{"id":42920,"date":"2021-01-13T09:22:04","date_gmt":"2021-01-13T02:22:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42920"},"modified":"2020-11-15T20:38:43","modified_gmt":"2020-11-15T13:38:43","slug":"apa-maksud-dari-pernyataan-orang-bodoh-berkata-dalam-hatinya-tidak-ada-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-maksud-dari-pernyataan-orang-bodoh-berkata-dalam-hatinya-tidak-ada-allah\/","title":{"rendered":"Apa maksud dari pernyataan: \u201cOrang bodoh berkata dalam hatinya, \u2018Tidak ada Allah\u2019\u201d?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Mazmur 14:1 dan Mazmur 53:1 menyatakan, \u201cOrang bodoh berkata dalam hatinya, \u2018Tidak ada Allah.\u2019\u201d Beberapa pihak menganggap ayat ini menyatakan kalau menjadi ateis itu bodoh, atau kurang cerdas. Namun, ini bukan satu-satunya makna dari kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai \u201cbebal\u201d ini. Dalam bagian ini, kata Ibrani yang digunakan adalah nabal, yang sering dipakai untuk merujuk kepada orang fasik yang tidak memiliki persepsi mengenai kebenaran religius atau etika. Makna dari kata ini sebenarnya bukan merujuk kepada \u201corang bodoh yang tidak percaya kepada Allah.\u201d Sebaliknya, makna dari kata ini merujuk kepada \u201corang berdosa yang tidak percaya kepada Allah.\u201d Dengan kata lain, menyangkal Allah merupakan suatu kekejian. Penyangkalan terhadap Allah seringkali akan berbarengan dengan gaya hidup yang penuh kekejian. Bagian ini melanjutkannya dengan menyatakan karakteristik lain dari orang yang tak ber-Tuhan: \u201cMereka rusak, dan melakukan perbuatan keji, tidak ada yang berbuat baik.\u201d Mazmur pasal 12 merupakan sebuah studi mengenai kebobrokan universal dari seluruh umat manusia. Banyak ateis yang sangat cerdas secara akademis. Dalam hal ini bukan kebodohan, atau kurangnya kecerdasan, yang menyebabkan seseorang menolak untuk percaya kepada Allah. Kurangnya memahami kebenaranlah yang menyebabkan seseorang menolak untuk percaya kepada Allah. Banyak orang tidak berkeberatan dengan gagasan mengenai Sang Pencipta, selama Sang Pencipta mengurus urusan-Nya sendiri dan tidak mengganggu mereka. Yang ditolak oleh orang-orang ini sebenarnya adalah gagasan mengenai Sang Pencipta yang menuntut adanya moralitas dari ciptaan-Nya. Ketimbang berjuang melawan perasaan bersalah, beberapa orang memilih menolak sama sekali gagasan mengenai keberadaan Allah. Mazmur 14:1 menyebut jenis orang seperti ini sebagai orang yang \u201cbebal.\u201d Mazmur 14:1 mengatakan bahwa menyangkal keberadaan Allah umumnya berasal dari hasrat untuk menjalani hidup yang jahat. Beberapa ateis terkemuka telah mengakui kebenaran ini. Beberapa, seperti penulis Aldous Huxley, mengakui secara terbuka bahwa keinginannya untuk menghindari batasan moral adalah motivasi bagi ketidakpercayaan mereka. \u201cSaya tidak menginginkan dunia ini memiliki makna, dan saya memiliki banyak motif bagi keinginan saya ini; dan karenanya saya mengasumsikan bahwa dunia ini memang tidak memiliki makna, dan saya dengan mudah bisa menemukan banyak alasan yang memuaskan untuk asumsi ini. Filsuf yang tidak menemukan makna dari dunia ini tidak hanya mempertimbangkan masalah metafisik murni. Dia juga mempertimbangkan untuk membuktikan bahwa tidak ada alasan yang valid mengapa dia secara pribadi tidak bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan. Bagi diri saya sendiri, dan saya yakin juga bagi sebagian besar teman-teman saya, filsafat ketiadaan makna pada dasarnya merupakan instrumen pembebasan dari sistem moralitas tertentu. Kami keberatan dengan moralitas itu karena moralitas tersebut mengganggu kebebasan seksual kami. Para pendukung sistem ini menyatakan bahwa hal ini mengandung makna \u2013 makna Kekristenan, mereka bersikeras \u2013 dari dunia ini. Ada satu satu cara mudah untuk membantah orang-orang ini dan membenarkan diri kami sendiri dalam pemberontakan erotis yang kami lakukan ini: kami akan menyangkal bahwa dunia ini tidak memiliki makna apapun.\u201d \u2013 Aldous Huxley, Ends and Means\u201d Percaya adanya keberadaan Pribadi yang ilahi akan disertai dengan rasa tanggung jawab terhadap Pribadi tersebut. Jadi, untuk menghindar dari hukuman hati nurani, yang diciptakan oleh Allah, beberapa orang dengan mudahnya memilih menyangkal keberadaan Allah. Mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri, \u201cTidak ada yang mengawasi dunia ini. Tidak ada hari Penghakiman. Saya bisa hidup sesuai dengan keinginan saya.\u201d Lebih mudah untuk mengabaikan hati nurani, jika tidak dipengaruhi oleh moralitas. Berusaha meyakinkan diri sendiri kalau Allah itu tidak ada merupakan hal yang tidak bijaksana. Inti dari pernyataan \u201corang bodoh berkata dalam hatinya: \u2018tidak ada Allah\u2019\u201d adalah hati yang fasik dan penuh dosa, sehingga ia akan selalu berusaha menyangkal keberadaan Allah. Penyangkalan orang ateis tetap berkibar-kibar di hadapan begitu banyak bukti yang bertentangan dengan pernyataan mereka. Termasuk suara hati nurani mereka sendiri dan keberadaan alam semesta di mana mereka hidup. Kurangnya bukti mengenai keberadaan Allah bukan alasan sebenarnya dari orang ateis menolak percaya kepada Allah. Penolakan mereka berasal dari keinginan mereka untuk hidup terbebas dari batasan moral yang ditetapkan oleh Allah. Termasuk ntuk melepaskan diri dari rasa bersalah yang menyertai pelanggaran dari batasan tersebut. \u201cSebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka . . . sehingga mereka tidak dapat berdalih. . . Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. . . Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka. . . Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta\u201d (Rom 1:18-25). English . (gotquestions) https:\/\/www.gotquestions.org\/indonesia\/hati-bebal-tidak-ada-Allah.html\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Mazmur 14:1 dan Mazmur 53:1 menyatakan, \u201cOrang bodoh berkata dalam hatinya, \u2018Tidak ada Allah.\u2019\u201d Beberapa pihak menganggap ayat ini menyatakan kalau menjadi ateis itu bodoh, atau kurang cerdas. Namun, ini bukan satu-satunya makna dari kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai \u201cbebal\u201d ini.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Dalam bagian ini, kata Ibrani yang digunakan adalah <i>nabal<\/i>, yang sering dipakai untuk merujuk kepada orang fasik yang tidak memiliki persepsi mengenai kebenaran religius atau etika. Makna dari kata ini sebenarnya bukan merujuk kepada \u201corang bodoh yang tidak percaya kepada Allah.\u201d Sebaliknya, makna dari kata ini merujuk kepada \u201corang berdosa yang tidak percaya kepada Allah.\u201d<\/p>\n<p>Dengan kata lain, menyangkal Allah merupakan suatu kekejian. Penyangkalan terhadap Allah seringkali akan berbarengan dengan gaya hidup yang penuh kekejian. Bagian ini melanjutkannya dengan menyatakan karakteristik lain dari orang yang tak ber-Tuhan: \u201cMereka rusak, dan melakukan perbuatan keji, tidak ada yang berbuat baik.\u201d Mazmur pasal 12 merupakan sebuah studi mengenai kebobrokan universal dari seluruh umat manusia.<\/p>\n<p>Banyak ateis yang sangat cerdas secara akademis. Dalam hal ini bukan kebodohan, atau kurangnya kecerdasan, yang menyebabkan seseorang menolak untuk percaya kepada Allah. Kurangnya memahami kebenaranlah yang menyebabkan seseorang menolak untuk percaya kepada Allah. Banyak orang tidak berkeberatan dengan gagasan mengenai Sang Pencipta, selama Sang Pencipta mengurus urusan-Nya sendiri dan tidak mengganggu mereka.<\/p>\n<p>Yang ditolak oleh orang-orang ini sebenarnya adalah gagasan mengenai Sang Pencipta yang menuntut adanya moralitas dari ciptaan-Nya. Ketimbang berjuang melawan perasaan bersalah, beberapa orang memilih menolak sama sekali gagasan mengenai keberadaan Allah. Mazmur 14:1 menyebut jenis orang seperti ini sebagai orang yang \u201cbebal.\u201d<\/p>\n<p>Mazmur 14:1 mengatakan bahwa menyangkal keberadaan Allah umumnya berasal dari hasrat untuk menjalani hidup yang jahat. Beberapa ateis terkemuka telah mengakui kebenaran ini. Beberapa, seperti penulis Aldous Huxley, mengakui secara terbuka bahwa keinginannya untuk menghindari batasan moral adalah motivasi bagi ketidakpercayaan mereka.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak menginginkan dunia ini memiliki makna, dan saya memiliki banyak motif bagi keinginan saya ini; dan karenanya saya mengasumsikan bahwa dunia ini memang tidak memiliki makna, dan saya dengan mudah bisa menemukan banyak alasan yang memuaskan untuk asumsi ini. Filsuf yang tidak menemukan makna dari dunia ini tidak hanya mempertimbangkan masalah metafisik murni. Dia juga mempertimbangkan untuk membuktikan bahwa tidak ada alasan yang valid mengapa dia secara pribadi tidak bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan.<\/p>\n<p>Bagi diri saya sendiri, dan saya yakin juga bagi sebagian besar teman-teman saya, filsafat ketiadaan makna pada dasarnya merupakan instrumen pembebasan dari sistem moralitas tertentu. Kami keberatan dengan moralitas itu karena moralitas tersebut mengganggu kebebasan seksual kami. Para pendukung sistem ini menyatakan bahwa hal ini mengandung makna \u2013 makna Kekristenan, mereka bersikeras \u2013 dari dunia ini.<\/p>\n<p>Ada satu satu cara mudah untuk membantah orang-orang ini dan membenarkan diri kami sendiri dalam pemberontakan erotis yang kami lakukan ini: kami akan menyangkal bahwa dunia ini tidak memiliki makna apapun.\u201d \u2013 Aldous Huxley, Ends and Means\u201d<\/p>\n<p>Percaya adanya keberadaan Pribadi yang ilahi akan disertai dengan rasa tanggung jawab terhadap Pribadi tersebut. Jadi, untuk menghindar dari hukuman hati nurani, yang diciptakan oleh Allah, beberapa orang dengan mudahnya memilih menyangkal keberadaan Allah. Mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri, \u201cTidak ada yang mengawasi dunia ini. Tidak ada hari Penghakiman. Saya bisa hidup sesuai dengan keinginan saya.\u201d Lebih mudah untuk mengabaikan hati nurani, jika tidak dipengaruhi oleh moralitas.<\/p>\n<p>Berusaha meyakinkan diri sendiri kalau Allah itu tidak ada merupakan hal yang tidak bijaksana. Inti dari pernyataan \u201corang bodoh berkata dalam hatinya: \u2018tidak ada Allah\u2019\u201d adalah hati yang fasik dan penuh dosa, sehingga ia akan selalu berusaha menyangkal keberadaan Allah. Penyangkalan orang ateis tetap berkibar-kibar di hadapan begitu banyak bukti yang bertentangan dengan pernyataan mereka. Termasuk suara hati nurani mereka sendiri dan keberadaan alam semesta di mana mereka hidup.<\/p>\n<p>Kurangnya bukti mengenai keberadaan Allah bukan alasan sebenarnya dari orang ateis menolak percaya kepada Allah. Penolakan mereka berasal dari keinginan mereka untuk hidup terbebas dari batasan moral yang ditetapkan oleh Allah. Termasuk ntuk melepaskan diri dari rasa bersalah yang menyertai pelanggaran dari batasan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka . . . sehingga mereka tidak dapat berdalih. . . Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. . . Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka. . . Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta\u201d (Rom 1:18-25).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.gotquestions.org\/fool-heart-no-God.html\">English<\/a><\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">. (gotquestions)<br \/>\nhttps:\/\/www.gotquestions.org\/indonesia\/hati-bebal-tidak-ada-Allah.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Mazmur 14:1 dan Mazmur 53:1 menyatakan, \u201cOrang bodoh berkata dalam hatinya, \u2018Tidak ada Allah.\u2019\u201d Beberapa pihak menganggap ayat ini menyatakan kalau menjadi ateis itu bodoh, atau kurang cerdas. Namun, ini bukan satu-satunya makna dari kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai \u201cbebal\u201d ini. Dalam bagian ini, kata Ibrani yang digunakan adalah nabal, yang sering dipakai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[252,154,160],"class_list":["post-42920","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-agnostik","tag-alkitab","tag-allah"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1576","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42920","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42920"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42920\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42920"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42920"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42920"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}