15). Paulus berkata di surat Roma 13:1-8 bahwa merupakan tanggung jawab pemerintah untuk berkuasa dengan penuh otoritas atas kita semua \u2013 semoga demi kebaikan kita \u2013 dengan memungut pajak, dan memelihara kedamaian. Ketika kita memiliki hak suara dan dapat memilih pemimpin sendiri, kita harus menggunakan hak tersebut untuk memilih mereka yang memiliki pandangan yang sama dengan kita. Salah satu dusta Setan yang terbesar adalah: kita bisa menaruh harapan kita mengenai moralitas budaya dan kehidupan yang saleh di tangan para pejabat politik dan pemerintahan. Sebuah bangsa tidak bisa berharap pihak penguasa yang akan mengadakan perubahan. Gereja melakukan kesalahan jika mengira para politikus yang bertugas untuk membela, mendahulukan, dan menjaga kebenaran Alkitab dan nilai-nilai Kekristenan. Tujuan Allah yang unik terhadap Gereja tidak berada di tangan kebijakan politik. Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa kita harus mencurahkan energi, waktu dan uang kita dalam urusan pemerintahan. Misi kita bukan untuk mengubah bangsa melalui reformasi politik, namun untuk mengubah hati orang lain melalui Firman Allah. Ketika orang-percaya memiliki pemikiran bahwa penginjilan dan pemuridan terkait dengan kebijakan pemerintah, mereka merusak misi Gereja itu sendiri. Sebagai orang Kristen, kita diberikan amanat untuk mengabarkan Injil Kristus dan berkhotbah untuk menegur dosa di jaman ini. Sebuah budaya hanya bisa berubah jika hati para individunya telah diubahkan oleh Kristus. Orang-percaya, di sepanjang jaman telah hidup dan bahkan semakin bertambah, di bawah pemerintahan yang antagonis, penuh penindasan dan tak beriman. Hal ini benar-benar terjadi pada orang-percaya mula-mula yang, meskipun berada di bawah rezim politik yang tidak memiliki belas kasihan, tetap dapat memelihara iman mereka di bawah tekanan budaya yang sangat besar. Mereka memahami bahwa merekalah, dan bukan para penguasa, yang merupakan terang dan garam dunia. Mereka berpegang kepada ajaran Paulus untuk menaati otoritas pemerintah, bahkan menghormati, menghargai dan berdoa untuk mereka (Rom 13:1-8). Yang lebih penting, mereka memahami bahwa, sebagai orang percaya, harapan mereka terletak dalam perlindungan yang disediakan oleh Allah sendiri. Hal yang sama juga berlaku bagi kita pada hari ini. Ketika kita menaati apa yang diajarkan oleh Alkitab, kita menjadi terang dunia, sesuai dengan maksud Allah bagi diri kita. Para pelaku politik bukanlah juru selamat dunia ini. Keselamatan bagi seluruh umat manusia telah diwujudkan melalui Yesus Kristus. Allah mengetahui bahwa dunia ini memerlukan keselamatan, jauh sebelum ditemukannya sistem pemerintahan. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa penyelamatan tidak bisa dilakukan oleh kekuatan manusia, baik melalui kekuatan ekonomi, kekuatan militer, atau kekuatan politik. Damai sejahtera, kepuasan, harapan dan sukacita \u2013 dan keselamatan umat manusia \u2013 hanya dapat digenapi melalui karya iman, kasih dan karunia Yesus Kristus.$t54frzae3sw2zaza3 (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Jika ada sebuah topik yang bisa memicu perdebatan spontan ataupun perbedaan pendapat \u2013 bahkan di antara sesama orang-percaya \u2013 itu adalah diskusi mengenai politik. Sebagai pengikut Kristus, bagaimana seharusnya sikap dan keterlibatan kita dalam ranah politik?<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ada sebuah pendapat bahwa \u201cagama dan politik tidak bisa menyatu.\u201d Apakah pendapat itu benar? Dapatkah kita memiliki pandangan politik yang bertentangan dengan iman Kristen kita? Jawabannya adalah tidak bisa. Alkitab menyatakan dua kebenaran mengenai sikap kita terhadap politik dan pemerintahan.<\/p>\n<p>Kebenaran yang pertama: adalah kehendak Allah meliputi dan mengambil alih setiap aspek dalam kehidupan kita. Kehendak Dia-lah yang harus diutamakan di atas segala sesuatu dan semua orang (Mat 6:33). Rencana dan tujuan Allah itu pasti dan kehendak-Nya tidak bisa diganggu gugat. Apapun yang Allah rencanakan, Dia akan melaksanakannya. Tidak ada satupun pemerintahan yang dapat menghalangi kehendak-Nya (Dan 4:34-35). Bahkan, Dialah yang \u201cmemecat raja dan mengangkat raja\u201d (Dan 2:21) karena \u201cYang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya\u201d (Dan 4:17).<\/p>\n<p>Pemahaman yang benar terhadap kebenaran ini akan membantu kita untuk melihat bahwa politik hanyalah sebuah cara yang Allah gunakan untuk menggenapi kehendak-Nya. Meskipun orang-orang jahat menyalahgunakan kekuasaan politik mereka, yang memanfaatkannya untuk melakukan hal-hal yang jahat, namun Allah memakainya untuk kebaikan, karena Dia turut bekerja \u201cdalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah\u201d (Rm 8:28).<\/p>\n<p>Kedua, kita harus memahami fakta bahwa pemerintah tidak bisa menyelamatkan kita! Hanya Allah yang bisa. Alkitab tidak pernah mengindikasikan Yesus ataupun para rasul mencurahkan waktu dan tenaga untuk mengajar orang-percaya mengenai bagaimana mereformasi dunia tanpa iman melalui praktek penyembahan berhala, asusila dan korupsi dengan bantuan pemerintah. Para rasul tidak pernah memanggil orang-percaya supaya tidak taat, sebagai cara untuk memprotes ketidakadilan hukum atau rencana jahat Kerajaan Romawi. Sebaliknya, para rasul memerintahkan orang Kristen mula-mula, termasuk semua orang-percaya hari ini, untuk memberitakan Injil dan menjalani hidup yang menunjukkan bukti nyata dari kekuatan Injil yang mengubahkan.<\/p>\n<p>Sudah dipastikan bahwa tanggung jawab kita kepada pemerintah adalah untuk menaati hukum dan menjadi warga negara yang baik (Rom 13:1-2). Allah telah menetapkan semua otoritas. Dia melakukannya untuk kepentingan kita, \u201cdan menghormati orang-orang yang berbuat baik\u201d (1 Ptr 2:13-15). Paulus berkata di surat Roma 13:1-8 bahwa merupakan tanggung jawab pemerintah untuk berkuasa dengan penuh otoritas atas kita semua \u2013 semoga demi kebaikan kita \u2013 dengan memungut pajak, dan memelihara kedamaian. Ketika kita memiliki hak suara dan dapat memilih pemimpin sendiri, kita harus menggunakan hak tersebut untuk memilih mereka yang memiliki pandangan yang sama dengan kita.<\/p>\n<p>Salah satu dusta Setan yang terbesar adalah: kita bisa menaruh harapan kita mengenai moralitas budaya dan kehidupan yang saleh di tangan para pejabat politik dan pemerintahan. Sebuah bangsa tidak bisa berharap pihak penguasa yang akan mengadakan perubahan. Gereja melakukan kesalahan jika mengira para politikus yang bertugas untuk membela, mendahulukan, dan menjaga kebenaran Alkitab dan nilai-nilai Kekristenan.<\/p>\n<p>Tujuan Allah yang unik terhadap Gereja tidak berada di tangan kebijakan politik. Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa kita harus mencurahkan energi, waktu dan uang kita dalam urusan pemerintahan. Misi kita bukan untuk mengubah bangsa melalui reformasi politik, namun untuk mengubah hati orang lain melalui Firman Allah. Ketika orang-percaya memiliki pemikiran bahwa penginjilan dan pemuridan terkait dengan kebijakan pemerintah, mereka merusak misi Gereja itu sendiri.<\/p>\n<p>Sebagai orang Kristen, kita diberikan amanat untuk mengabarkan Injil Kristus dan berkhotbah untuk menegur dosa di jaman ini. Sebuah budaya hanya bisa berubah jika hati para individunya telah diubahkan oleh Kristus.<\/p>\n<p>Orang-percaya, di sepanjang jaman telah hidup dan bahkan semakin bertambah, di bawah pemerintahan yang antagonis, penuh penindasan dan tak beriman. Hal ini benar-benar terjadi pada orang-percaya mula-mula yang, meskipun berada di bawah rezim politik yang tidak memiliki belas kasihan, tetap dapat memelihara iman mereka di bawah tekanan budaya yang sangat besar.<\/p>\n<p>Mereka memahami bahwa merekalah, dan bukan para penguasa, yang merupakan terang dan garam dunia. Mereka berpegang kepada ajaran Paulus untuk menaati otoritas pemerintah, bahkan menghormati, menghargai dan berdoa untuk mereka (Rom 13:1-8). Yang lebih penting, mereka memahami bahwa, sebagai orang percaya, harapan mereka terletak dalam perlindungan yang disediakan oleh Allah sendiri.<\/p>\n<p>Hal yang sama juga berlaku bagi kita pada hari ini. Ketika kita menaati apa yang diajarkan oleh Alkitab, kita menjadi terang dunia, sesuai dengan maksud Allah bagi diri kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pelaku politik bukanlah juru selamat dunia ini. Keselamatan bagi seluruh umat manusia telah diwujudkan melalui Yesus Kristus. Allah mengetahui bahwa dunia ini memerlukan keselamatan, jauh sebelum ditemukannya sistem pemerintahan. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa penyelamatan tidak bisa dilakukan oleh kekuatan manusia, baik melalui kekuatan ekonomi, kekuatan militer, atau kekuatan politik. Damai sejahtera, kepuasan, harapan dan sukacita \u2013 dan keselamatan umat manusia \u2013 hanya dapat digenapi melalui karya iman, kasih dan karunia Yesus Kristus.$t54frzae3sw2zaza3 (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Jika ada sebuah topik yang bisa memicu perdebatan spontan ataupun perbedaan pendapat \u2013 bahkan di antara sesama orang-percaya \u2013 itu adalah diskusi mengenai politik. Sebagai pengikut Kristus, bagaimana seharusnya sikap dan keterlibatan kita dalam ranah politik? Ada sebuah pendapat bahwa \u201cagama dan politik tidak bisa menyatu.\u201d Apakah pendapat itu benar? Dapatkah kita memiliki [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[154],"class_list":["post-42902","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-alkitab"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1871","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42902","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42902"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42902\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42902"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42902"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42902"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}