{"id":43492,"date":"2020-05-17T17:05:07","date_gmt":"2020-05-17T10:05:07","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=43492"},"modified":"2020-05-17T14:12:13","modified_gmt":"2020-05-17T07:12:13","slug":"mengapa-allah-memperbolehkan-orang-jahat-menikmati-hal-yang-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengapa-allah-memperbolehkan-orang-jahat-menikmati-hal-yang-baik\/","title":{"rendered":"Mengapa Allah memperbolehkan orang jahat menikmati hal yang baik?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id-Pertanyaan ini serupa dengan pertanyaan sebaliknya: &quot;Mengapa Allah memperbolehkan peristiwa yang buruk menimpa orang yang baik?&quot; Kedua pertanyaan ini didasari oleh ketidakadilan yang kita jumpai setiap hari. Pertanyaan kita ini juga dialami oleh pemazmur, sehingga Mazmur pasal 73 adalah jawaban yang tepat. Ketika jiwanya mengalami tekanan dan pergumulan, ia menulis, &quot;Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik&quot; (Mazmur 73:2-3). Penulis Mazmur ini bernama Asaf, seorang pemimpin biduan di dalam bait. Sudah jelas ia bukan orang yang kaya, sebaliknya ia telah mendedikasikan kehidupannya untuk melayani Allah (baca 1 Tawarikh 25). Seperti kita, ia juga telah mengalami berbagi kesulitan dan meragukan ketidakadilan itu. Ia mengamati orang jahat di sekitarnya yang hidup semena-mena, menikmati kekayaan dan kenikmatan dunia, dan mengumpulkan harta. Ia mengeluh, &quot;Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain&quot; (Mazmur 73:4-5). Asaf sedang memandang orang yang tidak mempunyai pergumulan. Mereka dapat melunasi semua tanggungan mereka. Makanan mereka berlimpah-limpah, demikian pula halnya harta benda. Akan tetapi Asaf yang malang terjebak dalam tanggung jawab memimpin paduan suara dan berusaha hidup benar. Dan yang lebih parah, pilihannya untuk melayani Allah seolah-olah tidak membawa keuntungan. Ia mulai cemburu terhadap orang-orang jahat di sekitarnya dan bahkan meragukan keadilan Allah. Betapa seringnya kita mengalami pergumulan yang serupa dengan Asaf. Kita mendedikasikan kehidupan kita untuk melayani Allah. Kita menyaksikan orang yang jahat di sekeliling kami mendapatkan barang-barang baru, rumah yang mewah, promosi, dan pakaian yang indah, sedangkan kita sendiri berjuang secara finansial. Jawaban terhadap situasi ini dapat dibaca di kelanjutan mazmur ini. Asaf iri terhadap nasib orang jahat sampai halnya ia menyadari suatu hal yang penting. Ketika ia masuk ke tempat suci Allah, ia memahami takdir akhirat mereka: &quot;Tetapi waktu aku berusaha untuk mengerti, hal itu terlalu sulit bagiku. Akhirnya aku masuk ke Rumah TUHAN, lalu mengertilah aku kesudahan orang jahat. Kautempatkan mereka di jalan yang licin, dan Kaubiarkan mereka jatuh binasa. Dalam sekejap mata mereka hancur, amat dahsyatlah kesudahan mereka. Seperti mimpi yang menghilang di waktu pagi; ketika Engkau bangkit, ya TUHAN, mereka pun lenyap&quot; (Mazmur 73:16-20; versi BIS). Mereka yang untuk sementara waktu kaya di dunia ini dalam realitanya miskin secara rohani karena mereka tidak memiliki harta yang benar - kehidupan kekal. Seringkali kita gagal memahami apa yang terjadi di sekitar kita, kita pun tidak memahami cara kerja penyediaan Tuhan. Ketika Asaf masuk ke dalam tempat suci Allah, ia mulai menyadari bahwa ia tidak perlu cemburu terhadap kemakmuran orang jahat karena kemakmuran mereka hanya ilusi. Ia mulai menyadari bahwa sang penipu dari purbakala, Setan, telah menyimpangkan pandangannya dari realita Allah. Ketika ia masuk ke tempat suci, Asaf menyadari bahwa kemakmuran hanyalah pemenuhan yang sementara dan tidak memuaskan, sama seperti mimpi yang menyenangkan, tetapi ketika kita bangun, kita menyadari bahwa mimpi itu bukan realita. Asaf menegur dirinya atas kebodohannya. Ia mengaku &quot;bodoh dan tidak mengerti&quot; karena telah cemburu terhadap orang jahat dan iri terhadap orang yang akan binasa. Pikirannya kembali berpusat pada sukacitanya dalam Allah ketika ia menyadari betapa dirinya lebih terpenuhi, lebih sukacita, dan lebih makmur secara rohani di dalam Sang Penciptanya. Mungkin kita tidak mendapatkan segala yang kita harapkan di bumi ini, tetapi suatu hari kita akan senantiasa makmur melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Ketika kita tergoda untuk mencoba jalan lain, kita harus mengingat bahwa semua jalan lain pada akhirnya buntu (Matius 7:13). Jalan yang sempit melalui Yesus saja yang berujung pada kehidupan kekal. Itulah yang seharusnya menjadi sukacita dan penghiburan kita. &quot;Siapa yang kumiliki di surga kecuali Engkau? Selain Engkau tak ada yang kuinginkan di bumi...Orang yang meninggalkan Engkau akan celaka, Kaubinasakan orang yang tidak setia kepada-Mu. Tetapi bagiku sungguh baiklah berada dekat Allah, TUHAN Allah kujadikan tempat perlindunganku&quot; (Mazmur 73:25,27-28). Kita tidak perlu memusingkan mengapa hal baik terjadi pada orang yang jahat. Kita hanya perlu berfokus pada Sang Pencipta dan masuk ke dalam hadirat-Nya tiap hari melalui portal Firman-Nya yang kudus. Disana kita akan menemukan kebenaran, kecukupan, kekayaan rohani, dan sukacita yang kekal.\u00a0(gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id-<\/strong>Pertanyaan ini serupa dengan pertanyaan sebaliknya: &#8220;Mengapa Allah memperbolehkan peristiwa yang buruk menimpa orang yang baik?&#8221; Kedua pertanyaan ini didasari oleh ketidakadilan yang kita jumpai setiap hari. Pertanyaan kita ini juga dialami oleh pemazmur, sehingga Mazmur pasal 73 adalah jawaban yang tepat. Ketika jiwanya mengalami tekanan dan pergumulan, ia menulis, &#8220;Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik&#8221; (Mazmur 73:2-3).<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Penulis Mazmur ini bernama Asaf, seorang pemimpin biduan di dalam bait. Sudah jelas ia bukan orang yang kaya, sebaliknya ia telah mendedikasikan kehidupannya untuk melayani Allah (baca 1 Tawarikh 25). Seperti kita, ia juga telah mengalami berbagi kesulitan dan meragukan ketidakadilan itu. Ia mengamati orang jahat di sekitarnya yang hidup semena-mena, menikmati kekayaan dan kenikmatan dunia, dan mengumpulkan harta. Ia mengeluh, &#8220;Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain&#8221; (Mazmur 73:4-5).<\/p>\n<p>Asaf sedang memandang orang yang tidak mempunyai pergumulan. Mereka dapat melunasi semua tanggungan mereka. Makanan mereka berlimpah-limpah, demikian pula halnya harta benda. Akan tetapi Asaf yang malang terjebak dalam tanggung jawab memimpin paduan suara dan berusaha hidup benar. Dan yang lebih parah, pilihannya untuk melayani Allah seolah-olah tidak membawa keuntungan. Ia mulai cemburu terhadap orang-orang jahat di sekitarnya dan bahkan meragukan keadilan Allah.<\/p>\n<p>Betapa seringnya kita mengalami pergumulan yang serupa dengan Asaf. Kita mendedikasikan kehidupan kita untuk melayani Allah. Kita menyaksikan orang yang jahat di sekeliling kami mendapatkan barang-barang baru, rumah yang mewah, promosi, dan pakaian yang indah, sedangkan kita sendiri berjuang secara finansial. Jawaban terhadap situasi ini dapat dibaca di kelanjutan mazmur ini. Asaf iri terhadap nasib orang jahat sampai halnya ia menyadari suatu hal yang penting. Ketika ia masuk ke tempat suci Allah, ia memahami takdir akhirat mereka: &#8220;Tetapi waktu aku berusaha untuk mengerti, hal itu terlalu sulit bagiku. Akhirnya aku masuk ke Rumah TUHAN, lalu mengertilah aku kesudahan orang jahat. Kautempatkan mereka di jalan yang licin, dan Kaubiarkan mereka jatuh binasa. Dalam sekejap mata mereka hancur, amat dahsyatlah kesudahan mereka. Seperti mimpi yang menghilang di waktu pagi; ketika Engkau bangkit, ya TUHAN, mereka pun lenyap&#8221; (Mazmur 73:16-20; versi BIS). Mereka yang untuk sementara waktu kaya di dunia ini dalam realitanya miskin secara rohani karena mereka tidak memiliki harta yang benar &#8211; kehidupan kekal.<\/p>\n<p>Seringkali kita gagal memahami apa yang terjadi di sekitar kita, kita pun tidak memahami cara kerja penyediaan Tuhan. Ketika Asaf masuk ke dalam tempat suci Allah, ia mulai menyadari bahwa ia tidak perlu cemburu terhadap kemakmuran orang jahat karena kemakmuran mereka hanya ilusi. Ia mulai menyadari bahwa sang penipu dari purbakala, Setan, telah menyimpangkan pandangannya dari realita Allah. Ketika ia masuk ke tempat suci, Asaf menyadari bahwa kemakmuran hanyalah pemenuhan yang sementara dan tidak memuaskan, sama seperti mimpi yang menyenangkan, tetapi ketika kita bangun, kita menyadari bahwa mimpi itu bukan realita. Asaf menegur dirinya atas kebodohannya. Ia mengaku &#8220;bodoh dan tidak mengerti&#8221; karena telah cemburu terhadap orang jahat dan iri terhadap orang yang akan binasa. Pikirannya kembali berpusat pada sukacitanya dalam Allah ketika ia menyadari betapa dirinya lebih terpenuhi, lebih sukacita, dan lebih makmur secara rohani di dalam Sang Penciptanya.<\/p>\n<p>Mungkin kita tidak mendapatkan segala yang kita harapkan di bumi ini, tetapi suatu hari kita akan senantiasa makmur melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Ketika kita tergoda untuk mencoba jalan lain, kita harus mengingat bahwa semua jalan lain pada akhirnya buntu (Matius 7:13). Jalan yang sempit melalui Yesus saja yang berujung pada kehidupan kekal. Itulah yang seharusnya menjadi sukacita dan penghiburan kita. &#8220;Siapa yang kumiliki di surga kecuali Engkau? Selain Engkau tak ada yang kuinginkan di bumi&#8230;Orang yang meninggalkan Engkau akan celaka, Kaubinasakan orang yang tidak setia kepada-Mu. Tetapi bagiku sungguh baiklah berada dekat Allah, TUHAN Allah kujadikan tempat perlindunganku&#8221; (Mazmur 73:25,27-28).<\/p>\n<p>Kita tidak perlu memusingkan mengapa hal baik terjadi pada orang yang jahat. Kita hanya perlu berfokus pada Sang Pencipta dan masuk ke dalam hadirat-Nya tiap hari melalui portal Firman-Nya yang kudus. Disana kita akan menemukan kebenaran, kecukupan, kekayaan rohani, dan sukacita yang kekal.\u00a0(gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id-Pertanyaan ini serupa dengan pertanyaan sebaliknya: &#8220;Mengapa Allah memperbolehkan peristiwa yang buruk menimpa orang yang baik?&#8221; Kedua pertanyaan ini didasari oleh ketidakadilan yang kita jumpai setiap hari. Pertanyaan kita ini juga dialami oleh pemazmur, sehingga Mazmur pasal 73 adalah jawaban yang tepat. Ketika jiwanya mengalami tekanan dan pergumulan, ia menulis, &#8220;Tetapi aku, sedikit lagi maka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":35780,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134],"tags":[163,160,161,159,162],"class_list":["post-43492","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","tag-adonai","tag-allah","tag-ilahi","tag-tuhan","tag-yhwh"],"better_featured_image":{"id":35780,"alt_text":"","caption":"","description":"c70d8d9998ca4571c888b5d7bf128491","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/mengenal-allah-mengenal-yesus-kristus_5e345466337c0.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/mengenal-allah-mengenal-yesus-kristus_5e345466337c0.jpeg?fit=600%2C450&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/mengenal-allah-mengenal-yesus-kristus_5e345466337c0.jpeg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/mengenal-allah-mengenal-yesus-kristus_5e345466337c0.jpeg?fit=600%2C450&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1544","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43492","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43492"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43492\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43492"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43492"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43492"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}