{"id":42982,"date":"2021-01-01T09:22:02","date_gmt":"2021-01-01T02:22:02","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=42982"},"modified":"2020-11-15T17:08:53","modified_gmt":"2020-11-15T10:08:53","slug":"mengapa-saya-harus-percaya-akan-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-saya-harus-percaya-akan-allah\/","title":{"rendered":"Mengapa saya harus percaya akan Allah?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Percaya pada Allah adalah pertimbangan insan yang paling mendasar. Mengakui adanya Pencipta seseorang merupakan pondasi dalam berupaya mengenal-Nya secara lebih dalam. Tanpa kepercayaan akan Allah, ialah mustahil untuk menyenangkan Dia atau mendatangi-Nya (Ibrani 11:6). Manusia sudah dikelilingi oleh bukti-bukti akan keberadaan Allah, namun karena hati manusia dikeraskan oleh dosa maka mereka menolak bukti itu (Roma 1:18-23). Tidak mempercayai Allah adalah hal yang bodoh (Mazmur 14:1). Ada dua pilihan dalam kehidupan ini. Pertama, kita dapat memilih untuk mempercayai logika manusia yang terbatas. Logika manusia telah menciptakan berbagai filsafat, berbagai agama dunia dan berbagai kepercayaan &quot;-isme,&quot; serta sudut pandang lainnya. Salah satu sifat kunci dari logika manusia ialah sifat sementaranya, karena usia manusia sendiri juga terbatas. Adapula keterbatasan logika manusia yang dikarenakan oleh keterbatasan pengetahuannya; kita tidak sepandai yang kita bayangkan (1 Korintus 1:20). Logika manusia berasal dari dirinya dan berakhir dengan dirinya. Manusia terperangkap oleh waktu. Manusia dilahirkan, bertumbuh dewasa, berdampak dalam dunia, dan pada akhirnya mati. Secara alami, itulah akhir dia. Orang yang memilih hidup berlogika saja akan menemui banyak kekurangannya. Jika gaya hidup tersebut kita pertimbangkan secara obyektif, kita perlu mencari alternatif kedua. Pilihan kedua adalah menerima Alkitab yang merupakan pewahyuan dari Allah, dengan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri (Amsal 3:5). Jika kita menerima bahwa Alkitab berasal dari Allah, seseorang harus mengaku adanya Allah. Mempercayai Allah sebagaimana diungkap dalam Alkitab tidak menggagalkan penggunaan logika; melainkan, ketika kita mencari Allah maka Ia membuka mata kita (Mazmur 119:18), membukakan pengertian kita (Efesus 1:18), dan memberi kita hikmat (Amsal pasal 8). Kepercayaan dalam Allah dikuatkan oleh bukti keberadaan Allah yang sudah tersedia. Seluruh ciptaan bersaksi terhadap adanya Sang Pencipta (Mazmur 19:1-4). Kitab Allah, Alkitab, menetapkan kebenaran dan ketepatannya. Sebagai contoh, pertimbangkan nubuat Perjanjian Lama mengenai kedatangan Kristus yang pertama. Mikha 5:2 menyatakan bahwa Sang Kristus akan dilahirkan di Betlehem, Yudea. Mikha bernubuat demikian pada tahun 700an S.M. Dimanakah Kristus dilahirkan tujuh abad kemudian? Ia dilahirkan di Betlehem, Yudea, sebagaimana telah diprediksi oleh nabi Mikha (Lukas 2:1-20; Matius 2:1-12). Peter stoner, dalam karya tulis Science Speaks (hal.100-107), menunjukkan bahwa nubuat Alkitab tidak dapat bersifat kebetulan. Dengan menggunakan hukum probabilitas dalam membahas kedelapan nubuat mengenai Kristus, Stoner menemukan bahwa kemungkinan seseorang dapat memenuhi semua dari kedelapan nubuat itu adalah 1 dibanding 10 dengan pangkat 17. Dalam kata lain, hanya ada 1 kesempatan dari 100,000,000,000,000,000. Dan itu hanya mempertimbangkan delapan nubuat; Yesus menggenapi lebih. Tidak dapat disangkal bahwa ketepatan dan keandalan Alkitab telah dibuktikan oleh nubuat. Dalam membaca Alkitab, kita belajar bahwa Allah itu kekal, kudus, bersifat pribadi, berbelas kasih, dan mengasihi. Allah telah membongkar batasan waktu dengan inkarnasi (penjelmaan) Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Tindakan kasih Allah tidak menggagalkan logika manusia, melainkan menguraikan kebutuhannya akan pengampunan dan kehidupan kekal melalui Anak Allah. Secara pasti seseorang dapat menolak Allah dari Alkitab dan itulah yang sering terjadi. Manusia dapat menolak apa yang telah dikaryakan Kristus bagi mereka. Menolak Kristus adalah menolak Allah Bapa (Yohanes 10:30). Apakah pilihan Anda? Apakah Anda akan hidup berdasarkan logika manusia yang terbatas dan sering salah? Ataukah Anda akan mengakui Sang Pencipta Anda dan menerima pewahyuan-Nya dalam Alkitab? &quot;Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu&quot; (Amsal 3:7-8). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Percaya pada Allah adalah pertimbangan insan yang paling mendasar. Mengakui adanya Pencipta seseorang merupakan pondasi dalam berupaya mengenal-Nya secara lebih dalam. Tanpa kepercayaan akan Allah, ialah mustahil untuk menyenangkan Dia atau mendatangi-Nya (Ibrani 11:6). Manusia sudah dikelilingi oleh bukti-bukti akan keberadaan Allah, namun karena hati manusia dikeraskan oleh dosa maka mereka menolak bukti itu (Roma 1:18-23). Tidak mempercayai Allah adalah hal yang bodoh (Mazmur 14:1).<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ada dua pilihan dalam kehidupan ini. Pertama, kita dapat memilih untuk mempercayai logika manusia yang terbatas. Logika manusia telah menciptakan berbagai filsafat, berbagai agama dunia dan berbagai kepercayaan &#8220;-isme,&#8221; serta sudut pandang lainnya. Salah satu sifat kunci dari logika manusia ialah sifat sementaranya, karena usia manusia sendiri juga terbatas. Adapula keterbatasan logika manusia yang dikarenakan oleh keterbatasan pengetahuannya; kita tidak sepandai yang kita bayangkan (1 Korintus 1:20). Logika manusia berasal dari dirinya dan berakhir dengan dirinya. Manusia terperangkap oleh waktu. Manusia dilahirkan, bertumbuh dewasa, berdampak dalam dunia, dan pada akhirnya mati. Secara alami, itulah akhir dia. Orang yang memilih hidup berlogika saja akan menemui banyak kekurangannya. Jika gaya hidup tersebut kita pertimbangkan secara obyektif, kita perlu mencari alternatif kedua.<\/p>\n<p>Pilihan kedua adalah menerima Alkitab yang merupakan pewahyuan dari Allah, dengan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri (Amsal 3:5). Jika kita menerima bahwa Alkitab berasal dari Allah, seseorang harus mengaku adanya Allah. Mempercayai Allah sebagaimana diungkap dalam Alkitab tidak menggagalkan penggunaan logika; melainkan, ketika kita mencari Allah maka Ia membuka mata kita (Mazmur 119:18), membukakan pengertian kita (Efesus 1:18), dan memberi kita hikmat (Amsal pasal 8).<\/p>\n<p>Kepercayaan dalam Allah dikuatkan oleh bukti keberadaan Allah yang sudah tersedia. Seluruh ciptaan bersaksi terhadap adanya Sang Pencipta (Mazmur 19:1-4). Kitab Allah, Alkitab, menetapkan kebenaran dan ketepatannya. Sebagai contoh, pertimbangkan nubuat Perjanjian Lama mengenai kedatangan Kristus yang pertama. Mikha 5:2 menyatakan bahwa Sang Kristus akan dilahirkan di Betlehem, Yudea. Mikha bernubuat demikian pada tahun 700an S.M. Dimanakah Kristus dilahirkan tujuh abad kemudian? Ia dilahirkan di Betlehem, Yudea, sebagaimana telah diprediksi oleh nabi Mikha (Lukas 2:1-20; Matius 2:1-12).<\/p>\n<p>Peter stoner, dalam karya tulis Science Speaks (hal.100-107), menunjukkan bahwa nubuat Alkitab tidak dapat bersifat kebetulan. Dengan menggunakan hukum probabilitas dalam membahas kedelapan nubuat mengenai Kristus, Stoner menemukan bahwa kemungkinan seseorang dapat memenuhi semua dari kedelapan nubuat itu adalah 1 dibanding 10 dengan pangkat 17. Dalam kata lain, hanya ada 1 kesempatan dari 100,000,000,000,000,000. Dan itu hanya mempertimbangkan delapan nubuat; Yesus menggenapi lebih. Tidak dapat disangkal bahwa ketepatan dan keandalan Alkitab telah dibuktikan oleh nubuat.<\/p>\n<p>Dalam membaca Alkitab, kita belajar bahwa Allah itu kekal, kudus, bersifat pribadi, berbelas kasih, dan mengasihi. Allah telah membongkar batasan waktu dengan inkarnasi (penjelmaan) Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Tindakan kasih Allah tidak menggagalkan logika manusia, melainkan menguraikan kebutuhannya akan pengampunan dan kehidupan kekal melalui Anak Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara pasti seseorang dapat menolak Allah dari Alkitab dan itulah yang sering terjadi. Manusia dapat menolak apa yang telah dikaryakan Kristus bagi mereka. Menolak Kristus adalah menolak Allah Bapa (Yohanes 10:30). Apakah pilihan Anda? Apakah Anda akan hidup berdasarkan logika manusia yang terbatas dan sering salah? Ataukah Anda akan mengakui Sang Pencipta Anda dan menerima pewahyuan-Nya dalam Alkitab? &#8220;Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu&#8221; (Amsal 3:7-8). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Percaya pada Allah adalah pertimbangan insan yang paling mendasar. Mengakui adanya Pencipta seseorang merupakan pondasi dalam berupaya mengenal-Nya secara lebih dalam. Tanpa kepercayaan akan Allah, ialah mustahil untuk menyenangkan Dia atau mendatangi-Nya (Ibrani 11:6). Manusia sudah dikelilingi oleh bukti-bukti akan keberadaan Allah, namun karena hati manusia dikeraskan oleh dosa maka mereka menolak bukti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[154],"class_list":["post-42982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-alkitab"],"better_featured_image":{"id":31773,"alt_text":"","caption":"","description":"eb1344412fb899666419fb6a9bcf7e84","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/kanon-alkitab_5df6fde1c4748.jpeg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1192","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42982"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42982\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}