{"id":46102,"date":"2025-08-08T18:17:40","date_gmt":"2025-08-08T11:17:40","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lalu-tuhan-menutup-pintu-bahtera-itu-di-belakang-nuh-kej-716\/"},"modified":"2025-08-08T18:17:43","modified_gmt":"2025-08-08T11:17:43","slug":"lalu-tuhan-menutup-pintu-bahtera-itu-di-belakang-nuh-kej-716","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lalu-tuhan-menutup-pintu-bahtera-itu-di-belakang-nuh-kej-716\/","title":{"rendered":"Mereka menenun sarang laba-laba. [Yesaya 59:5]"},"content":{"rendered":"<button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Tengoklah sarang laba-laba, dan lihatlah di dalamnya sebuah gambaran yang menunjukkan agama orang munafik. Ia bertujuan untuk menangkap mangsanya: laba-laba menggemukan dirinya dengan lalat, dan orang Farisi mendapat pahalanya. Orang bodoh dengan mudah terperangkap dengan pengakuan lancang penipu-penipu, dan bahkan orang yang lebih bijaksana tidak selalu dapat melarikan diri. Filipus membaptis Simon Magus, yang pernyataan imannya penuh akal bulus segera diletupkan dengan teguran keras Petrus. Kelaziman, nama baik, pujian, keberhasilan, dan lalat lainnya, adalah permainan kecil orang-orang munafik tangkap di sarangnya. Sarang laba-laba adalah keahlian yang menakjubkan: lihatlah dan kagumi tipu muslihat pemburu picik. Bukankah agama seorang penipu sama-sama mengagumkan? Bagaimana ia membuat kebohongan yang begitu bermuka tebal terlihat seperti kebenaran? Bagaimana ia dapat membuat jawabannya yang sembarangan begitu cemerlang seperti emas? Sarang laba-laba datang semuanya dari dalam perut makhluk itu sendiri. Lebah mengumpulkan lilinnya dari bunga, laba-laba tidak menghisap bunga, namun begitu ia bisa mengeluarkan benangnya sepanjang apapun. Begitu juga orang munafik menemukan keyakinan dan harapan mereka pada dirinya sendiri; jangkar mereka terpatri pada landasannya sendiri, dan kabelnya terbelit oleh tangannya sendiri. Mereka meletakan dasarnya sendiri, dan menebang pilar-pilar rumahnya sendiri, menganggap hina sebagai penghutang pada anugerah Allah yang berdaulat. Tetapi sarang laba-laba sangat lemah. Ia dengan aneh ditempa, tetapi tidak diproduksi dengan ketahanan kuat. Ia tidak ada apa-apanya dibanding sapu pelayan, atau tongkat musafir. Seorang munafik tidak membutuhkan baterai Armstrongs untuk meniup harapannya menjadi kepingan, hembusan angin saja akan melakukannya. Sarang laba-laba yang munafik akan segera jatuh saat sapu kehancuran memulai kerja pembersihannya. Yang mengingatkan kita akan satu ajaran lagi, yaitu, bahwa sarang laba-laba seperti itu tidak untuk dipertahankan dalam rumah Allah: Dia akan melihat sarang laba-laba itu sehingga mereka yang memintalnya akan dihancurkan selamanya. O jiwaku, bersandarlah engkau pada sesuatu yang lebih baik daripada sarang laba-laba. Jadikanlah Tuhan Yesus tempat persembunyianmu yang kekal. RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button>\n<p><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p class=\"me-content\">Tengoklah sarang laba-laba, dan lihatlah di dalamnya sebuah gambaran yang menunjukkan agama orang munafik. <i>Ia bertujuan untuk menangkap mangsanya<\/i>: laba-laba menggemukan dirinya dengan lalat, dan orang Farisi mendapat pahalanya. Orang bodoh dengan mudah terperangkap dengan pengakuan lancang penipu-penipu, dan bahkan orang yang lebih bijaksana tidak selalu dapat melarikan diri. Filipus membaptis Simon Magus, yang pernyataan imannya penuh akal bulus segera diletupkan dengan teguran keras Petrus. Kelaziman, nama baik, pujian, keberhasilan, dan lalat lainnya, adalah permainan kecil orang-orang munafik tangkap di sarangnya. Sarang laba-laba adalah <i>keahlian yang menakjubkan<\/i>: lihatlah dan kagumi tipu muslihat pemburu picik. Bukankah agama seorang penipu sama-sama mengagumkan? Bagaimana ia membuat kebohongan yang begitu bermuka tebal terlihat seperti kebenaran? Bagaimana ia dapat membuat jawabannya yang sembarangan begitu cemerlang seperti emas? Sarang laba-laba <i>datang semuanya dari dalam perut makhluk itu sendiri<\/i>. Lebah mengumpulkan lilinnya dari bunga, laba-laba tidak menghisap bunga, namun begitu ia bisa mengeluarkan benangnya sepanjang apapun. Begitu juga orang munafik menemukan keyakinan dan harapan mereka pada dirinya sendiri; jangkar mereka terpatri pada landasannya sendiri, dan kabelnya terbelit oleh tangannya sendiri. Mereka meletakan dasarnya sendiri, dan menebang pilar-pilar rumahnya sendiri, menganggap hina sebagai penghutang pada anugerah Allah yang berdaulat. Tetapi sarang laba-laba <i>sangat lemah<\/i>. Ia dengan aneh ditempa, tetapi tidak diproduksi dengan ketahanan kuat. Ia tidak ada apa-apanya dibanding sapu pelayan, atau tongkat musafir. Seorang munafik tidak membutuhkan baterai Armstrongs untuk meniup harapannya menjadi kepingan, hembusan angin saja akan melakukannya. Sarang laba-laba yang munafik akan segera jatuh saat sapu kehancuran memulai kerja pembersihannya. Yang mengingatkan kita akan satu ajaran lagi, yaitu, bahwa sarang laba-laba seperti itu <i>tidak untuk dipertahankan dalam rumah Allah<\/i>: Dia akan melihat sarang laba-laba itu sehingga mereka yang memintalnya akan dihancurkan selamanya. O jiwaku, bersandarlah engkau pada sesuatu yang lebih baik daripada sarang laba-laba. Jadikanlah Tuhan Yesus tempat persembunyianmu yang kekal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Tengoklah sarang laba-laba, dan lihatlah di dalamnya sebuah gambaran yang menunjukkan agama orang munafik. Ia bertujuan untuk menangkap mangsanya: laba-laba menggemukan dirinya dengan lalat, dan orang Farisi mendapat pahalanya. Orang bodoh dengan mudah terperangkap dengan pengakuan lancang penipu-penipu, dan bahkan orang yang lebih bijaksana tidak selalu dapat melarikan diri. Filipus membaptis Simon Magus, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-46102","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":12887,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=768%2C510&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/daily_devotional.jpg?fit=1024%2C680&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"230","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46102","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46102"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46102\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68041,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46102\/revisions\/68041"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46102"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46102"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46102"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}