{"id":42950,"date":"2021-01-03T09:22:03","date_gmt":"2021-01-03T02:22:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42950"},"modified":"2020-11-15T17:19:30","modified_gmt":"2020-11-15T10:19:30","slug":"apakah-benar-bahwa-ada-maksud-di-balik-setiap-kejadian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-benar-bahwa-ada-maksud-di-balik-setiap-kejadian\/","title":{"rendered":"Apakah benar bahwa ada maksud di balik setiap kejadian?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Apakah semua hal yang terjadi mempunyai maksud tersendiri? Jawaban pendeknya adalah &quot;ya&quot;; karena Allah berdaulat, tidak ada peristiwa yang acak atau di luar kendali. Maksud Allah kadang tidak dapat kita pahami, namun kita bisa yakin bahwa ada sebab yang baik di baliknya. Ada maksud di balik butanya sosok yang dituliskan dalam Yohanes pasal 9, walaupun para rasul gagal menafsirkan penyebabnya (Yohanes 9:1-3). Ada alasan di balik penganiayaan Yusuf, walaupun maksud para saudara Yusuf dalam memperlakukannya demikian sangat berbeda dengan maksud Allah dalam memperbolehkannya terjadi (Kejadian 50:20). Ada maksud di balik kematian Yesus - para pemimpin di Yerusalem mempunyai maksud tertentu, dengan tujuan yang jahat, dan Allah juga mempunyai maksud, berdasarkan kebenaran. Kedaulatan Allah juga mencakup ciptaan yang derajatnya paling rendah: &quot;Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu&quot; (Matius 10:29). Ada beberapa faktor yang membantu meyakinkan kita bahwa semuanya terjadi dengan maksud tersendiri: hukum sebab akibat, doktrin dosa asal, dan pemeliharaan Allah. Semuanya menunjukkan bahwa segala sesuatu terjadi dengan asalan tertentu, bukan secara acak atau kebetulan. Pertama, ada hukum sebab akibat, yang juga dikenal sebagai hukum tabur tuai. Paulus menghimbau, &quot;Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu&quot; (Galatia 6:7-8). Artinya ialah bahwa setiap tindakan yang kita ambil atau kata yang diucapkan, baik atau buruk, akan diikuti oleh akibatnya (Kolose 3:23-25). Ada yang mungkin bertanya, &quot;Mengapa saya duduk di penjara? Apa sebabnya?&quot; dan jawabannya mungkin berbunyi, &quot;Karena Anda kepergok mencuri dari rumah tetanggamu.&quot; Itulah yang dimaksud oleh sebab akibat. Semua yang kita lakukan merupakan investasi pada kedagingan atau investasi dalam Roh. Kita semua akan menuai apa yang telah kita tabur, dan tuaian tersebut akan sepadan dengan bagian yang kita taburkan. &quot;Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga&quot; (2 Korintus 9:6). Orang percaya yang berjalan dalam Roh dan &quot;menabur&quot; dalam Roh akan menuai panen rohani. Jika ia menabur dengan banyak, maka panennya juga akan berlimpah ruah, dan jika tidak dalam kehidupan ini, maka secara pasti di kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, mereka yang &quot;menabur&quot; dalam kedagingan akan menuai sebuah kehidupan tanpa berkat Allah sepenuhnya, baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan selanjutnya (Yeremia 18:10; 2 Petrus 2:10-12). Alasan mengapa peristiwa tertentu terjadi dapat dilacak kembali kepada dosa asal yang terjadi di Taman Eden. Alkitab sudah jelas mengajarkan bahwa dunia berada di bawah kutukan (Kejadian 3:17), yang mengakibatkan sakit penyakit, bencana alam, dan kematian. Semua hal ini, walaupun di bawah kendali Allah, kadang digunakan oleh Setan untuk menimbulkan kesengsaraan di atas manusia (baca Ayub pasal 1-2; Lukas 9:37-42; 13:16). Ada yang mungkin bertanya, &quot;Mengapa saya terkena penyakit ini? Apa sebabnya?&quot; dan jawabannya bisa berupa: 1) &quot;Karena Anda hidup di dunia yang terjatuh, dan kita semua rentan sakit&quot;; 2) &quot;Karena Allah sedang menguji Anda dan menguatkan iman Anda&quot;; 3) &quot;Karena, dalam kasih, Allah sedang mendisiplin Anda sesuai dengan Ibrani 12:7-13 dan 1 Korintus 11:29-30.&quot; Setelah itu kita mempunyai apa yang disebut sebagai pemeliharaan Allah. Doktrin pemeliharaan Allah menyakini bahwa secara tak nampak dan hening Allah bekerja mengendalikan peristiwa melalui kejadian alami. Allah, dalam pemeliharaan-Nya, memenuhi tujuan-Nya melalui proses alami dalam dunia sosial dan jasmani. Setiap akibat dapat dilacak penyebabnya, tanpa meninggalkan jejak mujizat. Yang terbaik yang dapat dilakukan manusia adalah menjelaskan maksud mengapa hal-hal terjadi dalam peristiwa alami sebagai &quot;kebetulan.&quot; Orang percaya menyatakan bahwa Allah mengatur segala kebetulan. Seorang yang tidak percaya mengkritisi ide semacam itu karena ia yakin bahwa akibat alami-lah yang menyebabkan setiap peristiwa, tanpa merujuk kepada Allah. Akan tetapi pengikut Kristus diberi keyakinan melalui kebenaran yang luar biasa ini: &quot;Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah&quot; (Roma 8:28). Kitab Ester mengungkapkan wujud dari pemeliharaan ilahi. Pembuangan Wasti, pemilihan Ester, rencana para pembunuh, keangkuhan Haman, keberanian Mordekai, insomnia sang raja, nafsu pembunuh Zeresh, dan pembacaan naskah - semuanya bekerja untuk menyelamatkan umat Allah. Walaupun Allah tidak pernah disebut dalam Ester, pemeliharaan-Nya, karya-Nya melalui semua &quot;kebetulan,&quot; sangat nyata. Allah selalu bekerja dalam kehidupan umat-Nya, dan kebaikan-Nya akan menjamin akhir yang baik bagi mereka (baca Filipi 1:6). Peristiwa yang menandai kehidupan kita bukan kebetulan atau acak. Semuanya telah ditetapkan oleh Allah dan dimaksudkan untuk kebaikan kita. Seringkali kita gagal menangkap arahan dan perlindungan Allah yang tak nampak ketika peristiwa itu berlangsung. Namun, ketika kita mengingat semua peristiwa yang telah terjadi, tangan-Nya semakin jelas terlihat dalam segala sesuatu, bahkan ketika tragedi melanda. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Apakah semua hal yang terjadi mempunyai maksud tersendiri? Jawaban pendeknya adalah &#8220;ya&#8221;; karena Allah berdaulat, tidak ada peristiwa yang acak atau di luar kendali. Maksud Allah kadang tidak dapat kita pahami, namun kita bisa yakin bahwa ada sebab yang baik di baliknya.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ada maksud di balik butanya sosok yang dituliskan dalam Yohanes pasal 9, walaupun para rasul gagal menafsirkan penyebabnya (Yohanes 9:1-3). Ada alasan di balik penganiayaan Yusuf, walaupun maksud para saudara Yusuf dalam memperlakukannya demikian sangat berbeda dengan maksud Allah dalam memperbolehkannya terjadi (Kejadian 50:20). Ada maksud di balik kematian Yesus &#8211; para pemimpin di Yerusalem mempunyai maksud tertentu, dengan tujuan yang jahat, dan Allah juga mempunyai maksud, berdasarkan kebenaran. Kedaulatan Allah juga mencakup ciptaan yang derajatnya paling rendah: &#8220;Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu&#8221; (Matius 10:29).<\/p>\n<p>Ada beberapa faktor yang membantu meyakinkan kita bahwa semuanya terjadi dengan maksud tersendiri: hukum sebab akibat, doktrin dosa asal, dan pemeliharaan Allah. Semuanya menunjukkan bahwa segala sesuatu terjadi dengan asalan tertentu, bukan secara acak atau kebetulan.<\/p>\n<p>Pertama, ada hukum sebab akibat, yang juga dikenal sebagai hukum tabur tuai. Paulus menghimbau, &#8220;Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu&#8221; (Galatia 6:7-8). Artinya ialah bahwa setiap tindakan yang kita ambil atau kata yang diucapkan, baik atau buruk, akan diikuti oleh akibatnya (Kolose 3:23-25). Ada yang mungkin bertanya, &#8220;Mengapa saya duduk di penjara? Apa sebabnya?&#8221; dan jawabannya mungkin berbunyi, &#8220;Karena Anda kepergok mencuri dari rumah tetanggamu.&#8221; Itulah yang dimaksud oleh sebab akibat.<\/p>\n<p>Semua yang kita lakukan merupakan investasi pada kedagingan atau investasi dalam Roh. Kita semua akan menuai apa yang telah kita tabur, dan tuaian tersebut akan sepadan dengan bagian yang kita taburkan. &#8220;Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga&#8221; (2 Korintus 9:6). Orang percaya yang berjalan dalam Roh dan &#8220;menabur&#8221; dalam Roh akan menuai panen rohani. Jika ia menabur dengan banyak, maka panennya juga akan berlimpah ruah, dan jika tidak dalam kehidupan ini, maka secara pasti di kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, mereka yang &#8220;menabur&#8221; dalam kedagingan akan menuai sebuah kehidupan tanpa berkat Allah sepenuhnya, baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan selanjutnya (Yeremia 18:10; 2 Petrus 2:10-12).<\/p>\n<p>Alasan mengapa peristiwa tertentu terjadi dapat dilacak kembali kepada dosa asal yang terjadi di Taman Eden. Alkitab sudah jelas mengajarkan bahwa dunia berada di bawah kutukan (Kejadian 3:17), yang mengakibatkan sakit penyakit, bencana alam, dan kematian. Semua hal ini, walaupun di bawah kendali Allah, kadang digunakan oleh Setan untuk menimbulkan kesengsaraan di atas manusia (baca Ayub pasal 1-2; Lukas 9:37-42; 13:16). Ada yang mungkin bertanya, &#8220;Mengapa saya terkena penyakit ini? Apa sebabnya?&#8221; dan jawabannya bisa berupa: 1) &#8220;Karena Anda hidup di dunia yang terjatuh, dan kita semua rentan sakit&#8221;; 2) &#8220;Karena Allah sedang menguji Anda dan menguatkan iman Anda&#8221;; 3) &#8220;Karena, dalam kasih, Allah sedang mendisiplin Anda sesuai dengan Ibrani 12:7-13 dan 1 Korintus 11:29-30.&#8221;<\/p>\n<p>Setelah itu kita mempunyai apa yang disebut sebagai pemeliharaan Allah. Doktrin pemeliharaan Allah menyakini bahwa secara tak nampak dan hening Allah bekerja mengendalikan peristiwa melalui kejadian alami. Allah, dalam pemeliharaan-Nya, memenuhi tujuan-Nya melalui proses alami dalam dunia sosial dan jasmani. Setiap akibat dapat dilacak penyebabnya, tanpa meninggalkan jejak mujizat. Yang terbaik yang dapat dilakukan manusia adalah menjelaskan maksud mengapa hal-hal terjadi dalam peristiwa alami sebagai &#8220;kebetulan.&#8221;<\/p>\n<p>Orang percaya menyatakan bahwa Allah mengatur segala kebetulan. Seorang yang tidak percaya mengkritisi ide semacam itu karena ia yakin bahwa akibat alami-lah yang menyebabkan setiap peristiwa, tanpa merujuk kepada Allah. Akan tetapi pengikut Kristus diberi keyakinan melalui kebenaran yang luar biasa ini: &#8220;Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah&#8221; (Roma 8:28).<\/p>\n<p>Kitab Ester mengungkapkan wujud dari pemeliharaan ilahi. Pembuangan Wasti, pemilihan Ester, rencana para pembunuh, keangkuhan Haman, keberanian Mordekai, insomnia sang raja, nafsu pembunuh Zeresh, dan pembacaan naskah &#8211; semuanya bekerja untuk menyelamatkan umat Allah. Walaupun Allah tidak pernah disebut dalam Ester, pemeliharaan-Nya, karya-Nya melalui semua &#8220;kebetulan,&#8221; sangat nyata.<\/p>\n<p>Allah selalu bekerja dalam kehidupan umat-Nya, dan kebaikan-Nya akan menjamin akhir yang baik bagi mereka (baca Filipi 1:6). Peristiwa yang menandai kehidupan kita bukan kebetulan atau acak. Semuanya telah ditetapkan oleh Allah dan dimaksudkan untuk kebaikan kita. Seringkali kita gagal menangkap arahan dan perlindungan Allah yang tak nampak ketika peristiwa itu berlangsung. Namun, ketika kita mengingat semua peristiwa yang telah terjadi, tangan-Nya semakin jelas terlihat dalam segala sesuatu, bahkan ketika tragedi melanda. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Apakah semua hal yang terjadi mempunyai maksud tersendiri? Jawaban pendeknya adalah &#8220;ya&#8221;; karena Allah berdaulat, tidak ada peristiwa yang acak atau di luar kendali. Maksud Allah kadang tidak dapat kita pahami, namun kita bisa yakin bahwa ada sebab yang baik di baliknya. Ada maksud di balik butanya sosok yang dituliskan dalam Yohanes pasal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[154],"class_list":["post-42950","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-alkitab"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1289","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42950","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42950"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42950\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42950"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42950"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42950"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}