{"id":46291,"date":"2020-07-04T08:02:47","date_gmt":"2020-07-04T01:02:47","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46291"},"modified":"2020-07-02T12:14:26","modified_gmt":"2020-07-02T05:14:26","slug":"mengenali-bibit-terorisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mengenali-bibit-terorisme\/","title":{"rendered":"Mengenali bibit terorisme"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - ANTISIPASI | Berbagai upaya dilakukan untuk menangkal terorisme terus dilakukan. Salah satunya dengan melakukan program deradikalisasi terhadap narapidana atau mantan narapidana kasus terorisme. Program tersebut bermaksud menangkal atau meminimalisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan. Masyarakat, termasuk pengguna aktif media sosial, juga bisa melakukan langkah prenventif agar terorisme tak leluasa bergerak, menebarkan jaring, dan memerangkap orang-orang terkasih di sekitar kita. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan agar mawas diri adalah mengenali gerakan-gerakan yang dikembangkan kelompok tersebut. Orang tidak serta merta menjadi teroris. Harus melalui berbagai tahapan. Tangga pertama menuju itu adalah intoleransi. Demikian dikatakan oleh Halili dari Setara Institute dalam sebuah diskusi. Ciri seseorang terafiliasi atau telah terdoktrin ajaran terorisme memang lebih mudah dengan melihat perlakuan alih-alih menuduh berdasarkan atribut, pakaian, atau ciri fisiknya. Bisa saja atribut tersebut dijadikan kamuflase untuk penyamaran, meraih simpati korban yang akan direkrut, atau bermaksud menciptakan disharmoni dan saling curiga antarsesama pemeluk agama di negara yang Bhinneka Tunggal Ika seperti Indonesia. Saat menghadiri sebuah diskusi di Malang pada 2016, Ali Imron menyatakan bahwa dirinya pernah mengecat rambut saat akan mengebom di Bali. Dalam hematnya, teroris tidak dapat dicirikan dengan celana cingkrang, jenggotan, atau rambut gondrong. (lokadata)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\" data-v-4f2a30b7=\"\">\n<div class=\"image-wrap position_center_medium align_center mb-4\">\n<figure class=\"image\">\n<picture><source srcset=\"https:\/\/media.beritagar.id\/2018-05\/original_980\/1024x2000_9e22b8efe544de613f0fd0593dee50b5314b0101.jpg\" media=\"(min-width: 768px)\" \/><source srcset=\"https:\/\/media.beritagar.id\/2018-05\/original_700\/1024x2000_9e22b8efe544de613f0fd0593dee50b5314b0101.jpg\" media=\"(min-width: 480px)\" \/><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/media.beritagar.id\/2018-05\/original_350\/1024x2000_9e22b8efe544de613f0fd0593dee50b5314b0101.jpg?ssl=1\" alt=\"\" \/><\/picture><figcaption class=\"image-info mt-2\"><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<p><b>ANTISIPASI<\/b> | Berbagai upaya dilakukan untuk menangkal terorisme terus dilakukan. Salah satunya dengan melakukan program deradikalisasi terhadap narapidana atau mantan narapidana kasus terorisme.<\/p>\n<p>Program tersebut bermaksud menangkal atau meminimalisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan.<\/p>\n<p>Masyarakat, termasuk pengguna aktif media sosial, juga bisa melakukan langkah prenventif agar terorisme tak leluasa bergerak, menebarkan jaring, dan memerangkap orang-orang terkasih di sekitar kita.<\/p>\n<p>Salah satu tindakan yang bisa dilakukan agar mawas diri adalah mengenali gerakan-gerakan yang dikembangkan kelompok tersebut.<\/p>\n<p>Orang tidak serta merta menjadi teroris. Harus melalui berbagai tahapan. Tangga pertama menuju itu adalah intoleransi. Demikian dikatakan oleh Halili dari Setara Institute dalam sebuah diskusi.<\/p>\n<p>Ciri seseorang terafiliasi atau telah terdoktrin ajaran terorisme memang lebih mudah dengan melihat perlakuan alih-alih menuduh berdasarkan atribut, pakaian, atau ciri fisiknya.<\/p>\n<p>Bisa saja atribut tersebut dijadikan kamuflase untuk penyamaran, meraih simpati korban yang akan direkrut, atau bermaksud menciptakan disharmoni dan saling curiga antarsesama pemeluk agama di negara yang Bhinneka Tunggal Ika seperti Indonesia.<\/p>\n<p>Saat menghadiri sebuah diskusi di Malang pada 2016, Ali Imron menyatakan bahwa dirinya pernah mengecat rambut saat akan mengebom di Bali. Dalam hematnya, teroris tidak dapat dicirikan dengan celana cingkrang, jenggotan, atau rambut gondrong. (lokadata)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; ANTISIPASI | Berbagai upaya dilakukan untuk menangkal terorisme terus dilakukan. Salah satunya dengan melakukan program deradikalisasi terhadap narapidana atau mantan narapidana kasus terorisme. Program tersebut bermaksud menangkal atau meminimalisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan. Masyarakat, termasuk pengguna aktif media sosial, juga bisa melakukan langkah prenventif agar terorisme [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46292,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14,3],"tags":[178],"class_list":["post-46291","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum","tag-intoleransi"],"better_featured_image":{"id":46292,"alt_text":"","caption":"","description":"259080181c0d047f3856c95d04b0a7ba","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mengenali-bibit-terorisme_5ee6c7115282f.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mengenali-bibit-terorisme_5ee6c7115282f.jpeg?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mengenali-bibit-terorisme_5ee6c7115282f.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/mengenali-bibit-terorisme_5ee6c7115282f.jpeg?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1106","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46291","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46291"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46291\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46292"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}