{"id":45870,"date":"2020-05-12T17:00:35","date_gmt":"2020-05-12T10:00:35","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=45870"},"modified":"2020-05-12T13:27:56","modified_gmt":"2020-05-12T06:27:56","slug":"pemimpin-agama-perlu-contohkan-solidaritas-di-tengah-pandemik-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pemimpin-agama-perlu-contohkan-solidaritas-di-tengah-pandemik-covid-19\/","title":{"rendered":"Pemimpin Agama Perlu Contohkan Solidaritas di Tengah Pandemik COVID-19"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id-Kontribusi para pemimpin agama selama pandemik COVID-19 tidak kalah besar dari masa normal, begitu kata tiga tokoh lintas agama yang menjadi pembicara dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Justru pada saat seperti ini, tokoh-tokoh agama punya peran krusial tidak hanya untuk menyebarluaskan kesadaran soal berbahayanya virus corona, tapi juga menunjukkan aksi solidaritas kepada orang-orang yang paling rentan terkena dampak. Misalnya, anak-anak, warga usia lanjut, sampai para pekerja yang kehilangan sumber penghasilan mereka. 1. Pemimpin agama dinilai lebih didengarkan oleh kelompok masyarakat tertentu dibandingkan politisi atau pemerintah Perihal kemampuan menyampaikan pesan soal virus corona, Dr. Mohamed Elsanousi, Direktur Eksekutif Network for Religious and Traditional Peacemakers yang bermarkas di Washington DC, menilai pemimpin agama punya posisi tawar lebih tinggi dibandingkan politisi atau pemerintah. &quot;Faktanya para pemimpin agama menikmati kredibilitas dan kepercayaan lebih besar di tengah masyarakat akar rumput,&quot; kata Elsanousi. &quot;Mereka berkomunikasi setiap hari melalui institusi-institusi yang sudah ada,&quot; lanjutnya, merujuk kepada tempat ibadah bagi agama masing-masing. &quot;Pesan yang disampaikan oleh para tokoh agama didengarkan lebih baik sebab terbebas dari segala motif politik,&quot; tambah dia. Elsanousi mencontohkan bahwa pada hari yang sama, organisasinya mengundang seorang pastor dari Nigeria untuk membagikan pengalaman soal penyebarluasan informasi yang akurat mengenai COVID-19. 2. Tokoh agama diharapkan berusaha membantu menghapus misinformasi dan disinformasi soal virus corona Di Nigeria, kata Elsanousi, muncul stereotip di mana tak sedikit masyarakat percaya bahwa virus corona adalah &quot;virus orang kulit putih&quot; sehingga mereka takkan terinfeksi. Kesalahan informasi itu juga turut didorong oleh Boko Haram, sebuah kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam. Pemimpin Boko Haram Abubakar Shekau mengatakan bahwa umat Islam kebal terhadap COVID-19. &quot;Kami salat lima waktu dalam sehari, kami salat jumat, kami tidur bersama keluarga kami, kami berpelukan, kami berjabat tangan, kami baik-baik saja,&quot; kata Shekau, dalam sebuah rekaman suara, seperti dikutip Council on Foreign Relations. &quot;Kami punya penangkal virus di saat kalian semua terinfeksi virus corona. Kami punya penangkal virus yaitu Allah yang kami sembah,&quot; lanjutnya. Tak bisa dipungkiri, ini memunculkan ketakutan bahwa masyarakat akar rumput akan percaya. Di sini pemimpin agama diharapkan turun tangan.\u00a0&quot;Kami ingin memunculkan kesadaran bahwa virus ini menyerang siapa saja. Ini akan sampai ke Afrika juga,&quot; kata Elsanousi. 3. Masyarakat lintas agama bisa memimpin upaya kemanusiaan saat pandemik COVID-19 \u00a0 Selain meluruskan kekeliruan informasi, peran umat beragama lainnya adalah melakukan aksi-aksi kemanusiaan. Pembicara lain dalam diskusi FPCI, Pastor Kyoichi Sugino mengungkap bahwa pihaknya meluncurkan dana kemanusiaan khusus untuk merespons pandemik COVID-19. Deputi Sekretaris Jenderal Religions for Peace (RfP) yang berkantor di New York, Amerika Serikat, itu mengatakan organisasinya akan memberikan dana hibah kepada jaringan lintas iman di seluruh dunia yang berhasil membuat program berkaitan dengan penanganan virus corona di masyarakat. Informasi ini bisa diperoleh di situs resmi RfP. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan pesan-pesan berbasis pedoman saintifik, menyediakan bantuan kepada orang-orang rentan mulai dari anak-anak sampai lansia, memberantas diskriminasi, serta menawarkan dukungan spiritual dan emosional kepada yang membutuhkan. &quot;Ini merupakan peran unik yang dimiliki para pemimpin agama,&quot; kata pastor dari Jepang tersebut. &quot;Pemimpin agama mencari makna dari pandemik ini. Harapan dan solidaritas apa yang bisa kami berikan di masa-masa tak menentu seperti sekarang? Kita harus bersama-sama.&quot; Pesan yang sama ditegaskan oleh Elsanousi. Ketika Ramadan dan umat Islam membayar zakat, ia menilai ini saatnya pemimpin agama berpesan untuk memperluas cakupan penerima rezeki tersebut. &quot;Bolehkah memberi zakat kepada non-muslim, kepada orang-orang di garis depan yang bekerja di tengah COVID-19? Tentu saja boleh. Ini waktu yang krusial untuk menunjukkan solidaritas,&quot; tegasnya.(idntimes)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id<\/strong>-Kontribusi para pemimpin agama selama pandemik COVID-19 tidak kalah besar dari masa normal, begitu kata tiga tokoh lintas agama yang menjadi pembicara dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Justru pada saat seperti ini, tokoh-tokoh agama punya peran krusial tidak hanya untuk menyebarluaskan kesadaran soal berbahayanya virus corona, tapi juga menunjukkan aksi solidaritas kepada orang-orang yang paling rentan terkena dampak. Misalnya, anak-anak, warga usia lanjut, sampai para pekerja yang kehilangan sumber penghasilan mereka.<\/p>\n<div class=\"split-page split-page1 open\" data-target=\"1\">\n<h4 style=\"text-align: justify;\">1. Pemimpin agama dinilai lebih didengarkan oleh kelompok masyarakat tertentu dibandingkan politisi atau pemerintah<\/h4>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20200413\/antarafoto-egypt-behindcloseddoors-eastermass-covid19-12042020-4b3fe8c269705e74aac46dd5c68f64f0.jpg?resize=493%2C326&#038;ssl=1\" alt=\"Pemimpin Agama Perlu Contohkan Solidaritas di Tengah Pandemik COVID-19\" width=\"493\" height=\"326\" \/><\/div>\n<div><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perihal kemampuan menyampaikan pesan soal virus corona, Dr. Mohamed Elsanousi, Direktur Eksekutif Network for Religious and Traditional Peacemakers yang bermarkas di Washington DC, menilai pemimpin agama punya posisi tawar lebih tinggi dibandingkan politisi atau pemerintah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Faktanya para pemimpin agama menikmati kredibilitas dan kepercayaan lebih besar di tengah masyarakat akar rumput,&#8221; kata Elsanousi. &#8220;Mereka berkomunikasi setiap hari melalui institusi-institusi yang sudah ada,&#8221; lanjutnya, merujuk kepada tempat ibadah bagi agama masing-masing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pesan yang disampaikan oleh para tokoh agama didengarkan lebih baik sebab terbebas dari segala motif politik,&#8221; tambah dia. Elsanousi mencontohkan bahwa pada hari yang sama, organisasinya mengundang seorang pastor dari Nigeria untuk membagikan pengalaman soal penyebarluasan informasi yang akurat mengenai COVID-19.<\/p>\n<div class=\"split-page split-page2 open\" style=\"text-align: justify;\" data-target=\"2\">\n<h4>2. Tokoh agama diharapkan berusaha membantu menghapus misinformasi dan disinformasi soal virus corona<\/h4>\n<div class=\"embed-image\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20200424\/20200423-202858-da306b4accadc6db24cdf54e84b0e533.jpg?resize=453%2C255&#038;ssl=1\" alt=\"Pemimpin Agama Perlu Contohkan Solidaritas di Tengah Pandemik COVID-19\" width=\"453\" height=\"255\" \/><\/div>\n<p>Di Nigeria, kata Elsanousi, muncul stereotip di mana tak sedikit masyarakat percaya bahwa virus corona adalah &#8220;virus orang kulit putih&#8221; sehingga mereka takkan terinfeksi. Kesalahan informasi itu juga turut didorong oleh Boko Haram, sebuah kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam.<\/p>\n<p>Pemimpin Boko Haram Abubakar Shekau mengatakan bahwa umat Islam kebal terhadap COVID-19. &#8220;Kami salat lima waktu dalam sehari, kami salat jumat, kami tidur bersama keluarga kami, kami berpelukan, kami berjabat tangan, kami baik-baik saja,&#8221; kata Shekau, dalam sebuah rekaman suara, seperti dikutip <em>Council on Foreign Relations.<\/em><\/p>\n<p>&#8220;Kami punya penangkal virus di saat kalian semua terinfeksi virus corona. Kami punya penangkal virus yaitu Allah yang kami sembah,&#8221; lanjutnya. Tak bisa dipungkiri, ini memunculkan ketakutan bahwa masyarakat akar rumput akan percaya. Di sini pemimpin agama diharapkan turun tangan.\u00a0&#8220;Kami ingin memunculkan kesadaran bahwa virus ini menyerang siapa saja. Ini akan sampai ke Afrika juga,&#8221; kata Elsanousi.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"split-page split-page3 open\" data-target=\"3\">\n<h4 style=\"text-align: justify;\">3. Masyarakat lintas agama bisa memimpin upaya kemanusiaan saat pandemik COVID-19<\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"embed-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.idntimes.com\/content-images\/post\/20200219\/img-20200219-wa0003-8c7f6581e65e6a7d4f65e64829f65007.jpg?resize=500%2C333&#038;ssl=1\" alt=\"Pemimpin Agama Perlu Contohkan Solidaritas di Tengah Pandemik COVID-19\" width=\"500\" height=\"333\" \/><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain meluruskan kekeliruan informasi, peran umat beragama lainnya adalah melakukan aksi-aksi kemanusiaan. Pembicara lain dalam diskusi FPCI, Pastor Kyoichi Sugino mengungkap bahwa pihaknya meluncurkan dana kemanusiaan khusus untuk merespons pandemik COVID-19.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Deputi Sekretaris Jenderal Religions for Peace (RfP) yang berkantor di New York, Amerika Serikat, itu mengatakan organisasinya akan memberikan dana hibah kepada jaringan lintas iman di seluruh dunia yang berhasil membuat program berkaitan dengan penanganan virus corona di masyarakat. Informasi ini bisa diperoleh di situs resmi RfP.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan pesan-pesan berbasis pedoman saintifik, menyediakan bantuan kepada orang-orang rentan mulai dari anak-anak sampai lansia, memberantas diskriminasi, serta menawarkan dukungan spiritual dan emosional kepada yang membutuhkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ini merupakan peran unik yang dimiliki para pemimpin agama,&#8221; kata pastor dari Jepang tersebut. &#8220;Pemimpin agama mencari makna dari pandemik ini. Harapan dan solidaritas apa yang bisa kami berikan di masa-masa tak menentu seperti sekarang? Kita harus bersama-sama.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesan yang sama ditegaskan oleh Elsanousi. Ketika Ramadan dan umat Islam membayar zakat, ia menilai ini saatnya pemimpin agama berpesan untuk memperluas cakupan penerima rezeki tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bolehkah memberi zakat kepada non-muslim, kepada orang-orang di garis depan yang bekerja di tengah COVID-19? Tentu saja boleh. Ini waktu yang krusial untuk menunjukkan solidaritas,&#8221; tegasnya.(idntimes)<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id-Kontribusi para pemimpin agama selama pandemik COVID-19 tidak kalah besar dari masa normal, begitu kata tiga tokoh lintas agama yang menjadi pembicara dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Justru pada saat seperti ini, tokoh-tokoh agama punya peran krusial tidak hanya untuk menyebarluaskan kesadaran soal berbahayanya virus corona, tapi juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45874,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-45870","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":45874,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/covid-19.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/covid-19.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/covid-19.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/covid-19.jpg?fit=275%2C183&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1089","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45870","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45870"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45870\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45870"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45870"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45870"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}