{"id":44816,"date":"2021-03-08T09:21:00","date_gmt":"2021-03-08T02:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44816"},"modified":"2021-02-13T15:57:13","modified_gmt":"2021-02-13T08:57:13","slug":"apa-yang-alkitab-nyatakan-mengenai-kesombongan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-alkitab-nyatakan-mengenai-kesombongan\/","title":{"rendered":"Apa yang Alkitab nyatakan mengenai kesombongan?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ada perbedaan antara kesombongan yang dibenci Allah (Ams 8:13) dan kebanggaan yang kita rasakan ketika bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Jenis kesombongan yang berasal dari pembenaran diri merupakan dosa. Allah membenci hal tersebut karena menghalangi kita untuk mencari-Nya. Kitab Mazmur 10:4 menyoroti orang yang sombong begitu bergantung pada diri mereka sendiri sehingga pikiran mereka jauh dari Allah: &quot;Orang fasik, dengan membanggakan batang hidungnya, tidak mencari Allah. Seluruh pikirannya adalah, &#039;Tidak ada Allah.&#039;&quot; Kesombongan yang congkak semacam ini merupakan kebalikan dari semangat kerendahan hati yang dicari Allah. &quot;Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga&quot; (Mat 5:3). Mereka yang &quot;miskin di hadapan Allah&quot; adalah mereka yang mengakui kerusakan totalnya secara spiritual dan ketidakmampuan mereka untuk datang kepada Allah selain karena kasih karunia ilahi-Nya. Orang yang sombong, begitu dibutakan oleh kecongkakan mereka, sehingga mereka berpikir kalau mereka tidak membutuhkan Allah. Lebih buruk lagi, mereka merasa kalau Allah harus menerima mereka sebagaimana adanya, karena mereka memang layak untuk diterima oleh-Nya. Konsekuensi dari dosa kesombongan dipaparkan di seluruh isi Alkitab. Kitab Amsal 16:18-19 menyatakan kalau &quot;kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.&quot; Setan diusir dari surga karena kesombongannya (Yes 14:12-15). Dia begitu sombong untuk mencoba menggantikan Allah sebagai penguasa yang sejati dari alam semesta ini. Tapi, Setan akan dilemparkan ke neraka pada hari penghakiman yang terakhir. Bagi mereka yang menentang Allah, hanyalah bencana yang menanti mereka (Yes 14:22). Kesombongan telah menghalangi banyak orang untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Mengakui dosa dan menyatakan kalau kita tidak sanggup melakukan apapun untuk mencapai hidup yang kekal dengan usaha kita sendiri akan mencegah kita untuk menjadi orang yang sombong. Janganlah kita berkoar-koar tentang diri kita sendiri. Jika kita ingin berkoar-koar, maka sebaiknya kita memberitakan kemuliaan Allah. Apa yang kita nyatakan mengenai diri kita sendiri tidak berarti apa-apa bagi Allah. Yang Allah sendiri nyatakan mengenai kitalah yang berarti (2 Kor 10:18). Mengapa kesombongan bisa dianggap begitu berdosa? Kesombongan berarti memberikan pujian dan penghargaan kepada diri kita sendiri untuk sesuatu yang Allah lakukan. Kesombongan berarti mencuri kemuliaan yang seharusnya diperuntukkan bagi Allah saja. Kesombongan pada dasarnya merupakan penyembahan terhadap diri sendiri. Apapun yang kita capai di dunia ini tidak akan mungkin terjadi jika bukan Allah yang memampukan dan memelihara kita. &quot;Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?&quot; (1 Kor 4:7). Itulah sebabnya kita memberikan kemuliaan kepada Allah \u2013 karena hanya Dia saja yang layak untuk menerimanya. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ada perbedaan antara kesombongan yang dibenci Allah (Ams 8:13) dan kebanggaan yang kita rasakan ketika bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Jenis kesombongan yang berasal dari pembenaran diri merupakan dosa. Allah membenci hal tersebut karena menghalangi kita untuk mencari-Nya.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kitab Mazmur 10:4 menyoroti orang yang sombong begitu bergantung pada diri mereka sendiri sehingga pikiran mereka jauh dari Allah: &#8220;Orang fasik, dengan membanggakan batang hidungnya, tidak mencari Allah. Seluruh pikirannya adalah, &#8216;Tidak ada Allah.'&#8221; Kesombongan yang congkak semacam ini merupakan kebalikan dari semangat kerendahan hati yang dicari Allah. &#8220;Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga&#8221; (Mat 5:3).<\/p>\n<p>Mereka yang &#8220;miskin di hadapan Allah&#8221; adalah mereka yang mengakui kerusakan totalnya secara spiritual dan ketidakmampuan mereka untuk datang kepada Allah selain karena kasih karunia ilahi-Nya. Orang yang sombong, begitu dibutakan oleh kecongkakan mereka, sehingga mereka berpikir kalau mereka tidak membutuhkan Allah. Lebih buruk lagi, mereka merasa kalau Allah harus menerima mereka sebagaimana adanya, karena mereka memang layak untuk diterima oleh-Nya.<\/p>\n<p>Konsekuensi dari dosa kesombongan dipaparkan di seluruh isi Alkitab. Kitab Amsal 16:18-19 menyatakan kalau &#8220;kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.&#8221;<\/p>\n<p>Setan diusir dari surga karena kesombongannya (Yes 14:12-15). Dia begitu sombong untuk mencoba menggantikan Allah sebagai penguasa yang sejati dari alam semesta ini. Tapi, Setan akan dilemparkan ke neraka pada hari penghakiman yang terakhir. Bagi mereka yang menentang Allah, hanyalah bencana yang menanti mereka (Yes 14:22).<\/p>\n<p>Kesombongan telah menghalangi banyak orang untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Mengakui dosa dan menyatakan kalau kita tidak sanggup melakukan apapun untuk mencapai hidup yang kekal dengan usaha kita sendiri akan mencegah kita untuk menjadi orang yang sombong. Janganlah kita berkoar-koar tentang diri kita sendiri. Jika kita ingin berkoar-koar, maka sebaiknya kita memberitakan kemuliaan Allah. Apa yang kita nyatakan mengenai diri kita sendiri tidak berarti apa-apa bagi Allah. Yang Allah sendiri nyatakan mengenai kitalah yang berarti (2 Kor 10:18).<\/p>\n<p>Mengapa kesombongan bisa dianggap begitu berdosa? Kesombongan berarti memberikan pujian dan penghargaan kepada diri kita sendiri untuk sesuatu yang Allah lakukan. Kesombongan berarti mencuri kemuliaan yang seharusnya diperuntukkan bagi Allah saja. Kesombongan pada dasarnya merupakan penyembahan terhadap diri sendiri. Apapun yang kita capai di dunia ini tidak akan mungkin terjadi jika bukan Allah yang memampukan dan memelihara kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?&#8221; (1 Kor 4:7). Itulah sebabnya kita memberikan kemuliaan kepada Allah \u2013 karena hanya Dia saja yang layak untuk menerimanya. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ada perbedaan antara kesombongan yang dibenci Allah (Ams 8:13) dan kebanggaan yang kita rasakan ketika bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Jenis kesombongan yang berasal dari pembenaran diri merupakan dosa. Allah membenci hal tersebut karena menghalangi kita untuk mencari-Nya. Kitab Mazmur 10:4 menyoroti orang yang sombong begitu bergantung pada diri mereka sendiri sehingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"single_blog_custom":"","sidebar":"","second_sidebar":"","share_position":"","share_float_style":"","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","post_reading_time_wpm":"","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44816","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":44527,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1246","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44816","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44816"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44816\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44816"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44816"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44816"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}