{"id":42946,"date":"2021-01-02T09:22:03","date_gmt":"2021-01-02T02:22:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42946"},"modified":"2020-11-15T17:18:17","modified_gmt":"2020-11-15T10:18:17","slug":"apakah-kebebasan-beragama-sebuah-konsep-yang-alkitabiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-kebebasan-beragama-sebuah-konsep-yang-alkitabiah\/","title":{"rendered":"Apakah kebebasan beragama sebuah konsep yang alkitabiah?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Di bawah Hukum Musa, Israel merupakan negara teokratis. Kesuksesan dan kegagalan mereka tergantung pada ketaatan mereka terhadap Allah. &quot;Kebebasan beragama&quot; bukanlah bagian dari sistem Perjanjian Lama, karena secara langsung Allah Sendiri yang memerintah atas Israel. Tentunya, teokrasi Israel tidak dimaksud menjadi pola bagi pemerintahan bangsa lainnya. Bangsa-bangsa yang telah mengadopsi sistem teokrasi, seperti kasusnya Spanyol kuno, hanya menghasilkan kekejian yang bersimbah darah. Kekerasan yang dihasilkan oleh Inkuisisi bukanlah buah teokrasi yang benar; kekerasan itu disebabkan oleh manusia yang berdosa dan haus kekuasaan. Di dalam Perjanjian Baru, kita mendapat gambaran yang cukup jelas akan peran pemerintahan yang ditetapkan oleh Allah. Roma 13:3-4 mengurarikan tanggung-jawab pemerintah, yang sederhananya terdiri dari, penghukuman perbuatan jahat, pengimbalan perbuatan baik, dan menerapkan keadilan. Jadi, Allah telah memberi tugas khusus pada pemerintah, namun memaksakan sebuah sistem ibadah bukanlah salah satunya. Tidak ada konflik di antara prinsip Alkitab dan prinsip sipil kebebasan beragama. Faktanya ialah bahwa hanya pemerintah yang berlatar-belakang nilai-nilai Yudeo-Kristen memperbolehkan kebebasan seperti itu. Pemerintah-pemerintah berlatar-belakang Islam, Hindu, dan Buddha tidak memberi kebebasan beragama; sehingga negara seperti Pakistan, India, dan Tibet secara keseluruhan bersifat tidak toleran terhadap agama lainnya. Pemerintah yang ateis seperti Uni Soviet juga menentang kebebasan beragama. Konsep kebebasan beragama adalah konsep yang alkitabiah dengan beberapa alasan. Pertama, Allah Sendiri menyediakan &quot;kebebasan beragama&quot; bagi semua orang, dan Alkitab mencatat berbagai contoh. Di dalam Matius 19:16-23, pemuda yang kaya mendatangi Yesus. Setelah diskusi pendek, pemuda itu &quot;pergi...dengan sedih,&quot; karena memutuskan untuk tidak mengikuti Kristus. Poin yang penting dalam kisah ini ialah bahwa Yesus membiarkannya pergi. Allah tidak &quot;memaksa&quot; orang untuk percaya pada-Nya. Iman memang diperintahkan, tetapi tidak pernah dipaksakan. Di dalam Matius 23:37, Yesus mengutarakan keinginan-Nya untuk menarik semua orang Yerusalem pada Diri-Nya, namun mereka &quot;tidak mau.&quot; Jika Allah memberi manusia kebebasan untuk memilih atau menolaknya, maka kita juga perlu menyediakan pilihan itu. Kedua, kebebasan beragama menghormati rupa Allah di dalam manusia (Kejadian 1:26). Satu bagian dalam menyerupai Allah adalah kemampuan manusia untuk memilih. Allah menghormati hak pilih kita dengan memberi kita kebebasan membuat berbagai keputusan mengenai masa depan kita (Kejadian 13:8-12; Yosua 24:15), walaupun kita kadang mengambil keputusan yang salah. Sekali lagi, jika Allah memperbolehkan kita memilih, maka kitapun perlu memperbolehkan orang lain memilih. Ketiga, kebebasan beragama mengakui peranan Roh Kudus mengubah hati manusia, bukan pemerintah (Yohanes 6:63). Hanya Yesus yang dapat menyelamatkan. Membatasi kebebasan beragama adalah sama dengan menyatakan bahwa pemerintahan manusia, dengan pemimpinnya yang dapat bersalah, berkuasa mencetuskan kebenaran sebuah agama. Akan tetapi, kerajaan Kristus bukanlah di dunia ini (Yohanes 18:36), dan tidak ada yang menjadi Kristen oleh karena upaya pemerintah. Kita menjadi umat Kristen karena kasih karunia Allah saja melalui iman di dalam Kristus (Efesus 2:8-9). Apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pemerintah tidak berhubungan dengan kelahiran baru (Yohanes 1:12-13; 3:5-8). Ke-empat, kebebasan beragama menyimpulkan bahwa yang penting bukanlah agama yang formal, melainkan sebuah hubungan. Allah tidak menghendaki bentuk upacara ibadah yang lahiriah, melainkan hubungan pribadi dengan anak-anakNya (Matius 15:7-8). Tindakan pemerintah apapun tidak dapat menghasilkan hubungan seperti itu. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Di bawah Hukum Musa, Israel merupakan negara teokratis. Kesuksesan dan kegagalan mereka tergantung pada ketaatan mereka terhadap Allah. &#8220;Kebebasan beragama&#8221; bukanlah bagian dari sistem Perjanjian Lama, karena secara langsung Allah Sendiri yang memerintah atas Israel. Tentunya, teokrasi Israel tidak dimaksud menjadi pola bagi pemerintahan bangsa lainnya. Bangsa-bangsa yang telah mengadopsi sistem teokrasi, seperti kasusnya Spanyol kuno, hanya menghasilkan kekejian yang bersimbah darah. Kekerasan yang dihasilkan oleh Inkuisisi bukanlah buah teokrasi yang benar; kekerasan itu disebabkan oleh manusia yang berdosa dan haus kekuasaan.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Di dalam Perjanjian Baru, kita mendapat gambaran yang cukup jelas akan peran pemerintahan yang ditetapkan oleh Allah. Roma 13:3-4 mengurarikan tanggung-jawab pemerintah, yang sederhananya terdiri dari, penghukuman perbuatan jahat, pengimbalan perbuatan baik, dan menerapkan keadilan. Jadi, Allah telah memberi tugas khusus pada pemerintah, namun memaksakan sebuah sistem ibadah bukanlah salah satunya.<\/p>\n<p>Tidak ada konflik di antara prinsip Alkitab dan prinsip sipil kebebasan beragama. Faktanya ialah bahwa hanya pemerintah yang berlatar-belakang nilai-nilai Yudeo-Kristen memperbolehkan kebebasan seperti itu. Pemerintah-pemerintah berlatar-belakang Islam, Hindu, dan Buddha tidak memberi kebebasan beragama; sehingga negara seperti Pakistan, India, dan Tibet secara keseluruhan bersifat tidak toleran terhadap agama lainnya. Pemerintah yang ateis seperti Uni Soviet juga menentang kebebasan beragama.<\/p>\n<p>Konsep kebebasan beragama adalah konsep yang alkitabiah dengan beberapa alasan. Pertama, Allah Sendiri menyediakan &#8220;kebebasan beragama&#8221; bagi semua orang, dan Alkitab mencatat berbagai contoh. Di dalam Matius 19:16-23, pemuda yang kaya mendatangi Yesus. Setelah diskusi pendek, pemuda itu &#8220;pergi&#8230;dengan sedih,&#8221; karena memutuskan untuk tidak mengikuti Kristus. Poin yang penting dalam kisah ini ialah bahwa Yesus membiarkannya pergi. Allah tidak &#8220;memaksa&#8221; orang untuk percaya pada-Nya. Iman memang diperintahkan, tetapi tidak pernah dipaksakan. Di dalam Matius 23:37, Yesus mengutarakan keinginan-Nya untuk menarik semua orang Yerusalem pada Diri-Nya, namun mereka &#8220;tidak mau.&#8221; Jika Allah memberi manusia kebebasan untuk memilih atau menolaknya, maka kita juga perlu menyediakan pilihan itu.<\/p>\n<p>Kedua, kebebasan beragama menghormati rupa Allah di dalam manusia (Kejadian 1:26). Satu bagian dalam menyerupai Allah adalah kemampuan manusia untuk memilih. Allah menghormati hak pilih kita dengan memberi kita kebebasan membuat berbagai keputusan mengenai masa depan kita (Kejadian 13:8-12; Yosua 24:15), walaupun kita kadang mengambil keputusan yang salah. Sekali lagi, jika Allah memperbolehkan kita memilih, maka kitapun perlu memperbolehkan orang lain memilih.<\/p>\n<p>Ketiga, kebebasan beragama mengakui peranan Roh Kudus mengubah hati manusia, bukan pemerintah (Yohanes 6:63). Hanya Yesus yang dapat menyelamatkan. Membatasi kebebasan beragama adalah sama dengan menyatakan bahwa pemerintahan manusia, dengan pemimpinnya yang dapat bersalah, berkuasa mencetuskan kebenaran sebuah agama. Akan tetapi, kerajaan Kristus bukanlah di dunia ini (Yohanes 18:36), dan tidak ada yang menjadi Kristen oleh karena upaya pemerintah. Kita menjadi umat Kristen karena kasih karunia Allah saja melalui iman di dalam Kristus (Efesus 2:8-9). Apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pemerintah tidak berhubungan dengan kelahiran baru (Yohanes 1:12-13; 3:5-8).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ke-empat, kebebasan beragama menyimpulkan bahwa yang penting bukanlah agama yang formal, melainkan sebuah hubungan. Allah tidak menghendaki bentuk upacara ibadah yang lahiriah, melainkan hubungan pribadi dengan anak-anakNya (Matius 15:7-8). Tindakan pemerintah apapun tidak dapat menghasilkan hubungan seperti itu. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Di bawah Hukum Musa, Israel merupakan negara teokratis. Kesuksesan dan kegagalan mereka tergantung pada ketaatan mereka terhadap Allah. &#8220;Kebebasan beragama&#8221; bukanlah bagian dari sistem Perjanjian Lama, karena secara langsung Allah Sendiri yang memerintah atas Israel. Tentunya, teokrasi Israel tidak dimaksud menjadi pola bagi pemerintahan bangsa lainnya. Bangsa-bangsa yang telah mengadopsi sistem teokrasi, seperti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[238,154,239],"class_list":["post-42946","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-agama","tag-alkitab","tag-pancasila"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1299","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42946"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42946\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}