{"id":43240,"date":"2020-05-14T11:00:59","date_gmt":"2020-05-14T04:00:59","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=43240"},"modified":"2020-05-14T10:17:46","modified_gmt":"2020-05-14T03:17:46","slug":"bisakah-orang-kristen-kerasukan-setan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bisakah-orang-kristen-kerasukan-setan\/","title":{"rendered":"Bisakah orang Kristen kerasukan setan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id-Walaupun Alkitab tidak secara jelas menyatakan apakah orang Kristen dapat kerasukan setan, beberapa kebenaran Alkitab menjelaskan bahwa orang Kristen tidak dapat dirasuki setan. Ada perbedaan jelas antara kerasukan setan dengan ditindas atau dipengaruhi setan. Kerasukan setan itu ketika Iblis yang mengendali secara langsung\/ penuh atas pikiran\/ tindakan seseorang (Matius 17:14-18; Lukas 4:33-35, 8:27-33). Sementara penindasan setan atau pengaruh setan melibatkan serangan Iblis ataupun beberapa Iblis secara rohani dan\/atau mendorong seseorang ke dalam perilaku yang berdosa. Semua bagian di dalam Perjanjian Baru yang mengulas peperangan rohani tidak memberi instruksi khusus untuk mengusir setan dari orang-percaya (Efesus 6:10-18). Orang percaya dihimbau untuk menolak iblis (Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9), bukan mengusirnya. Orang Kristen pasti didiami oleh Roh Kudus (Roma 8:9-11; 1 Korintus 3:16, 6:19). Tentunya, Roh Kudus tidak akan mengijinkan Iblis mendiami orang yang sedang Ia diami. Tidak masuk akal bahwa Allah mengijinkan salah satu anakNya, yang Ia beli melalui darah Kristus (1 Petrus 1:18-19) dan telah Ia lahir baru-kan (2 Korintus 5:17), untuk dirasuki dan dikuasai Iblis. Ya, sebagai orang percaya, kita sedang berperang melawan Setan dan para Iblis, tetapi bukan dari dalam diri kita. Rasul Yohanes menyatakan, &quot;Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia&quot; (1 Yohanes 4:4). Siapakah Ia yang berada di dalam kita? Sang Roh Kudus. Siapakah yang berada di dalam dunia? Setan dan para Iblis. Jadi, orang-percaya harus melawan dunia Iblis, dan kasus orang-percaya yang pernah dirasuki setan tidak ditemukan di Alkitab. Dengan bukti yang kuat bahwa seorang Kristen tidak dapat kerasukan setan, ada beberapa pengajar Alkitab yang menggunakan kata &quot;kesetanan&quot; yang merujuk kepada Iblis yang sedang mengendalikan seorang Kristen. Ada yang berkata bahwa meskipun orang Kristen tidak bisa kerasukan, seorang Kristen bisa kesetanan. Deskripsi kesetanan mirip dengan deskripsi kerasukan setan. Jadi, sebetulnya sama saja. Mengubah bahasa atau julukan tidak merubah fakta bahwa Iblis tidak dapat berdiam atau memegang kendali penuh terhadap orang Kristen. Pengaruh dan penindasan Iblis itu realitas bagi orang Kristen, tetapi tidaklah alkitabiah untuk menyatakan orang Kristen dapat dirasuki iblis atau bisa kesetanan. Banyak pemikiran di balik teori kesetanan ini berdasarkan pengalaman pribadi ketika mengamati seseorang yang kita &quot;kenal&quot; sebagai Kristen tengah mendemonstrasikan bukti bahwa dirinya sedang dikendalikan Iblis. Hendaklah kita tidak mengijinkan pengalaman pribadi kita mempengaruhi interpretasi Alkitab. Melainkan, kita yang harus menyaring pengalaman pribadi kita melalui kebenaran Firman (2 Timotius 3:16-17). Mengamati seseorang yang kita pikir Kristen menunjukkan perilaku kesetanan harus membuat kita bertanya - apakah iman orang tersebut memang asli? Hal ini tidak seharusnya merubah pandangan kita bahwa orang Kristen dapat dirasuki setan. Apakah mungkin orang tersebut benar seorang Kristen tetapi sedang ditindas secara luar biasa atau sedang mengalami masalah psikologis saja? Sekali lagi, pengalaman kita yang harus diuji menurut kebenaran Alkitab, bukan sebaliknya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id-<\/strong>Walaupun Alkitab tidak secara jelas menyatakan apakah orang Kristen dapat kerasukan setan, beberapa kebenaran Alkitab menjelaskan bahwa orang Kristen tidak dapat dirasuki setan.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ada perbedaan jelas antara kerasukan setan dengan ditindas atau dipengaruhi setan. Kerasukan setan itu ketika Iblis yang mengendali secara langsung\/ penuh atas pikiran\/ tindakan seseorang (Matius 17:14-18; Lukas 4:33-35, 8:27-33). Sementara penindasan setan atau pengaruh setan melibatkan serangan Iblis ataupun beberapa Iblis secara rohani dan\/atau mendorong seseorang ke dalam perilaku yang berdosa.<\/p>\n<p>Semua bagian di dalam Perjanjian Baru yang mengulas peperangan rohani tidak memberi instruksi khusus untuk mengusir setan dari orang-percaya (Efesus 6:10-18).<\/p>\n<p>Orang percaya dihimbau untuk menolak iblis (Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9), bukan mengusirnya.<\/p>\n<p>Orang Kristen pasti didiami oleh Roh Kudus (Roma 8:9-11; 1 Korintus 3:16, 6:19). Tentunya, Roh Kudus tidak akan mengijinkan Iblis mendiami orang yang sedang Ia diami.<\/p>\n<p>Tidak masuk akal bahwa Allah mengijinkan salah satu anakNya, yang Ia beli melalui darah Kristus (1 Petrus 1:18-19) dan telah Ia lahir baru-kan (2 Korintus 5:17), untuk dirasuki dan dikuasai Iblis. Ya, sebagai orang percaya, kita sedang berperang melawan Setan dan para Iblis, tetapi bukan dari dalam diri kita.<\/p>\n<p>Rasul Yohanes menyatakan, &#8220;Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia&#8221; (1 Yohanes 4:4).<\/p>\n<p>Siapakah Ia yang berada di dalam kita? Sang Roh Kudus.<\/p>\n<p>Siapakah yang berada di dalam dunia? Setan dan para Iblis.<\/p>\n<p>Jadi, orang-percaya harus melawan dunia Iblis, dan kasus orang-percaya yang pernah dirasuki setan tidak ditemukan di Alkitab.<\/p>\n<p>Dengan bukti yang kuat bahwa seorang Kristen tidak dapat kerasukan setan, ada beberapa pengajar Alkitab yang menggunakan kata &#8220;kesetanan&#8221; yang merujuk kepada Iblis yang sedang mengendalikan seorang Kristen.<\/p>\n<p>Ada yang berkata bahwa meskipun orang Kristen tidak bisa kerasukan, seorang Kristen bisa kesetanan. Deskripsi kesetanan mirip dengan deskripsi kerasukan setan. Jadi, sebetulnya sama saja.<\/p>\n<p>Mengubah bahasa atau julukan tidak merubah fakta bahwa Iblis tidak dapat berdiam atau memegang kendali penuh terhadap orang Kristen. Pengaruh dan penindasan Iblis itu realitas bagi orang Kristen, tetapi tidaklah alkitabiah untuk menyatakan orang Kristen dapat dirasuki iblis atau bisa kesetanan.<\/p>\n<p>Banyak pemikiran di balik teori kesetanan ini berdasarkan pengalaman pribadi ketika mengamati seseorang yang kita &#8220;kenal&#8221; sebagai Kristen tengah mendemonstrasikan bukti bahwa dirinya sedang dikendalikan Iblis.<\/p>\n<p>Hendaklah kita tidak mengijinkan pengalaman pribadi kita mempengaruhi interpretasi Alkitab. Melainkan, kita yang harus menyaring pengalaman pribadi kita melalui kebenaran Firman (2 Timotius 3:16-17).<\/p>\n<p>Mengamati seseorang yang kita pikir Kristen menunjukkan perilaku kesetanan harus membuat kita bertanya &#8211; apakah iman orang tersebut memang asli?<\/p>\n<p>Hal ini tidak seharusnya merubah pandangan kita bahwa orang Kristen dapat dirasuki setan. Apakah mungkin orang tersebut benar seorang Kristen tetapi sedang ditindas secara luar biasa atau sedang mengalami masalah psikologis saja?<\/p>\n<p>Sekali lagi, pengalaman kita yang harus diuji menurut kebenaran Alkitab, bukan sebaliknya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id-Walaupun Alkitab tidak secara jelas menyatakan apakah orang Kristen dapat kerasukan setan, beberapa kebenaran Alkitab menjelaskan bahwa orang Kristen tidak dapat dirasuki setan. Ada perbedaan jelas antara kerasukan setan dengan ditindas atau dipengaruhi setan. Kerasukan setan itu ketika Iblis yang mengendali secara langsung\/ penuh atas pikiran\/ tindakan seseorang (Matius 17:14-18; Lukas 4:33-35, 8:27-33). Sementara penindasan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":37017,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,71,3],"tags":[123],"class_list":["post-43240","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-denominasi","category-umum","tag-malaikat-iblis"],"better_featured_image":{"id":37017,"alt_text":"","caption":"","description":"e2e4416220bda8e234f5e13ff7f87073","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/kejatuhan-malaikat-kejatuhan-manusia_5e3575c90cae6.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/akitab_big.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/akitab_big.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":71,"name":"Denominasi","description":"","slug":"denominasi","count":11,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/kejatuhan-malaikat-kejatuhan-manusia_5e3575c90cae6.jpeg?fit=400%2C464&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2338","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43240","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43240"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43240\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43240"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43240"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43240"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}