{"id":46317,"date":"2020-10-10T08:08:55","date_gmt":"2020-10-10T01:08:55","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46317"},"modified":"2020-10-09T15:15:25","modified_gmt":"2020-10-09T08:15:25","slug":"kecerdasan-buatan-pun-menciptakan-tuhan-dan-agama-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kecerdasan-buatan-pun-menciptakan-tuhan-dan-agama-baru\/","title":{"rendered":"Kecerdasan buatan pun menciptakan tuhan dan agama baru"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin berkembang. Namun tak semuanya memudahkan kehidupan di muka bumi, ada pula yang membahayakan. Salah satu sisi buruk AI, seperti diungkapkan para pakar, adalah kemungkinan singularity atau AI lebih pintar dari manusia dan bahkan bisa mendominasi dunia. Lantas, jika AI mampu menciptakan agama, apakah itu bermanfaat atau justru mudarat bagi kehidupan dunia? Kebetulan mantan ahli komputer Google, Anthony Levandowski, berhasil menciptakan agama baru melalui AI. Levandowski, seperti dilansir Christian Times, Sabtu (18\/11\/2017), pun mengajukan permohonan mendirikan gereja baru bernama &quot;Way of the Future&quot; (WOTF\/Jalan Masa Depan) ke pemerintah negara bagian California, Amerika Serikat (AS) pada Mei lalu. Lelaki yang ikut mengembangkan Google Street View (bagian dari Google Maps) ini juga mendaftar sebagai CEO dan Presiden WOTF. Dalam dokumen permohonan, Levandowski menjelaskan bahwa tujuannya adalah &quot;mengembangkan dan mempromosikan prinsip Ketuhanan berdasarkan AI.&quot; Maka, organisasinya juga ingin berpartisipasi dalam pembinaan masyarakat melalui AI demi memahami dan menyembah Tuhan. Itu sebabnya Levandowski juga menciptakan sebuah robot tuhan. Dalam wawancara selama tiga jam dengan Wired (15\/11), Levandowski menjelaskan bahwa robot tuhan akan memimpin agama barunya. Sementara pedoman umat akan menggunakan &quot;kitab&quot; bernama &quot;The Manual&quot;. Levandowski pun menjamin robotnya akan miliaran kali lebih pintar dari manusia. Bahkan robotnya akan punya kemampuan menangani berbagai masalah manusia untuk menunjukkan kekuasaannya. Ia percaya bahwa perubahan teknologi yang akan dibawa robot tuhan berbasis AI ini secara radikal bisa mengubah eksistensi manusia, lapangan kerja, agama (konvensional), ekonomi, dan bahkan memengaruhi kelangsungan hidup manusia. &quot;Pada masa depan, jika ada sesuatu yang jauh lebih pintar, akan terjadi transisi penguasa. Namun kami ingin transisi terjadi sedamai mungkin dan memastikan &#039;apapun&#039; itu tahu siapa pembantunya,&quot; katanya. Sepintas, ini sulit untuk dicerna otak dan logika. Apalagi Levandowski kemudian membutuhkan bantuan untuk membuat robot tuhan ini begitu sempurna. &quot;Saya ingin semua orang berpartisipasi. Bahkan jika Anda bukan pengembang perangkat lunak pun masih bisa membantu. Dengan begitu ini bisa mengantisipasi sindiran orang, &#039;Oh dia melakukannya untuk cari duit,&#039;&quot; imbuh Levandowski. Menurut Levandowski, meski robot tuhan, dia tetap sebuah robot yang perlu dikembangkan, Itu sebabnya ia membutuhkan bantuan. &quot;Jika Anda punya anak yang berbakat, bagaimana Anda membesarkannya? Kami sedang membesarkan tuhan,&quot; sergahnya. Upaya permohonan Levandoswki sejauh ini cukup berhasil. Agustus lalu, Dinas Pajak AS (IRS) sudah memberikan status bebas pajak kepada WOTF. Ini artinya Levandowski cukup serius. Di dunia AI, lelaki 37 tahun ini tak bisa dianggap remeh. Ia pernah mengembangkan mobil swakendali melalui proyek Waymo, divisi pengembangan mobil otomatis milik Google. Selepas meninggalkan Google, Levandowski mendirikan perusahaan Otto yang lagi-lagi untuk mengembangkan mobil swakemudi. Perusahaan itu kemudian diakuisisi Uber dan Levandowski dituduh menijplak teknologi Waymo. Setelah proyek mobilnya mentok, Levandowski beralih ke sektor agama --sebuah proyek yang cukup ambisius. Namun Elon Musk, investor maniak teknologi, skeptis pada proyek terbaru Levandowski. Bahkan Oktober lalu, Musk menyatakan seharusnya Levandowski dilarang mengembangkan kecerdasan digital nan super. Dilansir The Daily Mail, pengusaha asal Afrika Selatan ini pun memeringatkan bahwa AI perlu diatur lebih jelas. Antara lain AI dinilai mengancam eksistensi peradaban manusia. Dengan peraturan, kemanusiaan tidak akan bisa dikalahkan oleh komputer atau kecerdasan buatan yang bisa memicu perang dengan manipulasi informasi. Desakan agar AI diatur lebih lanjut juga pernah diajukan kepada PBB, terutama soal robot pembunuh. Ia mengatakan kecerdasan buatan lebih berbahaya dibanding Korea Utara.(lokadata)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin berkembang. Namun tak semuanya memudahkan kehidupan di muka bumi, ada pula yang membahayakan.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\" data-v-4f2a30b7=\"\">\n<div class=\"image-wrap position_center_small align_center mb-4\">\n<figure class=\"image\">\n<picture><source srcset=\"https:\/\/media.beritagar.id\/2017-11\/original_980\/754x566-shutterstock-628619717_1511378793.jpg\" media=\"(min-width: 768px)\" \/><source srcset=\"https:\/\/media.beritagar.id\/2017-11\/original_700\/754x566-shutterstock-628619717_1511378793.jpg\" media=\"(min-width: 480px)\" \/><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/media.beritagar.id\/2017-11\/original_350\/754x566-shutterstock-628619717_1511378793.jpg?ssl=1\" alt=\"Ilustrasi kecerdasan buatan\" \/><\/picture><figcaption class=\"image-info mt-2\"><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<p>Salah satu sisi buruk AI, seperti diungkapkan para pakar, adalah kemungkinan <i>singularity <\/i>atau AI lebih pintar dari manusia dan bahkan bisa mendominasi dunia.<\/p>\n<p>Lantas, jika AI mampu menciptakan agama, apakah itu bermanfaat atau justru mudarat bagi kehidupan dunia? Kebetulan mantan ahli komputer Google, Anthony Levandowski, berhasil menciptakan agama baru melalui AI.<\/p>\n<p>Levandowski, seperti dilansir <i>Christian Times<\/i>, Sabtu (18\/11\/2017), pun mengajukan permohonan mendirikan gereja baru bernama &#8220;Way of the Future&#8221; (WOTF\/Jalan Masa Depan) ke pemerintah negara bagian California, Amerika Serikat (AS) pada Mei lalu.<\/p>\n<p>Lelaki yang ikut mengembangkan Google Street View (bagian dari Google Maps) ini juga mendaftar sebagai CEO dan Presiden WOTF. Dalam dokumen permohonan, Levandowski menjelaskan bahwa tujuannya adalah &#8220;mengembangkan dan mempromosikan prinsip Ketuhanan berdasarkan AI.&#8221;<\/p>\n<p>Maka, organisasinya juga ingin berpartisipasi dalam pembinaan masyarakat melalui AI demi memahami dan menyembah Tuhan. Itu sebabnya Levandowski juga menciptakan sebuah robot tuhan.<\/p>\n<p>Dalam wawancara selama tiga jam dengan <i>Wired<\/i> (15\/11), Levandowski menjelaskan bahwa robot tuhan akan memimpin agama barunya. Sementara pedoman umat akan menggunakan &#8220;kitab&#8221; bernama &#8220;The Manual&#8221;.<\/p>\n<p>Levandowski pun menjamin robotnya akan miliaran kali lebih pintar dari manusia. Bahkan robotnya akan punya kemampuan menangani berbagai masalah manusia untuk menunjukkan kekuasaannya.<\/p>\n<p>Ia percaya bahwa perubahan teknologi yang akan dibawa robot tuhan berbasis AI ini secara radikal bisa mengubah eksistensi manusia, lapangan kerja, agama (konvensional), ekonomi, dan bahkan memengaruhi kelangsungan hidup manusia.<\/p>\n<p>&#8220;Pada masa depan, jika ada sesuatu yang jauh lebih pintar, akan terjadi transisi penguasa. Namun kami ingin transisi terjadi sedamai mungkin dan memastikan &#8216;apapun&#8217; itu tahu siapa pembantunya,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Sepintas, ini sulit untuk dicerna otak dan logika. Apalagi Levandowski kemudian membutuhkan bantuan untuk membuat robot tuhan ini begitu sempurna.<\/p>\n<p>&#8220;Saya ingin semua orang berpartisipasi. Bahkan jika Anda bukan pengembang perangkat lunak pun masih bisa membantu. Dengan begitu ini bisa mengantisipasi sindiran orang, &#8216;Oh dia melakukannya untuk cari duit,'&#8221; imbuh Levandowski.<\/p>\n<p>Menurut Levandowski, meski robot tuhan, dia tetap sebuah robot yang perlu dikembangkan, Itu sebabnya ia membutuhkan bantuan.<\/p>\n<p>&#8220;Jika Anda punya anak yang berbakat, bagaimana Anda membesarkannya? Kami sedang membesarkan tuhan,&#8221; sergahnya.<\/p>\n<p>Upaya permohonan Levandoswki sejauh ini cukup berhasil. Agustus lalu, Dinas Pajak AS (IRS) sudah memberikan status bebas pajak kepada WOTF.<\/p>\n<p>Ini artinya Levandowski cukup serius. Di dunia AI, lelaki 37 tahun ini tak bisa dianggap remeh. Ia pernah mengembangkan mobil swakendali melalui proyek Waymo, divisi pengembangan mobil otomatis milik Google.<\/p>\n<p>Selepas meninggalkan Google, Levandowski mendirikan perusahaan Otto yang lagi-lagi untuk mengembangkan mobil swakemudi. Perusahaan itu kemudian diakuisisi Uber dan Levandowski dituduh menijplak teknologi Waymo.<\/p>\n<p>Setelah proyek mobilnya mentok, Levandowski beralih ke sektor agama &#8211;sebuah proyek yang cukup ambisius. Namun Elon Musk, investor maniak teknologi, skeptis pada proyek terbaru Levandowski.<\/p>\n<p>Bahkan Oktober lalu, Musk menyatakan seharusnya Levandowski dilarang mengembangkan kecerdasan digital nan super. Dilansir <i>The Daily Mail<\/i>, pengusaha asal Afrika Selatan ini pun memeringatkan bahwa AI perlu diatur lebih jelas.<\/p>\n<p>Antara lain AI dinilai mengancam eksistensi peradaban manusia. Dengan peraturan, kemanusiaan tidak akan bisa dikalahkan oleh komputer atau kecerdasan buatan yang bisa memicu perang dengan manipulasi informasi.<\/p>\n<p>Desakan agar AI diatur lebih lanjut juga pernah diajukan kepada PBB, terutama soal robot pembunuh. Ia mengatakan kecerdasan buatan lebih berbahaya dibanding Korea Utara.(lokadata)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin berkembang. Namun tak semuanya memudahkan kehidupan di muka bumi, ada pula yang membahayakan. Salah satu sisi buruk AI, seperti diungkapkan para pakar, adalah kemungkinan singularity atau AI lebih pintar dari manusia dan bahkan bisa mendominasi dunia. Lantas, jika AI mampu menciptakan agama, apakah itu bermanfaat atau justru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46318,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-46317","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46318,"alt_text":"","caption":"","description":"f81a7e90721307df1145436efc125bb8","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kecerdasan-buatan-pun-menciptakan-tuhan-dan-agama-baru_5ee73553c60e2.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kecerdasan-buatan-pun-menciptakan-tuhan-dan-agama-baru_5ee73553c60e2.jpeg?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kecerdasan-buatan-pun-menciptakan-tuhan-dan-agama-baru_5ee73553c60e2.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/kecerdasan-buatan-pun-menciptakan-tuhan-dan-agama-baru_5ee73553c60e2.jpeg?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1296","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46317","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46317"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46317\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46318"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}