{"id":42966,"date":"2021-01-11T09:22:02","date_gmt":"2021-01-11T02:22:02","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42966"},"modified":"2020-11-15T20:27:10","modified_gmt":"2020-11-15T13:27:10","slug":"apa-saja-contoh-campur-tangan-ilahi-yang-nyata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-saja-contoh-campur-tangan-ilahi-yang-nyata\/","title":{"rendered":"Apa saja contoh campur tangan ilahi yang nyata?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Campur tangan ilahi pada dasarnya adalah campur tangan Allah dalam urusan dunia. Intervensi ilahi ini dapat berupa sesuatu yang disebabkan terjadi oleh Allah atau sebaliknya Allah mencegah sesuatu terjadi. Para ateis, agnostik, dan deis berusaha mencari penjelasan lain bagi peristiwa yang jelas merupakan mujizat. Adapun orang percaya yang menyatakan contoh campur tangan ilahi dimana-mana, dengan menafsirkan peristiwa yang acak sebagai instruksi jelas dari Allah untuk mengambil langkah khusus. Apakah Allah benar-benar campur tangan dalam urusan dunia? Jika benar, apakah ada contoh intervensi-Nya yang tak terbantahkan? Apakah Allah telah meninggalkan jejak yang jelas atas mujizat-Nya? Orang percaya dapat menunjuk pada berbagai contoh intervensi Allah. Mulai dari kekalahan armada Spanyol hingga keberadaan Israel di jaman ini disebutkan sebagai bukti bahwa Allah telah campur tangan dalam sejarah. Tentunya, adapula mujizat yang direkam dalam Alkitab, yang direkam oleh para saksi mata peristiwa itu, dan melalui penciptaan sendiri - &quot;langitpun berbicara,&quot; sebagaimana diungkapkan komposer Joseph Haydn. Akan tetapi, bagi para ateis, agnostik, dan deis, selalu ada penjelasan lain bagi segala sesuatu. Di Amerika Serikat ada sebuah siaran televisi yang berusaha menjelaskan mujizat di dalam Alkitab. Salah satu episode penuh dikhususkan untuk membahas penyeberangan Laut Teberau (lihat Keluaran pasal 14). Para pakar sains mengutarakan beberapa teori, termasuk terbentuknya jembatan sementara yang disebabkan oleh gunung berapi di bawah air atau gempa bumi di bawah air yang menyebabkan tsunami, sehingga tingginya air surut di tempat Musa dan umat Israel menyebrangi Laut Teberau itu. Walaupun teori alami ini mungkin saja, namun yang sulit dijelaskan adalah ketepatan waktu peristiwa itu terjadi sehingga Israel dapat menyebrang, namun pasukan Mesir ditenggelamkan ketika mereka berusaha menyusul. Meskipun peristiwa itu dapat dijelaskan secara alami, adalah tidak masuk akal menolak bahwa pengaturan waktu terjadinya peristiwa itu supranatural. Namun, sekali lagi, bagi mereka yang menolak keberadaan dan aktifitas Allah di dunia, mujizat apapun dapat dijelaskan oleh kebetulan, histeria, atau khayalan. Jika Anda mencari alasan untuk tidak percaya, tentunya Anda akan menemukan beberapa alasan. Sebaliknya ada orang percaya yang menganggap segala sesuatu sebagai contoh campur tangan ilahi. Diskon yang baik di supermarket adalah mujizat dari Allah. Angin yang tiba-tiba berhembus atau perjumpaan dengan teman yang tak direncanakan dianggap sebagai pertanda dari Allah. Walaupun anggapan ini lebih alkitabiah daripada anggapan para deis, adapun bahayanya tersendiri. Jika kita menafsirkan segala sesuatu sebagai intervensi ilahi maka konklusi yang kita capai cukup subyektif. Kita seringkali menafsirkan sesuatu menurut keinginan kita. Adalah lebih mudah mencari kehendak Allah dengan mengamati bentuk awan daripada mencari kehendak Allah secara alkitabiah (Roma 12:1-2). Menurut Alkitab, Allah dengan jelas campur tangan dalam urusan dunia (baca Kejadian sampai dengan Wahyu). Allah itu berdaulat (Mazmur 93:1, 95:3; Yeremia 23:20; Roma 9). Tidak ada yang terjadi tanpa disebabkan, diperbolehkan, atau ditetapkan Allah. Kita selalu dikepung oleh intervensi ilahi, bahkan ketika kita tidak menyadarinya. Kita mungkin tidak akan pernah mengetahui beberapa kali dan berbagai cara Allah melakukan intervensi dalam kehidupan kita. Campur tangan Allah dapat terjadi dalam wujud mujizat, seperti pemulihan atau pertanda supranatural. Namun wujud intervensi Allah juga dapat terjadi dalam peristiwa yang tak terduga yang mengarahkan kita pada jalan yang dikehendaki Allah. Alkitab tidak memerintahkan kita menyelidiki maksud rohani yang tersembunyi di balik kejadian sehari-hari kita. Meskipun kita perlu menyadari bahwa Ia campur tangan, kita tidak perlu menghabiskan waktu memecahkan pesan yang terselubung di balik setiap peristiwa. Orang percaya sebaiknya mencari arahan dari Firman Allah (2 Timotius 3:16-17) dan menerima arahan dari Roh Kudus (Efesus 5:18). Kita harus menaati satu-satunya sumber yang telah diwahyukan oleh Allah, yakni Firman-Nya (Ibrani 4:12). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Campur tangan ilahi pada dasarnya adalah campur tangan Allah dalam urusan dunia. Intervensi ilahi ini dapat berupa sesuatu yang disebabkan terjadi oleh Allah atau sebaliknya Allah mencegah sesuatu terjadi. Para ateis, agnostik, dan deis berusaha mencari penjelasan lain bagi peristiwa yang jelas merupakan mujizat. Adapun orang percaya yang menyatakan contoh campur tangan ilahi dimana-mana, dengan menafsirkan peristiwa yang acak sebagai instruksi jelas dari Allah untuk mengambil langkah khusus. Apakah Allah benar-benar campur tangan dalam urusan dunia? Jika benar, apakah ada contoh intervensi-Nya yang tak terbantahkan? Apakah Allah telah meninggalkan jejak yang jelas atas mujizat-Nya?<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Orang percaya dapat menunjuk pada berbagai contoh intervensi Allah. Mulai dari kekalahan armada Spanyol hingga keberadaan Israel di jaman ini disebutkan sebagai bukti bahwa Allah telah campur tangan dalam sejarah. Tentunya, adapula mujizat yang direkam dalam Alkitab, yang direkam oleh para saksi mata peristiwa itu, dan melalui penciptaan sendiri &#8211; &#8220;langitpun berbicara,&#8221; sebagaimana diungkapkan komposer Joseph Haydn.<\/p>\n<p>Akan tetapi, bagi para ateis, agnostik, dan deis, selalu ada penjelasan lain bagi segala sesuatu. Di Amerika Serikat ada sebuah siaran televisi yang berusaha menjelaskan mujizat di dalam Alkitab. Salah satu episode penuh dikhususkan untuk membahas penyeberangan Laut Teberau (lihat Keluaran pasal 14). Para pakar sains mengutarakan beberapa teori, termasuk terbentuknya jembatan sementara yang disebabkan oleh gunung berapi di bawah air atau gempa bumi di bawah air yang menyebabkan tsunami, sehingga tingginya air surut di tempat Musa dan umat Israel menyebrangi Laut Teberau itu. Walaupun teori alami ini mungkin saja, namun yang sulit dijelaskan adalah ketepatan waktu peristiwa itu terjadi sehingga Israel dapat menyebrang, namun pasukan Mesir ditenggelamkan ketika mereka berusaha menyusul. Meskipun peristiwa itu dapat dijelaskan secara alami, adalah tidak masuk akal menolak bahwa pengaturan waktu terjadinya peristiwa itu supranatural. Namun, sekali lagi, bagi mereka yang menolak keberadaan dan aktifitas Allah di dunia, mujizat apapun dapat dijelaskan oleh kebetulan, histeria, atau khayalan. Jika Anda mencari alasan untuk tidak percaya, tentunya Anda akan menemukan beberapa alasan.<\/p>\n<p>Sebaliknya ada orang percaya yang menganggap segala sesuatu sebagai contoh campur tangan ilahi. Diskon yang baik di supermarket adalah mujizat dari Allah. Angin yang tiba-tiba berhembus atau perjumpaan dengan teman yang tak direncanakan dianggap sebagai pertanda dari Allah. Walaupun anggapan ini lebih alkitabiah daripada anggapan para deis, adapun bahayanya tersendiri. Jika kita menafsirkan segala sesuatu sebagai intervensi ilahi maka konklusi yang kita capai cukup subyektif. Kita seringkali menafsirkan sesuatu menurut keinginan kita. Adalah lebih mudah mencari kehendak Allah dengan mengamati bentuk awan daripada mencari kehendak Allah secara alkitabiah (Roma 12:1-2).<\/p>\n<p>Menurut Alkitab, Allah dengan jelas campur tangan dalam urusan dunia (baca Kejadian sampai dengan Wahyu). Allah itu berdaulat (Mazmur 93:1, 95:3; Yeremia 23:20; Roma 9). Tidak ada yang terjadi tanpa disebabkan, diperbolehkan, atau ditetapkan Allah. Kita selalu dikepung oleh intervensi ilahi, bahkan ketika kita tidak menyadarinya. Kita mungkin tidak akan pernah mengetahui beberapa kali dan berbagai cara Allah melakukan intervensi dalam kehidupan kita. Campur tangan Allah dapat terjadi dalam wujud mujizat, seperti pemulihan atau pertanda supranatural. Namun wujud intervensi Allah juga dapat terjadi dalam peristiwa yang tak terduga yang mengarahkan kita pada jalan yang dikehendaki Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alkitab tidak memerintahkan kita menyelidiki maksud rohani yang tersembunyi di balik kejadian sehari-hari kita. Meskipun kita perlu menyadari bahwa Ia campur tangan, kita tidak perlu menghabiskan waktu memecahkan pesan yang terselubung di balik setiap peristiwa. Orang percaya sebaiknya mencari arahan dari Firman Allah (2 Timotius 3:16-17) dan menerima arahan dari Roh Kudus (Efesus 5:18). Kita harus menaati satu-satunya sumber yang telah diwahyukan oleh Allah, yakni Firman-Nya (Ibrani 4:12). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Campur tangan ilahi pada dasarnya adalah campur tangan Allah dalam urusan dunia. Intervensi ilahi ini dapat berupa sesuatu yang disebabkan terjadi oleh Allah atau sebaliknya Allah mencegah sesuatu terjadi. Para ateis, agnostik, dan deis berusaha mencari penjelasan lain bagi peristiwa yang jelas merupakan mujizat. Adapun orang percaya yang menyatakan contoh campur tangan ilahi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[154],"class_list":["post-42966","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-alkitab"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2285","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42966","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42966"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42966\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42966"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42966"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42966"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}