{"id":44854,"date":"2020-06-10T08:01:13","date_gmt":"2020-06-10T01:01:13","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44854"},"modified":"2020-06-09T14:54:55","modified_gmt":"2020-06-09T07:54:55","slug":"apa-yang-diajarkan-alkitab-tentang-ketekunan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-diajarkan-alkitab-tentang-ketekunan\/","title":{"rendered":"Apa yang diajarkan Alkitab tentang ketekunan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Alkitab banyak membahas ketekunan dalam berbagai konteks. Secara jelas, Alkitab mengajar bahwa mereka yang \u201cmenang\u201d dan bertekun dalam iman akan diwarisi kehidupan kekal (Wahyu 2:7). Kebenaran ini juga diungkapkan dalam Kolose 1:23 dimana kita melihat bahwa orang akan menjadi kudus, tidak bersalah, dan tanpa cela, jika \u201cbertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil\u2026\u201d Jadi semua umat Kristen perlu menyetujui bahwa mereka yang bertekun dan terus mempercayai injil adalah yang akan diselamatkan. Ada dua sudut pandang Kristiani yang berbeda mengenai ketekunan orang saleh. Yang pertama adalah sudut pandang Arminius yang menyatakan bahwa orang Kristen sejati dapat berpaling dari Allah dan tidak bertekun. Sudut pandang ini konsisten dengan konsep keselamatan bahwa setiap manusia mempunyai \u201ckehendak bebas.\u201d Ialah logis bahwa jika \u201ckehendak bebas\u201d manusia menentukan keselamatannya, maka adalah mungkin untuk orang itu memilih untuk menolak Allah dan kehilangan keselamatannya. Akan tetapi, Alkitab dengan jelas mengajar bahwa kita \\\"dilahirkan kembali\\\" oleh Roh Kudus, yang berujung pada keyakinan kita dalam Kristus. Semua yang telah \\\"dilahirkan kembali\\\" mempunyai keamanan abadi dan akan bertekun. Doktrin ketekunan orang saleh didasari oleh janji bahwa \\\"Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus\\\" (Filipi 1:6) dan pernyataan Yesus bahwa \\\"semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku\\\" dan \\\"semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang\\\" (Yohanes 6:37,39). Lepas dari konsep ketekunan dalam kaitannya dengan keselamatan, adapun dorongan dalam Alkitab untuk bertekun dalam kehidupan Kristiani. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus mengingatkan pendeta muda itu: \\\"Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau\\\" (1 Timotius 4:16). Karakter Timotius saleh, dan doktrinnya sehat dan alkitabiah. Paulus menghimbau supaya ia mewaspadai keduanya dan bertekun di dalamnya karena - dan himbauan ini juga berlaku bagi semua orang Kristen - iman sejati selalu menghasilkan ketekunan dalam hidup yang saleh serta kepercayaan pada kebenaran (Yohanes 8:31; Roma 2:7). Adapun perintah untuk bertekun dalam kehidupan Kristiani dari Yakobus, yang menghimbau supaya kita \u201cmenjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja\u201d karena mereka yang mendengar tapi tidak melakukannya sedang \u201cmenipu diri sendiri\u2026Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya\u2026ia akan berbahagia oleh perbuatannya\u201d (Yakobus 1:22-24). Pengertian yang sedang diajarkan adalah bahwa orang Kristen yang terus bertekun dalam kesalehan dan dalam disiplin rohani akan semakin dianugerahi ketekunan. Semakin kita bertekun dalam kehidupan Kristen, semakin Allah memberkati kita, sehingga kita semakin tekun lagi. Pemazmur mengingatkan kita bahwa ada pahala yang besar bagi mereka yang bertekun dalam kehidupan Kristen. Dengan memelihara perintah Allah, ada \u201cupah yang besar\u201d bagi jiwa kita (Mazmur 19:11), pikiran yang tenang, hati nurani yang bersih, dan kesaksian bagi dunia yang lebih ampuh dari kata-kata. Yakobus mendorong kita untuk bertekun \u201cdalam pencobaan\u201d karena demikianlah mereka akan diberkati dan akan menerima \u201cmahkota kehidupan\u201d yang telah dijanjikan oleh Allah (Yakobus 1:12). Sama seperti orang percaya sejati aman dalam keselamatannya, imannya juga akan bertahan menghadapi penderitaan, kesakitan, penganiayaan, dan berbagai kesulitan hidup yang menimpa semua orang percaya. Jika kita ingin hidup yang saleh di dalam Kristus, kita akan menderita penganiayaan (2 Timotius 3:12), tetapi mereka yang setia akan bertahan, dimampukan oleh kuasa Roh Kudus yang menjamin keselamatan kita dan yang menguatkan kita \u201csampai kepada kesudahannya,\u201d dengan bertekun supaya kita kelak \u201ctak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus\u201d (1 Korintus 1:8).(gotquestions)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Alkitab banyak membahas ketekunan dalam berbagai konteks. Secara jelas, Alkitab mengajar bahwa mereka yang \u201cmenang\u201d dan bertekun dalam iman akan diwarisi kehidupan kekal (Wahyu 2:7). Kebenaran ini juga diungkapkan dalam Kolose 1:23 dimana kita melihat bahwa orang akan menjadi kudus, tidak bersalah, dan tanpa cela, jika \u201cbertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil\u2026\u201d Jadi semua umat Kristen perlu menyetujui bahwa mereka yang bertekun dan terus mempercayai injil adalah yang akan diselamatkan.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ada dua sudut pandang Kristiani yang berbeda mengenai ketekunan orang saleh. Yang pertama adalah sudut pandang Arminius yang menyatakan bahwa orang Kristen sejati dapat berpaling dari Allah dan tidak bertekun. Sudut pandang ini konsisten dengan konsep keselamatan bahwa setiap manusia mempunyai \u201ckehendak bebas.\u201d Ialah logis bahwa jika \u201ckehendak bebas\u201d manusia menentukan keselamatannya, maka adalah mungkin untuk orang itu memilih untuk menolak Allah dan kehilangan keselamatannya.<\/p>\n<p>Akan tetapi, Alkitab dengan jelas mengajar bahwa kita &#8220;dilahirkan kembali&#8221; oleh Roh Kudus, yang berujung pada keyakinan kita dalam Kristus. Semua yang telah &#8220;dilahirkan kembali&#8221; mempunyai keamanan abadi dan akan bertekun. Doktrin ketekunan orang saleh didasari oleh janji bahwa &#8220;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&#8221; (Filipi 1:6) dan pernyataan Yesus bahwa &#8220;semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku&#8221; dan &#8220;semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang&#8221; (Yohanes 6:37,39).<\/p>\n<p>Lepas dari konsep ketekunan dalam kaitannya dengan keselamatan, adapun dorongan dalam Alkitab untuk bertekun dalam kehidupan Kristiani. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus mengingatkan pendeta muda itu: &#8220;Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau&#8221; (1 Timotius 4:16). Karakter Timotius saleh, dan doktrinnya sehat dan alkitabiah. Paulus menghimbau supaya ia mewaspadai keduanya dan bertekun di dalamnya karena &#8211; dan himbauan ini juga berlaku bagi semua orang Kristen &#8211; iman sejati selalu menghasilkan ketekunan dalam hidup yang saleh serta kepercayaan pada kebenaran (Yohanes 8:31; Roma 2:7).<\/p>\n<p>Adapun perintah untuk bertekun dalam kehidupan Kristiani dari Yakobus, yang menghimbau supaya kita \u201cmenjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja\u201d karena mereka yang mendengar tapi tidak melakukannya sedang \u201cmenipu diri sendiri\u2026Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya\u2026ia akan berbahagia oleh perbuatannya\u201d (Yakobus 1:22-24). Pengertian yang sedang diajarkan adalah bahwa orang Kristen yang terus bertekun dalam kesalehan dan dalam disiplin rohani akan semakin dianugerahi ketekunan. Semakin kita bertekun dalam kehidupan Kristen, semakin Allah memberkati kita, sehingga kita semakin tekun lagi. Pemazmur mengingatkan kita bahwa ada pahala yang besar bagi mereka yang bertekun dalam kehidupan Kristen. Dengan memelihara perintah Allah, ada \u201cupah yang besar\u201d bagi jiwa kita (Mazmur 19:11), pikiran yang tenang, hati nurani yang bersih, dan kesaksian bagi dunia yang lebih ampuh dari kata-kata.<\/p>\n<p>Yakobus mendorong kita untuk bertekun \u201cdalam pencobaan\u201d karena demikianlah mereka akan diberkati dan akan menerima \u201cmahkota kehidupan\u201d yang telah dijanjikan oleh Allah (Yakobus 1:12). Sama seperti orang percaya sejati aman dalam keselamatannya, imannya juga akan bertahan menghadapi penderitaan, kesakitan, penganiayaan, dan berbagai kesulitan hidup yang menimpa semua orang percaya. Jika kita ingin hidup yang saleh di dalam Kristus, kita akan menderita penganiayaan (2 Timotius 3:12), tetapi mereka yang setia akan bertahan, dimampukan oleh kuasa Roh Kudus yang menjamin keselamatan kita dan yang menguatkan kita \u201csampai kepada kesudahannya,\u201d dengan bertekun supaya kita kelak \u201ctak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus\u201d (1 Korintus 1:8).(gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Alkitab banyak membahas ketekunan dalam berbagai konteks. Secara jelas, Alkitab mengajar bahwa mereka yang \u201cmenang\u201d dan bertekun dalam iman akan diwarisi kehidupan kekal (Wahyu 2:7). Kebenaran ini juga diungkapkan dalam Kolose 1:23 dimana kita melihat bahwa orang akan menjadi kudus, tidak bersalah, dan tanpa cela, jika \u201cbertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46151,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44854","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46151,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ketekunan.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ketekunan.jpg?fit=225%2C224&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ketekunan.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ketekunan.jpg?fit=225%2C224&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2150","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44854","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44854"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44854\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46151"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44854"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44854"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44854"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}