{"id":46320,"date":"2020-08-28T08:08:46","date_gmt":"2020-08-28T01:08:46","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46320"},"modified":"2020-08-25T09:19:29","modified_gmt":"2020-08-25T02:19:29","slug":"menilik-ramla-kota-tua-di-israel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/menilik-ramla-kota-tua-di-israel\/","title":{"rendered":"Menilik Ramla, kota tua di Israel"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Kota tua Ramla terletak di antara Jerusalem dan Tel Aviv. Tepatnya sekitar 25 kilometer di bagian tenggara Tel Aviv, Israel. Saat ini Ramla hanyalah sebuah kota kecil yang menjadi tempat tinggal warga keturunan Arab dan Israel. Padahal kota yang dibangun sekitar tahun 705 - 715 ini pernah menjadi kota yang penting dalam kebudayaan Islam. Jalan-jalan yang terdapat di kota ini pernah dikuasai oleh para raja dan kaisar terkenal di dunia. Mulai dari para khalifah Umayyah, Harun al-Rashid, Sultan Saladin, Raja Richard Berhati Singa, sampai Napoleon Bonaparte. Dibangun oleh pemerintahan Sulayman ibn Abd al-Malik dari kekhalifahan Umayyah, Ramla ditetapkan menjadi ibu kota Palestina. Selama berabad-abad, Ramla menjadi kota penting di Palestina. Lalu secara bergantian, kota yang sekarang terletak di dekat Bandara Ben Gurion ini, dikuasai oleh berbagai pihak, seperti pasukan Salib, kekhalifahan Ottoman, hingga akhirnya sekarang berada di bawah pemerintahan negara Israel. Pada masa kekuasaan kekhalifahan Umayyah, didirikan masjid-masjid besar, gedung-gedung pemerintahan, rumah mewah, taman-taman, mosaik dan mata air. Akan tetapi gempa besar yang terjadi abad ke 11 telah membuat semua itu hancur. &quot;Anda hampir tidak melihat apapun hari ini,&quot; kata Gideon Avni, kepala divisi arkeologi di Otoritas Kepurbakalaan Israel seperti yang dikutip dari BBC. Memang para wisatawan sudah tidak dapat lagi melihat jejak kejayaan Islam dengan jelas di kota ini. Namun ternyata masih ada beberapa tempat, di mana para wisatawan dapat menemukan jejak-jejak kejayaan Ramla. Kolam Busur atau Arch Pool yang dibangun pada tahun 789 ini merupakan semacam waduk yang terletak di bawah tanah. Disebut Kolam Busur karena langit-langit di dalamnya ditopang oleh sejumlah lengkungan runcing. Terdapat bukti-bukti peninggalan kejayaan Islam di sini. Misalnya saja ukiran kaligrafi berbahasa Arab, yang menunjukkan bahwa waduk ini dibangun atas perintah Harun al Rasyid, yang berkuasa di era keemasan Islam, ketika ekonomi, ilmu pengetahuan dan budaya demikian berkembang. Untuk memudahkan penelusuran sisa-sisa peradaban Islam yang tersembunyi di bawah tanah ini, pemerintah kota Ramla sudah menyiapkan dermaga kecil dan perahu yang dapat digunakan para wisatawan untuk berkeliling menjelajahi waduk yang sudah berusia 1.228 tahun. Biara Trappist Latrun atau Latrun Trappist Monastery yang terletak di dekat kota Jerusalem ini dikenal juga sebagai &quot;Monastery of Silence&quot;. Didirikan pada tahun 1890 oleh Ordo Trappist yang berasal dari Prancis. Para biarawan di sini telah bersumpah untuk diam, dan mereka menerapkan aturan yang sama kepada para pengunjung. Mereka meyakini bahwa kata-kata yang keluar dari mulut merupakan hal yang suci, dan seharusnya hanya digunakan untuk berdoa atau hanya untuk menyampaikan hal penting. White Tower yang sebenarnya merupakan menara White Mosque, salah satu masjid peninggalan Kekhalifahan Ummayah di Ramla. Didirikan pada tahun 720, masjid dan menaranya terbuat dari marmer. Gempa bumi yang terjadi pada tahun 1034 telah menghancurkan masjid, dan menyisakan menara yang dikenal sebagai White Tower. Masjid Al Umari atau The Great Mosque of Ramla yang dibangun pada abad ke 12 sebenarnya merupakan gereja bagi tentara Salib. Akan tetapi ketika pasukan tentara dari dinasti Mamluk dari Cairo berhasil menduduki Palestina pada tahun 1266, gereja tersebut diubah menjadi masjid dan mereka menambahkan menara azan.(lokadata)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Kota tua Ramla terletak di antara Jerusalem dan Tel Aviv. Tepatnya sekitar 25 kilometer di bagian tenggara Tel Aviv, Israel.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\" data-v-4f2a30b7=\"\">\n<p>Saat ini Ramla hanyalah sebuah kota kecil yang menjadi tempat tinggal warga keturunan Arab dan Israel. Padahal kota yang dibangun sekitar tahun 705 &#8211; 715 ini pernah menjadi kota yang penting dalam kebudayaan Islam.<\/p>\n<p>Jalan-jalan yang terdapat di kota ini pernah dikuasai oleh para raja dan kaisar terkenal di dunia. Mulai dari para khalifah Umayyah, Harun al-Rashid, Sultan Saladin, Raja Richard Berhati Singa, sampai Napoleon Bonaparte.<\/p>\n<p>Dibangun oleh pemerintahan Sulayman ibn Abd al-Malik dari kekhalifahan Umayyah, Ramla ditetapkan menjadi ibu kota Palestina. Selama berabad-abad, Ramla menjadi kota penting di Palestina.<\/p>\n<p>Lalu secara bergantian, kota yang sekarang terletak di dekat Bandara Ben Gurion ini, dikuasai oleh berbagai pihak, seperti pasukan Salib, kekhalifahan Ottoman, hingga akhirnya sekarang berada di bawah pemerintahan negara Israel.<\/p>\n<p>Pada masa kekuasaan kekhalifahan Umayyah, didirikan masjid-masjid besar, gedung-gedung pemerintahan, rumah mewah, taman-taman, mosaik dan mata air. Akan tetapi gempa besar yang terjadi abad ke 11 telah membuat semua itu hancur.<\/p>\n<p>&#8220;Anda hampir tidak melihat apapun hari ini,&#8221; kata Gideon Avni, kepala divisi arkeologi di Otoritas Kepurbakalaan Israel seperti yang dikutip dari<i> BBC<\/i>.<\/p>\n<p>Memang para wisatawan sudah tidak dapat lagi melihat jejak kejayaan Islam dengan jelas di kota ini. Namun ternyata masih ada beberapa tempat, di mana para wisatawan dapat menemukan jejak-jejak kejayaan Ramla.<\/p>\n<p>Kolam Busur atau Arch Pool yang dibangun pada tahun 789 ini merupakan semacam waduk yang terletak di bawah tanah. Disebut Kolam Busur karena langit-langit di dalamnya ditopang oleh sejumlah lengkungan runcing.<\/p>\n<p>Terdapat bukti-bukti peninggalan kejayaan Islam di sini. Misalnya saja ukiran kaligrafi berbahasa Arab, yang menunjukkan bahwa waduk ini dibangun atas perintah Harun al Rasyid, yang berkuasa di era keemasan Islam, ketika ekonomi, ilmu pengetahuan dan budaya demikian berkembang.<\/p>\n<p>Untuk memudahkan penelusuran sisa-sisa peradaban Islam yang tersembunyi di bawah tanah ini, pemerintah kota Ramla sudah menyiapkan dermaga kecil dan perahu yang dapat digunakan para wisatawan untuk berkeliling menjelajahi waduk yang sudah berusia 1.228 tahun.<\/p>\n<p>Biara Trappist Latrun atau Latrun Trappist Monastery yang terletak di dekat kota Jerusalem ini dikenal juga sebagai &#8220;Monastery of Silence&#8221;. Didirikan pada tahun 1890 oleh Ordo Trappist yang berasal dari Prancis.<\/p>\n<p>Para biarawan di sini telah bersumpah untuk diam, dan mereka menerapkan aturan yang sama kepada para pengunjung. Mereka meyakini bahwa kata-kata yang keluar dari mulut merupakan hal yang suci, dan seharusnya hanya digunakan untuk berdoa atau hanya untuk menyampaikan hal penting.<\/p>\n<p>White Tower yang sebenarnya merupakan menara White Mosque, salah satu masjid peninggalan Kekhalifahan Ummayah di Ramla. Didirikan pada tahun 720, masjid dan menaranya terbuat dari marmer. Gempa bumi yang terjadi pada tahun 1034 telah menghancurkan masjid, dan menyisakan menara yang dikenal sebagai White Tower.<\/p>\n<p>Masjid Al Umari atau The Great Mosque of Ramla yang dibangun pada abad ke 12 sebenarnya merupakan gereja bagi tentara Salib. Akan tetapi ketika pasukan tentara dari dinasti Mamluk dari Cairo berhasil menduduki Palestina pada tahun 1266, gereja tersebut diubah menjadi masjid dan mereka menambahkan menara azan.(lokadata)<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Kota tua Ramla terletak di antara Jerusalem dan Tel Aviv. Tepatnya sekitar 25 kilometer di bagian tenggara Tel Aviv, Israel. Saat ini Ramla hanyalah sebuah kota kecil yang menjadi tempat tinggal warga keturunan Arab dan Israel. Padahal kota yang dibangun sekitar tahun 705 &#8211; 715 ini pernah menjadi kota yang penting dalam kebudayaan Islam. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46321,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"0","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22,109,3],"tags":[],"class_list":["post-46320","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-site","category-umum"],"better_featured_image":{"id":46321,"alt_text":"","caption":"","description":"891f43eae3c60054aac2c11fd65f8325","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/menilik-ramla-kota-tua-di-israel_5ee75a5e41204.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/menilik-ramla-kota-tua-di-israel_5ee75a5e41204.jpeg?fit=640%2C360&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/menilik-ramla-kota-tua-di-israel_5ee75a5e41204.jpeg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/menilik-ramla-kota-tua-di-israel_5ee75a5e41204.jpeg?fit=640%2C360&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1273","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46320","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46320"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46320\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46321"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46320"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46320"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46320"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}