{"id":44910,"date":"2020-04-04T17:23:58","date_gmt":"2020-04-04T10:23:58","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44910"},"modified":"2020-04-24T13:21:53","modified_gmt":"2020-04-24T06:21:53","slug":"apa-yang-diajarkan-alkitab-tentang-menahan-emosi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-yang-diajarkan-alkitab-tentang-menahan-emosi\/","title":{"rendered":"Apa yang diajarkan Alkitab tentang menahan emosi?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Seperti apakah kehidupan manusia jika kita tidak beremosi, jika kita selalu mampu mengendalikan dan menahan emosi? Mungkin kita menyerupai robot, dengan respon logis tanpa luapan emosi. Namun Allah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, dan emosi Allah terlihat di dalam Alkitab; oleh karena itu, Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang beremosi. Kita merasakan cinta, sukacita, kebahagiaan, rasa bersalah, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, dsb. Kadang emosi kita menyenangkan dan kadang tidak. Kadang emosi kita benar, dan kadang &quot;salah&quot; karena basis pengertiannya keliru. Sebagai contoh, jika kita keliru mengira bahwa Allah tidak memegang kendali atas situasi dan kondisi kita, kita mengeluarkan emosi takut dan tak berpengharapan atau marah berdasarkan anggapan keliru tersebut. Emosi sangat nyata dan kuat bagi yang merasakannya. Dan emosi dapat memberi indikasi apa yang terjadi dalam hati kita. Dengan berkata demikian, adalah penting untuk belajar menahan emosi daripada membiarkan diri kita diperbudak oleh emosi. Sebagai contoh, ketika kita merasa marah, adalah penting untuk berhenti, memahami bahwa kita sedang marah, memahami kenapa kita sedang marah, dan berperilaku secara alkitabiah. Emosi yang tak terkendali tidak menghasilkan hal yang memuliakan Allah: &quot;Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah&quot; (Yakobus 1:20). Emosi kita, sama-halnya dengan tubuh dan pikiran kita, terpengaruh oleh kejatuhan umat manusia ke dalam dosa. Dalam kata lain, emosi kita telah tercemar oleh kodrat berdosa kita, dan oleh karena itu kita harus mengendalikannya. Alkitab menasehati supaya kita dikendalikan oleh Roh Kudus (Roma pasal 6; Efesus 5:15-18; 1 Petrus 5:6-11), bukan sebaliknya kita dikendalikan oleh emosi. Jika kita menyadari emosi kita dan membawanya kepada Allah, kita dapat menundukkan hati kita pada-Nya supaya Ia menangani emosi kita dan mengarahkan tindakan kita. Ada kalanya ketika hal itu terjadi, Allah menghibur kita, meneguhkan kita, dan mengingatkan kita untuk tidak takut. Ada kalanya Ia dapat mendorong kita untuk mengampuni atau meminta pengampunan. Mazmur adalah contoh yang baik akan cara mengendalikan emosi kita dan menyerahkan emosi kita kepada Allah. Tidak sedikit Mazmur yang memperlihatkan emosi yang dicurahkan kepada Allah dalam mencari kebenaran-Nya. Berbagi emosi dengan sesama kita juga bermanfaat dalam pengendaliannya. Kehidupan Kristen tidak dimaksud dijalani seorang diri. Allah telah menganugerahi kita dengan orang percaya lainnya yang dapat membantu kita meringankan beban hidup dan kitapun dapat membantu menanggung beban mereka (Roma pasal 12; Galatia 6:1-10; 2 Korintus 1:3-5; Ibrani 3:13). Sesama orang percaya juga mengingatkan kita akan kebenaran Allah, serta membagikan sudut pandang yang baru. Ketika kita merasa kecewa atau takut, kita dikuatkan oleh dukungan sesama orang percaya. Seringkali, ketika kita mendukung orang lain, kita sendiri memperoleh semangat baru. Sama-halnya, ketika kita bersukacita, sukacita yang dibagikan malah meningkat. Membiarkan diri kita dikendalikan oleh emosi tidaklah baik. Mengabaikan emosi juga tidak baik. Kita harus bersyukur kepada Allah atas kemampuan emosional kita dan mengelolanya dengan baik sebagai karunia dari Allah. Cara mengendalikan emosi kita adalah bertumbuh secara rohani dalam perjalanan kita dengan Allah. Kita diubahkan melalui pembaharuan pikiran kita (Roma 12:1-2) dan melalui kuasa Roh Kudus - yang membuahkan pengendalian diri di dalam karakter kita (Galatia 5:22-23). Kita memerlukan asupan rohani tiap hari dari Alkitab, juga keinginan untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, serta waktu merenungkan sifat-sifat Allah. Sudah seharusnya kita berusaha mengenal Allah lebih baik dan mencurahkan hati kita kepada-Nya dalam doa. Persekutuan Kristen juga merupakan bagian yang penting dalam pertumbuhan rohani. Kita berkelana bersama orang percaya lainnya dan saling memacu dalam pertumbuhan iman serta kedewasaan emosional. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Seperti apakah kehidupan manusia jika kita tidak beremosi, jika kita selalu mampu mengendalikan dan menahan emosi? Mungkin kita menyerupai robot, dengan respon logis tanpa luapan emosi. Namun Allah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, dan emosi Allah terlihat di dalam Alkitab; oleh karena itu, Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang beremosi. Kita merasakan cinta, sukacita, kebahagiaan, rasa bersalah, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, dsb. Kadang emosi kita menyenangkan dan kadang tidak. Kadang emosi kita benar, dan kadang &#8220;salah&#8221; karena basis pengertiannya keliru. Sebagai contoh, jika kita keliru mengira bahwa Allah tidak memegang kendali atas situasi dan kondisi kita, kita mengeluarkan emosi takut dan tak berpengharapan atau marah berdasarkan anggapan keliru tersebut. Emosi sangat nyata dan kuat bagi yang merasakannya. Dan emosi dapat memberi indikasi apa yang terjadi dalam hati kita.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan berkata demikian, adalah penting untuk belajar menahan emosi daripada membiarkan diri kita diperbudak oleh emosi. Sebagai contoh, ketika kita merasa marah, adalah penting untuk berhenti, memahami bahwa kita sedang marah, memahami kenapa kita sedang marah, dan berperilaku secara alkitabiah. Emosi yang tak terkendali tidak menghasilkan hal yang memuliakan Allah: &#8220;Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah&#8221; (Yakobus 1:20).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Emosi kita, sama-halnya dengan tubuh dan pikiran kita, terpengaruh oleh kejatuhan umat manusia ke dalam dosa. Dalam kata lain, emosi kita telah tercemar oleh kodrat berdosa kita, dan oleh karena itu kita harus mengendalikannya. Alkitab menasehati supaya kita dikendalikan oleh Roh Kudus (Roma pasal 6; Efesus 5:15-18; 1 Petrus 5:6-11), bukan sebaliknya kita dikendalikan oleh emosi. Jika kita menyadari emosi kita dan membawanya kepada Allah, kita dapat menundukkan hati kita pada-Nya supaya Ia menangani emosi kita dan mengarahkan tindakan kita. Ada kalanya ketika hal itu terjadi, Allah menghibur kita, meneguhkan kita, dan mengingatkan kita untuk tidak takut. Ada kalanya Ia dapat mendorong kita untuk mengampuni atau meminta pengampunan. Mazmur adalah contoh yang baik akan cara mengendalikan emosi kita dan menyerahkan emosi kita kepada Allah. Tidak sedikit Mazmur yang memperlihatkan emosi yang dicurahkan kepada Allah dalam mencari kebenaran-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagi emosi dengan sesama kita juga bermanfaat dalam pengendaliannya. Kehidupan Kristen tidak dimaksud dijalani seorang diri. Allah telah menganugerahi kita dengan orang percaya lainnya yang dapat membantu kita meringankan beban hidup dan kitapun dapat membantu menanggung beban mereka (Roma pasal 12; Galatia 6:1-10; 2 Korintus 1:3-5; Ibrani 3:13). Sesama orang percaya juga mengingatkan kita akan kebenaran Allah, serta membagikan sudut pandang yang baru. Ketika kita merasa kecewa atau takut, kita dikuatkan oleh dukungan sesama orang percaya. Seringkali, ketika kita mendukung orang lain, kita sendiri memperoleh semangat baru. Sama-halnya, ketika kita bersukacita, sukacita yang dibagikan malah meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Membiarkan diri kita dikendalikan oleh emosi tidaklah baik. Mengabaikan emosi juga tidak baik. Kita harus bersyukur kepada Allah atas kemampuan emosional kita dan mengelolanya dengan baik sebagai karunia dari Allah. Cara mengendalikan emosi kita adalah bertumbuh secara rohani dalam perjalanan kita dengan Allah. Kita diubahkan melalui pembaharuan pikiran kita (Roma 12:1-2) dan melalui kuasa Roh Kudus &#8211; yang membuahkan pengendalian diri di dalam karakter kita (Galatia 5:22-23). Kita memerlukan asupan rohani tiap hari dari Alkitab, juga keinginan untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, serta waktu merenungkan sifat-sifat Allah. Sudah seharusnya kita berusaha mengenal Allah lebih baik dan mencurahkan hati kita kepada-Nya dalam doa. Persekutuan Kristen juga merupakan bagian yang penting dalam pertumbuhan rohani. Kita berkelana bersama orang percaya lainnya dan saling memacu dalam pertumbuhan iman serta kedewasaan emosional. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Seperti apakah kehidupan manusia jika kita tidak beremosi, jika kita selalu mampu mengendalikan dan menahan emosi? Mungkin kita menyerupai robot, dengan respon logis tanpa luapan emosi. Namun Allah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, dan emosi Allah terlihat di dalam Alkitab; oleh karena itu, Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang beremosi. Kita merasakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45421,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44910","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":45421,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/emosi.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/emosi.jpg?fit=500%2C375&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/emosi.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/emosi.jpg?fit=500%2C375&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2505","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44910"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44910\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45421"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}