{"id":43775,"date":"2020-04-13T11:31:59","date_gmt":"2020-04-13T04:31:59","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=43775"},"modified":"2020-04-14T04:37:34","modified_gmt":"2020-04-13T21:37:34","slug":"apa-kata-alkitab-mengenai-persepuluhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-mengenai-persepuluhan\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab mengenai persepuluhan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Persepuluhan adalah isu yang digumuli kebanyakan orang Kristen. Di banyak gereja, persepuluhan terlalu ditekankan. Pada saat yang sama, banyak orang Kristen menolak untuk menaati pengajaran Alkitab sehubungan dengan memberi persembahan kepada Tuhan. Persepuluhan\/persembahan seharusnya menjadi hal yang menyenangkan. Sayang sekali, hal itu jarang terjadi pada gereja zaman sekarang. Persepuluhan adalah konsep Perjanjian Lama. Persepuluhan adalah peraturan Hukum Taurat, di mana setiap orang Israel memberi 10% dari segala yang mereka peroleh untuk Tabernakel\/Bait Suci (Imamat 27:30; Bilangan 18:26; Ulangan 14:24; 2 Tawarikh 31:5). Sebagian orang menganggap persepuluhan dalam Perjanjian Lama sebagai pajak untuk mencukupi kebutuhan dari para imam dan orang-orang Lewi dalam sistim korban. Dalam Perjanjian Baru tidak ada perintah atau rekomendasi kepada orang Kristen supaya tunduk kepada sistem persepuluhan sebagai hukum tertulis. Paulus hanya mengajarkan bahwa orang-orang percaya sepatutnya menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk mendukung gereja (1 Korintus 16:1-2). Perjanjian Baru tidak menentukan persentase penghasilan yang harus disisihkan tapi hanya mengatakan, \u201csesuai dengan apa yang kamu peroleh\u201d (1 Korintus 16:2). Gereja Kristen sekarang mengambil angka 10% dari Perjanjian Lama dan menerapkannya sebagai \u201crekomendasi minimum\u201d bagi orang Kristen ketika memberi persembahan. Meski demikian, orang Kristen tidak perlu merasa diwajibkan memberi persepuluhan. Orang Kristen sepatutnya memberi sesuai dengan apa yang mereka mampu, \u201csesuai dengan apa yang kamu peroleh.\u201d Kadang-kadang, ini berarti memberi lebih dari persepuluhan, kadang-kadang, ia kurang dari persepuluhan. Setiap orang Kristen perlu berdoa dengan sungguh-sungguh dan meminta hikmat dari Allah mengenai persembahannya, persepuluhan, dan berapa banyak yang harus dia berikan (Yakobus 1:5). Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Persepuluhan adalah isu yang digumuli kebanyakan orang Kristen. Di banyak gereja, persepuluhan terlalu ditekankan. Pada saat yang sama, banyak orang Kristen menolak untuk menaati pengajaran Alkitab sehubungan dengan memberi persembahan kepada Tuhan.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persepuluhan\/persembahan seharusnya menjadi hal yang menyenangkan. Sayang sekali, hal itu jarang terjadi pada gereja zaman sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persepuluhan adalah konsep Perjanjian Lama. Persepuluhan adalah peraturan Hukum Taurat, di mana setiap orang Israel memberi 10% dari segala yang mereka peroleh untuk Tabernakel\/Bait Suci (Imamat 27:30; Bilangan 18:26; Ulangan 14:24; 2 Tawarikh 31:5). Sebagian orang menganggap persepuluhan dalam Perjanjian Lama sebagai pajak untuk mencukupi kebutuhan dari para imam dan orang-orang Lewi dalam sistim korban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam Perjanjian Baru tidak ada perintah atau rekomendasi kepada orang Kristen supaya tunduk kepada sistem persepuluhan sebagai hukum tertulis. Paulus hanya mengajarkan bahwa orang-orang percaya sepatutnya menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk mendukung gereja (1 Korintus 16:1-2).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjanjian Baru tidak menentukan persentase penghasilan yang harus disisihkan tapi hanya mengatakan, \u201csesuai dengan apa yang kamu peroleh\u201d (1 Korintus 16:2). Gereja Kristen sekarang mengambil angka 10% dari Perjanjian Lama dan menerapkannya sebagai \u201crekomendasi minimum\u201d bagi orang Kristen ketika memberi persembahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, orang Kristen tidak perlu merasa diwajibkan memberi persepuluhan. Orang Kristen sepatutnya memberi sesuai dengan apa yang mereka mampu, \u201csesuai dengan apa yang kamu peroleh.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kadang-kadang, ini berarti memberi lebih dari persepuluhan, kadang-kadang, ia kurang dari persepuluhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap orang Kristen perlu berdoa dengan sungguh-sungguh dan meminta hikmat dari Allah mengenai persembahannya, persepuluhan, dan berapa banyak yang harus dia berikan (Yakobus 1:5).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Persepuluhan adalah isu yang digumuli kebanyakan orang Kristen. Di banyak gereja, persepuluhan terlalu ditekankan. Pada saat yang sama, banyak orang Kristen menolak untuk menaati pengajaran Alkitab sehubungan dengan memberi persembahan kepada Tuhan. Persepuluhan\/persembahan seharusnya menjadi hal yang menyenangkan. Sayang sekali, hal itu jarang terjadi pada gereja zaman sekarang. Persepuluhan adalah konsep Perjanjian Lama. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45661,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134],"tags":[],"class_list":["post-43775","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika"],"better_featured_image":{"id":45661,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg?fit=560%2C372&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/uang.jpg?fit=560%2C372&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2645","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43775"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43775\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}