{"id":42972,"date":"2021-01-05T09:22:02","date_gmt":"2021-01-05T02:22:02","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42972"},"modified":"2020-11-15T17:23:46","modified_gmt":"2020-11-15T10:23:46","slug":"apakah-argumen-moralitas-bagi-keberadaan-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-argumen-moralitas-bagi-keberadaan-allah\/","title":{"rendered":"Apakah argumen Moralitas bagi keberadaan Allah?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Argumen moralitas dimulai dari kesadaran bahwa hampir semua orang mengakui adanya kode moralitas (bahwa ada tindakan yang benar, serta tindakan yang salah). Setiap kali kita memperdebatkan kebenaran dan kesalahan, kita sedang mengungkit sebuah hukum yang lebih agung dan tidak berubah yang kita asumsikan telah diketahui dan dipelihara oleh orang lain. Kebenaran dan kesalahan menyiratkan sebuah tolak ukur atau hukum yang lebih tinggi, dan hukum tentunya telah disahkan oleh sosok pemberi hukum. Karena hukum moralitas lebih tinggi dari umat manusia, maka hukum universal ini harus dirancang oleh pemberi hukum yang universal. Perancang itulah Allah. Dalam mendukung argumen moralitas, kita mengamati bahwa suku-suku terdalam yang terpisah dari dunia luar memelihara sebuah kode moralitas yang mirip dengan kelompok lainnya. Walaupun dalam hal sipil pasti ada perbedaan, kebajikan seperti keberanian dan kesetiaan serta sifat buruk seperti keserakahan dan sifat pengecut bersifat universal. Jika manusia bertanggung jawab atas kode moralitas seperti itu, maka tentunya akan sangat bervariasi dari satu kelompok dengan kelompok lain. Selebihnya, kode ini bukan semata rekaman tindakan manusia- karena manusia sendiri lebih sering gagal memelihara kode moralitas yang ia ketahui. Jika demikian, dari manakah asal usul ide-ide moralitas ini? Roma 2:14-15 menyatakan bahwa hukum moralitas (atau hati nurani) datangnya dari pemberi hukum agung yang lebih tinggi dari manusia. Jika memang demikian, maka wajarlah apa yang telah kita amati. Pemberi hukum itu adalah Allah. Secara negatif, ateisme tidak menyediakan basis bagi moralitas, harapan, atau makna kehidupan. Walaupun dengan sendirinya hal ini tidak menggagalkan ateisme, namun jika penerapan praktis sebuah kepercayaan gagal jika diperhadapkan dengan realita kenyataan, maka kita harus meninggalkannya. Tanpa Allah tidak akan ada basis bagi moralitas, kehidupan, atau makna kehidupan. Namun semua ini ada, dan Allah pun juga ada. Itulah yang dimaksud oleh argumen moralitas bagi keberadaan Allah. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Argumen moralitas dimulai dari kesadaran bahwa hampir semua orang mengakui adanya kode moralitas (bahwa ada tindakan yang benar, serta tindakan yang salah). Setiap kali kita memperdebatkan kebenaran dan kesalahan, kita sedang mengungkit sebuah hukum yang lebih agung dan tidak berubah yang kita asumsikan telah diketahui dan dipelihara oleh orang lain. Kebenaran dan kesalahan menyiratkan sebuah tolak ukur atau hukum yang lebih tinggi, dan hukum tentunya telah disahkan oleh sosok pemberi hukum. Karena hukum moralitas lebih tinggi dari umat manusia, maka hukum universal ini harus dirancang oleh pemberi hukum yang universal. Perancang itulah Allah.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Dalam mendukung argumen moralitas, kita mengamati bahwa suku-suku terdalam yang terpisah dari dunia luar memelihara sebuah kode moralitas yang mirip dengan kelompok lainnya. Walaupun dalam hal sipil pasti ada perbedaan, kebajikan seperti keberanian dan kesetiaan serta sifat buruk seperti keserakahan dan sifat pengecut bersifat universal. Jika manusia bertanggung jawab atas kode moralitas seperti itu, maka tentunya akan sangat bervariasi dari satu kelompok dengan kelompok lain. Selebihnya, kode ini bukan semata rekaman tindakan manusia- karena manusia sendiri lebih sering gagal memelihara kode moralitas yang ia ketahui. Jika demikian, dari manakah asal usul ide-ide moralitas ini? Roma 2:14-15 menyatakan bahwa hukum moralitas (atau hati nurani) datangnya dari pemberi hukum agung yang lebih tinggi dari manusia. Jika memang demikian, maka wajarlah apa yang telah kita amati. Pemberi hukum itu adalah Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara negatif, ateisme tidak menyediakan basis bagi moralitas, harapan, atau makna kehidupan. Walaupun dengan sendirinya hal ini tidak menggagalkan ateisme, namun jika penerapan praktis sebuah kepercayaan gagal jika diperhadapkan dengan realita kenyataan, maka kita harus meninggalkannya. Tanpa Allah tidak akan ada basis bagi moralitas, kehidupan, atau makna kehidupan. Namun semua ini ada, dan Allah pun juga ada. Itulah yang dimaksud oleh argumen moralitas bagi keberadaan Allah. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Argumen moralitas dimulai dari kesadaran bahwa hampir semua orang mengakui adanya kode moralitas (bahwa ada tindakan yang benar, serta tindakan yang salah). Setiap kali kita memperdebatkan kebenaran dan kesalahan, kita sedang mengungkit sebuah hukum yang lebih agung dan tidak berubah yang kita asumsikan telah diketahui dan dipelihara oleh orang lain. Kebenaran dan kesalahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[154,160,242],"class_list":["post-42972","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","tag-alkitab","tag-allah","tag-moral"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1259","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42972","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42972"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42972\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}