{"id":46283,"date":"2020-09-18T07:22:56","date_gmt":"2020-09-18T00:22:56","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46283"},"modified":"2020-09-15T14:01:40","modified_gmt":"2020-09-15T07:01:40","slug":"potensi-radikalisme-di-kalangan-profesional-muslim-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/potensi-radikalisme-di-kalangan-profesional-muslim-indonesia\/","title":{"rendered":"Potensi radikalisme di kalangan profesional muslim Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Lebih dari seperempat (27,6 persen) profesional muslim mendukung peraturan daerah (perda) syariah karena dianggap tepat untuk mengakomodir penganut agama mayoritas. Demikianlah temuan survei tentang potensi radikalisme di kalangan profesional muslim, yang mencakup tujuh kota besar utama Indonesia, selama 10 September - 5 Oktober lalu. Adapun publikasinya dilakukan awal pekan ini di Jakarta. Antyo \/ Beritagar.id Survei dengan wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden, oleh Mata Air Foundation dan Alvara Research Center -- keduanya berbasis di Jakarta -- itu mendapati pendukung terbanyak perda syariah berlatar pegawai swasta (36,6 persen). Sedangkan pendukung berlatar pegawai negeri sipil (PNS) ada 35,3 persen, dan dari kalangan pegawai badan usaha milik negara (BUMN) lebih sedikit: 13,7 persen. Perihal pembentukan negara Islam, 29,6 persen responden setuju. Pengertian setuju pun diukur tiga tingkatan: setuju (15,3 persen), sangat setuju (13,1 persen), dan sangat setuju sekali (1,2 persen). Ihwal ideologi negara, 15,5 persen responden menganggap ideologi Islamlah yang tepat. Sisanya (84,5 persen), menganggap Pancasilalah yang tepat. Paparan hasil survei itu menyimpulkan, penetrasi ajaran intoleransi telah mulai masuk ke dalam kalangan terdidik dan kelompok kelas menengah. Lalu aparatur negara dan kelompok pekerja di BUMN juga mulai terpapar ajaran-ajaran intoleransi. Paparan hasil itu menyebutkan, penetrasi ajaran-ajaran intoleransi (anti-Pancasila dan anti-NKRI), di kalangan profesional, masuk melalui kajian-kajian keagamaan yang dilakukan di tempat kerja. Survei dengan banyak pertanyaan itu juga mendapati hal lain. Misalnya dalam isu sosial keagamaan. Dua hal yang tak salah secara moral, di mata responden, adalah poligami (40,2 persen) dan perceraian (41,5 persen). Ada pula pertanyaan manakah yang lebih penting untuk dibantu, bencana alam di Palestina ataukah Indonesia Timur. Terdapat 34,4 persen responden yang lebih memilih membantu Palestina karena kesamaan agama, yakni Islam. Akan tetapi responden yang memilih Indonesia Timur ada separuh lebih (56,1 persen), dengan alasan karena sesama warga negara Indonesia. (lokadata)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Lebih dari seperempat (27,6 persen) profesional muslim mendukung peraturan daerah (perda) syariah karena dianggap tepat untuk mengakomodir penganut agama mayoritas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikianlah temuan survei tentang potensi radikalisme di kalangan profesional muslim, yang mencakup tujuh kota besar utama Indonesia, selama 10 September &#8211; 5 Oktober lalu. Adapun publikasinya dilakukan awal pekan ini di Jakarta.<\/p>\n<div data-v-4f2a30b7=\"\">\n<div class=\"image-wrap position_infographic  mb-4\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure class=\"image\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/media.beritagar.id\/2017-10\/1025x1610_933cc1ec198dc462a104bf029495adbdd0a05874.png?ssl=1\" data-size=\"0x0\"> <picture><source srcset=\"https:\/\/media.beritagar.id\/2017-10\/original_980\/1025x1610_933cc1ec198dc462a104bf029495adbdd0a05874.png\" media=\"(min-width: 768px)\" \/><source srcset=\"https:\/\/media.beritagar.id\/2017-10\/original_700\/1025x1610_933cc1ec198dc462a104bf029495adbdd0a05874.png\" media=\"(min-width: 480px)\" \/><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/media.beritagar.id\/2017-10\/original_350\/1025x1610_933cc1ec198dc462a104bf029495adbdd0a05874.png?ssl=1\" alt=\"\" \/><\/picture><\/a><figcaption class=\"image-info mt-2\"><span class=\"caption\"><br \/>\n<\/span><br \/>\n<span class=\"source\"><br \/>\nAntyo \/ Beritagar.id<br \/>\n<\/span><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Survei dengan wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden, oleh <a href=\"https:\/\/mataair.or.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mata Air <\/a><a href=\"https:\/\/mataair.or.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Foundation<\/a> dan <a href=\"http:\/\/alvara-strategic.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alvara<\/a> <a href=\"http:\/\/alvara-strategic.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Research<\/a><a href=\"http:\/\/alvara-strategic.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Center<\/a> &#8212; keduanya berbasis di Jakarta &#8212; itu mendapati pendukung terbanyak perda syariah berlatar pegawai swasta (36,6 persen).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan pendukung berlatar pegawai negeri sipil (PNS) ada 35,3 persen, dan dari kalangan pegawai badan usaha milik negara (BUMN) lebih sedikit: 13,7 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perihal pembentukan negara Islam, 29,6 persen responden setuju. Pengertian setuju pun diukur tiga tingkatan: setuju (15,3 persen), sangat setuju (13,1 persen), dan sangat setuju sekali (1,2 persen).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ihwal ideologi negara, 15,5 persen responden menganggap ideologi Islamlah yang tepat. Sisanya (84,5 persen), menganggap Pancasilalah yang tepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paparan hasil survei itu menyimpulkan, penetrasi ajaran intoleransi telah mulai masuk ke dalam kalangan terdidik dan kelompok kelas menengah. Lalu aparatur negara dan kelompok pekerja di BUMN juga mulai terpapar ajaran-ajaran intoleransi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paparan hasil itu menyebutkan, penetrasi ajaran-ajaran intoleransi (anti-Pancasila dan anti-NKRI), di kalangan profesional, masuk melalui kajian-kajian keagamaan yang dilakukan di tempat kerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Survei dengan banyak pertanyaan itu juga mendapati hal lain. Misalnya dalam isu sosial keagamaan. Dua hal yang tak salah secara moral, di mata responden, adalah poligami (40,2 persen) dan perceraian (41,5 persen).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada pula pertanyaan manakah yang lebih penting untuk dibantu, bencana alam di Palestina ataukah Indonesia Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terdapat 34,4 persen responden yang lebih memilih membantu Palestina karena kesamaan agama, yakni Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akan tetapi responden yang memilih Indonesia Timur ada separuh lebih (56,1 persen), dengan alasan karena sesama warga negara Indonesia. (lokadata)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Lebih dari seperempat (27,6 persen) profesional muslim mendukung peraturan daerah (perda) syariah karena dianggap tepat untuk mengakomodir penganut agama mayoritas. Demikianlah temuan survei tentang potensi radikalisme di kalangan profesional muslim, yang mencakup tujuh kota besar utama Indonesia, selama 10 September &#8211; 5 Oktober lalu. Adapun publikasinya dilakukan awal pekan ini di Jakarta. Antyo [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46284,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,3],"tags":[178],"class_list":["post-46283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum","tag-intoleransi"],"better_featured_image":{"id":46284,"alt_text":"","caption":"","description":"da1b5c8093865d51c9be637e38eb2333","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/potensi-radikalisme-di-kalangan-profesional-muslim-indonesia_5ee6bf5b0f09f.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/potensi-radikalisme-di-kalangan-profesional-muslim-indonesia_5ee6bf5b0f09f.png?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/potensi-radikalisme-di-kalangan-profesional-muslim-indonesia_5ee6bf5b0f09f.png"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/potensi-radikalisme-di-kalangan-profesional-muslim-indonesia_5ee6bf5b0f09f.png?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1027","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46283"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46283\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}