{"id":44792,"date":"2020-06-12T10:15:40","date_gmt":"2020-06-12T03:15:40","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44792"},"modified":"2020-06-11T00:18:12","modified_gmt":"2020-06-10T17:18:12","slug":"apa-yang-alkitab-nyatakan-mengenai-mimpi-buruk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-alkitab-nyatakan-mengenai-mimpi-buruk\/","title":{"rendered":"Apa yang Alkitab nyatakan mengenai mimpi buruk?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Mimpi buruk didefinisikan sebagai mimpi yang menghasilkan respon emosi negatif yang kuat, seperti rasa takut atau ngeri. Mereka yang mengalami mimpi buruk biasanya terbangun dalam keadaan sangat tertekan, bahkan sampai pada kondisi dimana tubuh mereka bereaksi dengan hebat \u2013 jantung yang berdebar kencang, berkeringat, maupun mual. Seringkali, mereka tidak dapat kembali tertidur untuk beberapa waktu. Penyebab mimpi buruk bervariasi. Anak-anak, karena imajinasi mereka yang aktif, rentan terhadap mimpi buruk. Beberapa mengalami mimpi buruk yang begitu parah sehingga mereka terbangun sambil menjerit dan menangis. Kejadian ekstrim seperti ini dikenal sebagai &quot;teror malam.&quot; Makan makanan tertentu terlalu dekat dengan waktu tidur dapat memicu mimpi buruk, seperti halnya menonton film horor. Pergi tidur dalam keadaan tertekan karena situasi kehidupan, sehabis bertengkar, ataupun sehabis berdebat juga dapat menyebabkan mimpi buruk dikarenakan adanya aktivitas lanjutan otak selama tidur. Tidak ada keraguan bahwa mimpi buruk dapat sangat mengganggu. Tapi, adakah makna rohani dari mimpi buruk? Mimpi dan penglihatan memang disebutkan dalam Alkitab. Allah kadang-kadang menggunakan mimpi untuk berkomunikasi dengan para nabi-Nya dan orang-orang yang lainnya. Allah berbicara kepada Abimelekh dalam kitab Kejadian pasal 20, memperingatkan dia supaya tidak menyetubuhi istrinya Abraham, Sara. Contoh lainnya misalnya mimpinya Yakub mengenai tangga (Kej pasal 28), mimpinya Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan melayani Dia yang menyebabkan penahanannya di Mesir (Kej pasal 37), serta penafsiran mimpinya Firaun (Kej 40-41) yang membuat Yusuf menjadi orang terkuat kedua di Mesir. Allah atau malaikat-Nya menyatakan diri melalui mimpi kepada tokoh-tokoh Alkitab, termasuk Salomo (1 Raj pasal 3), Nebukadnezar (Dan pasal 2), Yusuf (Mat pasal 2), dan istri Pilatus (Mat pasal 27). Namun, tak satu pun dari mimpi-mimpi ini, kecuali mungkin mimpi istri Pilatus, yang bisa dianggap sebagai mimpi buruk. Sepertinya, Allah tidak berbicara kepada manusia melalui mimpi buruk. Beberapa orang berpikir jika Setan atau iblis menyusupi pikiran mereka saat bermimpi buruk, walaupun tidak ada satupun bagian ayat di dalam Alkitab yang secara langsung menyatakan soal ini. Terkecuali mimpi yang dialami oleh Elifas, tidak ada kejadian dalam Alkitab dimana kekuatan jahat berkomunikasi dengan manusia melalui mimpi atau mimpi buruk. Kemungkinan besar, mimpi buruk sekedar cara otak menghadapi ketakutan dan kegelisahan kita karena otak terus berfungsi selama kita tidur. Jika orang Kristen sering mengalami mimpi buruk secara terus-menerus sehingga mengganggu tidurnya dan menyebabkan gangguan emosi, bantuan medis barangkali layak untuk dicoba. Namun, seperti dalam segala hal, doa adalah senjata kita yang paling ampuh untuk melawan segala jenis gangguan emosi atau rohani. Berdoa selama lima belas atau dua puluh menit sebelum tidur adalah cara yang paling efektif untuk menenangkan pikiran dan hati; mempersiapkan diri untuk tidur nyenyak. Seperti dalam segala hal, Allah memberikan hikmat kepada orang-orang yang meminta hal itu dari-Nya (Yak 1:5). Allah juga menjanjikan damai-sejahtera-Nya bagi semua orang yang mencarinya. &quot;Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus&quot; (Fil 4:6-7).(gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Mimpi buruk didefinisikan sebagai mimpi yang menghasilkan respon emosi negatif yang kuat, seperti rasa takut atau ngeri. Mereka yang mengalami mimpi buruk biasanya terbangun dalam keadaan sangat tertekan, bahkan sampai pada kondisi dimana tubuh mereka bereaksi dengan hebat \u2013 jantung yang berdebar kencang, berkeringat, maupun mual. Seringkali, mereka tidak dapat kembali tertidur untuk beberapa waktu.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Penyebab mimpi buruk bervariasi. Anak-anak, karena imajinasi mereka yang aktif, rentan terhadap mimpi buruk. Beberapa mengalami mimpi buruk yang begitu parah sehingga mereka terbangun sambil menjerit dan menangis. Kejadian ekstrim seperti ini dikenal sebagai &#8220;teror malam.&#8221; Makan makanan tertentu terlalu dekat dengan waktu tidur dapat memicu mimpi buruk, seperti halnya menonton film horor. Pergi tidur dalam keadaan tertekan karena situasi kehidupan, sehabis bertengkar, ataupun sehabis berdebat juga dapat menyebabkan mimpi buruk dikarenakan adanya aktivitas lanjutan otak selama tidur.<\/p>\n<p>Tidak ada keraguan bahwa mimpi buruk dapat sangat mengganggu. Tapi, adakah makna rohani dari mimpi buruk? Mimpi dan penglihatan memang disebutkan dalam Alkitab. Allah kadang-kadang menggunakan mimpi untuk berkomunikasi dengan para nabi-Nya dan orang-orang yang lainnya. Allah berbicara kepada Abimelekh dalam kitab Kejadian pasal 20, memperingatkan dia supaya tidak menyetubuhi istrinya Abraham, Sara.<\/p>\n<p>Contoh lainnya misalnya mimpinya Yakub mengenai tangga (Kej pasal 28), mimpinya Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan melayani Dia yang menyebabkan penahanannya di Mesir (Kej pasal 37), serta penafsiran mimpinya Firaun (Kej 40-41) yang membuat Yusuf menjadi orang terkuat kedua di Mesir. Allah atau malaikat-Nya menyatakan diri melalui mimpi kepada tokoh-tokoh Alkitab, termasuk Salomo (1 Raj pasal 3), Nebukadnezar (Dan pasal 2), Yusuf (Mat pasal 2), dan istri Pilatus (Mat pasal 27). Namun, tak satu pun dari mimpi-mimpi ini, kecuali mungkin mimpi istri Pilatus, yang bisa dianggap sebagai mimpi buruk. Sepertinya, Allah tidak berbicara kepada manusia melalui mimpi buruk.<\/p>\n<p>Beberapa orang berpikir jika Setan atau iblis menyusupi pikiran mereka saat bermimpi buruk, walaupun tidak ada satupun bagian ayat di dalam Alkitab yang secara langsung menyatakan soal ini. Terkecuali mimpi yang dialami oleh Elifas, tidak ada kejadian dalam Alkitab dimana kekuatan jahat berkomunikasi dengan manusia melalui mimpi atau mimpi buruk.<\/p>\n<p>Kemungkinan besar, mimpi buruk sekedar cara otak menghadapi ketakutan dan kegelisahan kita karena otak terus berfungsi selama kita tidur. Jika orang Kristen sering mengalami mimpi buruk secara terus-menerus sehingga mengganggu tidurnya dan menyebabkan gangguan emosi, bantuan medis barangkali layak untuk dicoba. Namun, seperti dalam segala hal, doa adalah senjata kita yang paling ampuh untuk melawan segala jenis gangguan emosi atau rohani.<\/p>\n<p>Berdoa selama lima belas atau dua puluh menit sebelum tidur adalah cara yang paling efektif untuk menenangkan pikiran dan hati; mempersiapkan diri untuk tidur nyenyak. Seperti dalam segala hal, Allah memberikan hikmat kepada orang-orang yang meminta hal itu dari-Nya (Yak 1:5). Allah juga menjanjikan damai-sejahtera-Nya bagi semua orang yang mencarinya. &#8220;Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus&#8221; (Fil 4:6-7).(gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Mimpi buruk didefinisikan sebagai mimpi yang menghasilkan respon emosi negatif yang kuat, seperti rasa takut atau ngeri. Mereka yang mengalami mimpi buruk biasanya terbangun dalam keadaan sangat tertekan, bahkan sampai pada kondisi dimana tubuh mereka bereaksi dengan hebat \u2013 jantung yang berdebar kencang, berkeringat, maupun mual. Seringkali, mereka tidak dapat kembali tertidur untuk beberapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46169,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44792","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46169,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg?fit=276%2C183&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mimpi.jpg?fit=276%2C183&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2765","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44792","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44792"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44792\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}