{"id":43730,"date":"2020-03-16T16:00:54","date_gmt":"2020-03-16T09:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=43730"},"modified":"2020-03-14T00:43:05","modified_gmt":"2020-03-13T17:43:05","slug":"digitalisasi-manuskrip-kristen-kuno-di-biara-mesir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/digitalisasi-manuskrip-kristen-kuno-di-biara-mesir\/","title":{"rendered":"Digitalisasi Manuskrip Kristen Kuno di Biara Mesir"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Naskah Kristen kuno yang ada di Biara St. Catherine di kaki gunung Sinai, Mesir mulai dilakukan digitalisasi. Sebuah tim dari Yunani melakukan pemotretat terhadap ribuan manuskrip yang rapuh dengan menggunakn proses kompleks, mencakup pengambilan gambar dalam cahaya merah, hijau, dan biru serta menggabungkannya menggunakan perankat lunak komputer khusus. Langkah ini bertujuan untuk membuat arsip digital pertama dari sekitar 4.500 naskah yang ada di perpustakaan. Adapun, tahapan yang sekarang sedang dikerjakan adalah mendigitalisasi sekitar 1.100 manuskrip dalam bahasa Syria dan Arab yang sangat langka. Proyek ini dimulai dua tahun lalu dan kini sedang dikerjakan oleh organisasi penelitian nirlaba Early Manuscripts Electronics Library (EMEL) bekerja sama dengan biara dan perpustakaan University of California. Rencananya, manuskrip online tersebut akan mulai diterbitkan pada musim gugur tahun ini. \u201cPergolakan zaman kita membutuhkan penyelesaian cepat dari proyek ini,\u201d kata Uskup Agung Damianos dari Sinai seperti dikutip dari Reuters. Biara St Catherine yang didirikan pada abad ke-6 tersebut termasuk dalam situs warisan dunia yang ditetapkan oleh Unesco. Biara tersebut juga termasuk dalam biara Kristen tertua yang masih digunakan untuk fungsi aslinya. Manuskrip paling terkenal di perpustakaan itu adalah naskah Codex Sinaiticus abad ke-4, sebuah manuskrip Alkitab berbahasa Yunani yang berisi Perjanjian Baru lengkap dan tertua. Peninggalan penting lainnya adalah naskah Codex Syiacus yang merupakan salinan kuno Injil di Syria. Selain itu, masih banyak manuskrip lain yang mencakup sains, kedokteran, dan sastra klasik Yunani. Digitalisasi tahap pertama yang melibatkan 1.100 manuskrip Syria-Arab diperkirakan memakan waktu sekitar 3 tahun dengan dana yang diproyeksikan mencapai US$2,75 juta. Refensi: berbagai sumber\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Naskah Kristen kuno yang ada di Biara St. Catherine di kaki gunung Sinai, Mesir mulai dilakukan digitalisasi.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah tim dari Yunani melakukan pemotretat terhadap ribuan manuskrip yang rapuh dengan menggunakn proses kompleks, mencakup pengambilan gambar dalam cahaya merah, hijau, dan biru serta menggabungkannya menggunakan perankat lunak komputer khusus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah ini bertujuan untuk membuat arsip digital pertama dari sekitar 4.500 naskah yang ada di perpustakaan. Adapun, tahapan yang sekarang sedang dikerjakan adalah mendigitalisasi sekitar 1.100 manuskrip dalam bahasa Syria dan Arab yang sangat langka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proyek ini dimulai dua tahun lalu dan kini sedang dikerjakan oleh organisasi penelitian nirlaba Early Manuscripts Electronics Library (EMEL) bekerja sama dengan biara dan perpustakaan University of California. Rencananya, manuskrip online tersebut akan mulai diterbitkan pada musim gugur tahun ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPergolakan zaman kita membutuhkan penyelesaian cepat dari proyek ini,\u201d kata Uskup Agung Damianos dari Sinai seperti dikutip dari Reuters.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Biara St Catherine yang didirikan pada abad ke-6 tersebut termasuk dalam situs warisan dunia yang ditetapkan oleh Unesco. Biara tersebut juga termasuk dalam biara Kristen tertua yang masih digunakan untuk fungsi aslinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manuskrip paling terkenal di perpustakaan itu adalah naskah Codex Sinaiticus abad ke-4, sebuah manuskrip Alkitab berbahasa Yunani yang berisi Perjanjian Baru lengkap dan tertua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peninggalan penting lainnya adalah naskah Codex Syiacus yang merupakan salinan kuno Injil di Syria. Selain itu, masih banyak manuskrip lain yang mencakup sains, kedokteran, dan sastra klasik Yunani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Digitalisasi tahap pertama yang melibatkan 1.100 manuskrip Syria-Arab diperkirakan memakan waktu sekitar 3 tahun dengan dana yang diproyeksikan mencapai US$2,75 juta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Refensi: berbagai sumber<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Naskah Kristen kuno yang ada di Biara St. Catherine di kaki gunung Sinai, Mesir mulai dilakukan digitalisasi. Sebuah tim dari Yunani melakukan pemotretat terhadap ribuan manuskrip yang rapuh dengan menggunakn proses kompleks, mencakup pengambilan gambar dalam cahaya merah, hijau, dan biru serta menggabungkannya menggunakan perankat lunak komputer khusus. Langkah ini bertujuan untuk membuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":43731,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22,20],"tags":[],"class_list":["post-43730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-sejarah"],"better_featured_image":{"id":43731,"alt_text":"","caption":"","description":"4fda7b9e04b61c0371f5547058b5713b","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/digitalisasi-manuskrip-kristen-kuno-di-biara-mesir_5e575179c803e.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/digitalisasi-manuskrip-kristen-kuno-di-biara-mesir_5e575179c803e.jpeg?fit=477%2C318&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/digitalisasi-manuskrip-kristen-kuno-di-biara-mesir_5e575179c803e.jpeg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/digitalisasi-manuskrip-kristen-kuno-di-biara-mesir_5e575179c803e.jpeg?fit=477%2C318&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1261","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43730"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43730\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43731"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}