{"id":42978,"date":"2021-01-08T09:22:02","date_gmt":"2021-01-08T02:22:02","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42978"},"modified":"2020-11-15T20:21:47","modified_gmt":"2020-11-15T13:21:47","slug":"mengapa-begitu-banyak-umat-kristen-tidak-memiliki-sudut-pandang-yang-alkitabiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-begitu-banyak-umat-kristen-tidak-memiliki-sudut-pandang-yang-alkitabiah\/","title":{"rendered":"Mengapa begitu banyak umat Kristen tidak memiliki sudut pandang yang alkitabiah?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sudut pandang seseorang terhadap dunia tidak berbeda dari konsepnya tentang dunia, menurut Alkitab. Ialah sistem kepercayaan seorang Kristen mengenai makna kehidupan, sifat Allah, sumber kebenaran, dan berbagai konsep dasar lainnya. Namun seringkali umat Kristen tidak mempunyai sudut pandang alkitabiah yang konsisten. Mereka mungkin mempunyai sudut pandang alkitabiah dalam beberapa hal, tapi tidak dalam semua halnya. Ada berbagai alasan mengapa ada umat Kristen yang tidak mempunyai sudut pandang dunia yang alkitabiah: 1) Mereka tidak mengetahui ajaran Alkitab. Mereka tidak mengetahui Firman. Jika seseorang tidak memahami apa yang diajarkan Alkitab mengenai keramatnya kehidupan manusia, sebagai contoh, adalah sulit bagi mereka untuk memeluk prinsip yang alkitabiah mengenai hal itu. Bagi mereka yang tidak tahu, pengetahuan adalah kuncinya. 2) Mereka menolak ajaran tertentu dalam Alkitab. Jika seorang Kristen tidak mempercayai apa yang tertulis dalam Alkitab, maka tentunya mustahil baginya memiliki konsep dunia yang alkitabiah. Bagi mereka yang berseberangan dalam hal ini, pertobatan adalah kuncinya. 3) Ada mereka yang lebih mempedulikan apa kata dunia dibandingkan apa kata Allah. &quot;Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi&quot; (Amsal 29:25). Seorang percaya yang memandang dunia menurut lensa Alkitab akan menyadari dirinya tidak berasal dari dunia. Yesus berkata, &quot;Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu&quot; (Yohanes 15:19; baca juga Yohanes 17:14). Ketika seorang mulai berkompromi dengan pemikiran dunia, maka fokusnya pada perspektif Allah akan kabur. Bagi mereka yang takut, keteguhan hati adalah kuncinya. 4) Komitmen mereka terhadap Kristus suam-suam kuku. Sama-halnya dengan gereja di Laodikia, mereka \u201ctidak dingin dan tidak panas\u201d (Wahyu 3:15), tanpa keinginan membela Kristus. Bagi mereka yang suam-suam kuku, komitmen adalah kuncinya. 5) Mereka telah dipengaruhi oleh dusta-dusta dunia. Sejak jaman Adam dan Hawa, Setan telah menggunakan kemampuannya untuk menipu dan membingungkan (Kejadian 3:1-7; Wahyu 12:9). Salah satu senjata pamungkas Setan ialah dusta bahwa Alkitab adalah kitab mitos, yang penuh dengan kesalahan dan tak dapat dipercaya. Setan ingin meyakinkan umat manusia bahwa Alkitab sudah tidak relevan lagi, dan bahwa hukum dan prinsipnya sudah tidak berlaku. Banyak orang di dalam gereja telah dipengaruhi oleh ide tersebut. Bagi mereka yang tertipu, ketajaman adalah kuncinya. 6) Keteguhan mereka telah dilemahkan oleh situasi dan kondisi, dan mereka ragu akan janji-janji Allah. Di dalam Matius 14, ketika Petrus berjalan ke luar perahu untuk berjalan di atas air, ia sedang menunjukkan sudut pandang alkitabiah: Yesus adalah sumber segala kuasa. Akan tetapi, ketika Petrus mengalihkan perhatiannya pada laut yang diombang-ambingkan badai, sudut pandangnya berubah: barangkali ombak itu lebih kuat daripada Yesus. Bagi mereka yang ragu, iman adalah kuncinya. Demi mempertahankan sudut pandang yang alkitabiah kita harus kembali ke Alkitab dan memegang erat-erat janji Allah kepada kita, karena dunia tidak menawarkan apapun juga (Lukas 9:25; Yohanes 12:25; Matius 6:19). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Sudut pandang seseorang terhadap dunia tidak berbeda dari konsepnya tentang dunia, menurut Alkitab. Ialah sistem kepercayaan seorang Kristen mengenai makna kehidupan, sifat Allah, sumber kebenaran, dan berbagai konsep dasar lainnya. Namun seringkali umat Kristen tidak mempunyai sudut pandang alkitabiah yang konsisten. Mereka mungkin mempunyai sudut pandang alkitabiah dalam beberapa hal, tapi tidak dalam semua halnya.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ada berbagai alasan mengapa ada umat Kristen yang tidak mempunyai sudut pandang dunia yang alkitabiah:<\/p>\n<p>1) Mereka tidak mengetahui ajaran Alkitab. Mereka tidak mengetahui Firman. Jika seseorang tidak memahami apa yang diajarkan Alkitab mengenai keramatnya kehidupan manusia, sebagai contoh, adalah sulit bagi mereka untuk memeluk prinsip yang alkitabiah mengenai hal itu. Bagi mereka yang tidak tahu, pengetahuan adalah kuncinya.<\/p>\n<p>2) Mereka menolak ajaran tertentu dalam Alkitab. Jika seorang Kristen tidak mempercayai apa yang tertulis dalam Alkitab, maka tentunya mustahil baginya memiliki konsep dunia yang alkitabiah. Bagi mereka yang berseberangan dalam hal ini, pertobatan adalah kuncinya.<\/p>\n<p>3) Ada mereka yang lebih mempedulikan apa kata dunia dibandingkan apa kata Allah. &#8220;Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi&#8221; (Amsal 29:25). Seorang percaya yang memandang dunia menurut lensa Alkitab akan menyadari dirinya tidak berasal dari dunia. Yesus berkata, &#8220;Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu&#8221; (Yohanes 15:19; baca juga Yohanes 17:14). Ketika seorang mulai berkompromi dengan pemikiran dunia, maka fokusnya pada perspektif Allah akan kabur. Bagi mereka yang takut, keteguhan hati adalah kuncinya.<\/p>\n<p>4) Komitmen mereka terhadap Kristus suam-suam kuku. Sama-halnya dengan gereja di Laodikia, mereka \u201ctidak dingin dan tidak panas\u201d (Wahyu 3:15), tanpa keinginan membela Kristus. Bagi mereka yang suam-suam kuku, komitmen adalah kuncinya.<\/p>\n<p>5) Mereka telah dipengaruhi oleh dusta-dusta dunia. Sejak jaman Adam dan Hawa, Setan telah menggunakan kemampuannya untuk menipu dan membingungkan (Kejadian 3:1-7; Wahyu 12:9). Salah satu senjata pamungkas Setan ialah dusta bahwa Alkitab adalah kitab mitos, yang penuh dengan kesalahan dan tak dapat dipercaya. Setan ingin meyakinkan umat manusia bahwa Alkitab sudah tidak relevan lagi, dan bahwa hukum dan prinsipnya sudah tidak berlaku. Banyak orang di dalam gereja telah dipengaruhi oleh ide tersebut. Bagi mereka yang tertipu, ketajaman adalah kuncinya.<\/p>\n<p>6) Keteguhan mereka telah dilemahkan oleh situasi dan kondisi, dan mereka ragu akan janji-janji Allah. Di dalam Matius 14, ketika Petrus berjalan ke luar perahu untuk berjalan di atas air, ia sedang menunjukkan sudut pandang alkitabiah: Yesus adalah sumber segala kuasa. Akan tetapi, ketika Petrus mengalihkan perhatiannya pada laut yang diombang-ambingkan badai, sudut pandangnya berubah: barangkali ombak itu lebih kuat daripada Yesus. Bagi mereka yang ragu, iman adalah kuncinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demi mempertahankan sudut pandang yang alkitabiah kita harus kembali ke Alkitab dan memegang erat-erat janji Allah kepada kita, karena dunia tidak menawarkan apapun juga (Lukas 9:25; Yohanes 12:25; Matius 6:19). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sudut pandang seseorang terhadap dunia tidak berbeda dari konsepnya tentang dunia, menurut Alkitab. Ialah sistem kepercayaan seorang Kristen mengenai makna kehidupan, sifat Allah, sumber kebenaran, dan berbagai konsep dasar lainnya. Namun seringkali umat Kristen tidak mempunyai sudut pandang alkitabiah yang konsisten. Mereka mungkin mempunyai sudut pandang alkitabiah dalam beberapa hal, tapi tidak dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[154,243,247],"class_list":["post-42978","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-alkitab","tag-kebenaran","tag-sudut-pandang"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1405","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42978","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42978"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42978\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}