{"id":44918,"date":"2020-04-02T11:30:08","date_gmt":"2020-04-02T04:30:08","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44918"},"modified":"2020-04-24T13:21:54","modified_gmt":"2020-04-24T06:21:54","slug":"apa-kata-alkitab-mengenai-rasa-malu-dan-penyesalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apa-kata-alkitab-mengenai-rasa-malu-dan-penyesalan\/","title":{"rendered":"Apa kata Alkitab mengenai rasa malu dan penyesalan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Semua orang mengalami rasa malu dan penyesalan atas dosa yang diperbuat di masa lampau. Alkitab mengandung banyak ajaran mengenai rasa malu dan penyesalan, dan adapun berbagai contoh orang di dalam Alkitab yang mengalami perasaan negatif. Apakah Anda dapat membayangkan penyesalan Adam dan Hawa setelah mereka jatuh ke dalam dosa? Mereka telah merusak ciptaan sempurna Allah. Adam dan Hawa hidup di dunia yang sempurna, memiliki tubuh dan pikiran yang sempurna, dan mempunya persekutuan yang sempurna dengan Allah. Ketika mereka memilih untuk melanggar ketetapan Allah dan berdosa, maka seluruh ciptaan Allah dipengaruhi oleh akibat dosa tersebut, yang melibatkan antara lain penyakit, kerusakan, kematian, dan keterpisahan dari Allah selama-lamanya. Setiap manusia sejak itu dilahirkan dengan khodrat berdosa \u2013 sebuah kecenderungan alami untuk berdosa. Syukurlah bahwa Allah itu berdaulat, dan Ia mempunyai rencana untuk menebus dunia ciptaan-Nya melalui Anak-Nya, Yesus Kristus, dan memberi umat manusia pilihan untuk selamat dan hidup kekal bersama-Nya. Akan tetapi, Adam dan Hawa harus menghabiskan kehidupan jasmani mereka di bumi penuh penyesalan terhadap hilangnya kepolosan serta berkat-berkat-Nya. Kita tahu bahwa mereka malu terhadap kondisi bugil mereka (Kejadian 3:10). Mereka mungkin melewati sisa kehidupan jasmani mereka dalam penyesalan \u2013 toh mereka mengingat indahnya firdaus. Sebuah contoh lain akan rasa malu dan penyesalan dapat kita temui dalam pengalaman rasul Petrus. Yohanes 13:37-38 menceritakan peristiwa malam pengkhianatan Kristus. Setelah Perjamuan Paskah, Petrus berkata bahwa ia rela kehilangan nyawanya demi Tuhan Yesus. Yesus menjawab Petrus dengan berkata bahwa pada malam itu juga Petrus bakal menyangkal mengetahui DiriNya sebanyak tiga kali. Pada malam itu, karena takut kehilangan nyawanya, Petrus menyangkal ia mengenal Yesus (Yohanes 18:15-27; Matius 26:31-35, 69-75). Setelah peyangkalan Petrus, \u201cia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya\u201d (Lukas 22:62). Beberapa waktu kemudian, Petrus dipulihkan dan imannya tumbuh, dan kelak menjadi salah satu pendiri gereja mula-mula. Petrus memang benar-benar menguatkan saudara-saudaranya, sesuai nubuat Yesus (Lukas 22:32). Walaupun Petrus mungkin hidup dengan rasa malu dan penyesalan terhadap penyangkalan Kristus, pengertiannya tentang pribadi dan karya Kristus pada akhirnya mengalahkan perasaan gagalnya. Ia menyadari bahwa ia telah diampuni oleh kasih karunia Allah, dan ia meninggalkan penyesalan pribadinya dan memberi makan domba-domba Yesus (Yohanes 21:17). Alkitab mengajarkan bahwa, ketika kita mengakui dosa kita dan beriman di dalam pengorbanan dan kebangkitan Kristus, kita menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Kita telah dibersihkan dari segala kelaliman (Kolose 1:15-22), dan keselamatan kita aman selamanya (Yohanes 10:27-30; Ibrani 7:24-25). Sambil kita bertumbuh secara rohani dengan bersekutu bersama Allah dalam doa dan pembacaan Firman, kita semakin mengasihi dan mempercayai-Nya. Kita percaya bahwa Allah telah menyingkirkan dosa kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12). Ya, kita pasti menyesali kesalahan kita, tetapi kita tidak berfokus pada kesalahan tersebut. Pandangan kita tidak lepas dari Yesus, Sang Pemimpin dan Penyempurna iman kita (Ibrani 12:2). Paulus menjelaskannya seperti ini: \u201cSaudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus\u201d (Filipi 3:13-14). Rasa malu dan penyesalan telah berada di belakang kita. Kita harus belajar melupakannya. Roma 8:1 sangat menghibur semua orang percaya yang bergumul dengan perasaan malu dan penyesalan: \u201cDemikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.\u201d Kita memang pendosa, tetapi kita telah dibenarkan. Kita memang mempunyai masa lalu yang memalukan, tetapi masa depan kita cerah. Kita dahulu berjalan dalam pemberontakan dan kebebalan, tetapi sekarang kita berjalan dalam pembaharuan hidup (Titus 3:3-7; Roma 6:4). Allah telah mengampuni semua dosa yang kita sesali. Kita dapat melanjutkan perjalanan. \u201cAku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku\u201d (Galatia 2:20). (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Semua orang mengalami rasa malu dan penyesalan atas dosa yang diperbuat di masa lampau. Alkitab mengandung banyak ajaran mengenai rasa malu dan penyesalan, dan adapun berbagai contoh orang di dalam Alkitab yang mengalami perasaan negatif.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah Anda dapat membayangkan penyesalan Adam dan Hawa setelah mereka jatuh ke dalam dosa? Mereka telah merusak ciptaan sempurna Allah. Adam dan Hawa hidup di dunia yang sempurna, memiliki tubuh dan pikiran yang sempurna, dan mempunya persekutuan yang sempurna dengan Allah. Ketika mereka memilih untuk melanggar ketetapan Allah dan berdosa, maka seluruh ciptaan Allah dipengaruhi oleh akibat dosa tersebut, yang melibatkan antara lain penyakit, kerusakan, kematian, dan keterpisahan dari Allah selama-lamanya. Setiap manusia sejak itu dilahirkan dengan khodrat berdosa \u2013 sebuah kecenderungan alami untuk berdosa. Syukurlah bahwa Allah itu berdaulat, dan Ia mempunyai rencana untuk menebus dunia ciptaan-Nya melalui Anak-Nya, Yesus Kristus, dan memberi umat manusia pilihan untuk selamat dan hidup kekal bersama-Nya. Akan tetapi, Adam dan Hawa harus menghabiskan kehidupan jasmani mereka di bumi penuh penyesalan terhadap hilangnya kepolosan serta berkat-berkat-Nya. Kita tahu bahwa mereka malu terhadap kondisi bugil mereka (Kejadian 3:10). Mereka mungkin melewati sisa kehidupan jasmani mereka dalam penyesalan \u2013 toh mereka mengingat indahnya firdaus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah contoh lain akan rasa malu dan penyesalan dapat kita temui dalam pengalaman rasul Petrus. Yohanes 13:37-38 menceritakan peristiwa malam pengkhianatan Kristus. Setelah Perjamuan Paskah, Petrus berkata bahwa ia rela kehilangan nyawanya demi Tuhan Yesus. Yesus menjawab Petrus dengan berkata bahwa pada malam itu juga Petrus bakal menyangkal mengetahui DiriNya sebanyak tiga kali. Pada malam itu, karena takut kehilangan nyawanya, Petrus menyangkal ia mengenal Yesus (Yohanes 18:15-27; Matius 26:31-35, 69-75). Setelah peyangkalan Petrus, \u201cia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya\u201d (Lukas 22:62). Beberapa waktu kemudian, Petrus dipulihkan dan imannya tumbuh, dan kelak menjadi salah satu pendiri gereja mula-mula. Petrus memang benar-benar menguatkan saudara-saudaranya, sesuai nubuat Yesus (Lukas 22:32). Walaupun Petrus mungkin hidup dengan rasa malu dan penyesalan terhadap penyangkalan Kristus, pengertiannya tentang pribadi dan karya Kristus pada akhirnya mengalahkan perasaan gagalnya. Ia menyadari bahwa ia telah diampuni oleh kasih karunia Allah, dan ia meninggalkan penyesalan pribadinya dan memberi makan domba-domba Yesus (Yohanes 21:17).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alkitab mengajarkan bahwa, ketika kita mengakui dosa kita dan beriman di dalam pengorbanan dan kebangkitan Kristus, kita menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Kita telah dibersihkan dari segala kelaliman (Kolose 1:15-22), dan keselamatan kita aman selamanya (Yohanes 10:27-30; Ibrani 7:24-25). Sambil kita bertumbuh secara rohani dengan bersekutu bersama Allah dalam doa dan pembacaan Firman, kita semakin mengasihi dan mempercayai-Nya. Kita percaya bahwa Allah telah menyingkirkan dosa kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12). Ya, kita pasti menyesali kesalahan kita, tetapi kita tidak berfokus pada kesalahan tersebut. Pandangan kita tidak lepas dari Yesus, Sang Pemimpin dan Penyempurna iman kita (Ibrani 12:2). Paulus menjelaskannya seperti ini: \u201cSaudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus\u201d (Filipi 3:13-14). Rasa malu dan penyesalan telah berada di belakang kita. Kita harus belajar melupakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roma 8:1 sangat menghibur semua orang percaya yang bergumul dengan perasaan malu dan penyesalan: \u201cDemikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.\u201d Kita memang pendosa, tetapi kita telah dibenarkan. Kita memang mempunyai masa lalu yang memalukan, tetapi masa depan kita cerah. Kita dahulu berjalan dalam pemberontakan dan kebebalan, tetapi sekarang kita berjalan dalam pembaharuan hidup (Titus 3:3-7; Roma 6:4). Allah telah mengampuni semua dosa yang kita sesali. Kita dapat melanjutkan perjalanan. \u201cAku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku\u201d (Galatia 2:20). (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Semua orang mengalami rasa malu dan penyesalan atas dosa yang diperbuat di masa lampau. Alkitab mengandung banyak ajaran mengenai rasa malu dan penyesalan, dan adapun berbagai contoh orang di dalam Alkitab yang mengalami perasaan negatif. Apakah Anda dapat membayangkan penyesalan Adam dan Hawa setelah mereka jatuh ke dalam dosa? Mereka telah merusak ciptaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45416,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44918","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":45416,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/regret.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/regret.jpg?fit=600%2C600&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/regret.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/regret.jpg?fit=600%2C600&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2382","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44918","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44918"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44918\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45416"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44918"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44918"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44918"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}