{"id":42914,"date":"2021-01-12T09:22:04","date_gmt":"2021-01-12T02:22:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42914"},"modified":"2020-11-15T20:30:13","modified_gmt":"2020-11-15T13:30:13","slug":"apakah-eksistensialisme-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-eksistensialisme-itu\/","title":{"rendered":"Apakah eksistensialisme itu?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Eksistensialisme bukanlah aliran filsafat yang formal, mengingat semua aliran filsafat sebenarnya berkiblat pada paham ini. Eksistensialisme sangat populer di Eropa pada awal abad kedua puluh. Paham ini merupakan reaksi terhadap kepercayaan diri di abad Pencerahan, yang terlalu berlebihan terhadap logika manusia. Beberapa pengaruh yang membuat paham ini menarik di antaranya adalah gagasan Kierkegaard; yang menyatakan bahwa iman Kristen tidak bisa direduksi menjadi seperangkat dalil yang rasional. Namun, yang termasuk di dalam iman Kristen adalah implikasi emosional dan relasional yang lebih luas. Namun, peristiwa-peristiwa bersejarah seperti penghancuran yang terjadi pada Perang Dunia yang pertama, runtuhnya ekonomi pada tahun 1920-an dan 1930-an, dan kengerian pada Perang Dunia kedua menunjukkan kekeliruan modernisme yang menyatakan bahwa logika manusia dapat mengatasi semua permasalahan. Dengan demikian, eksistensialisme meremehkan kemampuan logika manusia. Paham ini merasa putus asa dalam mencari makna individu dan umum; yang ingin memahami posisi sesuatu dalam sebuah kosmos yang rasional dan teratur. Aturan rasional itu sendirilah yang ingin dicari oleh kaum eksistensialis. Karena itu, penjelasan rasional malah menumpang pada pendekatan lain untuk mencari makna atas sesuatu. Beberapa eksistensialis mengungkapkan makna sebagai prestasi individu dalam upaya untuk melampaui situasi yang dihadapinya. Beberapa mengungkapkannya sebagai makna yang berasal dari hubungan dan komunikasi dengan orang lain mengenai pengalaman manusia. Pengalamanlah yang menjadi fokusnya, sementara penjelasan rasional dikesampingkan. Bagaimana orang Kristen membantu menanggapi pernyataan eksistensialisme ini? Di satu sisi, orang Kristen menyepakati bahwa modernisme memiliki kekeliruan terhadap kemampuan logika manusia untuk menghadapi dan mengatasi setiap tantangan. Memang ada banyak hal yang, menurut pengajaran yang alkitabiah, hanya bisa diatasi melalui kasih karunia Allah. Misalnya mengenai dosa manusia dan kematian itu sendiri. Orang Kristen juga mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dipahami dan dijawab oleh logika manusia; yang hanya bisa dipahami jika Allah memang memilih untuk mengungkapkan hal tersebut. Di sisi lain, orang Kristen membantah konsep keputus-asaan yang dikemukakan eksistensialisme. Kekristenan menekankan dua aspek mengenai masa depan. Pertama, Kekristenan menegaskan adanya penghakiman terakhir; dimana semua yang salah, tidak teratur, dan rusak pada akhirnya akan dihakimi. Kristus akan kembali di akhir jaman untuk mengalahkan semua kejahatan di seluruh kosmos atau alam semesta. Kedua, Kekristenan menegaskan realitas masa depan yang penuh harapan bagi semua orang yang percaya kepada Kristus, yaitu, pengalaman kebangkitan, hidup kekal, dan kesempurnaan pengudusan yang mutlak. Semua ini diberikan secara cuma-cuma oleh kasih karunia Allah. Banyak sekali ayat-ayat di Alkitab yang menyatakan mengenai dua aspek di masa depan ini yang dapat kita kutip. Misalnya saja di Roma 6:23. \u201cSebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.\u201d\u00a0\u00a0 (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Eksistensialisme bukanlah aliran filsafat yang formal, mengingat semua aliran filsafat sebenarnya berkiblat pada paham ini. Eksistensialisme sangat populer di Eropa pada awal abad kedua puluh. Paham ini merupakan reaksi terhadap kepercayaan diri di abad Pencerahan, yang terlalu berlebihan terhadap logika manusia.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Beberapa pengaruh yang membuat paham ini menarik di antaranya adalah gagasan Kierkegaard; yang menyatakan bahwa iman Kristen tidak bisa direduksi menjadi seperangkat dalil yang rasional. Namun, yang termasuk di dalam iman Kristen adalah implikasi emosional dan relasional yang lebih luas.<\/p>\n<p>Namun, peristiwa-peristiwa bersejarah seperti penghancuran yang terjadi pada Perang Dunia yang pertama, runtuhnya ekonomi pada tahun 1920-an dan 1930-an, dan kengerian pada Perang Dunia kedua menunjukkan kekeliruan modernisme yang menyatakan bahwa logika manusia dapat mengatasi semua permasalahan. Dengan demikian, eksistensialisme meremehkan kemampuan logika manusia.<\/p>\n<p>Paham ini merasa putus asa dalam mencari makna individu dan umum; yang ingin memahami posisi sesuatu dalam sebuah kosmos yang rasional dan teratur. Aturan rasional itu sendirilah yang ingin dicari oleh kaum eksistensialis. Karena itu, penjelasan rasional malah menumpang pada pendekatan lain untuk mencari makna atas sesuatu.<\/p>\n<p>Beberapa eksistensialis mengungkapkan makna sebagai prestasi individu dalam upaya untuk melampaui situasi yang dihadapinya. Beberapa mengungkapkannya sebagai makna yang berasal dari hubungan dan komunikasi dengan orang lain mengenai pengalaman manusia. Pengalamanlah yang menjadi fokusnya, sementara penjelasan rasional dikesampingkan.<\/p>\n<p>Bagaimana orang Kristen membantu menanggapi pernyataan eksistensialisme ini? Di satu sisi, orang Kristen menyepakati bahwa modernisme memiliki kekeliruan terhadap kemampuan logika manusia untuk menghadapi dan mengatasi setiap tantangan. Memang ada banyak hal yang, menurut pengajaran yang alkitabiah, hanya bisa diatasi melalui kasih karunia Allah. Misalnya mengenai dosa manusia dan kematian itu sendiri.<\/p>\n<p>Orang Kristen juga mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dipahami dan dijawab oleh logika manusia; yang hanya bisa dipahami jika Allah memang memilih untuk mengungkapkan hal tersebut. Di sisi lain, orang Kristen membantah konsep keputus-asaan yang dikemukakan eksistensialisme.<\/p>\n<p>Kekristenan menekankan dua aspek mengenai masa depan. Pertama, Kekristenan menegaskan adanya penghakiman terakhir; dimana semua yang salah, tidak teratur, dan rusak pada akhirnya akan dihakimi. Kristus akan kembali di akhir jaman untuk mengalahkan semua kejahatan di seluruh kosmos atau alam semesta. Kedua, Kekristenan menegaskan realitas masa depan yang penuh harapan bagi semua orang yang percaya kepada Kristus, yaitu, pengalaman kebangkitan, hidup kekal, dan kesempurnaan pengudusan yang mutlak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua ini diberikan secara cuma-cuma oleh kasih karunia Allah. Banyak sekali ayat-ayat di Alkitab yang menyatakan mengenai dua aspek di masa depan ini yang dapat kita kutip. Misalnya saja di Roma 6:23. \u201cSebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.\u201d\u00a0\u00a0 (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Eksistensialisme bukanlah aliran filsafat yang formal, mengingat semua aliran filsafat sebenarnya berkiblat pada paham ini. Eksistensialisme sangat populer di Eropa pada awal abad kedua puluh. Paham ini merupakan reaksi terhadap kepercayaan diri di abad Pencerahan, yang terlalu berlebihan terhadap logika manusia. Beberapa pengaruh yang membuat paham ini menarik di antaranya adalah gagasan Kierkegaard; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[154,250,251],"class_list":["post-42914","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-alkitab","tag-eksistensialisme","tag-kierkegaard"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1249","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42914","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42914"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42914\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42914"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42914"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42914"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}