{"id":45484,"date":"2020-04-26T11:17:12","date_gmt":"2020-04-26T04:17:12","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=45484"},"modified":"2020-04-24T09:18:59","modified_gmt":"2020-04-24T02:18:59","slug":"jihad-khilafah-dan-konsep-lain-yang-banyak-digunakan-menanamkan-bibit-intoleransi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jihad-khilafah-dan-konsep-lain-yang-banyak-digunakan-menanamkan-bibit-intoleransi\/","title":{"rendered":"Jihad, khilafah, dan konsep lain yang banyak digunakan menanamkan bibit intoleransi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Makna &#039;jihad&#039; sudah lama digunakan untuk menjadi pembenaran aksi terorisme, karenanya umat Islam diserukan untuk merebut kembali dan melaksanakan jihad yang sesungguhnya, kata Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, dalam ceramah salat tarawih pertama di Masjid Istiqlal. &quot;Jihad itu sesungguhnya bukan untuk mematikan orang, tapi jihad untuk menghidupkan orang,&quot; ujar Nasarudin usai salat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu malam. &quot;Menghidupkan jiwa-jiwa yang kering, menghidupkan perekonomian umat yang lemah, menghidupkan fakir miskin menjadi bersemangat hidup. Jihad itu menghidupkan rasa optimisme di masyarakat. Jihad bukan menciptakan kengerian, ketakutan, atau kecemasan,&quot; lanjut dia. Keterlibatan perempuan yang membawa anak-anak dalam rangkaian bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya menandai adanya perubahan sudut pandang pada perempuan pendukung radikalisme untuk terlibat langsung dalam aksi dan mereka melihatnya sebagai bagian dari jihad. Tindakan Puji Kuswanti, istri Dita yang melakukan bom bunuh diri dan membawa anak-anak dalam aksinya, menurut Lies Marcoes, &quot;tak lepas dari kerangka soal jihad dan pengorbanan perempuan&quot;. Namun, di halaman Facebook BBC Indonesia, beberapa pembaca berkomentar akan definisi jihad versi mereka, dan itu tidak terkait dengan kekerasan. Salah satunya, pembaca Ari Cipta Gunawan, yang memilih untuk mengartikan jihad sebagai, &quot;Belajar, mencari ilmu, berjuang melawan kebodohan.&quot; Pembaca lain, Veronica Erni, mengatakan bahwa, &quot;Jihad itu menurut saya adalah perang melawan hal-hal yang jahat, termasuk kejahatan yang ada dalam diri kita, seperti sifat-sifat jelek kita yang suka marah, sombong, iri hati.&quot; Bagi Aries Ardian, jihad punya banyak arti, &quot;Tapi yang penting bukan aksi bom bunuh diri. Bom bunuh diri apapun alasannya, lokasinya, waktunya...adalah aksi bejad, terkutuk dan laknat.&quot; Sementara itu, Masnunah mengatakan bahwa, &quot;Membahagiakan keluarga juga jihad dalam islam. Apa lagi selalu membimbing keluarga ke arah yang baik&quot; Indah Farida Bachtiar menulis, &quot;Jihad suami adalah bekerja mencari uang untuk keluarga. Jihad istri itu patuh pada suami dan mengurus anak. Jihad anak adalah belajar. Perkataan itu adalah apa yang diajarkan orang tua, kyai, ustaz dan ustazahku. Itulah pentingnya memilih guru yang benar. Jangan sampai terhasut kebencian. Kita diberi otak untuk berpikir mana yang baik dan buruk. Melukai orang lain itu salah dan berdosa.&quot; Pembaca lain, Lucy Carlyle menulis, &quot;terlepas dari apa yang dimaksud sebagai jihad. yang menjadikannya berbahaya adalah berbagai aliran memiliki konteksnya masing-masing terkait pemahaman mereka terkait jihad. Para teroris, somehow, telah menemukan justifikasi terkait konteks mereka mengenai jihad, dus menjustifikasi mereka bahwa bom bunuh diri yang dilakukan, somehow adalah jihad fisabilillah.&quot; &quot;Di situlah bahayanya sebuah kitab suci yg menimbulkan perbedaan &quot;konteks&quot; atau dengan kata lain, menimbulkan multitafsir. terutama dlm hal ini adalah pemaknaan jihad.&quot; Pembaca Rohmat Fauzi menolak penggunaan istilah jihad dalam konteks soal terorisme. &quot;Framing yang jahat untuk jihad, teroris jangan kaitkan dengan agama.&quot; Pembaca Erwin Saputra juga menganggap istilah jihad tidak tepat, &quot;Memang Indonesia ini tempat peperangan ya? Pakai jihad-jihad segala.&quot; Namun, pembaca Shelly Yusvita Siregar berharap, &quot;Semoga semakin banyak ulama serta media menyebarkan berita jihad yang sesuai pedoman islam. Sering-sering disiarkan reguler.&quot; Pemaknaan &#039;jihad&#039; Bagi direktur eksekutif Maarif Institute, Abdullah Darraz, jihad &quot;idealnya adalah konsep yang mulia&quot;. &quot;Bisa dimaknai beragam. Memahamkan orang tentang nilai-nilai Alquran yang baik itu bagian dari jihad, belajar itu bagian dari jihad, menyingkirkan duri dari jalan itu bagian dari jihad. Sementara sekarang ini jihad dimaknai dengan sempit oleh sebagian orang dalam bentuk peperangan, memerangi orang-orang kafir,&quot; kata Darraz. Dia merujuk pada riset yang dilakukan oleh LSI dan Wahid Foundation pada 2016 yang salah satunya menanyakan, seberapa setujukah Anda pada konsep jihad yang dimaknai sebagai perang mengangkat senjata terhadap orang kafir? Survei tersebut melibatkan 1.530 responden yang tersebar di 34 provinsi dan menemukan bahwa 33% dari sekitar 1.600 responden menyetujui konsep jihad tersebut. Sementara itu, survei serupa pada 2017 yang kemudian diluncurkan pada 2018 yang dilakukan oleh lembaga yang sama juga menemukan bahwa dari sekitar 1.500 responden, ada sekitar 13% responden yang pro-jihad kekerasan, sementara 49,3% netral, dan anti-jihad kekerasan 37,5%. &quot;Dalam konteks jihad, ada ayatnya, tapi harus spesifik, bahwa itu dalam masa-masa perang. Jihad bisa diartikan ketika ada peperangan dari luar, jadi membela diri, bukan ofensif. Sekarang nggak ada perang, nggak ada apa-apa, kok bikin bom bunuh diri dan dibilang jihad? Ini kan suatu kekeliruan. Kekeliruan ini sudah betul-betul terinternalisasi,&quot; kata Darraz. Jihad, menurut Darraz, bukan satu-satunya istilah yang digunakan untuk menyebarkan perilaku intoleran atau radikal. Pada 2016, mereka mengumpulkan ulama-ulama &quot;progresif&quot; dan mengumpulkan istilah atau doktrin yang kemudian &quot;sering disalahtafsirkan dan disalahpahami oleh kelompok teror&quot; untuk kemudian didefinisikan ulang. Istilah lain yang termasuk sering digunakan adalah khilafah, al wala wal bara, yang menurut Darraz sering disalahartikan sebagai fanatisme buta. &quot;Di kalangan kelompok ekstremis, ungkapan ini terkenal, artinya kecintaan pada kelompoknya secara membabi-buta dan penolakan terhadap orang di luar kelompoknya secara membabi-buta juga, jadi antipati terhadap orang yang agamanya lain&quot; kata Darraz. Definisi &#039;hijrah&#039; juga menurutnya adalah &quot;dari keadaan tidak baik menjadi keadaan yang lebih baik&quot;, selain juga istilah amar maruf nahi munkar. &quot;Banyak doktrin-doktrin yang kami coba reclaim sesuai makna aslinya. Makna aslinya itu tidak sesempit itu,&quot; kata Darraz. Persaingan ide Menurut Darraz, upaya pendefinisian ulang ini seharusnya juga terjadi di kampus-kampus sebagai pasar ideologi. &quot;Di dunia pendidikan, di sekolah, harus ada kontestasi ide. Oke, misalnya kita tidak bisa melarang ada kelompok-kelompok (radikal) ini bermain di sekolah, tapi sekolah harus memberikan ruang untuk narasi lain. Ada kiri, kanan, moderat. Di kampus-kampus umum, karena diskursus keagamaan kurang, jadi apa yang diajarkan langsung diterima, ditelan bulat-bulat. itu problem kita hari ini,&quot; kata Darraz. Sebelumnya, peneliti radikalisme dari Universitas Gadjah Mada, Nazib Azca mengatakan bahwa meski pelaku terorisme tidak eksklusif dan tidak melekat pada agama tertentu, namun agama memiliki dimensi yang ambigu. &quot;Di satu sisi dia mengajarkan damai, rahman rahim, pengampunan, cinta kasih, tapi agama punya sisi dimensi yang memuat unsur-unsur yang bisa ditafsirkan sebagai katakanlah perintah untuk menegakkan kebenaran, perintah untuk menegakkan keadilan, perintah untuk menegakkan sesuatu yang dianggap baik secara moral dengan cara-cara yang keras. Ini adalah tafsir,&quot; kata Najib. Menurut Najib, karena karakter ambivalensi dari kitab suci itu, maka ada umat-umat yang menafsirkan ayat-ayat suci dengan perintah menegakkan kebenaran sebagai justifikasi atas perilaku teror. (BBC)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><\/p>\n<p class=\"story-body__introduction\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; Makna &#8216;jihad&#8217; sudah lama digunakan untuk menjadi pembenaran aksi terorisme, karenanya umat Islam diserukan untuk merebut kembali dan melaksanakan jihad yang sesungguhnya, kata Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, dalam ceramah salat tarawih pertama di Masjid Istiqlal.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jihad itu sesungguhnya bukan untuk mematikan orang, tapi jihad untuk menghidupkan orang,&#8221; ujar Nasarudin usai salat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Menghidupkan jiwa-jiwa yang kering, menghidupkan perekonomian umat yang lemah, menghidupkan fakir miskin menjadi bersemangat hidup. Jihad itu menghidupkan rasa optimisme di masyarakat. Jihad bukan menciptakan kengerian, ketakutan, atau kecemasan,&#8221; lanjut dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keterlibatan perempuan yang membawa anak-anak dalam rangkaian bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya menandai adanya perubahan sudut pandang pada perempuan pendukung radikalisme untuk terlibat langsung dalam aksi dan mereka melihatnya sebagai bagian dari jihad.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tindakan Puji Kuswanti, istri Dita yang melakukan bom bunuh diri dan membawa anak-anak dalam aksinya, menurut Lies Marcoes, &#8220;tak lepas dari kerangka soal jihad dan pengorbanan perempuan&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, di halaman Facebook BBC Indonesia, beberapa pembaca berkomentar akan definisi jihad versi mereka, dan itu tidak terkait dengan kekerasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satunya, <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160549586120434&amp;reply_comment_id=10160549589225434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">pembaca Ari Cipta Gunawan<\/a>, yang memilih untuk mengartikan jihad sebagai, &#8220;Belajar, mencari ilmu, berjuang melawan kebodohan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembaca lain, <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160549586120434&amp;reply_comment_id=10160549589380434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">Veronica Erni<\/a>, mengatakan bahwa, &#8220;Jihad itu menurut saya adalah perang melawan hal-hal yang jahat, termasuk kejahatan yang ada dalam diri kita, seperti sifat-sifat jelek kita yang suka marah, sombong, iri hati.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160549586120434&amp;reply_comment_id=10160549592875434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">Aries Ardian<\/a>, jihad punya banyak arti, &#8220;Tapi yang penting bukan aksi bom bunuh diri. Bom bunuh diri apapun alasannya, lokasinya, waktunya&#8230;adalah aksi bejad, terkutuk dan laknat.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160549586120434&amp;reply_comment_id=10160549889960434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">Masnunah mengatakan<\/a> bahwa, &#8220;Membahagiakan keluarga juga jihad dalam islam. Apa lagi selalu membimbing keluarga ke arah yang baik&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160546500560434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R%22%7D\">Indah Farida Bachtiar<\/a> menulis, &#8220;Jihad suami adalah bekerja mencari uang untuk keluarga. Jihad istri itu patuh pada suami dan mengurus anak. Jihad anak adalah belajar. Perkataan itu adalah apa yang diajarkan orang tua, kyai, ustaz dan ustazahku. Itulah pentingnya memilih guru yang benar. Jangan sampai terhasut kebencian. Kita diberi otak untuk berpikir mana yang baik dan buruk. Melukai orang lain itu salah dan berdosa.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembaca lain, <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160549586120434&amp;reply_comment_id=10160549700550434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">Lucy Carlyle menulis<\/a>, &#8220;terlepas dari apa yang dimaksud sebagai jihad. yang menjadikannya berbahaya adalah berbagai aliran memiliki konteksnya masing-masing terkait pemahaman mereka terkait jihad. Para teroris, <i>somehow<\/i>, telah menemukan justifikasi terkait konteks mereka mengenai jihad, dus menjustifikasi mereka bahwa bom bunuh diri yang dilakukan, <i>somehow<\/i> adalah jihad fisabilillah.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Di situlah bahayanya sebuah kitab suci yg menimbulkan perbedaan &#8220;konteks&#8221; atau dengan kata lain, menimbulkan multitafsir. terutama dlm hal ini adalah pemaknaan jihad.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembaca <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160552660975434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">Rohmat Fauzi menolak<\/a> penggunaan istilah jihad dalam konteks soal terorisme. &#8220;Framing yang jahat untuk jihad, teroris jangan kaitkan dengan agama.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembaca <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160546557880434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">Erwin Saputra<\/a> juga menganggap istilah jihad tidak tepat, &#8220;Memang Indonesia ini tempat peperangan ya? Pakai jihad-jihad segala.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, pembaca <a class=\"story-body__link-external\" href=\"https:\/\/www.facebook.com\/bbc.indonesia\/posts\/10160546387405434?comment_id=10160549629025434&amp;comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D\">Shelly Yusvita Siregar berharap<\/a>, &#8220;Semoga semakin banyak ulama serta media menyebarkan berita jihad yang sesuai pedoman islam. Sering-sering disiarkan reguler.&#8221;<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\" style=\"text-align: justify;\">Pemaknaan &#8216;jihad&#8217;<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi direktur eksekutif Maarif Institute, Abdullah Darraz, jihad &#8220;idealnya adalah konsep yang mulia&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bisa dimaknai beragam. Memahamkan orang tentang nilai-nilai Alquran yang baik itu bagian dari jihad, belajar itu bagian dari jihad, menyingkirkan duri dari jalan itu bagian dari jihad. Sementara sekarang ini jihad dimaknai dengan sempit oleh sebagian orang dalam bentuk peperangan, memerangi orang-orang kafir,&#8221; kata Darraz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia merujuk pada riset yang dilakukan oleh LSI dan Wahid Foundation pada 2016 yang salah satunya menanyakan, seberapa setujukah Anda pada konsep jihad yang dimaknai sebagai perang mengangkat senjata terhadap orang kafir?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Survei tersebut melibatkan 1.530 responden yang tersebar di 34 provinsi dan menemukan bahwa 33% dari sekitar 1.600 responden menyetujui konsep jihad tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, survei serupa pada 2017 yang kemudian diluncurkan pada 2018 yang dilakukan oleh lembaga yang sama juga menemukan bahwa dari sekitar 1.500 responden, ada sekitar 13% responden yang pro-jihad kekerasan, sementara 49,3% netral, dan anti-jihad kekerasan 37,5%.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dalam konteks jihad, ada ayatnya, tapi harus spesifik, bahwa itu dalam masa-masa perang. Jihad bisa diartikan ketika ada peperangan dari luar, jadi membela diri, bukan ofensif. Sekarang nggak ada perang, nggak ada apa-apa, kok bikin bom bunuh diri dan dibilang jihad? Ini kan suatu kekeliruan. Kekeliruan ini sudah betul-betul terinternalisasi,&#8221; kata Darraz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jihad, menurut Darraz, bukan satu-satunya istilah yang digunakan untuk menyebarkan perilaku intoleran atau radikal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada 2016, mereka mengumpulkan ulama-ulama &#8220;progresif&#8221; dan mengumpulkan istilah atau doktrin yang kemudian &#8220;sering disalahtafsirkan dan disalahpahami oleh kelompok teror&#8221; untuk kemudian didefinisikan ulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istilah lain yang termasuk sering digunakan adalah khilafah, al wala wal bara, yang menurut Darraz sering disalahartikan sebagai fanatisme buta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Di kalangan kelompok ekstremis, ungkapan ini terkenal, artinya kecintaan pada kelompoknya secara membabi-buta dan penolakan terhadap orang di luar kelompoknya secara membabi-buta juga, jadi antipati terhadap orang yang agamanya lain&#8221; kata Darraz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Definisi &#8216;hijrah&#8217; juga menurutnya adalah &#8220;dari keadaan tidak baik menjadi keadaan yang lebih baik&#8221;, selain juga istilah amar maruf nahi munkar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Banyak doktrin-doktrin yang kami coba reclaim sesuai makna aslinya. Makna aslinya itu tidak sesempit itu,&#8221; kata Darraz.<\/p>\n<h2 class=\"story-body__crosshead\" style=\"text-align: justify;\">Persaingan ide<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Darraz, upaya pendefinisian ulang ini seharusnya juga terjadi di kampus-kampus sebagai pasar ideologi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Di dunia pendidikan, di sekolah, harus ada kontestasi ide. Oke, misalnya kita tidak bisa melarang ada kelompok-kelompok (radikal) ini bermain di sekolah, tapi sekolah harus memberikan ruang untuk narasi lain. Ada kiri, kanan, moderat. Di kampus-kampus umum, karena diskursus keagamaan kurang, jadi apa yang diajarkan langsung diterima, ditelan bulat-bulat. itu problem kita hari ini,&#8221; kata Darraz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, peneliti radikalisme dari Universitas Gadjah Mada, Nazib Azca mengatakan bahwa meski pelaku terorisme tidak eksklusif dan tidak melekat pada agama tertentu, namun agama memiliki dimensi yang ambigu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Di satu sisi dia mengajarkan damai, rahman rahim, pengampunan, cinta kasih, tapi agama punya sisi dimensi yang memuat unsur-unsur yang bisa ditafsirkan sebagai katakanlah perintah untuk menegakkan kebenaran, perintah untuk menegakkan keadilan, perintah untuk menegakkan sesuatu yang dianggap baik secara moral dengan cara-cara yang keras. Ini adalah tafsir,&#8221; kata Najib.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Najib, karena karakter ambivalensi dari kitab suci itu, maka ada umat-umat yang menafsirkan ayat-ayat suci dengan perintah menegakkan kebenaran sebagai justifikasi atas perilaku teror. (BBC)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Makna &#8216;jihad&#8217; sudah lama digunakan untuk menjadi pembenaran aksi terorisme, karenanya umat Islam diserukan untuk merebut kembali dan melaksanakan jihad yang sesungguhnya, kata Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, dalam ceramah salat tarawih pertama di Masjid Istiqlal. &#8220;Jihad itu sesungguhnya bukan untuk mematikan orang, tapi jihad untuk menghidupkan orang,&#8221; ujar Nasarudin usai salat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45485,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,3],"tags":[178,190],"class_list":["post-45484","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum","tag-intoleransi","tag-jihad"],"better_featured_image":{"id":45485,"alt_text":"","caption":"","description":"a30fc6348f93e650cbcf63d1371c0818","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/jihad-khilafah-dan-konsep-lain-yang-banyak-digunakan-menanamkan-bibit-intoleransi_5e8074e87d9db.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/jihad-khilafah-dan-konsep-lain-yang-banyak-digunakan-menanamkan-bibit-intoleransi_5e8074e87d9db.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/jihad-khilafah-dan-konsep-lain-yang-banyak-digunakan-menanamkan-bibit-intoleransi_5e8074e87d9db.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/jihad-khilafah-dan-konsep-lain-yang-banyak-digunakan-menanamkan-bibit-intoleransi_5e8074e87d9db.jpeg?fit=320%2C180&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1414","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45484","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45484"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45484\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}