{"id":42974,"date":"2020-03-20T16:43:55","date_gmt":"2020-03-20T09:43:55","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42974"},"modified":"2020-04-24T13:22:00","modified_gmt":"2020-04-24T06:22:00","slug":"mengapa-umat-kristen-begitu-menentang-kesetaraan-pernikahan-sesama-jenis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-umat-kristen-begitu-menentang-kesetaraan-pernikahan-sesama-jenis\/","title":{"rendered":"Mengapa umat Kristen begitu menentang kesetaraan pernikahan sesama jenis?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - &quot;Kesetaraan perkawinan&quot; adalah slogan yang digunakan bagi pendukung pernikahan sesama jenis di negara-negara tertentu. Istilah &quot;kesetaraan perkawinan&quot; adalah upaya membentuk dialog dan mencitrakan para penentang pernikahan sesama jenis sebagai orang yang tidak logis. Menolak mengakui hubungan sesama jenis sebagai pernikahan adalah satu hal. Yang lebih sulit lagi adalah menentang &quot;kesetaraan&quot; dalam hak perkawinan. Akan tetapi, mengubah kemasannya sebenarnya tidak mengubah isu-isu pokok yang terkandung dalam perdebatan itu. Jika &quot;kesetaraan perkawinan&quot; sama artinya dengan &quot;pernikahan sesama jenis,&quot; maka orang Kristen harus menolaknya. Mengapa umat Kristen begitu menentang kesetaraan pernikahan sesama jenis? Pertanyaan ini bersifat menyimpangkan. Tidak semua umat Kristen menentang kesetaraan pernikahan, pernikahan sesama jenis, atau apapun julukannya. Banyak umat Kristen yang mendukung pengabsahan hubungan sesama jenis sebagai pernikahan yang sah di mata hukum. Banyak umat Kristen yang beranggapan bahwa moralitas seksual tidak perlu ditegakkan melalui hukum dan bahwa, dalam masyarakat yang luas, seseorang seharusnya dapat menikahi siapapun yang ia kehendaki. Secara alkitabiah, pandangan ini merupakan kesalahan yang tragis. Alkitab sudah sangat jelas mengajarkan bahwa homoseksualitas adalah dosa yang tidak alami (Imamat 18:22; Roma 1:26-27; 1 Korintus 6:9). Alkitab menggambarkan pernikahan sebagai ciptaan Allah, dan Allah telah mengungkapkannya sebagai perjanjian antara pria dan wanita selama hidup mereka (Kejadian 2:24; 1 Korintus 7:2-16; Efesus 5:23-33). Secara alkitabiah, hubungan sesama jenis bukanlah pernikahan. Tidaklah penting jika pemerintahan mengesahkan definisi pernikahan yang baru. Tidaklah penting jika masyarakat luas mendukung hubungan sesama jenis. Hubungan homoseksual dari dulu, hingga selamanya, merupakan penyimpangan terhadap ciptaan Allah. Di dalam kebudayaan modern yang semakin sekuler dan tidak Kristen, perdebatan kesetaraan perkawinan akan akhirnya dimenangkan oleh gerakan pembela hak homoseksual. Tanpa adanya pertobatan berskala nasional atau kebangkitan rohani iman Kristen, hubungan sesama jenis akan diakui secara hukum sebagai pernikahan yang sah, dengan semua hak istimewanya. Akan tetapi, apapun juga yang dilakukan masyarakat, umat Kristen harus selalu menyelaraskan diri, dan tunduk kepada, Firman-Nya. Dan Firman-Nya telah membatasi pernikahan kepada satu pria dan satu wanita. Sebagai umat Kristen, kita menerima faktanya bahwa kita hidup di negara yang sekuler dan di tengah masyarakat yang fasik, namun kita lebih senang berpegangan pada Firman Allah yang tidak berubah daripada adat istiadat setempat yang selalu berubah. &quot;...Sebab jelaslah Allah selalu benar, walaupun setiap orang berbohong...&quot; (Roma 3:4). Umat Kristen tidak perlu menentang persatuan sipil hubungan sesama jenis dan keuntungan yang diberikan oleh pemerintah atasnya. Potongan pajak, hak warisan, dsb., tidak diulas di dalam Alkitab. Namun ketika membahas definisi pernikahan, umat Kristen perlu bersikukuh. Allah yang menciptakan pernikahan. Tidak ada satupun manusia yang berhak atau berotoritas merubah definisinya. Tanpa menghiraukan peraturan pemerintah dan masyarakat setempat, persatuan sesama jenis tidak akan pernah memperoleh kesetaraan dengan pernikahan heteroseksual. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; &#8220;Kesetaraan perkawinan&#8221; adalah slogan yang digunakan bagi pendukung pernikahan sesama jenis di negara-negara tertentu. Istilah &#8220;kesetaraan perkawinan&#8221; adalah upaya membentuk dialog dan mencitrakan para penentang pernikahan sesama jenis sebagai orang yang tidak logis. Menolak mengakui hubungan sesama jenis sebagai pernikahan adalah satu hal. Yang lebih sulit lagi adalah menentang &#8220;kesetaraan&#8221; dalam hak perkawinan. Akan tetapi, mengubah kemasannya sebenarnya tidak mengubah isu-isu pokok yang terkandung dalam perdebatan itu. Jika &#8220;kesetaraan perkawinan&#8221; sama artinya dengan &#8220;pernikahan sesama jenis,&#8221; maka orang Kristen harus menolaknya.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa umat Kristen begitu menentang kesetaraan pernikahan sesama jenis? Pertanyaan ini bersifat menyimpangkan. Tidak semua umat Kristen menentang kesetaraan pernikahan, pernikahan sesama jenis, atau apapun julukannya. Banyak umat Kristen yang mendukung pengabsahan hubungan sesama jenis sebagai pernikahan yang sah di mata hukum. Banyak umat Kristen yang beranggapan bahwa moralitas seksual tidak perlu ditegakkan melalui hukum dan bahwa, dalam masyarakat yang luas, seseorang seharusnya dapat menikahi siapapun yang ia kehendaki. Secara alkitabiah, pandangan ini merupakan kesalahan yang tragis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alkitab sudah sangat jelas mengajarkan bahwa homoseksualitas adalah dosa yang tidak alami (Imamat 18:22; Roma 1:26-27; 1 Korintus 6:9). Alkitab menggambarkan pernikahan sebagai ciptaan Allah, dan Allah telah mengungkapkannya sebagai perjanjian antara pria dan wanita selama hidup mereka (Kejadian 2:24; 1 Korintus 7:2-16; Efesus 5:23-33). Secara alkitabiah, hubungan sesama jenis bukanlah pernikahan. Tidaklah penting jika pemerintahan mengesahkan definisi pernikahan yang baru. Tidaklah penting jika masyarakat luas mendukung hubungan sesama jenis. Hubungan homoseksual dari dulu, hingga selamanya, merupakan penyimpangan terhadap ciptaan Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam kebudayaan modern yang semakin sekuler dan tidak Kristen, perdebatan kesetaraan perkawinan akan akhirnya dimenangkan oleh gerakan pembela hak homoseksual. Tanpa adanya pertobatan berskala nasional atau kebangkitan rohani iman Kristen, hubungan sesama jenis akan diakui secara hukum sebagai pernikahan yang sah, dengan semua hak istimewanya. Akan tetapi, apapun juga yang dilakukan masyarakat, umat Kristen harus selalu menyelaraskan diri, dan tunduk kepada, Firman-Nya. Dan Firman-Nya telah membatasi pernikahan kepada satu pria dan satu wanita. Sebagai umat Kristen, kita menerima faktanya bahwa kita hidup di negara yang sekuler dan di tengah masyarakat yang fasik, namun kita lebih senang berpegangan pada Firman Allah yang tidak berubah daripada adat istiadat setempat yang selalu berubah. &#8220;&#8230;Sebab jelaslah Allah selalu benar, walaupun setiap orang berbohong&#8230;&#8221; (Roma 3:4).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Umat Kristen tidak perlu menentang persatuan sipil hubungan sesama jenis dan keuntungan yang diberikan oleh pemerintah atasnya. Potongan pajak, hak warisan, dsb., tidak diulas di dalam Alkitab. Namun ketika membahas definisi pernikahan, umat Kristen perlu bersikukuh. Allah yang menciptakan pernikahan. Tidak ada satupun manusia yang berhak atau berotoritas merubah definisinya. Tanpa menghiraukan peraturan pemerintah dan masyarakat setempat, persatuan sesama jenis tidak akan pernah memperoleh kesetaraan dengan pernikahan heteroseksual. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; &#8220;Kesetaraan perkawinan&#8221; adalah slogan yang digunakan bagi pendukung pernikahan sesama jenis di negara-negara tertentu. Istilah &#8220;kesetaraan perkawinan&#8221; adalah upaya membentuk dialog dan mencitrakan para penentang pernikahan sesama jenis sebagai orang yang tidak logis. Menolak mengakui hubungan sesama jenis sebagai pernikahan adalah satu hal. Yang lebih sulit lagi adalah menentang &#8220;kesetaraan&#8221; dalam hak perkawinan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44535,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[177,176],"class_list":["post-42974","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-homoseksual","tag-lgbtq"],"better_featured_image":{"id":44535,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/LGBTQ_Symbols.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/LGBTQ_Symbols.png?fit=768%2C384&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/LGBTQ_Symbols.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/LGBTQ_Symbols.png?fit=1200%2C600&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1613","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42974"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42974\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44535"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}