{"id":44322,"date":"2020-05-16T15:58:18","date_gmt":"2020-05-16T08:58:18","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44322"},"modified":"2020-05-16T11:01:48","modified_gmt":"2020-05-16T04:01:48","slug":"kemauan-lebih-kuat-daripada-kekuatan-fisik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kemauan-lebih-kuat-daripada-kekuatan-fisik\/","title":{"rendered":"KEMAUAN LEBIH KUAT DARIPADA KEKUATAN FISIK"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u201cUt desint vires, tamen est laudanda voluntas. Meskipun sudah tanpa kekuatan namun kemauannya masih patut dipuji\u201d. Kemauan, keinginan adalah sesuatu yang khas manusia. Manusia hingga usia berapapun tetap memiliki \u2018kemauan\u2019. \u2018Kemauan\u2019 biasanya lebih sempit dan teknis dibanding dengan \u201ccita-cita\u201d dan atau \u201cprogram\u201d. Pasien di Rumah Sakit di kelas tertentu misalnya acap ditanya \u201cpak esok pagi mau makan bubur atau roti?\u201d \u201cBapak ini kemauannya makan sayur yang bersantan, tapi itu kan tidak baik bagi kesehatan\u201d. Dialog seperti ini acap kita dengar di Rumah Sakit. Memang para pasien di Rumah Sakit, tanpa berfikir tentang penyakit yang dideritanya, memiliki banyak sekali \u201ckemauan\u201d. Kemauan dalam konteks \u2018makanan\u2019 juga kemauan dalam konteks yang non-makanan. Pada waktu kita masih menempuh pendidikan di Sekolah Rakjat (kini Sekolah Dasar) salah satu peribahasa yang terkenal, dari ratusan peribahasa yang ada, berbunyi \u201cDimana ada kemauan, disitu ada jalan\u201d. Disini, kemauan menjadi penggerak utama. Selama masih ada\u2019kemauan\u2019, ada hasrat, ada \u2018niat baik\u2019 maka akan selalu terbuka jalan, akan terkuak sebuah perspektif baru yang sebelumnya berada diluar kerangka berfikir kita. Kemauan atau kehendak merupakan dasar untuk mempelajari beberapa hal yang berhubungan dengan pengetahuan lainnya. Kemauan adalah faktor pendorong seseorang untuk mengerjakan sesuatu hal dalam kehidupan nyata. Dalam banyak pengalaman ternyata kemauan adalah tenaga penggerak yang berasal dari dalam diri; kemauan itu juga adalah potensi dari dalam diri manusia yang diarahkan oleh pikiran dan perasaan. Ada saat-saat tertentu oleh karena banyak faktor penyebab, seseorang apatis dan tidak punya kemauan sama sekali. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang berdasarkan hasil pemeriksaan lengkap, dokter menetapkan diagnosis yang menyatakan bahwa penyakit orang itu tak bisa disembuhkan, dan tinggal menunggu waktu saja, kecuali ada mujizat. Mereka yang tak siap dengan pernyataan dokter seperti itu biasanya kehilangan pengharapan, dan sekaligus kehilangan kemauan dan antusiasme. Ia kemudian murung dan menutup diri bahkan menghindarkan diri dari komunikasi dengan orang lain. Namun ada juga orang sudah di vonis dokter bahwa penyakitnya itu telah sangat parah, tetap optimis, tetap memiliki kemauan untuk melakukan kegiatan. Ia malah membentuk komunitas sendiri yang didalamnya ia berbagi bagaimana menghindarkan serta mengatasi penyakit yang mengancam kehidupan. Ia tidak kehilngan kemauan dan semangat dan menikmati penyakit yang ia derita itu dengan tabah sambil makin mendekatkan diri kepada Tuhan. Hasrat, kemauan, keinginan memang seharusnya tetap terpelihara dalam hidup dan kedirian kita sehingga kita mampu menjalani kehidupan ini dengan lebih berani. Orang yang kehilangan jabatan atau dimutasi dari \u201cjabatan basah\u201d ke \u201cjabatan kering\u201d biasanya juga mengalami frustrasi yang luar biasa. Ia marah, benci, kecewa dan kehilangan semangat dan kemauan. Pernah Nathaniel Hawthorne kehilangan jabatannya di pemerintahan. Ia pulang ke rumah dengan berjuta perasaan : kecewa, marah, putus asa dsb. Istrinya memahami kesedihan dan kekecewaan yang dihadapi suaminya. Ia tidak bereaksi apa-apa yang bisa menimbulkan kegaduhan. Ia menyiapkan pulfen diatas meja, menyalakan api di panggangan lalu melingkarkan lengannya di pundak suaminya dan berkata : \u201cSekarang kau punya kesempatan untuk menulis bukumu\u201d. Nathaniel tersentuh dengan ucapan istrinya. Kemudian ia berhasil menulis bukunya \u201cThe Scarle Letter\u201d. Dorongan untuk memulai kemauan bisa datang dari siapa saja, termasuk dari sang istri yang tahu dan apresiasi terhadap bakat dan cita-citanya. Agama-agama mengingatkan agar kita tetap memiliki kemauan positif dalam menjalankan kehdupan ini. Kondisi fisik yang uzur yang terbatas tidak menghalangi kemauan kita untuk melakukan sesuatu yang baik. Mari terus memgembangkan sikap berkemauan baik agar kehadiran kita penuh makna bagi orang lain. Kita takbisa berdiam diri dan duduk manis ketika tiap saat diinformasikan di media bahwa virus Corona telah memakan korban yang banyak, bahwa lebih 1000 orang terkena DBD di NTT bahkan ada belasan meninggal, bahwa ada pembunuhan balita oleh remaja, bahwa ada rumah ibadah di segel karena beda teologi, bahwa ada\u00a0 pelecehan seksual , ada perdagangan orang, dan sebagainya..Kita harus punya kemauan untuk membangun\u00a0 akses dengan banyak pihak dalam upaya kita mengatasi masalah tersebut. Hingga badan kita rapuhluluh, uzur terbujur kita tetap punya kemauan, ya kemauan baik. (Weinata Sairin\/pgi)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id<\/strong> -\u201cUt desint vires, tamen est laudanda voluntas. Meskipun sudah tanpa kekuatan namun kemauannya masih patut dipuji\u201d.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kemauan, keinginan adalah sesuatu yang khas manusia. Manusia hingga usia berapapun tetap memiliki \u2018kemauan\u2019. \u2018Kemauan\u2019 biasanya lebih sempit dan teknis dibanding dengan \u201ccita-cita\u201d dan atau \u201cprogram\u201d. Pasien di Rumah Sakit di kelas tertentu misalnya acap ditanya \u201cpak esok pagi mau makan bubur atau roti?\u201d \u201cBapak ini kemauannya makan sayur yang bersantan, tapi itu kan tidak baik bagi kesehatan\u201d. Dialog seperti ini acap kita dengar di Rumah Sakit. Memang para pasien di Rumah Sakit, tanpa berfikir tentang penyakit yang dideritanya, memiliki banyak sekali \u201ckemauan\u201d. Kemauan dalam konteks \u2018makanan\u2019 juga kemauan dalam konteks yang non-makanan.<\/p>\n<p>Pada waktu kita masih menempuh pendidikan di Sekolah Rakjat (kini Sekolah Dasar) salah satu peribahasa yang terkenal, dari ratusan peribahasa yang ada, berbunyi \u201cDimana ada kemauan, disitu ada jalan\u201d. Disini, kemauan menjadi penggerak utama. Selama masih ada\u2019kemauan\u2019, ada hasrat, ada \u2018niat baik\u2019 maka akan selalu terbuka jalan, akan terkuak sebuah perspektif baru yang sebelumnya berada diluar kerangka berfikir kita.<\/p>\n<p>Kemauan atau kehendak merupakan dasar untuk mempelajari beberapa hal yang berhubungan dengan pengetahuan lainnya. Kemauan adalah faktor pendorong seseorang untuk mengerjakan sesuatu hal dalam kehidupan nyata. Dalam banyak pengalaman ternyata kemauan adalah tenaga penggerak yang berasal dari dalam diri; kemauan itu juga adalah potensi dari dalam diri manusia yang diarahkan oleh pikiran dan perasaan.<\/p>\n<p>Ada saat-saat tertentu oleh karena banyak faktor penyebab, seseorang apatis dan tidak punya kemauan sama sekali. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang berdasarkan hasil pemeriksaan lengkap, dokter menetapkan diagnosis yang menyatakan bahwa penyakit orang itu tak bisa disembuhkan, dan tinggal menunggu waktu saja, kecuali ada mujizat. Mereka yang tak siap dengan pernyataan dokter seperti itu biasanya kehilangan pengharapan, dan sekaligus kehilangan kemauan dan antusiasme. Ia kemudian murung dan menutup diri bahkan menghindarkan diri dari komunikasi dengan orang lain.<\/p>\n<p>Namun ada juga orang sudah di vonis dokter bahwa penyakitnya itu telah sangat parah, tetap optimis, tetap memiliki kemauan untuk melakukan kegiatan. Ia malah membentuk komunitas sendiri yang didalamnya ia berbagi bagaimana menghindarkan serta mengatasi penyakit yang mengancam kehidupan. Ia tidak kehilngan kemauan dan semangat dan menikmati penyakit yang ia derita itu dengan tabah sambil makin mendekatkan diri kepada Tuhan. Hasrat, kemauan, keinginan memang seharusnya tetap terpelihara dalam hidup dan kedirian kita sehingga kita mampu menjalani kehidupan ini dengan lebih berani.<\/p>\n<p>Orang yang kehilangan jabatan atau dimutasi dari \u201cjabatan basah\u201d ke \u201cjabatan kering\u201d biasanya juga mengalami frustrasi yang luar biasa. Ia marah, benci, kecewa dan kehilangan semangat dan kemauan.<\/p>\n<p>Pernah Nathaniel Hawthorne kehilangan jabatannya di pemerintahan. Ia pulang ke rumah dengan berjuta perasaan : kecewa, marah, putus asa dsb. Istrinya memahami kesedihan dan kekecewaan yang dihadapi suaminya. Ia tidak bereaksi apa-apa yang bisa menimbulkan kegaduhan. Ia menyiapkan pulfen diatas meja, menyalakan api di panggangan lalu melingkarkan lengannya di pundak suaminya dan berkata : \u201cSekarang kau punya kesempatan untuk menulis bukumu\u201d. Nathaniel tersentuh dengan ucapan istrinya. Kemudian ia berhasil menulis bukunya \u201cThe Scarle Letter\u201d. Dorongan untuk memulai kemauan bisa datang dari siapa saja, termasuk dari sang istri yang tahu dan apresiasi terhadap bakat dan cita-citanya.<\/p>\n<p>Agama-agama mengingatkan agar kita tetap memiliki kemauan positif dalam menjalankan kehdupan ini. Kondisi fisik yang uzur yang terbatas tidak menghalangi kemauan kita untuk melakukan sesuatu yang baik. Mari terus memgembangkan sikap berkemauan baik agar kehadiran kita penuh makna bagi orang lain. Kita takbisa berdiam diri dan duduk manis ketika tiap saat diinformasikan di media bahwa virus Corona telah memakan korban yang banyak, bahwa lebih 1000 orang terkena DBD di NTT bahkan ada belasan meninggal, bahwa ada pembunuhan balita oleh remaja, bahwa ada rumah ibadah di segel karena beda teologi, bahwa ada\u00a0 pelecehan seksual , ada perdagangan orang, dan sebagainya..Kita harus punya kemauan untuk membangun\u00a0 akses dengan banyak pihak dalam upaya kita mengatasi masalah tersebut.<\/p>\n<p>Hingga badan kita rapuhluluh, uzur terbujur kita tetap punya kemauan, ya kemauan baik. (Weinata Sairin\/pgi)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -\u201cUt desint vires, tamen est laudanda voluntas. Meskipun sudah tanpa kekuatan namun kemauannya masih patut dipuji\u201d. Kemauan, keinginan adalah sesuatu yang khas manusia. Manusia hingga usia berapapun tetap memiliki \u2018kemauan\u2019. \u2018Kemauan\u2019 biasanya lebih sempit dan teknis dibanding dengan \u201ccita-cita\u201d dan atau \u201cprogram\u201d. Pasien di Rumah Sakit di kelas tertentu misalnya acap ditanya \u201cpak esok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44323,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-44322","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":44323,"alt_text":"","caption":"","description":"3b774e560551cfa6489f9aaf9fd7b53e","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kemauan-lebih-kuat-daripada-kekuatan-fisik_5e685affd47e2.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kemauan-lebih-kuat-daripada-kekuatan-fisik_5e685affd47e2.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kemauan-lebih-kuat-daripada-kekuatan-fisik_5e685affd47e2.jpeg"},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/kemauan-lebih-kuat-daripada-kekuatan-fisik_5e685affd47e2.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1506","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44322","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44322"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44322\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44323"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44322"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44322"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44322"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}