{"id":42952,"date":"2021-01-25T09:22:03","date_gmt":"2021-01-25T02:22:03","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42952"},"modified":"2020-11-16T08:28:17","modified_gmt":"2020-11-16T01:28:17","slug":"apakah-agama-merupakan-candu-bagi-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-agama-merupakan-candu-bagi-masyarakat\/","title":{"rendered":"Apakah agama merupakan candu bagi masyarakat?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Menyatakan agama Kristen (atau agama lain) sebagai \u201ccandu bagi masyarakat\u201d adalah taktik yang sering digunakan mereka yang mengabaikan agama. Penggunaan ungkapan ini merupakan cara menyingkirkan topik agama tanpa membahas atau memperdebatkannya. Karl Marx bukanlah pencipta ungkapan ini, namun ialah yang diingat ketika frasa ini digunakan. Argumen Marx ialah bahwa agama memberi manusia kebahagiaan palsu yang dibuat-buat \u2013 sama kasusnya dengan seorang pecandu \u2013 dan membebaskan manusia dari ilusi yang tidak realistis itu merupakan bagian dari pembangunan masyarakat yang lebih baik. Walaupun mulai menjadi populer melalui Marx, tuduhan \u201ccandu bagi masyarakat\u201d itu kerap digunakan oleh para ateis. Karena mereka telah menolak keberadaan Allah, mereka harus menjelaskan keberadaan agama yang bertahan. Mereka tidak menganggap agama diperlukan, sehingga mereka tidak memahami mengapa orang lain membutuhkan agama. Marx tidak mengkhususkan umat Kristen dalam penolakannya terhadap agama. Sebaliknya, ia mengecam agama secara garis besar dengan mengkaitkan \u201corang\u201d dengan mereka yang miskin, bebal, dan mudah ditipu. Argumen \u201ccandu bagi masyarakat\u201d ini mengandung ide bahwa agama diperuntukkan bagi mereka yang lemah otak dan terganggu jiwanya, yang membutuhkan kruk untuk menjalani kehidupan. Kaum ateis pada jaman ini juga mengulangi klaim tersebut, melalui tuduhan mereka bahwa \u201cAllah adalah teman khayalan bagi orang dewasa.\u201d Jadi, apakah benar agama hanyalah \u201ccandu bagi masyarakat\u201d? Apakah agama hanya menghasilkan penopang emosional bagi orang yang daya pikirnya lemah? Beberapa fakta sederhana dapat menangkis pertanyaan ini dengan jawaban \u201ctidak\u201d yang mutlak. (1) Ada berbagai argumen yang logis, ilmiah, dan filosofis bagi keberadaan Allah. (2) Fakta bahwa secara bawaan umat manusia rusak dan butuh diselamatkan (pokok pesan agama) sudah nyata disaksikan dimana-mana. (3) Dalam sejarah kemanusiaan, mayoritas penulis dan pemikir yang tajam mempercayai Allah. Apakah ada orang yang menggunakan agama sebagai kruk? Ya, ada. Apakah itu berarti bahwa semua klaim yang telah dibuat agama adalah salah? Tidak. Agama adalah respon alami terhadap bukti keberadaan Allah serta kesadaran bahwa kita adalah ciptaan yang rusak, yang perlu diperbaiki. Secara bersamaan, kita perlu membedakan antara agama keliru yang memberi rasa aman yang palsu \u2013 sama dengan candu yang menyumbang rasa nikmat \u2013 dan keKristenan, satu-satunya agama yang benar dan harapan bagi umat manusia. Agama yang palsu berdasar pada ide bahwa manusia, melalui upaya pribadi dapat melayakkan diri bagi Allah. Hanya agama Kristen yang meyakini bahwa manusia \u201cmati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa\u201d dan tidak mampu melakukan apapun juga untuk melayakkan diri pada kekekalan di surga. Hanya keKristenan menyediakan solusi bagi ketidakmampuan manusia \u2013 kematian Yesus Kristus di atas salib sebagai pengganti kita. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Menyatakan agama Kristen (atau agama lain) sebagai \u201ccandu bagi masyarakat\u201d adalah taktik yang sering digunakan mereka yang mengabaikan agama. Penggunaan ungkapan ini merupakan cara menyingkirkan topik agama tanpa membahas atau memperdebatkannya. Karl Marx bukanlah pencipta ungkapan ini, namun ialah yang diingat ketika frasa ini digunakan. Argumen Marx ialah bahwa agama memberi manusia kebahagiaan palsu yang dibuat-buat \u2013 sama kasusnya dengan seorang pecandu \u2013 dan membebaskan manusia dari ilusi yang tidak realistis itu merupakan bagian dari pembangunan masyarakat yang lebih baik.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Walaupun mulai menjadi populer melalui Marx, tuduhan \u201ccandu bagi masyarakat\u201d itu kerap digunakan oleh para ateis. Karena mereka telah menolak keberadaan Allah, mereka harus menjelaskan keberadaan agama yang bertahan. Mereka tidak menganggap agama diperlukan, sehingga mereka tidak memahami mengapa orang lain membutuhkan agama. Marx tidak mengkhususkan umat Kristen dalam penolakannya terhadap agama. Sebaliknya, ia mengecam agama secara garis besar dengan mengkaitkan \u201corang\u201d dengan mereka yang miskin, bebal, dan mudah ditipu. Argumen \u201ccandu bagi masyarakat\u201d ini mengandung ide bahwa agama diperuntukkan bagi mereka yang lemah otak dan terganggu jiwanya, yang membutuhkan kruk untuk menjalani kehidupan. Kaum ateis pada jaman ini juga mengulangi klaim tersebut, melalui tuduhan mereka bahwa \u201cAllah adalah teman khayalan bagi orang dewasa.\u201d<\/p>\n<p>Jadi, apakah benar agama hanyalah \u201ccandu bagi masyarakat\u201d? Apakah agama hanya menghasilkan penopang emosional bagi orang yang daya pikirnya lemah? Beberapa fakta sederhana dapat menangkis pertanyaan ini dengan jawaban \u201ctidak\u201d yang mutlak. (1) Ada berbagai argumen yang logis, ilmiah, dan filosofis bagi keberadaan Allah. (2) Fakta bahwa secara bawaan umat manusia rusak dan butuh diselamatkan (pokok pesan agama) sudah nyata disaksikan dimana-mana. (3) Dalam sejarah kemanusiaan, mayoritas penulis dan pemikir yang tajam mempercayai Allah. Apakah ada orang yang menggunakan agama sebagai kruk? Ya, ada. Apakah itu berarti bahwa semua klaim yang telah dibuat agama adalah salah? Tidak. Agama adalah respon alami terhadap bukti keberadaan Allah serta kesadaran bahwa kita adalah ciptaan yang rusak, yang perlu diperbaiki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara bersamaan, kita perlu membedakan antara agama keliru yang memberi rasa aman yang palsu \u2013 sama dengan candu yang menyumbang rasa nikmat \u2013 dan keKristenan, satu-satunya agama yang benar dan harapan bagi umat manusia. Agama yang palsu berdasar pada ide bahwa manusia, melalui upaya pribadi dapat melayakkan diri bagi Allah. Hanya agama Kristen yang meyakini bahwa manusia \u201cmati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa\u201d dan tidak mampu melakukan apapun juga untuk melayakkan diri pada kekekalan di surga. Hanya keKristenan menyediakan solusi bagi ketidakmampuan manusia \u2013 kematian Yesus Kristus di atas salib sebagai pengganti kita. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Menyatakan agama Kristen (atau agama lain) sebagai \u201ccandu bagi masyarakat\u201d adalah taktik yang sering digunakan mereka yang mengabaikan agama. Penggunaan ungkapan ini merupakan cara menyingkirkan topik agama tanpa membahas atau memperdebatkannya. Karl Marx bukanlah pencipta ungkapan ini, namun ialah yang diingat ketika frasa ini digunakan. Argumen Marx ialah bahwa agama memberi manusia kebahagiaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[238,154,294],"class_list":["post-42952","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-agama","tag-alkitab","tag-karl-marx"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1317","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42952","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42952"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42952\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42952"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42952"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42952"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}