{"id":46202,"date":"2020-06-13T21:37:48","date_gmt":"2020-06-13T14:37:48","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46202"},"modified":"2020-06-13T21:37:53","modified_gmt":"2020-06-13T14:37:53","slug":"masjid-gereja-berdiri-berdampingan-bukti-kerukunan-umat-beragama-di-kendari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/masjid-gereja-berdiri-berdampingan-bukti-kerukunan-umat-beragama-di-kendari\/","title":{"rendered":"Masjid-Gereja Berdiri Berdampingan Bukti Kerukunan Umat Beragama di Kendari"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Toleransi umat beragama di Sulawesi Tenggara khususnya di Kota Kendari sejak puluhan tahun silam terus terjalin hingga saat ini, terbukti setiap ada bangunan masjid yang berdiri di jalan juga pasti ada bangunan gereja disamping atau di hadapannnya. Pantauan di lapangan, Selasa (28\/4\/2020), beberapa masjid dan gereja yang berdiri kokoh dibangun para ulama dan tokoh masyarakat atas dukungan dan persetujuan pemerintah setempat hingga kini masih tetap dipertahankan, dan membuktikan bahwa terpeliharanya kerukunan umat beragama di kota Kendari, Sultra. Masjid Da\u2019wah Wanita dan Gereja Pantekosta Bukit Zaitun di Kelurahan Dapu-Dapura Kecamatan Kandari yang letaknya saling berdempetan. Kemudian masjid Akbar dan gereja Imanuel di Benu-Benua, Masjid Al Muqarabun dan gereja Yesus Gembala berhadapan di jalan Saranani dan Majid Raya Al-Kautsar yang bersampingan jalan dengan geraja Et- Labora Mandonga dan masih banyak lagi. Sejumlah rumah ibadah tersebut dibangun sejak tahun 1950-an, masih berdiri kokoh, bahkan terus diperbaharui, seiring bertambahnya jamaah melaksanakan ritual keagamaan sehari-hari. \u201cMeski bangunan masjid dan gereja hanya terpisah tembok berjarak setengah meter, namun tidak menjadi halangan umat muslim maupun nasrani, melaksanakan ritual ibadah sehari-hari,\u201d ungkap H Yusuf, pengurus Masjid Da\u2019wah Wanita Kendari. Menurut Yusuf, sejak kedua rumah ibadah itu didirikan, kegiatan keagamaan jamaah masjid maupun gereja, berjalan sebagaimana biasa tanpa terbesit perasaan saling terganggu, baik di bulan suci Ramadhan maupun di hari hari besar keagamaan lainnya. \u201cMasyarakat Kota Jendari sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, terutama dalam kegiatan ibadah. Meski hanya dipisahkan sekat dinding, namun kerukunan dan saling menghargai dalam menjalankan ibadah, hingga kini terus terpelihara,\u201d ujar Pimpinan jemaat Gereja Pantekosta Bukit Zaitun Kendari, Pdt. David Agus Setiawan. Simbol toleransi umat beragama di Kota Kendari, dengan berdirinya masjid dan gereja yang nyaris satu atap tersebut, juga diakui jamaah masjid Da\u2019wah Wanita, H. Hasan Made Ali. \u201cSaat itu, setiap kendala yang dihadapi dalam kegiatan kegamaan, langsung teratasi, demi menciptakan suasana harmonis. Bahkan jika kami kekurangan air untuk berwudhu, pihak gereja dengan ikhlas menyediakan air untuk wudhu,\u201d tuturnya. Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Sultra Abdul Hamid terus berharap kepada seluruh masyarakat senantiasa mempertahankan harmonisasi kerukunan umat beragama yang hingga kini masih terpelihara. \u201cSejauh ini, para tokoh lintas agama, juga rutin melakukan pertemuan maupun dialog, untuk menjalin keakraban demi terpeliharanya kerukunan umat beragama di bumi Anoa,\u201d ujaranya.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Toleransi umat beragama di Sulawesi Tenggara khususnya di Kota Kendari sejak puluhan tahun silam terus terjalin hingga saat ini, terbukti setiap ada bangunan masjid yang berdiri di jalan juga pasti ada bangunan gereja disamping atau di hadapannnya.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pantauan di lapangan, Selasa (28\/4\/2020), beberapa masjid dan gereja yang berdiri kokoh dibangun para ulama dan tokoh masyarakat atas dukungan dan persetujuan pemerintah setempat hingga kini masih tetap dipertahankan, dan membuktikan bahwa terpeliharanya kerukunan umat beragama di kota Kendari, Sultra.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masjid Da\u2019wah Wanita dan Gereja Pantekosta Bukit Zaitun di Kelurahan Dapu-Dapura Kecamatan Kandari yang letaknya saling berdempetan. Kemudian masjid Akbar dan gereja Imanuel di Benu-Benua, Masjid Al Muqarabun dan gereja Yesus Gembala berhadapan di jalan Saranani dan Majid Raya Al-Kautsar yang bersampingan jalan dengan geraja Et- Labora Mandonga dan masih banyak lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejumlah rumah ibadah tersebut dibangun sejak tahun 1950-an, masih berdiri kokoh, bahkan terus diperbaharui, seiring bertambahnya jamaah melaksanakan ritual keagamaan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMeski bangunan masjid dan gereja hanya terpisah tembok berjarak setengah meter, namun tidak menjadi halangan umat muslim maupun nasrani, melaksanakan ritual ibadah sehari-hari,\u201d ungkap H Yusuf, pengurus Masjid Da\u2019wah Wanita Kendari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Yusuf, sejak kedua rumah ibadah itu didirikan, kegiatan keagamaan jamaah masjid maupun gereja, berjalan sebagaimana biasa tanpa terbesit perasaan saling terganggu, baik di bulan suci Ramadhan maupun di hari hari besar keagamaan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMasyarakat Kota Jendari sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, terutama dalam kegiatan ibadah. Meski hanya dipisahkan sekat dinding, namun kerukunan dan saling menghargai dalam menjalankan ibadah, hingga kini terus terpelihara,\u201d ujar Pimpinan jemaat Gereja Pantekosta Bukit Zaitun Kendari, Pdt. David Agus Setiawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Simbol toleransi umat beragama di Kota Kendari, dengan berdirinya masjid dan gereja yang nyaris satu atap tersebut, juga diakui jamaah masjid Da\u2019wah Wanita, H. Hasan Made Ali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaat itu, setiap kendala yang dihadapi dalam kegiatan kegamaan, langsung teratasi, demi menciptakan suasana harmonis. Bahkan jika kami kekurangan air untuk berwudhu, pihak gereja dengan ikhlas menyediakan air untuk wudhu,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Sultra Abdul Hamid terus berharap kepada seluruh masyarakat senantiasa mempertahankan harmonisasi kerukunan umat beragama yang hingga kini masih terpelihara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSejauh ini, para tokoh lintas agama, juga rutin melakukan pertemuan maupun dialog, untuk menjalin keakraban demi terpeliharanya kerukunan umat beragama di bumi Anoa,\u201d ujaranya.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Toleransi umat beragama di Sulawesi Tenggara khususnya di Kota Kendari sejak puluhan tahun silam terus terjalin hingga saat ini, terbukti setiap ada bangunan masjid yang berdiri di jalan juga pasti ada bangunan gereja disamping atau di hadapannnya. Pantauan di lapangan, Selasa (28\/4\/2020), beberapa masjid dan gereja yang berdiri kokoh dibangun para ulama dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46203,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"single_blog_custom":"","sidebar":"","second_sidebar":"","share_position":"","share_float_style":"","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","post_reading_time_wpm":"","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,3],"tags":[],"class_list":["post-46202","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46203,"alt_text":"","caption":"","description":"1c854d81a57eb554949ecc548c533aec","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/masjid-gereja-berdiri-berdampingan-bukti-kerukunan-umat-beragama-di-kendari_5ee4e3e1d2fbd.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/masjid-gereja-berdiri-berdampingan-bukti-kerukunan-umat-beragama-di-kendari_5ee4e3e1d2fbd.jpeg?fit=768%2C468&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/masjid-gereja-berdiri-berdampingan-bukti-kerukunan-umat-beragama-di-kendari_5ee4e3e1d2fbd.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/masjid-gereja-berdiri-berdampingan-bukti-kerukunan-umat-beragama-di-kendari_5ee4e3e1d2fbd.jpeg?fit=800%2C488&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1624","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46202","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46202"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46202\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46203"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46202"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46202"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46202"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}