{"id":44818,"date":"2021-03-12T09:21:00","date_gmt":"2021-03-12T02:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44818"},"modified":"2021-02-13T16:13:33","modified_gmt":"2021-02-13T09:13:33","slug":"bagaimana-seharusnya-orang-kristen-memandang-harga-diri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bagaimana-seharusnya-orang-kristen-memandang-harga-diri\/","title":{"rendered":"Bagaimana seharusnya orang Kristen memandang harga diri?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Banyak orang mendefinisikan harga diri sebagai &quot;perasaan layak dan berharga yang berasal dari kepandaian, prestasi, status, sumber daya keuangan, atau penampilan yang dimiliki seseorang.&quot; Harga diri semacam ini dapat menyebabkan seseorang merasa independen, sombong dan memuja diri sendiri, yang pada akhirnya menumpulkan keinginannya untuk mencari Allah. Surat Yakobus 4:6 menyatakan bahwa &quot;Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.&quot; Jika kita hanya bersandar pada kekayaan duniawi kita, kita akan memiliki perasaan layak dan berharga yang berasal dari kesombongan. Yesus mengatakan kepada kita, &quot;Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan&quot; (Luk 17:10). Namun, ini tidak berarti bahwa orang Kristen harus memiliki harga diri yang rendah. Perasaan kita sebagai orang baik tidak seharusnya bergantung pada apa yang kita lakukan, tetapi lebih kepada siapa kita di dalam Kristus. Kita harus merendahkan diri di hadapan-Nya, maka Allah akan menghormati kita. Kitab Mazmur 16:2 mengingatkan kita, &quot;Aku berkata kepada TUHAN: &#039;Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau.&#039;&quot; Orang Kristen mendapatkan martabat dan harga dirinya melalui hubungan yang benar dengan Allah. Kita bisa tahu kalau kita sangat berharga karena Allah telah membayar kita dengan mahal melalui darah Anak-Nya, Yesus Kristus. Di satu sisi, harga diri yang rendah adalah kebalikan dari kesombongan. Namun di sisi lain, rendah diri merupakan salah satu bentuk kesombongan. Beberapa orang memiliki harga diri yang rendah karena mereka ingin orang-orang merasa kasihan kepada mereka, memperhatikan mereka, dan menghibur mereka. Harga diri yang rendah dapat menjadi bentuk pesan terselubung &quot;lihatlah aku,&quot; seperti halnya kesombongan. Harga diri yang rendah ini mengambil jalan yang berbeda untuk sampai ke tujuan yang sama, yaitu, mementingkan diri sendiri, obsesi terhadap diri sendiri, dan egoisme. Sebaliknya, kita tidak seharusnya mementingkan diri sendiri. Kita harus mematikan ke-aku-an kita masing-masing, dan mengalihkan perhatian yang diberikan untuk kita kepada Allah yang Mahakuasa, yang telah menciptakan dan memelihara kita. Allah melayakkan kita ketika Dia membayar kita untuk menjadi umat kepunyaan-Nya sendiri (Ef 1:14). Karena itu, hanya Dia yang layak untuk dimuliakan. Ketika kita memiliki harga diri yang sehat, kita akan menghargai diri kita sendiri dengan porsi yang sepantasnya, tidak terjebak dalam dosa yang memperbudak kita. Sebaliknya, kita harus tetap rendah hati, menganggap orang lain lebih utama dari pada diri kita sendiri (Fil 2:3). Surat Roma 12:3 memperingatkan kita, &quot;Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.&quot; (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Banyak orang mendefinisikan harga diri sebagai &#8220;perasaan layak dan berharga yang berasal dari kepandaian, prestasi, status, sumber daya keuangan, atau penampilan yang dimiliki seseorang.&#8221; Harga diri semacam ini dapat menyebabkan seseorang merasa independen, sombong dan memuja diri sendiri, yang pada akhirnya menumpulkan keinginannya untuk mencari Allah.<\/p>\n<div id=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Surat Yakobus 4:6 menyatakan bahwa &#8220;Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.&#8221; Jika kita hanya bersandar pada kekayaan duniawi kita, kita akan memiliki perasaan layak dan berharga yang berasal dari kesombongan. Yesus mengatakan kepada kita, &#8220;Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan&#8221; (Luk 17:10).<\/p>\n<p>Namun, ini tidak berarti bahwa orang Kristen harus memiliki harga diri yang rendah. Perasaan kita sebagai orang baik tidak seharusnya bergantung pada apa yang kita lakukan, tetapi lebih kepada siapa kita di dalam Kristus. Kita harus merendahkan diri di hadapan-Nya, maka Allah akan menghormati kita. Kitab Mazmur 16:2 mengingatkan kita, &#8220;Aku berkata kepada TUHAN: &#8216;Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau.'&#8221;<\/p>\n<p>Orang Kristen mendapatkan martabat dan harga dirinya melalui hubungan yang benar dengan Allah. Kita bisa tahu kalau kita sangat berharga karena Allah telah membayar kita dengan mahal melalui darah Anak-Nya, Yesus Kristus.<\/p>\n<p>Di satu sisi, harga diri yang rendah adalah kebalikan dari kesombongan. Namun di sisi lain, rendah diri merupakan salah satu bentuk kesombongan. Beberapa orang memiliki harga diri yang rendah karena mereka ingin orang-orang merasa kasihan kepada mereka, memperhatikan mereka, dan menghibur mereka. Harga diri yang rendah dapat menjadi bentuk pesan terselubung &#8220;lihatlah aku,&#8221; seperti halnya kesombongan.<\/p>\n<p>Harga diri yang rendah ini mengambil jalan yang berbeda untuk sampai ke tujuan yang sama, yaitu, mementingkan diri sendiri, obsesi terhadap diri sendiri, dan egoisme. Sebaliknya, kita tidak seharusnya mementingkan diri sendiri. Kita harus mematikan ke-aku-an kita masing-masing, dan mengalihkan perhatian yang diberikan untuk kita kepada Allah yang Mahakuasa, yang telah menciptakan dan memelihara kita.<\/p>\n<p>Allah melayakkan kita ketika Dia membayar kita untuk menjadi umat kepunyaan-Nya sendiri (Ef 1:14). Karena itu, hanya Dia yang layak untuk dimuliakan. Ketika kita memiliki harga diri yang sehat, kita akan menghargai diri kita sendiri dengan porsi yang sepantasnya, tidak terjebak dalam dosa yang memperbudak kita. Sebaliknya, kita harus tetap rendah hati, menganggap orang lain lebih utama dari pada diri kita sendiri (Fil 2:3).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Surat Roma 12:3 memperingatkan kita, &#8220;Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.&#8221; (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Banyak orang mendefinisikan harga diri sebagai &#8220;perasaan layak dan berharga yang berasal dari kepandaian, prestasi, status, sumber daya keuangan, atau penampilan yang dimiliki seseorang.&#8221; Harga diri semacam ini dapat menyebabkan seseorang merasa independen, sombong dan memuja diri sendiri, yang pada akhirnya menumpulkan keinginannya untuk mencari Allah. Surat Yakobus 4:6 menyatakan bahwa &#8220;Allah menentang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"single_blog_custom":"","sidebar":"","second_sidebar":"","share_position":"","share_float_style":"","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","post_reading_time_wpm":"","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44818","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":44527,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1815","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44818","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44818"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44818\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44818"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44818"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44818"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}