{"id":43042,"date":"2020-05-20T15:00:36","date_gmt":"2020-05-20T08:00:36","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=43042"},"modified":"2020-05-18T11:20:56","modified_gmt":"2020-05-18T04:20:56","slug":"apakah-peran-roh-kudus-dalam-perjanjian-lama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-peran-roh-kudus-dalam-perjanjian-lama\/","title":{"rendered":"Apakah peran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Peran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sama seperti halnya dalam Perjanjian Baru. Saat kita berbicara mengenai peran Roh Kudus, kita dapat melihat empat bidang umum dimana Roh Kudus berkarya: 1) pembaharuan, 2) berdiam\/tinggal (atau mengisi) 3) pengendalian, dan 4) pemberdayaan untuk melayani. Keterangan mengenai empat bidang karya Roh Kudus ini juga dinyatakan di Perjanjian Lama, seperti halnya dalam Perjanjian Baru. Bidang pertama dari karya Roh Kudus adalah proses pembaharuan. Kata lainnya adalah \u201cdilahirkan kembali.\u201d Dari karya inilah kita mendapatkan konsep \u201clahir baru.\u201d Hal ini tercatat dalam kitab Yohanes: \u201cAku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah\u201d (Yohanes 3:3). Pertanyaan pun timbul: apakah hubungannya dengan peran Roh Kudus di Perjanjian Lama? Selanjutnya dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata: \u201cEngkau adalah pengajar Israel \u2026 dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?\u201d (Yoha 3:10). Yang ditekankan oleh Yesus adalah bahwa Nikodemus seharusnya memahami kebenaran bahwa Roh Kudus adalah sumber dari hidup yang baru, karena hal ini sudah dikemukakan dalam Perjanjian Lama. Contohnya, Musa mengatakan kepada rakyat Israel sebelum memasuki Tanah Perjanjian bahwa \u201cDan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.\u201d (Ul 30:6). Penyunatan hati merupakan karya dari Roh Allah dan hanya bisa diselesaikan oleh-Nya. Kita juga dapat menemukan tema pembaharuan hati ini di Yehezkiel 11: 19-20 dan Yehezkiel 36: 26-29. Buah dari karya pembaharuan Roh Kudus adalah iman (Ef 2:8). Kita tahu bahwa ada banyak orang yang beriman dalam Perjanjian Lama karena Ibrani pasal 11 menyebutkan banyak nama mereka. Jika iman dihasilkan oleh kekuatan pembaruan dari Roh Kudus, maka hal inilah yang menyebabkan para orang kudus dalam Perjanjian Lama, yang memandang jauh ke depan menuju datangnya salib, yakin dan percaya bahwa janji Allah mengenai keselamatan mereka akan terjadi. Mereka telah melihat janji-janji itu dan \u201cdari jauh melihatnya\u201d (Ibrani 11:13), menerima dengan iman bahwa apa yang telah Allah janjikan, maka Allah juga yang akan menjadikannya. Bidang kedua dari karya Roh Kudus dalam Perjanjian lama adalah berdiam\/tinggal atau mengisi. Inilah perbedaan utama yang jelas terlihat antara peran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Roh Kudus tinggal diam di dalam hati orang-percaya secara permanen (1 Korintus 3:16-17; 6:19-20). Saat kita beriman kepada Kristus untuk keselamatan, Roh Kudus akan datang untuk tinggal di dalam hati kita. Rasul Paulus menyebut peristiwa ini sebagai \u201cjaminan bagian kita\u201d (Efesus 1:13-14). Lain halnya dengan jaman Perjanjian Baru, peristiwa tinggal diamnya Roh Kudus ini hanya pada orang tertentu dan bersifat sementara. Roh Kudus \u201cberkuasa\u201d atas orang-orang dalam Perjanjian Lama seperti Yosua (Bilangan 27:18), Daud (1 Samuel 16:12-13) dan bahkan Saul (1 Samuel 10:10). Di kitab Hakim-Hakim, kita membaca bahwa Roh Kudus \u201cmenguasai\u201d para hakim yang Allah angkat untuk melepaskan bangsa Israel dari penindasnya. Roh Kudus berkuasa atas pribadi-pribadi ini untuk tujuan yang spesifik. Saat Roh Kudus berkuasa atas seseorang, hal ini merupakan tanda bahwa Allah berkenan terhadap orang tersebut (seperti halnya Daud). Ketika Allah tidak lagi berkenan, maka Roh akan meninggalkan orang tersebut (seperti halnya Saul dalam 1 Samuel 16:14). Meskipun Roh Kudus \u201cberkuasa\u201d atas seseorang, itu tidak selalu menandakan keadaan rohani orang tersebut (misalnya Saul, Samson dan banyak dari para hakim). Jadi, Roh Kudus pada Perjanjian Baru tinggal diam di hati orang-percaya dan tinggal secara tetap\/permanen, sedangkan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama berkuasa pada diri seseorang untuk tujuan tertentu saja, dan tidak berhubungan dari kondisi rohani orang itu. Ketika tujuan itu telah tercapai, ada kemungkinan bahwa Roh Kudus akan meninggalkan orang tersebut. Bidang ketiga dari karya Roh Kudus dalam Perjanjian Lama adalah pengendalian terhadap dosa. Kejadian 6:3 menandakan bahwa Roh Kudus mengendalikan kecenderungan manusia untuk berdosa. Pengendalian ini dapat dicabut ketika kesabaran Allah terhadap dosa telah mencapai \u201cbatas kesabaran\u201d Pernyataan ini dikemukakan kembali di 2 Tes 2:3-8, ketika pada akhir zaman, penyesatan yang tumbuh subur menandakan datangnya hari penghakiman \u201cAllah\u201d. Sampai pada waktu yang telah ditetapkan, ketika \u201cmanusia durhaka\u201d (ayat 3) akan dinyatakan, Roh Kudus akan menahan kekuatan Setan dan melepaskannya hanya pada saat yang sesuai dengan tujuan Allah. Bidang keempat dari karya Roh Kudus dalam Perjanjian lama adalah memberikan karunia tertentu untuk memampukan seseorang melakukan pelayanan tertentu. Sama seperti halnya karunia rohani di Perjanjian Baru, Roh Kudus akan mengaruniakan hal tertentu kepada orang-orang tertentu di Perjanjian Lama untuk melayani. Misalnya Bezaleel dalam Keluaran 31:2-5, yang diberikan karunia untuk melakukan banyak pekerjaan di Kemah Suci. Selanjutnya, mengingat bahwa Roh Kudus hanya tinggal pada orang-orang tertentu untuk sementara, kita melihat bahwa orang-orang ini diberikan karunia untuk melakukan tugas tertentu, seperti memerintah bangsa Israel (Saul dan Daud). Kita juga dapat menyatakan peran Roh Kudus dalam proses penciptaan. Kejadian 1:2 mengatakan bahwa Roh Allah \u201cmelayang-layang di atas permukaan air\u201d dan mengawasi proses penciptaan. Dengan cara yang sama, Roh Kudus bertanggungjawab atas ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17) sebagaimana Dia membawa orang menuju Kerajaan Allah melalui proses pembaharuan. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Peran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sama seperti halnya dalam Perjanjian Baru. Saat kita berbicara mengenai peran Roh Kudus, kita dapat melihat empat bidang umum dimana Roh Kudus berkarya: 1) pembaharuan, 2) berdiam\/tinggal (atau mengisi) 3) pengendalian, dan 4) pemberdayaan untuk melayani. Keterangan mengenai empat bidang karya Roh Kudus ini juga dinyatakan di Perjanjian Lama, seperti halnya dalam Perjanjian Baru.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Bidang pertama dari karya Roh Kudus adalah proses pembaharuan. Kata lainnya adalah \u201cdilahirkan kembali.\u201d Dari karya inilah kita mendapatkan konsep \u201clahir baru.\u201d Hal ini tercatat dalam kitab Yohanes: \u201cAku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah\u201d (Yohanes 3:3). Pertanyaan pun timbul: apakah hubungannya dengan peran Roh Kudus di Perjanjian Lama? Selanjutnya dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata: \u201cEngkau adalah pengajar Israel \u2026 dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?\u201d (Yoha 3:10).<\/p>\n<p>Yang ditekankan oleh Yesus adalah bahwa Nikodemus seharusnya memahami kebenaran bahwa Roh Kudus adalah sumber dari hidup yang baru, karena hal ini sudah dikemukakan dalam Perjanjian Lama. Contohnya, Musa mengatakan kepada rakyat Israel sebelum memasuki Tanah Perjanjian bahwa \u201cDan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.\u201d (Ul 30:6). Penyunatan hati merupakan karya dari Roh Allah dan hanya bisa diselesaikan oleh-Nya. Kita juga dapat menemukan tema pembaharuan hati ini di Yehezkiel 11: 19-20 dan Yehezkiel 36: 26-29.<\/p>\n<p>Buah dari karya pembaharuan Roh Kudus adalah iman (Ef 2:8). Kita tahu bahwa ada banyak orang yang beriman dalam Perjanjian Lama karena Ibrani pasal 11 menyebutkan banyak nama mereka. Jika iman dihasilkan oleh kekuatan pembaruan dari Roh Kudus, maka hal inilah yang menyebabkan para orang kudus dalam Perjanjian Lama, yang memandang jauh ke depan menuju datangnya salib, yakin dan percaya bahwa janji Allah mengenai keselamatan mereka akan terjadi. Mereka telah melihat janji-janji itu dan \u201cdari jauh melihatnya\u201d (Ibrani 11:13), menerima dengan iman bahwa apa yang telah Allah janjikan, maka Allah juga yang akan menjadikannya.<\/p>\n<p>Bidang kedua dari karya Roh Kudus dalam Perjanjian lama adalah berdiam\/tinggal atau mengisi. Inilah perbedaan utama yang jelas terlihat antara peran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Roh Kudus tinggal diam di dalam hati orang-percaya secara permanen (1 Korintus 3:16-17; 6:19-20). Saat kita beriman kepada Kristus untuk keselamatan, Roh Kudus akan datang untuk tinggal di dalam hati kita. Rasul Paulus menyebut peristiwa ini sebagai \u201cjaminan bagian kita\u201d (Efesus 1:13-14). Lain halnya dengan jaman Perjanjian Baru, peristiwa tinggal diamnya Roh Kudus ini hanya pada orang tertentu dan bersifat sementara. Roh Kudus \u201cberkuasa\u201d atas orang-orang dalam Perjanjian Lama seperti Yosua (Bilangan 27:18), Daud (1 Samuel 16:12-13) dan bahkan Saul (1 Samuel 10:10).<\/p>\n<p>Di kitab Hakim-Hakim, kita membaca bahwa Roh Kudus \u201cmenguasai\u201d para hakim yang Allah angkat untuk melepaskan bangsa Israel dari penindasnya. Roh Kudus berkuasa atas pribadi-pribadi ini untuk tujuan yang spesifik. Saat Roh Kudus berkuasa atas seseorang, hal ini merupakan tanda bahwa Allah berkenan terhadap orang tersebut (seperti halnya Daud). Ketika Allah tidak lagi berkenan, maka Roh akan meninggalkan orang tersebut (seperti halnya Saul dalam 1 Samuel 16:14). Meskipun Roh Kudus \u201cberkuasa\u201d atas seseorang, itu tidak selalu menandakan keadaan rohani orang tersebut (misalnya Saul, Samson dan banyak dari para hakim). Jadi, Roh Kudus pada Perjanjian Baru tinggal diam di hati orang-percaya dan tinggal secara tetap\/permanen, sedangkan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama berkuasa pada diri seseorang untuk tujuan tertentu saja, dan tidak berhubungan dari kondisi rohani orang itu. Ketika tujuan itu telah tercapai, ada kemungkinan bahwa Roh Kudus akan meninggalkan orang tersebut.<\/p>\n<p>Bidang ketiga dari karya Roh Kudus dalam Perjanjian Lama adalah pengendalian terhadap dosa. Kejadian 6:3 menandakan bahwa Roh Kudus mengendalikan kecenderungan manusia untuk berdosa. Pengendalian ini dapat dicabut ketika kesabaran Allah terhadap dosa telah mencapai \u201cbatas kesabaran\u201d Pernyataan ini dikemukakan kembali di 2 Tes 2:3-8, ketika pada akhir zaman, penyesatan yang tumbuh subur menandakan datangnya hari penghakiman \u201cAllah\u201d. Sampai pada waktu yang telah ditetapkan, ketika \u201cmanusia durhaka\u201d (ayat 3) akan dinyatakan, Roh Kudus akan menahan kekuatan Setan dan melepaskannya hanya pada saat yang sesuai dengan tujuan Allah.<\/p>\n<p>Bidang keempat dari karya Roh Kudus dalam Perjanjian lama adalah memberikan karunia tertentu untuk memampukan seseorang melakukan pelayanan tertentu. Sama seperti halnya karunia rohani di Perjanjian Baru, Roh Kudus akan mengaruniakan hal tertentu kepada orang-orang tertentu di Perjanjian Lama untuk melayani. Misalnya Bezaleel dalam Keluaran 31:2-5, yang diberikan karunia untuk melakukan banyak pekerjaan di Kemah Suci. Selanjutnya, mengingat bahwa Roh Kudus hanya tinggal pada orang-orang tertentu untuk sementara, kita melihat bahwa orang-orang ini diberikan karunia untuk melakukan tugas tertentu, seperti memerintah bangsa Israel (Saul dan Daud).<\/p>\n<p>Kita juga dapat menyatakan peran Roh Kudus dalam proses penciptaan. Kejadian 1:2 mengatakan bahwa Roh Allah \u201cmelayang-layang di atas permukaan air\u201d dan mengawasi proses penciptaan. Dengan cara yang sama, Roh Kudus bertanggungjawab atas ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17) sebagaimana Dia membawa orang menuju Kerajaan Allah melalui proses pembaharuan. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Peran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sama seperti halnya dalam Perjanjian Baru. Saat kita berbicara mengenai peran Roh Kudus, kita dapat melihat empat bidang umum dimana Roh Kudus berkarya: 1) pembaharuan, 2) berdiam\/tinggal (atau mengisi) 3) pengendalian, dan 4) pemberdayaan untuk melayani. Keterangan mengenai empat bidang karya Roh Kudus ini juga dinyatakan di Perjanjian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33144,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[155],"class_list":["post-43042","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-roh-kudus"],"better_featured_image":{"id":33144,"alt_text":"","caption":"","description":"3781601f0022c5583f2195348e785a36","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/membangun-diri-anda-roh-jiwa-dan-tubuh_5df7419e8dc9a.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/membangun-diri-anda-roh-jiwa-dan-tubuh_5df7419e8dc9a.jpeg?fit=400%2C300&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"8469","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43042","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43042"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43042\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43042"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43042"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43042"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}