{"id":45681,"date":"2020-04-16T17:06:42","date_gmt":"2020-04-16T10:06:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=45681"},"modified":"2020-11-15T11:14:37","modified_gmt":"2020-11-15T04:14:37","slug":"apakah-jaminan-keselamatan-itu-menjadi-izin-untuk-berdosa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-jaminan-keselamatan-itu-menjadi-izin-untuk-berdosa\/","title":{"rendered":"Apakah jaminan keselamatan itu menjadi \u201dizin\u201d untuk berdosa?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id-Pertanyaan: Apakah jaminan keselamatan itu menjadi \u201dizin\u201d untuk berdosa? Jawaban: Keberatan paling umum terhadap doktrin jaminan keselamatan itu terfokus pada anggapan doktrin ini mempromosikan ide bahwa orang-orang Kristen boleh hidup semaunya namun tetap diselamatkan. Walaupun secara \u201dteknis\u201d hal ini mengandung kebenaran, ini bukan \u201desensi\u201d dari jaminan keselamatan. Seseorang yang telah benar-benar menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya \u201ddapat\u201d hidup dalam dosa, namun dia tidak \u201dakan\u201d berbuat demikian. Kita perlu menarik garis tegas antara bagaimana seorang Kristen menjalani hidupnya \u2013 dengan apa yang perlu dilakukan seseorang untuk diselamatkan. Alkitab sangat jelas menyatakan keselamatan itu semata-mata karena anugerah melalui iman di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:16; Efesus 2:8-9; Yohanes 14:6). Seseorang diselamatkan melalui iman \u2013 hanya oleh iman. Pada saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh; dia diselamatkan dan keselamatannya terjamin. Keselamatan tidak diterima dengan iman, yang kemudian harus dipertahankan dengan perbuatan. Rasul Paulus mengupas ini dalam Galatia 3:3, \u201cAdakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?\u201d Jika kita diselamatkan melalui iman, maka keselamatan kita juga dipelihara dan dijamin dengan iman. Kita tidak dapat menghasilkan keselamatan dengan kekuatan sendiri. Begitu juga, tidak ada cara untuk memelihara keselamatan itu. Hanya Allah sendiri yang menjaga keselamatan kita (Yudas 24). Tangan Allah memegang kita dengan teguh dalam genggamanNya (Yohanes 10:28-29), sehingga tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Roma 8:38-39). Semua penolakan terhadap jaminan keselamatan pada dasarnya dikarenakan adanya anggapan bahwa kita perlu menjaga keselamatan kita melalui perbuatan baik kita. Ini sama sekali bertolak belakang dengan keselamatan berdasarkan anugerah. Kita diselamatkan karena jasa-jasa Kristus, bukan karena diri kita (Roma 4:3-8). Menyatakan bahwa kita perlu menaati Firman Tuhan atau hidup suci demi mempertahankan keselamatan kita, sama dengan mengatakan bahwa kematian Yesus tidak cukup melunasi hutang dosa kita. Kematian Yesus itu sungguh-sungguh cukup untuk melunasi semua hutang dosa kita \u2013 dulu, sekarang dan akan datang, sebelum dan sesudah diselamatkan (Roma 5:8; 1 Korintus 15:3; 2 Korintus 5:21). Setelah mengatakan semua ini, apakah ini berarti bahwa orang Kristen dapat hidup semaunya dan tetap diselamatkan? Pada dasarnya, ini adalah pertanyaan yang bersifat mengandai-andai, karena Alkitab jelas mengatakan bahwa orang Kristen yang sejati tidak akan hidup \u201dsemau mereka.\u201d Orang Kristen itu ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17). Orang Kristen menyatakan buah Roh dalam kehidupan mereka (Galatia 5:22-23), bukan perbuatan daging (Galatia 5:19-21). Melalui 1 Yohanes 3:6-9, Yohanes dengan gamblang mengatakan bahwa orang Kristen yang sejati tidak akan terus menerus hidup dalam dosa. Menanggapi tuduhan bahwa kasih karunia menganjurkan seseorang berbuat dosa, Rasul Paulus mengatakan, \u201cJika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?\u201d (Roma 6:1-2). Jaminan keselamatan bukan \u201cizin\u201d untuk berdosa. Sebaliknya, itu adalah garansi, karena manusia bisa percaya bahwa kasih Allah kepada mereka itu terjamin. Mengetahui dan memahami hadiah keselamatan yang begitu besar tidak akan menghasilkan \u201dizin\u201d untuk berdosa. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tahu harga yang harus dibayar Yesus Kristus dapat terus menerus hidup dalam dosa (Roma 6:15-23)? Bagaimana mungkin seorang yang memahami kasih Tuhan yang tak bersyarat dan terjamin bagi mereka yang percaya, dapat mengambil kasih itu dan membuangnya ke wajah Allah? Orang seperti ini bukan membuktikan bahwa jaminan keselamatan memberinya izin untuk berdosa, namun justru membuktikan bahwa dia belum betul-betul mengalami keselamatan dalam Yesus Kristus. \u201cKarena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia\u201d (1 Yohanes 3:6).\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id<\/strong>&#8211;<strong>Pertanyaan: Apakah jaminan keselamatan itu menjadi \u201dizin\u201d untuk berdosa?<\/p>\n<p>Jawaban: <\/strong>Keberatan paling umum terhadap doktrin jaminan keselamatan itu terfokus pada anggapan doktrin ini mempromosikan ide bahwa orang-orang Kristen boleh hidup semaunya namun tetap diselamatkan. Walaupun secara \u201dteknis\u201d hal ini mengandung kebenaran, ini bukan \u201desensi\u201d dari jaminan keselamatan.<\/p>\n<p>Seseorang yang telah benar-benar menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya \u201ddapat\u201d hidup dalam dosa, namun dia tidak \u201dakan\u201d berbuat demikian. Kita perlu menarik garis tegas antara bagaimana seorang Kristen menjalani hidupnya \u2013 dengan apa yang perlu dilakukan seseorang untuk diselamatkan.<\/p>\n<p>Alkitab sangat jelas menyatakan keselamatan itu semata-mata karena anugerah melalui iman di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:16; Efesus 2:8-9; Yohanes 14:6). Seseorang diselamatkan melalui iman \u2013 hanya oleh iman.<\/p>\n<p>Pada saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh; dia diselamatkan dan keselamatannya terjamin. Keselamatan tidak diterima dengan iman, yang kemudian harus dipertahankan dengan perbuatan.<\/p>\n<p>Rasul Paulus mengupas ini dalam Galatia 3:3, \u201cAdakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?\u201d Jika kita diselamatkan melalui iman, maka keselamatan kita juga dipelihara dan dijamin dengan iman.<\/p>\n<p>Kita tidak dapat menghasilkan keselamatan dengan kekuatan sendiri. Begitu juga, tidak ada cara untuk memelihara keselamatan itu. Hanya Allah sendiri yang menjaga keselamatan kita (Yudas 24). Tangan Allah memegang kita dengan teguh dalam genggamanNya (Yohanes 10:28-29), sehingga tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Roma 8:38-39).<\/p>\n<p>Semua penolakan terhadap jaminan keselamatan pada dasarnya dikarenakan adanya anggapan bahwa kita perlu menjaga keselamatan kita melalui perbuatan baik kita. Ini sama sekali bertolak belakang dengan keselamatan berdasarkan anugerah.<\/p>\n<p>Kita diselamatkan karena jasa-jasa Kristus, bukan karena diri kita (Roma 4:3-8).<\/p>\n<p>Menyatakan bahwa kita perlu menaati Firman Tuhan atau hidup suci demi mempertahankan keselamatan kita, sama dengan mengatakan bahwa kematian Yesus tidak cukup melunasi hutang dosa kita. Kematian Yesus itu sungguh-sungguh cukup untuk melunasi semua hutang dosa kita \u2013 dulu, sekarang dan akan datang, sebelum dan sesudah diselamatkan (Roma 5:8; 1 Korintus 15:3; 2 Korintus 5:21).<\/p>\n<p>Setelah mengatakan semua ini, apakah ini berarti bahwa orang Kristen dapat hidup semaunya dan tetap diselamatkan? Pada dasarnya, ini adalah pertanyaan yang bersifat mengandai-andai, karena Alkitab jelas mengatakan bahwa orang Kristen yang sejati tidak akan hidup \u201dsemau mereka.\u201d<\/p>\n<p>Orang Kristen itu ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17). Orang Kristen menyatakan buah Roh dalam kehidupan mereka (Galatia 5:22-23), bukan perbuatan daging (Galatia 5:19-21).<\/p>\n<p>Melalui 1 Yohanes 3:6-9, Yohanes dengan gamblang mengatakan bahwa orang Kristen yang sejati tidak akan terus menerus hidup dalam dosa.<\/p>\n<p>Menanggapi tuduhan bahwa kasih karunia menganjurkan seseorang berbuat dosa, Rasul Paulus mengatakan, \u201cJika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?\u201d (Roma 6:1-2).<\/p>\n<p>Jaminan keselamatan bukan \u201cizin\u201d untuk berdosa. Sebaliknya, itu adalah garansi, karena manusia bisa percaya bahwa kasih Allah kepada mereka itu terjamin.<\/p>\n<p>Mengetahui dan memahami hadiah keselamatan yang begitu besar tidak akan menghasilkan \u201dizin\u201d untuk berdosa. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tahu harga yang harus dibayar Yesus Kristus dapat terus menerus hidup dalam dosa (Roma 6:15-23)?<\/p>\n<p>Bagaimana mungkin seorang yang memahami kasih Tuhan yang tak bersyarat dan terjamin bagi mereka yang percaya, dapat mengambil kasih itu dan membuangnya ke wajah Allah?<\/p>\n<p>Orang seperti ini bukan membuktikan bahwa jaminan keselamatan memberinya izin untuk berdosa, namun justru membuktikan bahwa dia belum betul-betul mengalami keselamatan dalam Yesus Kristus. \u201cKarena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia\u201d (1 Yohanes 3:6).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id&#8211;Pertanyaan: Apakah jaminan keselamatan itu menjadi \u201dizin\u201d untuk berdosa? Jawaban: Keberatan paling umum terhadap doktrin jaminan keselamatan itu terfokus pada anggapan doktrin ini mempromosikan ide bahwa orang-orang Kristen boleh hidup semaunya namun tetap diselamatkan. Walaupun secara \u201dteknis\u201d hal ini mengandung kebenaran, ini bukan \u201desensi\u201d dari jaminan keselamatan. Seseorang yang telah benar-benar menerima Yesus Kristus sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32889,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[3],"tags":[8],"class_list":["post-45681","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-dosa"],"better_featured_image":{"id":32889,"alt_text":"","caption":"","description":"414f81d251b50ef67949de634db7c9ca","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/apakah-bapa-meninggalkan-yesus-saat-penyaliban_5df735afb3d6a.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/apakah-bapa-meninggalkan-yesus-saat-penyaliban_5df735afb3d6a.jpeg?fit=375%2C250&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1792","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45681"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45681\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32889"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}