{"id":45041,"date":"2020-03-28T17:10:28","date_gmt":"2020-03-28T10:10:28","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=45041"},"modified":"2020-04-24T13:21:54","modified_gmt":"2020-04-24T06:21:54","slug":"apakah-bintang-daud-dan-apakah-simbol-itu-alkitabiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-bintang-daud-dan-apakah-simbol-itu-alkitabiah\/","title":{"rendered":"Apakah Bintang Daud dan apakah simbol itu alkitabiah?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Di dalam Alkitab tidak terdapat referensi rujukan untuk Bintang (atau perisai) Daud. Ada beberapa cerita para rabbi yang berusaha menjelaskan asal mula Bintang Daud. Ada yang berkata bahwa bintang itu diambil dari bentuk perisai Raja Daud, atau sebagai simbol di atas cincin Raja Salomo, atau sebagai ciptaan Bar Kokhba, seorang pemimpin Yahudi yang melancarkan pemberontakan Bar Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132. Mekubbalim (pengikut aliran Kabbala) mengklaim bahwa lambang ini mempunyai kekuatan gaib. Namun, semua klaim ini tidak didukung secara khusus oleh penemuan atau rekor bersejarah. Lambang bintang ini terdiri dari dua bentuk segitiga yang berpapasan: satunya berorientasi ke atas ke arah Allah, sedangkan satunya berorientasi ke bawah kepada manusia, yang melambangkan sebuah hubungan antara keduanya \u2014 &quot;saling berliputnya kedua alam tersebut&quot; (sumber: Franz Rosenzweig, Star of Redemption, 1912). Ke-enam ujungnya disebut Rosenzweig mewakilkan dua tritunggal: penciptaan, pewahyuan, and keselamatan, bersama dengan Allah, Israel, dan kalangan non-Yahudi. Eder menarik kesimpulan bahwa ke-enam ujung itu mewakilkan enam aspek Roh Allah yang dijumpai dalam Yesaya 11:2 (Eder, Star of David, hal.73). Aliran Kabbala mengajarkan bahwa ke-enam ujung itu berbicara tentang kedaulatan Allah (utara, selatan, timur, barat, atas, dan bawah). Lambang bintang ini mempunyai dua belas garis di sekelilingnya, yang kemungkinan mewakilkan ke-12 Suku Israel. Penemuan arkeologis lambang bintang tersebut yang paling dini ditemukan pada batu nisan seorang Yahudi di Tarentum, Italia, yang diperkirakan dari abad ke-3. Lambang ini ditemukan pada tembok sinagoga yang didirikan pada abad ke-6 di dalam perbatasan Israel purba. Lambang ini tidak digunakan secara teratur sampai ketika para orang Yahudi yang tinggal di Prague pada abad ke-17 mengadopsinya dan selanjutnya oleh gerakan Zionis pada tahun 1897. Para Nazi dari Jerman menggunakan lambang ini untuk menandai orang Yahudi yang hidup di negara mereka, dan setelah cukup lama diperdebatkan, lambang ini digunakan di atas bendera Israel yang baru pada tahun 1948. Sebagai akibat, lambang Bintang Daud ini semakin dikenal mewakilkan Yudaisme, Israel, dan Zionisme. (gotquestions)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; Di dalam Alkitab tidak terdapat referensi rujukan untuk Bintang (atau perisai) Daud. Ada beberapa cerita para rabbi yang berusaha menjelaskan asal mula Bintang Daud. Ada yang berkata bahwa bintang itu diambil dari bentuk perisai Raja Daud, atau sebagai simbol di atas cincin Raja Salomo, atau sebagai ciptaan Bar Kokhba, seorang pemimpin Yahudi yang melancarkan pemberontakan Bar Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132. Mekubbalim (pengikut aliran Kabbala) mengklaim bahwa lambang ini mempunyai kekuatan gaib. Namun, semua klaim ini tidak didukung secara khusus oleh penemuan atau rekor bersejarah.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lambang bintang ini terdiri dari dua bentuk segitiga yang berpapasan: satunya berorientasi ke atas ke arah Allah, sedangkan satunya berorientasi ke bawah kepada manusia, yang melambangkan sebuah hubungan antara keduanya \u2014 &#8220;saling berliputnya kedua alam tersebut&#8221; (sumber: Franz Rosenzweig, <i>Star of Redemption<\/i>, 1912). Ke-enam ujungnya disebut Rosenzweig mewakilkan dua tritunggal: penciptaan, pewahyuan, and keselamatan, bersama dengan Allah, Israel, dan kalangan non-Yahudi. Eder menarik kesimpulan bahwa ke-enam ujung itu mewakilkan enam aspek Roh Allah yang dijumpai dalam Yesaya 11:2 (Eder, <i>Star of David<\/i>, hal.73). Aliran Kabbala mengajarkan bahwa ke-enam ujung itu berbicara tentang kedaulatan Allah (utara, selatan, timur, barat, atas, dan bawah). Lambang bintang ini mempunyai dua belas garis di sekelilingnya, yang kemungkinan mewakilkan ke-12 Suku Israel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penemuan arkeologis lambang bintang tersebut yang paling dini ditemukan pada batu nisan seorang Yahudi di Tarentum, Italia, yang diperkirakan dari abad ke-3. Lambang ini ditemukan pada tembok sinagoga yang didirikan pada abad ke-6 di dalam perbatasan Israel purba. Lambang ini tidak digunakan secara teratur sampai ketika para orang Yahudi yang tinggal di Prague pada abad ke-17 mengadopsinya dan selanjutnya oleh gerakan Zionis pada tahun 1897. Para Nazi dari Jerman menggunakan lambang ini untuk menandai orang Yahudi yang hidup di negara mereka, dan setelah cukup lama diperdebatkan, lambang ini digunakan di atas bendera Israel yang baru pada tahun 1948. Sebagai akibat, lambang Bintang Daud ini semakin dikenal mewakilkan Yudaisme, Israel, dan Zionisme. (gotquestions)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Di dalam Alkitab tidak terdapat referensi rujukan untuk Bintang (atau perisai) Daud. Ada beberapa cerita para rabbi yang berusaha menjelaskan asal mula Bintang Daud. Ada yang berkata bahwa bintang itu diambil dari bentuk perisai Raja Daud, atau sebagai simbol di atas cincin Raja Salomo, atau sebagai ciptaan Bar Kokhba, seorang pemimpin Yahudi yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":37499,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","format":"standard","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"134"},"jnews_override_bookmark_settings":{"override_bookmark_button":"0","override_show_bookmark_button":"0"},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,1,3],"tags":[],"class_list":["post-45041","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-belajar-alkitab","category-umum"],"better_featured_image":{"id":37499,"alt_text":"","caption":"","description":"be96292b4d39ceb7d131d369320923ee","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/bintang-daud-perisai-daud-magen-david_5e359dc88b109.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/akitab_big.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/akitab_big.jpg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/bintang-daud-perisai-daud-magen-david_5e359dc88b109.png?fit=586%2C457&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":1,"views":"4142","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45041\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}