{"id":45027,"date":"2021-03-14T09:21:00","date_gmt":"2021-03-14T02:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=45027"},"modified":"2021-02-13T16:20:05","modified_gmt":"2021-02-13T09:20:05","slug":"apakah-yang-dimaksud-oleh-tempat-kudus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-yang-dimaksud-oleh-tempat-kudus\/","title":{"rendered":"Apakah yang dimaksud oleh Tempat Kudus?"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ruangan yang dikenal sebagai Tempat Kudus merupakan ruang yang paling sakral dalam tabernakel Musa dan Bait di Yerusalem. Tempat Kudus ini polanya merupakan kubus sempurna. Di dalamnya terdapat Tabut Perjanjian, pertanda hubungan istimewa Israel dengan Allah. Tempat Kudus ini hanya boleh diakses oleh imam besar bangsa Israel. Setahun sekali, pada Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur), imam besar diizinkan masuk ke dalam tempat itu untuk membakar ukupan dan memercikkan darah hewan kurban pada tutup pendamaian Tabut Perjanjian. Dengan demikian, imam besar mengadakan pendamaian atas dosanya pribadi serta dosa bangsanya. Tempat Kudus dipisahkan dari kemah suci \/ bait oleh sebuah tabir raksasa yang terbuat dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, dan lenan halus yang dipintal benangnya dan ditenun dengan gambar kerub. Allah berjanji bahwa Ia akan hadir di Tempat Kudus (Imam 16:2), sehingga tabir diperlukan. Ada sebuah pembatas antara manusia dengan Allah. Kekudusan Allah tidak boleh dijumpai oleh siapapun selain imam besar, dan itupun hanya sekali setahun. Mata Allah &quot;terlalu suci untuk melihat kejahatan&quot; (Habakuk 1:13), dan Ia tidak dapat mentolerir dosa. Tabir dan berbagai ritual rumit yang harus dilakukan imam besar menjadi peringatan bahwa manusia tidak dapat memasuki hadirat Allah yang hebat seenaknya sendiri. Sebelum imam besar memasuki Tempat Kudus pada Hari Pendamaian, ia harus membasuh dirinya, mengenakan pakaian khusus, membawa ukupan sehingga pandangannya akan Allah secara langsung ditutupi oleh asap, dan ia wajib membawa darah kurban untuk mendamaikan dosa (Keluaran 28; Imamat 16; Ibrani 9:7). Pentingnya Tempat Kudus bagi umat Kristen ditemukan dalam peristiwa yang terjadi seputar penyaliban Kristus. Ketika Yesus meninggal, ada sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi: &quot;Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah&quot; (Matius 27:50-51). Tabir Bait Suci tidak dirobek oleh manusia. Peristiwa supranatural ini Allah lakukan demi menekankan sebuah poin: oleh karena kematian Kristus di atas salib, manusia sudah tidak lagi terpisah dari Allah. Sistem perbaitan dalam Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi karena Perjanjian Baru telah menggantikannya. Kita sudah tidak memerlukan bantuan imam melakukan ritual kurban sekali setahun bagi kita. Tubuh Kristus &quot;robek&quot; di atas salib, sama seperti tabir robek di dalam bait, dan sekarang kita mempunyai akses pada Allah melalui Yesus: &quot;...oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri&quot; (Ibrani 10:19-20). Pengurbanan Kristus yang sekali untuk selamanya telah menghapus syarat kurban tahunan, yang secara hakekatnya tidak dapat menghilangkan dosa (Ibrani 10:11). Sistem kurban Perjanjian Lama hanya berupa bayangan akan kurban sempurna yang akan datang, yakni Anak Domba Allah, yang dikurbankan bagi dosa dunia (Yohanes 1:29). Tempat Kudus, kehadiran Allah di dunia, sekarang terbuka bagi siapapun yang beriman pada Kristus. Dimana, sebelumnya, ada sebuah penghalang yang dijaga oleh para kerub, Allah telah membuka jalan dengan darah Putra-Nya.\u00a0 (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ruangan yang dikenal sebagai Tempat Kudus merupakan ruang yang paling sakral dalam tabernakel Musa dan Bait di Yerusalem. Tempat Kudus ini polanya merupakan kubus sempurna. Di dalamnya terdapat Tabut Perjanjian, pertanda hubungan istimewa Israel dengan Allah. Tempat Kudus ini hanya boleh diakses oleh imam besar bangsa Israel. Setahun sekali, pada Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur), imam besar diizinkan masuk ke dalam tempat itu untuk membakar ukupan dan memercikkan darah hewan kurban pada tutup pendamaian Tabut Perjanjian. Dengan demikian, imam besar mengadakan pendamaian atas dosanya pribadi serta dosa bangsanya. Tempat Kudus dipisahkan dari kemah suci \/ bait oleh sebuah tabir raksasa yang terbuat dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, dan lenan halus yang dipintal benangnya dan ditenun dengan gambar kerub.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Allah berjanji bahwa Ia akan hadir di Tempat Kudus (Imam 16:2), sehingga tabir diperlukan. Ada sebuah pembatas antara manusia dengan Allah. Kekudusan Allah tidak boleh dijumpai oleh siapapun selain imam besar, dan itupun hanya sekali setahun. Mata Allah &#8220;terlalu suci untuk melihat kejahatan&#8221; (Habakuk 1:13), dan Ia tidak dapat mentolerir dosa. Tabir dan berbagai ritual rumit yang harus dilakukan imam besar menjadi peringatan bahwa manusia tidak dapat memasuki hadirat Allah yang hebat seenaknya sendiri. Sebelum imam besar memasuki Tempat Kudus pada Hari Pendamaian, ia harus membasuh dirinya, mengenakan pakaian khusus, membawa ukupan sehingga pandangannya akan Allah secara langsung ditutupi oleh asap, dan ia wajib membawa darah kurban untuk mendamaikan dosa (Keluaran 28; Imamat 16; Ibrani 9:7).<\/p>\n<p>Pentingnya Tempat Kudus bagi umat Kristen ditemukan dalam peristiwa yang terjadi seputar penyaliban Kristus. Ketika Yesus meninggal, ada sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi: &#8220;Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah&#8221; (Matius 27:50-51). Tabir Bait Suci tidak dirobek oleh manusia. Peristiwa supranatural ini Allah lakukan demi menekankan sebuah poin: oleh karena kematian Kristus di atas salib, manusia sudah tidak lagi terpisah dari Allah. Sistem perbaitan dalam Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi karena Perjanjian Baru telah menggantikannya. Kita sudah tidak memerlukan bantuan imam melakukan ritual kurban sekali setahun bagi kita. Tubuh Kristus &#8220;robek&#8221; di atas salib, sama seperti tabir robek di dalam bait, dan sekarang kita mempunyai akses pada Allah melalui Yesus: &#8220;&#8230;oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri&#8221; (Ibrani 10:19-20).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengurbanan Kristus yang sekali untuk selamanya telah menghapus syarat kurban tahunan, yang secara hakekatnya tidak dapat menghilangkan dosa (Ibrani 10:11). Sistem kurban Perjanjian Lama hanya berupa bayangan akan kurban sempurna yang akan datang, yakni Anak Domba Allah, yang dikurbankan bagi dosa dunia (Yohanes 1:29). Tempat Kudus, kehadiran Allah di dunia, sekarang terbuka bagi siapapun yang beriman pada Kristus. Dimana, sebelumnya, ada sebuah penghalang yang dijaga oleh para kerub, Allah telah membuka jalan dengan darah Putra-Nya.\u00a0 (gotquestions) <\/p>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ruangan yang dikenal sebagai Tempat Kudus merupakan ruang yang paling sakral dalam tabernakel Musa dan Bait di Yerusalem. Tempat Kudus ini polanya merupakan kubus sempurna. Di dalamnya terdapat Tabut Perjanjian, pertanda hubungan istimewa Israel dengan Allah. Tempat Kudus ini hanya boleh diakses oleh imam besar bangsa Israel. Setahun sekali, pada Hari Raya Pendamaian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"1"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1],"tags":[],"class_list":["post-45027","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab"],"better_featured_image":{"id":39826,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=768%2C341&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/question_mark.png?fit=900%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2085","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45027","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45027"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45027\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45027"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45027"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45027"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}