{"id":44924,"date":"2020-03-30T11:30:20","date_gmt":"2020-03-30T04:30:20","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=44924"},"modified":"2020-04-24T13:21:54","modified_gmt":"2020-04-24T06:21:54","slug":"apakah-yang-diajarkan-alkitab-tentang-terorisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-yang-diajarkan-alkitab-tentang-terorisme\/","title":{"rendered":"Apakah yang diajarkan Alkitab tentang terorisme?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Alkitab tidak membahas topik terorisme secara langsung, sebagaimana kita pahami terorisme pada zaman modern ini. &quot;Terorisme&quot; sejati adalah upaya menakuti, membuat terkejut, dan panik populasi yang dibidik melalui penggunaan kekerasan. Tujuan tindakan terorisme adalah memaksa pemerintah atau masyarakat untuk menyepakati permintaan teroris. Dalam kasus tertentu, tidak ada alasan lain selain melakukan pembantaian sebagai hukuman atau balas dendam. Sebagian besar senjata yang digunakan dalam serangan teror di zaman modern ini belum ada pada zaman Alkitab, seperti peledak, senjata kimia, dan senjata api. Di zaman kuno, berita serangan penyebarannya pelan baik secara lisan maupun tulisan. Terorisme sebagaimana kita kenali pada zaman ini berkembang karena adanya kemampuan menewaskan banyak orang secara tiba-tiba serta penyebaran berita secara cepat - terutama dengan foto dan video. Kemampuan semacam ini belum ada pada zaman Alkitab dituliskan. Akan tetapi, pernyataan Perjanjian Baru tentang tanggung-jawab bangsa Israel dalam berperang, komentar alkitabiah tentang mereka yang hendak menyerang orang yang tak bersalah, dan moralitas Kristen pada umumnya semuanya mengecam aksi &quot;terorisme&quot; yang ada pada zaman ini. Lebih besar kemungkinannya bahwa tentara zaman dahulu dengan sengaja menyerang orang yang tak bersalah; ide serangan yang menghindari wanita dan anak kecil terdengar asing di Timur Tengah zaman dahulu. Akan tetapi, Israel diberi peraturan perang khusus yang memanusiakan operasi militernya. Para prajurit diberi pilihan untuk pulang jika mereka baru saja menikah, takut, atau tidak siap berperang. Mereka tidak diperintah untuk bunuh diri dalam peperangan (Ulangan 20:5-8). Israel diperintah untuk menawarkan damai dulu - dengan himbauan - kepada sebuah kota sebelum diserang (Ulangan 20:10). Prosedur ini memungkinkan adanya perdamaian, namun adapula kesempatan bagi warga sipil untuk melarikan diri. Israel tidak pernah diperintah untuk berusaha menyerang warga sipil daripada prajurit, sebagaimana dijumpai dalam terorisme modern. Bangsa Israel sering diperingatkan bahwa perintah untuk menyerang didasari olek kefasikan musuh mereka, bukan kebaikan Israel sendiri (Ulangan 9:4-6). Alkitab mengecam keras pertumpahan darah orang yang tak bersalah. Berulang kali, Alkitab mengecam mereka yang menggunakan kekerasan terhadap mereka yang tak berdaya dan yang tidak mengganggu (Ulanga 27:25; Amsal 6:16-18). Mereka yang menggunakan taktik terorisme pada umumnya seperti menyerang orang yang tidak ikut berperang atau yang berusaha menciptakan teror juga dikecam (Yeremia 7:6; 19:4; 22:3,17). Bahkan dalam skala kecil sekalipun, mereka yang menggunakan taktik penyergapan untuk membunuh orang yang dibenci harus dianggap sebagai pembunuh (Ulangan 19:11). Tema ini dilanjutkan dalam Perjanjian Baru, dimana umat Kristen secara khusus dilarang menumpahkan darah dalam membela Kristus (Matius 10:52). Upaya menggulingkan atau mempengaruhi pemerintah dengan kekerasan juga tidak diperkenan (Roma 13:1). Sebaliknya, umat Kristen diperintah untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21). Terorisme tidak sejalan dengan ajaran Alkitab. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengecam terorisme. Prinsip berlaku baik bagi negara maupun bagi perorangan. Alkitab mungkin tidak secara khusus melarang konsep terorisme abad ke-21, namun dengan jelas mengecam semua hal terkait dengannya. gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Alkitab tidak membahas topik terorisme secara langsung, sebagaimana kita pahami terorisme pada zaman modern ini. &#8220;Terorisme&#8221; sejati adalah upaya menakuti, membuat terkejut, dan panik populasi yang dibidik melalui penggunaan kekerasan. Tujuan tindakan terorisme adalah memaksa pemerintah atau masyarakat untuk menyepakati permintaan teroris. Dalam kasus tertentu, tidak ada alasan lain selain melakukan pembantaian sebagai hukuman atau balas dendam.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagian besar senjata yang digunakan dalam serangan teror di zaman modern ini belum ada pada zaman Alkitab, seperti peledak, senjata kimia, dan senjata api. Di zaman kuno, berita serangan penyebarannya pelan baik secara lisan maupun tulisan. Terorisme sebagaimana kita kenali pada zaman ini berkembang karena adanya kemampuan menewaskan banyak orang secara tiba-tiba serta penyebaran berita secara cepat &#8211; terutama dengan foto dan video. Kemampuan semacam ini belum ada pada zaman Alkitab dituliskan. Akan tetapi, pernyataan Perjanjian Baru tentang tanggung-jawab bangsa Israel dalam berperang, komentar alkitabiah tentang mereka yang hendak menyerang orang yang tak bersalah, dan moralitas Kristen pada umumnya semuanya mengecam aksi &#8220;terorisme&#8221; yang ada pada zaman ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih besar kemungkinannya bahwa tentara zaman dahulu dengan sengaja menyerang orang yang tak bersalah; ide serangan yang menghindari wanita dan anak kecil terdengar asing di Timur Tengah zaman dahulu. Akan tetapi, Israel diberi peraturan perang khusus yang memanusiakan operasi militernya. Para prajurit diberi pilihan untuk pulang jika mereka baru saja menikah, takut, atau tidak siap berperang. Mereka tidak diperintah untuk bunuh diri dalam peperangan (Ulangan 20:5-8). Israel diperintah untuk menawarkan damai dulu &#8211; dengan himbauan &#8211; kepada sebuah kota sebelum diserang (Ulangan 20:10). Prosedur ini memungkinkan adanya perdamaian, namun adapula kesempatan bagi warga sipil untuk melarikan diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Israel tidak pernah diperintah untuk berusaha menyerang warga sipil daripada prajurit, sebagaimana dijumpai dalam terorisme modern. Bangsa Israel sering diperingatkan bahwa perintah untuk menyerang didasari olek kefasikan musuh mereka, bukan kebaikan Israel sendiri (Ulangan 9:4-6).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alkitab mengecam keras pertumpahan darah orang yang tak bersalah. Berulang kali, Alkitab mengecam mereka yang menggunakan kekerasan terhadap mereka yang tak berdaya dan yang tidak mengganggu (Ulanga 27:25; Amsal 6:16-18). Mereka yang menggunakan taktik terorisme pada umumnya seperti menyerang orang yang tidak ikut berperang atau yang berusaha menciptakan teror juga dikecam (Yeremia 7:6; 19:4; 22:3,17). Bahkan dalam skala kecil sekalipun, mereka yang menggunakan taktik penyergapan untuk membunuh orang yang dibenci harus dianggap sebagai pembunuh (Ulangan 19:11).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tema ini dilanjutkan dalam Perjanjian Baru, dimana umat Kristen secara khusus dilarang menumpahkan darah dalam membela Kristus (Matius 10:52). Upaya menggulingkan atau mempengaruhi pemerintah dengan kekerasan juga tidak diperkenan (Roma 13:1). Sebaliknya, umat Kristen diperintah untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terorisme tidak sejalan dengan ajaran Alkitab. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengecam terorisme. Prinsip berlaku baik bagi negara maupun bagi perorangan. Alkitab mungkin tidak secara khusus melarang konsep terorisme abad ke-21, namun dengan jelas mengecam semua hal terkait dengannya. gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Alkitab tidak membahas topik terorisme secara langsung, sebagaimana kita pahami terorisme pada zaman modern ini. &#8220;Terorisme&#8221; sejati adalah upaya menakuti, membuat terkejut, dan panik populasi yang dibidik melalui penggunaan kekerasan. Tujuan tindakan terorisme adalah memaksa pemerintah atau masyarakat untuk menyepakati permintaan teroris. Dalam kasus tertentu, tidak ada alasan lain selain melakukan pembantaian sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":26773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-44924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":26773,"alt_text":"","caption":"","description":"137786053bcab27f1837e11cf2c1270b","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/kepala-kontraterorisme-malaysia-gerombolan-serigala-isis-di-malaysia-teradikalisasi-anggota-isis-asal-indonesia_5cdaf3f8edf23.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/kepala-kontraterorisme-malaysia-gerombolan-serigala-isis-di-malaysia-teradikalisasi-anggota-isis-asal-indonesia_5cdaf3f8edf23.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/kepala-kontraterorisme-malaysia-gerombolan-serigala-isis-di-malaysia-teradikalisasi-anggota-isis-asal-indonesia_5cdaf3f8edf23.jpeg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/kepala-kontraterorisme-malaysia-gerombolan-serigala-isis-di-malaysia-teradikalisasi-anggota-isis-asal-indonesia_5cdaf3f8edf23.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2272","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44924"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44924\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}