{"id":42962,"date":"2021-01-06T09:22:02","date_gmt":"2021-01-06T02:22:02","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42962"},"modified":"2020-11-15T20:18:51","modified_gmt":"2020-11-15T13:18:51","slug":"apakah-kebenaran-itu-relatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-kebenaran-itu-relatif\/","title":{"rendered":"Apakah kebenaran itu relatif?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ketika seorang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, apa yang biasanya ia maksud ialah bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. Ada hal yang sepertinya benar bagi Anda tetapi tidak benar bagi saya. Jika Anda mempercayainya, maka hal itu benar bagi Anda. Jika saya tidak mempercayainya, maka hal itu tidak benar bagi saya. Ketika orang melayangkan pernyataan, &quot;Anda boleh percaya Allah itu ada, namun bagi saya Ia tidak ada,&quot; maka mereka sedang menyatakan sentimen yang sedang populer bahwa kebenaran bersifat relatif. Konsep &quot;kebenaran relatif&quot; terasa toleran dan serba terbuka. Namun, jika kita teliti secara mendalam, sebenarnya pemikiran itu tidak terbuka bagi ide lain. Dalam hakekatnya, menyatakan &quot;Allah ada bagi Anda tetapi tidak bagi saya&quot; adalah cara lain menyatakan bahwa konsep orang lain tentang Allah itu salah. Ada penghakiman yang terjadi. Namun sebenarnya tidak ada yang percaya bahwa semua kebenaran bersifat relatif. Tidak ada orang waras yang berkata, &quot;Hukum gravitasi berlaku bagi Anda, tetapi tidak bagi saya,&quot; dan lompat dari bangunan tinggi dengan yakin bahwa ia tidak akan terluka. Pernyataan bahwa &quot;kebenaran itu relatif&quot; sebetulnya merupakan kalimat yang menentang diri. Dalam menyatakan, &quot;Kebenaran itu relatif,&quot; seseorang menyatakan sebuah kebenaran. Dan, jika semua kebenaran bersifat relatif, maka pernyataan itupun bersifat relatif - yang berarti kita tidak dapat meyakininya sebagai kebenaran yang selalu benar setiap waktu. Tentunya ada beberapa pernyataan yang memang bersifat relatif. Sebagai contoh, &quot;Toyota Innova adalah mobil yang paling keren&quot; adalah pernyataan yang relatif. Seorang penggemar mobil mungkin beropini demikian, namun tidak ada standar yang dapat menjadi tolak ukur bagi faktor &quot;keren.&quot; Ialah hanya sebatas kepercayaan atau opini seseorang. Akan tetapi, pernyataan seperti &quot;ada Toyota Innova perak yang diparkirkan di halaman rumah saya, dan mobil itu milik saya&quot; tidak bersifat relatif. Yang ada hanyalah pilihan benar atau salah, berdasarkan realita obyektif. Jika Innova di halaman berwarna merah (bukan perak), maka pernyataan itu salah. Jika Innova perak di halaman itu milik orang lain, maka pernyataan itu salah - realita tidak mendukung pernyataan itu. Secara garis besar, opini bersifat realtif. Banyak orang yang menggolongkan topik agama dan Allah ke dalam golongan opini. &quot;Anda lebih menyukai Yesus - ya, itu baik jika itu yang Anda suka.&quot; Apa yang dikatakan umat Kristen (dan yang diajarkan Alkitab) ialah bahwa kebenaran tidaklah relatif. Ada sebuah realita rohani yang obyektif, sama dengan adanya realita jasmani yang obyektif. Allah tidak berubah (Maleakhi 3:6); Yesus menggambarkan ajaran-Nya sebagai batu yang kokoh dan tak tergoyahkan (Matius 7:24). Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, dan ini adalah kebenaran mutlak bagi setiap orang pada setiap waktu (Yohanes 14:6). Sama-halnya dengan orang yang butuh bernafas untuk hidup, manusia perlu dilahirkan kembali melalui iman di dalam Kristus guna mengalami kehidupan rohani (Yohanes 3:3). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ketika seorang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, apa yang biasanya ia maksud ialah bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. Ada hal yang sepertinya benar bagi Anda tetapi tidak benar bagi saya. Jika Anda mempercayainya, maka hal itu benar bagi Anda. Jika saya tidak mempercayainya, maka hal itu tidak benar bagi saya. Ketika orang melayangkan pernyataan, &#8220;Anda boleh percaya Allah itu ada, namun bagi saya Ia tidak ada,&#8221; maka mereka sedang menyatakan sentimen yang sedang populer bahwa kebenaran bersifat relatif.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Konsep &#8220;kebenaran relatif&#8221; terasa toleran dan serba terbuka. Namun, jika kita teliti secara mendalam, sebenarnya pemikiran itu tidak terbuka bagi ide lain. Dalam hakekatnya, menyatakan &#8220;Allah ada bagi Anda tetapi tidak bagi saya&#8221; adalah cara lain menyatakan bahwa konsep orang lain tentang Allah itu salah. Ada penghakiman yang terjadi. Namun sebenarnya tidak ada yang percaya bahwa semua kebenaran bersifat relatif. Tidak ada orang waras yang berkata, &#8220;Hukum gravitasi berlaku bagi Anda, tetapi tidak bagi saya,&#8221; dan lompat dari bangunan tinggi dengan yakin bahwa ia tidak akan terluka.<\/p>\n<p>Pernyataan bahwa &#8220;kebenaran itu relatif&#8221; sebetulnya merupakan kalimat yang menentang diri. Dalam menyatakan, &#8220;Kebenaran itu relatif,&#8221; seseorang menyatakan sebuah kebenaran. Dan, jika semua kebenaran bersifat relatif, maka pernyataan itupun bersifat relatif &#8211; yang berarti kita tidak dapat meyakininya sebagai kebenaran yang selalu benar setiap waktu.<\/p>\n<p>Tentunya ada beberapa pernyataan yang memang bersifat relatif. Sebagai contoh, &#8220;Toyota Innova adalah mobil yang paling keren&#8221; adalah pernyataan yang relatif. Seorang penggemar mobil mungkin beropini demikian, namun tidak ada standar yang dapat menjadi tolak ukur bagi faktor &#8220;keren.&#8221; Ialah hanya sebatas kepercayaan atau opini seseorang. Akan tetapi, pernyataan seperti &#8220;ada Toyota Innova perak yang diparkirkan di halaman rumah saya, dan mobil itu milik saya&#8221; tidak bersifat relatif. Yang ada hanyalah pilihan benar atau salah, berdasarkan realita obyektif. Jika Innova di halaman berwarna merah (bukan perak), maka pernyataan itu salah. Jika Innova perak di halaman itu milik orang lain, maka pernyataan itu salah &#8211; realita tidak mendukung pernyataan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara garis besar, opini bersifat realtif. Banyak orang yang menggolongkan topik agama dan Allah ke dalam golongan opini. &#8220;Anda lebih menyukai Yesus &#8211; ya, itu baik jika itu yang Anda suka.&#8221; Apa yang dikatakan umat Kristen (dan yang diajarkan Alkitab) ialah bahwa kebenaran tidaklah relatif. Ada sebuah realita rohani yang obyektif, sama dengan adanya realita jasmani yang obyektif. Allah tidak berubah (Maleakhi 3:6); Yesus menggambarkan ajaran-Nya sebagai batu yang kokoh dan tak tergoyahkan (Matius 7:24). Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, dan ini adalah kebenaran mutlak bagi setiap orang pada setiap waktu (Yohanes 14:6). Sama-halnya dengan orang yang butuh bernafas untuk hidup, manusia perlu dilahirkan kembali melalui iman di dalam Kristus guna mengalami kehidupan rohani (Yohanes 3:3). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ketika seorang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, apa yang biasanya ia maksud ialah bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. Ada hal yang sepertinya benar bagi Anda tetapi tidak benar bagi saya. Jika Anda mempercayainya, maka hal itu benar bagi Anda. Jika saya tidak mempercayainya, maka hal itu tidak benar bagi saya. Ketika orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[154,243,244],"class_list":["post-42962","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-alkitab","tag-kebenaran","tag-truth"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2001","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42962","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42962"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42962\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}