{"id":44830,"date":"2021-03-09T09:21:00","date_gmt":"2021-03-09T02:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44830"},"modified":"2021-02-13T16:09:18","modified_gmt":"2021-02-13T09:09:18","slug":"apa-yang-alkitab-nyatakan-mengenai-gosip","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-alkitab-nyatakan-mengenai-gosip\/","title":{"rendered":"Apa yang Alkitab nyatakan mengenai gosip?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai &quot;gosip&quot; dalam Perjanjian Lama didefinisikan sebagai &quot;orang yang membocorkan rahasia, orang yang di lingkungannya dikenal sebagai pengadu atau penjual-skandal.&quot; Penggosip adalah orang yang memiliki informasi khusus tentang orang-orang dan bersedia untuk mengungkapkan informasi tersebut kepada mereka yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan untuk mengetahuinya. Perbedaan gosip dan berbagi informasi adalah niatnya. Penggosip memiliki tujuan untuk membuat diri mereka terlihat baik dengan cara membuat orang lain terlihat buruk. Mereka meninggikan diri mereka seolah-olah sebagai \u201cgudang informasi.\u201d Di surat Roma, Paulus mengungkapkan natur dosa dan pelanggaran hukum umat manusia. Surat ini menyatakan bagaimana Allah mencurahkan murka-Nya ke atas orang-orang yang menolak hukum-Nya. Karena mereka telah berpaling dari perintah dan bimbingan Allah, Dia menyerahkan mereka kepada natur dosa mereka. Daftar dosa itu termasuk dosa menggosip dan memfitnah (Rm 1:29b-32). Kita melihat pada bagian ini betapa seriusnya dosa gosip. Hal ini merupakan ciri khas mereka yang berada di bawah murka Allah. Kelompok lain yang hingga saat ini terlibat dalam gosip adalah para janda. Paulus memperingatkan para janda untuk menjauhi kebiasaan bergosip dan bermalas-malasan. Perempuan ini &quot;membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas&quot; (1 Tim 5:12-13). Karena perempuan cenderung menghabiskan banyak waktu di rumah masing-masing dan bekerja sama dengan perempuan lain, mereka mendengar dan mengamati situasi yang bisa saja telah terdistorsi, terutama karena telah diceritakan berulang-ulang. Paulus menyatakan bahwa para janda memiliki kebiasaan untuk mendatangi rumah-rumah, mencari sesuatu untuk mengisi waktu mereka. Tangan yang malas akan menggali kejahatan. Allah memperingatkan kita untuk tidak mengijinkan kemalasan memasuki kehidupan kita. &quot;Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut&quot; (Ams 20:19). Perempuan tentu bukan satu-satunya yang berdosa karena bergosip. Siapapun bisa dianggap terlibat dalam dosa bergosip hanya dengan mengulangi sesuatu yang didengar sebelumnya secara sembunyi-sembunyi. Kitab Amsal memberi daftar panjang ayat-ayat yang mengemukakan bahaya gosip dan potensi penderitaan yang diakibatkan oleh gosip. &quot;Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri. Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara&quot; (Ams 11:12-13). Alkitab menyatakan kalau &quot;orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib&quot; (Ams 16:28). Banyak persahabatan yang hancur karena kesalahpahaman yang ditimbulkan gosip. Mereka yang terlibat dalam perilaku ini cuma bisa membuat masalah dan menimbulkan kemarahan, kepahitan, dan kesakitan di antara teman. Sayangnya, beberapa orang suka membesar-besarkan masalah dan membuat situasi semakin panas. Mereka mencari-cari peluang untuk menghancurkan orang lain. Seringkali, ketika orang tersebut diajak berbicara, mereka menyangkal tuduhan itu dan menjawab dengan berbagai alasan dan rasionalisasi. Bukannya mengakui kesalahan, mereka malah menyalahkan orang lain atau mencoba untuk meremehkan keseriusan dosa ini. &quot;Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya. Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati&quot; (Ams 18:7-8). Siapapun yang menjaga lidahnya akan memelihara dirinya dari kesukaran (Ams 21:23). Jadi, kita harus menjaga lidah dan menahan diri dari dosa bergosip. Jika kita menyerahkan hasrat alami kita kepada Allah, Dia akan membantu kita untuk tetap berada dalam kebenaran. Semoga kita bersungguh-sungguh mengikuti ajaran Alkitab tentang bergosip ini. Sebaiknya, kita menjaga mulut supaya tetap tertutup, kecuali jika memang diperlukan; ketika waktu dan kondisinya memang tepat bagi kita untuk berbicara. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai &#8220;gosip&#8221; dalam Perjanjian Lama didefinisikan sebagai &#8220;orang yang membocorkan rahasia, orang yang di lingkungannya dikenal sebagai pengadu atau penjual-skandal.&#8221; Penggosip adalah orang yang memiliki informasi khusus tentang orang-orang dan bersedia untuk mengungkapkan informasi tersebut kepada mereka yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan untuk mengetahuinya. Perbedaan gosip dan berbagi informasi adalah niatnya. Penggosip memiliki tujuan untuk membuat diri mereka terlihat baik dengan cara membuat orang lain terlihat buruk. Mereka meninggikan diri mereka seolah-olah sebagai \u201cgudang informasi.\u201d<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Di surat Roma, Paulus mengungkapkan natur dosa dan pelanggaran hukum umat manusia. Surat ini menyatakan bagaimana Allah mencurahkan murka-Nya ke atas orang-orang yang menolak hukum-Nya. Karena mereka telah berpaling dari perintah dan bimbingan Allah, Dia menyerahkan mereka kepada natur dosa mereka. Daftar dosa itu termasuk dosa menggosip dan memfitnah (Rm 1:29b-32). Kita melihat pada bagian ini betapa seriusnya dosa gosip. Hal ini merupakan ciri khas mereka yang berada di bawah murka Allah.<\/p>\n<p>Kelompok lain yang hingga saat ini terlibat dalam gosip adalah para janda. Paulus memperingatkan para janda untuk menjauhi kebiasaan bergosip dan bermalas-malasan. Perempuan ini &#8220;membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas&#8221; (1 Tim 5:12-13). Karena perempuan cenderung menghabiskan banyak waktu di rumah masing-masing dan bekerja sama dengan perempuan lain, mereka mendengar dan mengamati situasi yang bisa saja telah terdistorsi, terutama karena telah diceritakan berulang-ulang.<\/p>\n<p>Paulus menyatakan bahwa para janda memiliki kebiasaan untuk mendatangi rumah-rumah, mencari sesuatu untuk mengisi waktu mereka. Tangan yang malas akan menggali kejahatan. Allah memperingatkan kita untuk tidak mengijinkan kemalasan memasuki kehidupan kita. &#8220;Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut&#8221; (Ams 20:19).<\/p>\n<p>Perempuan tentu bukan satu-satunya yang berdosa karena bergosip. Siapapun bisa dianggap terlibat dalam dosa bergosip hanya dengan mengulangi sesuatu yang didengar sebelumnya secara sembunyi-sembunyi. Kitab Amsal memberi daftar panjang ayat-ayat yang mengemukakan bahaya gosip dan potensi penderitaan yang diakibatkan oleh gosip. &#8220;Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri. Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara&#8221; (Ams 11:12-13).<\/p>\n<p>Alkitab menyatakan kalau &#8220;orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib&#8221; (Ams 16:28). Banyak persahabatan yang hancur karena kesalahpahaman yang ditimbulkan gosip. Mereka yang terlibat dalam perilaku ini cuma bisa membuat masalah dan menimbulkan kemarahan, kepahitan, dan kesakitan di antara teman.<\/p>\n<p>Sayangnya, beberapa orang suka membesar-besarkan masalah dan membuat situasi semakin panas. Mereka mencari-cari peluang untuk menghancurkan orang lain. Seringkali, ketika orang tersebut diajak berbicara, mereka menyangkal tuduhan itu dan menjawab dengan berbagai alasan dan rasionalisasi. Bukannya mengakui kesalahan, mereka malah menyalahkan orang lain atau mencoba untuk meremehkan keseriusan dosa ini. &#8220;Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya. Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati&#8221; (Ams 18:7-8).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapapun yang menjaga lidahnya akan memelihara dirinya dari kesukaran (Ams 21:23). Jadi, kita harus menjaga lidah dan menahan diri dari dosa bergosip. Jika kita menyerahkan hasrat alami kita kepada Allah, Dia akan membantu kita untuk tetap berada dalam kebenaran. Semoga kita bersungguh-sungguh mengikuti ajaran Alkitab tentang bergosip ini. Sebaiknya, kita menjaga mulut supaya tetap tertutup, kecuali jika memang diperlukan; ketika waktu dan kondisinya memang tepat bagi kita untuk berbicara. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai &#8220;gosip&#8221; dalam Perjanjian Lama didefinisikan sebagai &#8220;orang yang membocorkan rahasia, orang yang di lingkungannya dikenal sebagai pengadu atau penjual-skandal.&#8221; Penggosip adalah orang yang memiliki informasi khusus tentang orang-orang dan bersedia untuk mengungkapkan informasi tersebut kepada mereka yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan untuk mengetahuinya. Perbedaan gosip dan berbagi informasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"single_blog_custom":"","sidebar":"","second_sidebar":"","share_position":"","share_float_style":"","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","post_reading_time_wpm":"","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44830","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":44527,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/free-will.jpg?fit=450%2C333&ssl=1","comment_count":0,"views":"1516","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44830","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44830"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44830\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44830"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44830"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44830"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}