{"id":45689,"date":"2020-04-18T09:02:42","date_gmt":"2020-04-18T02:02:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=45689"},"modified":"2020-04-20T01:05:47","modified_gmt":"2020-04-19T18:05:47","slug":"apakah-keselamatan-hanya-oleh-iman-atau-iman-ditambah-perbuatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/apakah-keselamatan-hanya-oleh-iman-atau-iman-ditambah-perbuatan\/","title":{"rendered":"Apakah keselamatan hanya oleh iman, atau iman ditambah perbuatan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Apakah keselamatan hanya oleh iman, atau iman ditambah perbuatan? Ini mungkin adalah pertanyaan yang paling penting dalam teologi kekristenan. Pertanyaan inilah yang menyebabkan timbulnya Reformasi; perpecahan antara gereja Protestan dan Katolik. Pertanyaan ini menjadi perbedaan utama kekristenan alkitabiah dan ajaran-ajaran sesat. Apakah keselamatan \u201chanya oleh iman\u201d saja atau \u201ciman ditambah perbuatan\u201d? Apakah saya diselamatkan hanya karena percaya kepada Yesus saja, atau saya harus percaya kepada Yesus dan kemudian melakukan hal-hal tertentu? Pertanyaan tentang \u201chanya iman\u201d atau \u201ciman ditambah perbuatan\u201d menjadi makin sulit karena beberapa ayat Alkitab sepertinya saling bertentangan. Bandingkan Roma 3:28, 5:1 dan Galatia 3:24 dengan Yakobus 2:24. Ada beberapa orang yang melihat adanya pertentangan antara konsep Paulus, yang mengajarkan keselamatan hanya oleh iman saja, dengan konsep Yakobus, yang mengajarkan keselamatan oleh iman harus ditambah perbuatan. Kenyataannya, Paulus dan Yakobus sama sekali tidak bertentangan. Satu-satunya pertentangan yang dimaksud adalah mengenai relasi antara iman dan perbuatan. Paulus mengajarkan bahwa pembenaran hanya oleh iman semata-mata (Efesus 2:8-9), sementara Yakobus, seolah-olah, menyatakan bahwa pembenaran oleh iman harus ditambah perbuatan. Apa yang terlihat seperti hal yang bertolak belakang ini dapat dijawab dengan mengamati apa sebetulnya yang dikatakan oleh Yakobus. Yakobus sebenarnya berusaha mengoreksi pandangan bahwa seseorang dapat beriman tanpa menghasilkan perbuatan baik apapun (Yakobus 2:17-18). Yakobus menekankan bahwa iman yang sejati kepada Kristus akan menghasilkan perubahan hidup dan perbuatan-perbuatan baik (Yakobus 2:20-26). Yakobus tidak bermaksud mengatakan bahwa pembenaran oleh iman ditambah perbuatan, namun mengatakan bahwa seseorang yang sudah betul-betul dibenarkan melalui iman akan menghasilkan perbuatan baik dalam hidupnya. Jika seseorang mengaku dirinya sebagai orang percaya, namun tidak melakukan perbuatan baik dalam hidupnya, maka kemungkinan dia tidak pernah memiliki iman yang sejati kepada Kristus (Yakobus 2:14, 17, 20, 26). Paulus mengatakan hal yang sama dalam tulisan-tulisannya. Buah yang baik seharusnya dimiliki oleh orang-orang percaya, dinyatakan dalam Galatia 5:22-23. Segera sesudah menjelaskan bahwa kita diselamatkan melalui iman dan bukan oleh perbuatan (Efesus 2:8-9), Paulus menekankan bahwa kita diciptakan untuk melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10). Sama seperti Yakobus, Paulus juga mengajarkan adanya perubahan hidup. \u201cJadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang\u201d (2 Korintus 5:17). Yakobus dan Paulus bukan berbeda pendapat dalam pengajaran mereka mengenai keselamatan. Mereka membahas topik yang sama, hanya dari perspektif yang berbeda saja. Paulus menekankan bahwa pembenaran hanya oleh iman, sementara Yakobus menekankan bahwa iman dalam Kristus harusnya menghasilkan perbuatan-perbuatan baik.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;<strong> Apakah keselamatan hanya oleh iman, atau iman ditambah perbuatan?<\/strong><\/p>\n<p>Ini mungkin adalah pertanyaan yang paling penting dalam teologi kekristenan.<\/p>\n<p>Pertanyaan inilah yang menyebabkan timbulnya Reformasi; perpecahan antara gereja Protestan dan Katolik. Pertanyaan ini menjadi perbedaan utama kekristenan alkitabiah dan ajaran-ajaran sesat.<\/p>\n<p>Apakah keselamatan \u201chanya oleh iman\u201d saja atau \u201ciman ditambah perbuatan\u201d?<\/p>\n<p>Apakah saya diselamatkan hanya karena percaya kepada Yesus saja, atau saya harus percaya kepada Yesus dan kemudian melakukan hal-hal tertentu?<\/p>\n<p>Pertanyaan tentang \u201chanya iman\u201d atau \u201ciman ditambah perbuatan\u201d menjadi makin sulit karena beberapa ayat Alkitab sepertinya saling bertentangan.<\/p>\n<p>Bandingkan Roma 3:28, 5:1 dan Galatia 3:24 dengan Yakobus 2:24. Ada beberapa orang yang melihat adanya pertentangan antara konsep Paulus, yang mengajarkan keselamatan hanya oleh iman saja, dengan konsep Yakobus, yang mengajarkan keselamatan oleh iman harus ditambah perbuatan.<\/p>\n<p>Kenyataannya, Paulus dan Yakobus sama sekali tidak bertentangan.<\/p>\n<p>Satu-satunya pertentangan yang dimaksud adalah mengenai relasi antara iman dan perbuatan. Paulus mengajarkan bahwa pembenaran hanya oleh iman semata-mata (Efesus 2:8-9), sementara Yakobus, seolah-olah, menyatakan bahwa pembenaran oleh iman harus ditambah perbuatan.<\/p>\n<p>Apa yang terlihat seperti hal yang bertolak belakang ini dapat dijawab dengan mengamati apa sebetulnya yang dikatakan oleh Yakobus.<\/p>\n<p>Yakobus sebenarnya berusaha mengoreksi pandangan bahwa seseorang dapat beriman tanpa menghasilkan perbuatan baik apapun (Yakobus 2:17-18). Yakobus menekankan bahwa iman yang sejati kepada Kristus akan menghasilkan perubahan hidup dan perbuatan-perbuatan baik (Yakobus 2:20-26).<\/p>\n<p>Yakobus tidak bermaksud mengatakan bahwa pembenaran oleh iman ditambah perbuatan, namun mengatakan bahwa seseorang yang sudah betul-betul dibenarkan melalui iman akan menghasilkan perbuatan baik dalam hidupnya. Jika seseorang mengaku dirinya sebagai orang percaya, namun tidak melakukan perbuatan baik dalam hidupnya, maka kemungkinan dia tidak pernah memiliki iman yang sejati kepada Kristus (Yakobus 2:14, 17, 20, 26).<\/p>\n<p>Paulus mengatakan hal yang sama dalam tulisan-tulisannya. Buah yang baik seharusnya dimiliki oleh orang-orang percaya, dinyatakan dalam Galatia 5:22-23. Segera sesudah menjelaskan bahwa kita diselamatkan melalui iman dan bukan oleh perbuatan (Efesus 2:8-9), Paulus menekankan bahwa kita diciptakan untuk melakukan perbuatan baik (Efesus 2:10).<\/p>\n<p>Sama seperti Yakobus, Paulus juga mengajarkan adanya perubahan hidup. \u201cJadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang\u201d (2 Korintus 5:17).<\/p>\n<p>Yakobus dan Paulus bukan berbeda pendapat dalam pengajaran mereka mengenai keselamatan. Mereka membahas topik yang sama, hanya dari perspektif yang berbeda saja.<\/p>\n<p>Paulus menekankan bahwa pembenaran hanya oleh iman, sementara Yakobus menekankan bahwa iman dalam Kristus harusnya menghasilkan perbuatan-perbuatan baik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Apakah keselamatan hanya oleh iman, atau iman ditambah perbuatan? Ini mungkin adalah pertanyaan yang paling penting dalam teologi kekristenan. Pertanyaan inilah yang menyebabkan timbulnya Reformasi; perpecahan antara gereja Protestan dan Katolik. Pertanyaan ini menjadi perbedaan utama kekristenan alkitabiah dan ajaran-ajaran sesat. Apakah keselamatan \u201chanya oleh iman\u201d saja atau \u201ciman ditambah perbuatan\u201d? Apakah saya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33190,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"12"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,3],"tags":[],"class_list":["post-45689","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-umum"],"better_featured_image":{"id":33190,"alt_text":"","caption":"","description":"974a053ed728ecea7cf0b9b87f55da98","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hidup-oleh-iman_5df743d7a9774.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/hidup-oleh-iman_5df743d7a9774.jpeg?fit=384%2C384&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":2,"views":"2503","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45689","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45689"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45689\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}