{"id":44754,"date":"2021-03-23T17:07:20","date_gmt":"2021-03-23T10:07:20","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44754"},"modified":"2021-03-23T17:07:32","modified_gmt":"2021-03-23T10:07:32","slug":"apa-kata-alkitab-mengenai-aborsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-mengenai-aborsi\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab mengenai aborsi?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 Alkitab tidak pernah secara khusus berbicara mengenai aborsi. Namun, ada banyak ajaran Alkitab yang memyatakan dengan jelas pandangan Allah mengenai aborsi. Yeremia 1:5 menyatakan bahwa Allah telah mengenal kita sebelum Dia membentuk kita dalam kandungan. Mazmur 139:13-16 berbicara mengenai peran aktif Allah dalam menciptakan dan membentuk kita dalam rahim. Keluaran 21:22-25 menyatakan hukuman yang sama bagi orang yang mengakibatkan kematian seorang bayi yang masih dalam kandungan dengan orang yang membunuh. Hal ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Allah memandang bayi dalam kandungan sudah sebagai manusia, sama bobotnya dengan orang dewasa. Bagi orang Kristen, aborsi bukan hanya sekedar soal hak perempuan untuk memilih. Aborsi juga berkenaan dengan hidup matinya manusia yang diciptakan dalam rupa Allah (Kejadian 1:26-27; 9:6). Argumen utama yang selalu diangkat untuk menentang posisi orang Kristen terkait aborsi adalah, \u201cBagaimana dengan kasus pemerkosaan dan\/atau hubungan seks antar saudara?\u201d Betapapun mengerikannya hamil sebagai akibat pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara, apakah membunuh sang bayi adalah solusinya? Dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran. Anak yang lahir karena pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara dapat saja diberikan keluarga yang tidak mampu memperoleh anak untuk diadopsi \u2013 atau anak tsb dapat dibesarkan sendiri oleh ibunya. Sekali lagi, sang bayi tidak seharusnya dihukum karena perbuatan jahat ayahnya. Argumen lain yang biasanya diangkat untuk menentang posisi orang Kristen terkait aborsi adalah, \u201cBagaimana jika hidup sang ibu terancam?\u201d Secara jujur ini adalah pertanyaan paling sulit untuk dijawab dalam soal aborsi. Pertama-tama, perlu diingat bahwa situasi semacam ini hanya kurang dari 1\/10 dari 1 persen, dari seluruh aborsi yang dilakukan di dunia saat ini. Jauh lebih banyak perempuan yang melakukan aborsi karena merka tidak mau \u201cmerusak tubuh mereka\u201d daripada perempuan yang melakukan aborsi untuk menyelamatkan jiwa mereka. Kedua, mari kita mengingat bahwa Allah adalah Allah yang bisa melakukan mukjizat. Dia sanggup menjaga hidup ibu dan bayinya, sekalipun secara medis hal itu tidak mungkin. Akhirnya, keputusan ini hanya dapat diambil antara suami, isteri dan Allah. Setiap pasangan yang menghadapi situasi yang sangat sulit ini harus berdoa minta hikmat dari Tuhan (Yakobus 1:5), meminta petunjuk mengenai apa yang Tuhan mau mereka kerjakan. Dalam 99% aborsi yang dilakukan sekarang ini, alasannya terkait \u201cpengaturan kelahiran secara retroaktif.\u201d Perempuan dan\/atau pasangannya tidak menginginkan bayi yang dikandung. Maka, mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup bayi itu, daripada harus membesarkannya. Ini adalah kejahatan yang terbesar. Bahkan dalam kasus 1% yang dipenuhi dilema itu, aborsi pun masih belum sepantasnya dijadikan opsi pertama. Manusia dalam kandungan Itu layak untuk mendapatkan segala usaha untuk memastikan kelahirannya. Bagi mereka yang telah melakukan aborsi, dosa aborsi tidaklah lebih sulit diampuni dibanding dengan dosa-dosa lainnya. Melalui iman kepada Kristus, dosa apapun dapat diampuni (Yohanes 3:16; Roma 8:1; Kolose 1:14). Perempuan yang telah melakukan aborsi, atau para pria yang telah mendorong aborsi, atau bahkan dokter yang melakukan aborsi, semuanya tetap dapat diampuni melalui iman kepada Yesus Kristus.\u00a0 (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Alkitab tidak pernah secara khusus berbicara mengenai aborsi. Namun, ada banyak ajaran Alkitab yang memyatakan dengan jelas pandangan Allah mengenai aborsi.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Yeremia 1:5 menyatakan bahwa Allah telah mengenal kita sebelum Dia membentuk kita dalam kandungan. Mazmur 139:13-16 berbicara mengenai peran aktif Allah dalam menciptakan dan membentuk kita dalam rahim. Keluaran 21:22-25 menyatakan hukuman yang sama bagi orang yang mengakibatkan kematian seorang bayi yang masih dalam kandungan dengan orang yang membunuh.<\/p>\n<p>Hal ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Allah memandang bayi dalam kandungan sudah sebagai manusia, sama bobotnya dengan orang dewasa.<\/p>\n<p>Bagi orang Kristen, aborsi bukan hanya sekedar soal hak perempuan untuk memilih. Aborsi juga berkenaan dengan hidup matinya manusia yang diciptakan dalam rupa Allah (Kejadian 1:26-27; 9:6).<\/p>\n<p>Argumen utama yang selalu diangkat untuk menentang posisi orang Kristen terkait aborsi adalah, \u201cBagaimana dengan kasus pemerkosaan dan\/atau hubungan seks antar saudara?\u201d<\/p>\n<p>Betapapun mengerikannya hamil sebagai akibat pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara, apakah membunuh sang bayi adalah solusinya? Dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran.<\/p>\n<p>Anak yang lahir karena pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara dapat saja diberikan keluarga yang tidak mampu memperoleh anak untuk diadopsi \u2013 atau anak tsb dapat dibesarkan sendiri oleh ibunya. Sekali lagi, sang bayi tidak seharusnya dihukum karena perbuatan jahat ayahnya.<\/p>\n<p>Argumen lain yang biasanya diangkat untuk menentang posisi orang Kristen terkait aborsi adalah, \u201cBagaimana jika hidup sang ibu terancam?\u201d Secara jujur ini adalah pertanyaan paling sulit untuk dijawab dalam soal aborsi.<\/p>\n<p>Pertama-tama, perlu diingat bahwa situasi semacam ini hanya kurang dari 1\/10 dari 1 persen, dari seluruh aborsi yang dilakukan di dunia saat ini. Jauh lebih banyak perempuan yang melakukan aborsi karena merka tidak mau \u201cmerusak tubuh mereka\u201d daripada perempuan yang melakukan aborsi untuk menyelamatkan jiwa mereka.<\/p>\n<p>Kedua, mari kita mengingat bahwa Allah adalah Allah yang bisa melakukan mukjizat. Dia sanggup menjaga hidup ibu dan bayinya, sekalipun secara medis hal itu tidak mungkin.<\/p>\n<p>Akhirnya, keputusan ini hanya dapat diambil antara suami, isteri dan Allah. Setiap pasangan yang menghadapi situasi yang sangat sulit ini harus berdoa minta hikmat dari Tuhan (Yakobus 1:5), meminta petunjuk mengenai apa yang Tuhan mau mereka kerjakan.<\/p>\n<p>Dalam 99% aborsi yang dilakukan sekarang ini, alasannya terkait \u201cpengaturan kelahiran secara retroaktif.\u201d Perempuan dan\/atau pasangannya tidak menginginkan bayi yang dikandung. Maka, mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup bayi itu, daripada harus membesarkannya. Ini adalah kejahatan yang terbesar. Bahkan dalam kasus 1% yang dipenuhi dilema itu, aborsi pun masih belum sepantasnya dijadikan opsi pertama.<\/p>\n<p>Manusia dalam kandungan Itu layak untuk mendapatkan segala usaha untuk memastikan kelahirannya.<\/p>\n<p>Bagi mereka yang telah melakukan aborsi, dosa aborsi tidaklah lebih sulit diampuni dibanding dengan dosa-dosa lainnya. Melalui iman kepada Kristus, dosa apapun dapat diampuni (Yohanes 3:16; Roma 8:1; Kolose 1:14).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perempuan yang telah melakukan aborsi, atau para pria yang telah mendorong aborsi, atau bahkan dokter yang melakukan aborsi, semuanya tetap dapat diampuni melalui iman kepada Yesus Kristus.\u00a0 (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Alkitab tidak pernah secara khusus berbicara mengenai aborsi. Namun, ada banyak ajaran Alkitab yang memyatakan dengan jelas pandangan Allah mengenai aborsi. Yeremia 1:5 menyatakan bahwa Allah telah mengenal kita sebelum Dia membentuk kita dalam kandungan. Mazmur 139:13-16 berbicara mengenai peran aktif Allah dalam menciptakan dan membentuk kita dalam rahim. Keluaran 21:22-25 menyatakan hukuman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[387,390,388],"class_list":["post-44754","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum","tag-aborsi","tag-free-sex","tag-pemerkosaan"],"better_featured_image":{"id":44527,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2572","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44754","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44754"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44754\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}