{"id":42944,"date":"2021-01-26T09:22:03","date_gmt":"2021-01-26T02:22:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42944"},"modified":"2020-11-15T21:21:41","modified_gmt":"2020-11-15T14:21:41","slug":"bagaimana-hendaknya-umat-kristen-memandang-logika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-hendaknya-umat-kristen-memandang-logika\/","title":{"rendered":"Bagaimana hendaknya umat Kristen memandang logika?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Logika adalah sains menyimpulkan kebenaran melalui analisa fakta-fakta baik secara langsung (deduktif) maupun secara tidak langsung (induktif). Logika mengambil semua persangkaan, menganalisa hubungan, dan menghubungkannya dengan berbagai faktor lain, sehingga mencapai kesimpulan yang sebelumnya tidak diketahui. Logika adalah matematik yang menggunakan ide sebagai gantinya angka. Ialah seni mengenali hubungan yang ada antara ide atau gagasan yang berbeda. Rupanya logika adalah salah satu hukum alam yang telah ditetapkan Allah dalam menciptakan alam semesta. Kemudian, Allah menciptakan manusia dengan pikiran dan kemampuan untuk bernalar. Sebagai ciptaan Allah, logika adalah hal baik yang, ketika digunakan pada tempatnya, dapat mengarahkan kita pada Allah. Sayangnya, adalah sangat mudah menyalahgunakan logika. Sains ilmu logika menciptakan formula hubungan antara berbagai ide. Sebagaimana kasusnya dengan angka di dalam matematika, ide dapat dimasukkan ke dalam fomula sehingga kita menemukan keterkaitannya dengan ide yang lain. Argumen modern seringkali dipenuhi dengan emosi, sehingga dialog yang bermanfaat sering terhambat dan solusi tidak didapatkan. Semangat seringkali menghambat upaya pencarian kebenaran. Seringkali, kebenaran disembunyikan di balik kesalahan logis - argumentasi yang didasari logika yang salah dan penalaran yang keliru. Kesalahan logis adalah taktik gertakan, dan tidak mendukung diskusi yang menguntungkan. Secara praktis, logika melibatkan baik formula maupun fakta. Formula menguraikan hubungan yang ada, namun harus disertai oleh ide-ide pokok yang dapat dianalisa oleh formula itu. Walaupun relatifisme seringkali menggerogoti sebagian besar asumsi dasar, sebagian besar orang masih menantikan bukti yang empiris - data yang didapatkan melalui indera mereka. Sebagian besar orang yakin di kala menyatakan &quot;Saya ada&quot; dan &quot;Meja itu ada.&quot; Logika mengambil data tersebut dan menghadirkan kebenaran yang lebih dalam. &quot;Segala sesuatu yang mempunyai permulaan haruslah diciptakan oleh sesuatu yang lain&quot; adalah pernyataan yg di deduksi secara logis. Analisa yang lebih dalam dapat mengungkapkan kebenaran yang lebih rumit, contohnya &quot;Allah itu ada.&quot; Sayangnya, sebagian besar perdebatan melibatkan kekeliruan logis karena mereka tidak memulai dari permulan. Yakni, mereka menggunakan sangkaan yang belum dibuktikan sebagai pengganti sebuah fakta. Para pemeluk evolusi memulai dengan evolusi alami sebagai dasar argumentasi mereka karena mereka tidak mengakui kemungkinan adanya mujizat. Banyak agama yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, menolak karena mereka memulai dari Gnostikisme (semua jasmani bersifat jahat; semua rohani bersifat baik). Para pemeluk sekulerisme yang bersikeras bahwa agama adalah respon naluriah terhadap ketakutan mati, bermula dari asumsi bahwa Allah tidak ada. Kenyataannya, sebagian besar orang tidak akan dipengaruhi logika untuk mempercayai sesuatu yang bertolakan dengan keyakinan mereka. Pada umumnya, sentimen melampaui logika. Dan, walaupun Yesus maupun para rasul merupakan orang logis, logika bukanlah pendekatan yang utama mereka. Ketika Petrus menghimbau &quot;...siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu&quot; (1 Petrus 3:15), ia tidak bermaksud supaya kita memulai dengan argumentasi ontologis tentang keberadaan Allah. Ia bermaksud supaya kita sudah mempersiapkan kisah hubungan pribadi dengan Allah, beserta dengan harapan yang kita peroleh dari hubungan itu. Barangsiapa yang mendasari kepercayaannya pada perasaan tidak akan dapat mengikuti dialog yang logis. Logika, jika digunakan oleh seorang apologis, adalah alat yang berkuasa. Namun, &quot;bukti empiris&quot; dari kehidupan Kristen juga sama-sama berbobot. Kita adalah &quot;terang dunia&quot; (Matius 5:14); walaupun kegelapan tidak menyukai terang, ia tidak dapat mengabaikan keberadaannya. Sebagaimana Paulus mengingatkan Titus, &quot;... jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita&quot; (Titus 2:7-8). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Logika adalah sains menyimpulkan kebenaran melalui analisa fakta-fakta baik secara langsung (deduktif) maupun secara tidak langsung (induktif). Logika mengambil semua persangkaan, menganalisa hubungan, dan menghubungkannya dengan berbagai faktor lain, sehingga mencapai kesimpulan yang sebelumnya tidak diketahui. Logika adalah matematik yang menggunakan ide sebagai gantinya angka. Ialah seni mengenali hubungan yang ada antara ide atau gagasan yang berbeda.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Rupanya logika adalah salah satu hukum alam yang telah ditetapkan Allah dalam menciptakan alam semesta. Kemudian, Allah menciptakan manusia dengan pikiran dan kemampuan untuk bernalar. Sebagai ciptaan Allah, logika adalah hal baik yang, ketika digunakan pada tempatnya, dapat mengarahkan kita pada Allah. Sayangnya, adalah sangat mudah menyalahgunakan logika.<\/p>\n<p>Sains ilmu logika menciptakan formula hubungan antara berbagai ide. Sebagaimana kasusnya dengan angka di dalam matematika, ide dapat dimasukkan ke dalam fomula sehingga kita menemukan keterkaitannya dengan ide yang lain. Argumen modern seringkali dipenuhi dengan emosi, sehingga dialog yang bermanfaat sering terhambat dan solusi tidak didapatkan. Semangat seringkali menghambat upaya pencarian kebenaran. Seringkali, kebenaran disembunyikan di balik kesalahan logis &#8211; argumentasi yang didasari logika yang salah dan penalaran yang keliru. Kesalahan logis adalah taktik gertakan, dan tidak mendukung diskusi yang menguntungkan.<\/p>\n<p>Secara praktis, logika melibatkan baik formula maupun fakta. Formula menguraikan hubungan yang ada, namun harus disertai oleh ide-ide pokok yang dapat dianalisa oleh formula itu. Walaupun relatifisme seringkali menggerogoti sebagian besar asumsi dasar, sebagian besar orang masih menantikan bukti yang empiris &#8211; data yang didapatkan melalui indera mereka. Sebagian besar orang yakin di kala menyatakan &#8220;Saya ada&#8221; dan &#8220;Meja itu ada.&#8221; Logika mengambil data tersebut dan menghadirkan kebenaran yang lebih dalam. &#8220;Segala sesuatu yang mempunyai permulaan haruslah diciptakan oleh sesuatu yang lain&#8221; adalah pernyataan yg di deduksi secara logis. Analisa yang lebih dalam dapat mengungkapkan kebenaran yang lebih rumit, contohnya &#8220;Allah itu ada.&#8221;<\/p>\n<p>Sayangnya, sebagian besar perdebatan melibatkan kekeliruan logis karena mereka tidak memulai dari permulan. Yakni, mereka menggunakan sangkaan yang belum dibuktikan sebagai pengganti sebuah fakta. Para pemeluk evolusi memulai dengan evolusi alami sebagai dasar argumentasi mereka karena mereka tidak mengakui kemungkinan adanya mujizat. Banyak agama yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, menolak karena mereka memulai dari Gnostikisme (semua jasmani bersifat jahat; semua rohani bersifat baik). Para pemeluk sekulerisme yang bersikeras bahwa agama adalah respon naluriah terhadap ketakutan mati, bermula dari asumsi bahwa Allah tidak ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenyataannya, sebagian besar orang tidak akan dipengaruhi logika untuk mempercayai sesuatu yang bertolakan dengan keyakinan mereka. Pada umumnya, sentimen melampaui logika. Dan, walaupun Yesus maupun para rasul merupakan orang logis, logika bukanlah pendekatan yang utama mereka. Ketika Petrus menghimbau &#8220;&#8230;siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu&#8221; (1 Petrus 3:15), ia tidak bermaksud supaya kita memulai dengan argumentasi ontologis tentang keberadaan Allah. Ia bermaksud supaya kita sudah mempersiapkan kisah hubungan pribadi dengan Allah, beserta dengan harapan yang kita peroleh dari hubungan itu. Barangsiapa yang mendasari kepercayaannya pada perasaan tidak akan dapat mengikuti dialog yang logis. Logika, jika digunakan oleh seorang apologis, adalah alat yang berkuasa. Namun, &#8220;bukti empiris&#8221; dari kehidupan Kristen juga sama-sama berbobot. Kita adalah &#8220;terang dunia&#8221; (Matius 5:14); walaupun kegelapan tidak menyukai terang, ia tidak dapat mengabaikan keberadaannya. Sebagaimana Paulus mengingatkan Titus, &#8220;&#8230; jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita&#8221; (Titus 2:7-8). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Logika adalah sains menyimpulkan kebenaran melalui analisa fakta-fakta baik secara langsung (deduktif) maupun secara tidak langsung (induktif). Logika mengambil semua persangkaan, menganalisa hubungan, dan menghubungkannya dengan berbagai faktor lain, sehingga mencapai kesimpulan yang sebelumnya tidak diketahui. Logika adalah matematik yang menggunakan ide sebagai gantinya angka. Ialah seni mengenali hubungan yang ada antara ide [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[154,307],"class_list":["post-42944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-alkitab","tag-logika"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1601","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42944"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42944\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}