{"id":42948,"date":"2021-04-02T09:22:03","date_gmt":"2021-04-02T02:22:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42948"},"modified":"2020-11-15T17:16:37","modified_gmt":"2020-11-15T10:16:37","slug":"apakah-allah-sudah-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-allah-sudah-mati\/","title":{"rendered":"Apakah Allah sudah mati?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Istilah teknis bagi pengajaran yang menyimpulkan \u201cAllah telah mati\u201d adalah teotanatologi, sebuah kata gabungan yang terdiri dari tiga kata Yunani: teos (allah) + tanatos (mati) + logia (kata). Filsuf sekaligus penyair Jerman bernama Friedrich Nietzche dikenal oleh pernyataannya \u201cAllah sudah mati\u201d pada abad ke-19. Nietzsche, yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan teori evolusi, menulis, \u201cAllah sudah mati. Allah tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimana seharusnya kita, pembunuh di atas semua pembunuh, menghibur diri?...Bukankah besarnya tindakan ini melampaui kapasitas kita? Bukankah kita sendiri perlu menjadi allah karena telah mampu melakukannya?\u201d (Nietzsche, The Gay Science, 125). Tujuan Nietzsche adalah menghapuskan nilai moralitas \u201ctradisional\u201d - keKristenan, khususnya \u2013 karena, dalam benaknya, keKristenan mencerminkan upaya pemimpin rohani yang melayani diri sendiri untuk mengendalikan massa yang lemah dan bebal. Nietzsche yakin bahwa \u201cide\u201d keberadaan Allah sudah tidak lagi diperlukan; bahwa Allah tidak penting karena manusia sedang mengembangkan \u201cmoralitas pribadi\u201d yang lebih dalam dan lebih memuaskan. Filsafat \u201cAllah sudah mati\u201d milik Nietzsche telah digunakan untuk mengembangkan teori eksistensialisme, nihilisme, dan sosialisme. Teolog radikal seperti Thomas J.J. Altizer dan Paul van Buren mempromosikan ide \u201cAllah sudah mati\u201d pada tahun 1960 sampai dengan 1970an. Kepercayaan bahwa Allah telah mati dan agama tidaklah penting secara alami akan berkesimpulan pada ide-ide berikut: 1) Jika Allah sudah mati, maka tidak ada moralitas absolut dan umat manusia tidak perlu menyelaraskan diri dengan tolak ukur universal. 2) Jika Allah sudah mati, tidak ada tujuan atau urutan logis dalam kehidupan. 3) Jika Allah sudah mati, rancangan yang diamati dan diajukan dalam alam semesta hanyalah rekayasa manusia yang sedang mencari makna dalam kehidupan mereka. 4) Jika Allah sudah mati, manusia mempunyai kehendak bebas untuk menciptakan nilai-nilainya secara pribadi. 5) Jika Allah sudah mati, maka dunia \u201cnyata\u201d (sebagai kontras dengan surga atau neraka) merupakan satu-satunya kepentingan manusia. Ide bahwa \u201cAllah sudah mati\u201d pada dasarnya adalah penolakan terhadap otoritas Allah dalam kehidupan kita. Gagasan bahwa kita dapat menciptakan aturan pribadi kita adalah dusta yang diajukan ular kepada Hawa: \u201c...kamu akan menjadi seperti Allah\u201d (Kejadian 3:5). Petrus menghimbau \u201c...demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka\u201d (2 Petrus 2:1). Argumen bahwa \u201cAllah sudah mati\u201d pada umumnya digunakan sebagai filsafat yang logis dan menguatkan bagi kalangan seniman dan cendekiawan. Akan tetapi Alkitab menjulukinya kebodohan. \u201cOrang bebal berkata dalam hatinya: &#039;Tidak ada Allah&#039;...\u201d (Mazmur 14:1). Adalah ironis sekali bahwa pemeluk filsafat \u201cAllah sudah mati\u201d akan menemukan kekeliruan yang fatal dalam filsafat mereka sendiri mati. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Istilah teknis bagi pengajaran yang menyimpulkan \u201cAllah telah mati\u201d adalah teotanatologi, sebuah kata gabungan yang terdiri dari tiga kata Yunani: teos (allah) + tanatos (mati) + logia (kata).<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Filsuf sekaligus penyair Jerman bernama Friedrich Nietzche dikenal oleh pernyataannya \u201cAllah sudah mati\u201d pada abad ke-19. Nietzsche, yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan teori evolusi, menulis, \u201cAllah sudah mati. Allah tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimana seharusnya kita, pembunuh di atas semua pembunuh, menghibur diri?&#8230;Bukankah besarnya tindakan ini melampaui kapasitas kita? Bukankah kita sendiri perlu menjadi allah karena telah mampu melakukannya?\u201d (Nietzsche, The Gay Science, 125).<\/p>\n<p>Tujuan Nietzsche adalah menghapuskan nilai moralitas \u201ctradisional\u201d &#8211; keKristenan, khususnya \u2013 karena, dalam benaknya, keKristenan mencerminkan upaya pemimpin rohani yang melayani diri sendiri untuk mengendalikan massa yang lemah dan bebal. Nietzsche yakin bahwa \u201cide\u201d keberadaan Allah sudah tidak lagi diperlukan; bahwa Allah tidak penting karena manusia sedang mengembangkan \u201cmoralitas pribadi\u201d yang lebih dalam dan lebih memuaskan.<\/p>\n<p>Filsafat \u201cAllah sudah mati\u201d milik Nietzsche telah digunakan untuk mengembangkan teori eksistensialisme, nihilisme, dan sosialisme. Teolog radikal seperti Thomas J.J. Altizer dan Paul van Buren mempromosikan ide \u201cAllah sudah mati\u201d pada tahun 1960 sampai dengan 1970an.<\/p>\n<p>Kepercayaan bahwa Allah telah mati dan agama tidaklah penting secara alami akan berkesimpulan pada ide-ide berikut:<\/p>\n<p>1) Jika Allah sudah mati, maka tidak ada moralitas absolut dan umat manusia tidak perlu menyelaraskan diri dengan tolak ukur universal.<br \/>\n2) Jika Allah sudah mati, tidak ada tujuan atau urutan logis dalam kehidupan.<br \/>\n3) Jika Allah sudah mati, rancangan yang diamati dan diajukan dalam alam semesta hanyalah rekayasa manusia yang sedang mencari makna dalam kehidupan mereka.<br \/>\n4) Jika Allah sudah mati, manusia mempunyai kehendak bebas untuk menciptakan nilai-nilainya secara pribadi.<br \/>\n5) Jika Allah sudah mati, maka dunia \u201cnyata\u201d (sebagai kontras dengan surga atau neraka) merupakan satu-satunya kepentingan manusia.<\/p>\n<p>Ide bahwa \u201cAllah sudah mati\u201d pada dasarnya adalah penolakan terhadap otoritas Allah dalam kehidupan kita. Gagasan bahwa kita dapat menciptakan aturan pribadi kita adalah dusta yang diajukan ular kepada Hawa: \u201c&#8230;kamu akan menjadi seperti Allah\u201d (Kejadian 3:5). Petrus menghimbau \u201c&#8230;demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka\u201d (2 Petrus 2:1).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Argumen bahwa \u201cAllah sudah mati\u201d pada umumnya digunakan sebagai filsafat yang logis dan menguatkan bagi kalangan seniman dan cendekiawan. Akan tetapi Alkitab menjulukinya kebodohan. \u201cOrang bebal berkata dalam hatinya: &#8216;Tidak ada Allah&#8217;&#8230;\u201d (Mazmur 14:1). Adalah ironis sekali bahwa pemeluk filsafat \u201cAllah sudah mati\u201d akan menemukan kekeliruan yang fatal dalam filsafat mereka sendiri mati. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Istilah teknis bagi pengajaran yang menyimpulkan \u201cAllah telah mati\u201d adalah teotanatologi, sebuah kata gabungan yang terdiri dari tiga kata Yunani: teos (allah) + tanatos (mati) + logia (kata). Filsuf sekaligus penyair Jerman bernama Friedrich Nietzche dikenal oleh pernyataannya \u201cAllah sudah mati\u201d pada abad ke-19. Nietzsche, yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan teori evolusi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[154],"class_list":["post-42948","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-alkitab"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1737","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42948"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42948\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}