{"id":46340,"date":"2020-06-18T08:02:40","date_gmt":"2020-06-18T01:02:40","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=46340"},"modified":"2020-06-17T12:08:49","modified_gmt":"2020-06-17T05:08:49","slug":"jangan-lagi-bocor-mulut-amsal-201-30","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/jangan-lagi-bocor-mulut-amsal-201-30\/","title":{"rendered":"JANGAN LAGI BOCOR MULUT!( Amsal 20:1-30)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -\\\"Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut.\\\"\u00a0 Amsal 20:19 Adalah fakta yang tak terelakkan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan suka membicarakan orang lain alias bergosip, entah itu membicarakan kelebihan atau kekurangannya\u00a0 (negatif atau positif).\u00a0 Tapi umumnya, yang namanya gosip selalu berkonotasi negatif yaitu membicarakan keburukan, kelemahan, kekurangan atau aib orang lain.\u00a0 Biasanya kalau orang membicarakan kelemahan\/kekurangan seseorang, ia tidak akan pernah kehabisan bahan, karena selalu ada saja bumbu-bumbu yang ditambahkan.\u00a0 Orang yang suka sekali menggosip bisa dikategorikan sebagai orang yang bocor mulut, karena tak pernah bisa menahan diri untuk membicarakan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari aktivitas menggosip ini biasanya disukai oleh para wanita, emak-emak atau para ibu rumah tangga;\u00a0 mereka menganggap bahwa menggosip adalah salah satu kegiatan yang mengasyikkan di kala senggang, tapi lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan.\u00a0 Orang yang suka menggosip disebut penggosip, yaitu orang yang mempunyai kebiasaan menceritakan sensasi atau membicarakan orang lain disertai bumbu-tumbu tambahan supaya semakin sedap didengar, entah itu beritanya benar atau tidak, biasanya bersumber dan meyebar dari mulut ke mulut.\u00a0 Berhati-hatilah!\u00a0 Menggosip adalah masalah yang sangat serius di hadapan Tuhan dan merupakan perkataan sia-sia yang sangat berbahaya, karena bisa berdampak buruk bagi orang yang diperbincangkan atau pun si penyebar gosip itu sendiri.\u00a0 Gosip yang negatif dapat menimbulkan fitnah, pertengkaran, merusak persahabatan\/pertemanan\/persaudaraan, karena\u00a0 \\\"...siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.\\\"\u00a0 (Amsal 17:9). Setiap perkataan sia-sia yang keluar dari mulut kita\u00a0 (salah satunya gosip), akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan:\u00a0 \\\"Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.\\\"\u00a0 (Matius 12:37).\u00a0 Berhentilah menggosip atau membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain!\u00a0 Jangan sampai menjadi senjata makan tuan:\u00a0 kita menuai akibat perbuatan kita, karena kita bocor mulut. \\\"Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.\\\"\u00a0 Amsal 10:19 (airhidup)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;<i>&#8220;Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut.&#8221;<\/i>\u00a0 Amsal 20:19<\/p>\n<div id=\"post-body-5529667864370614697\" class=\"post-body entry-content\">\n<div style=\"text-align: justify;\">Adalah fakta yang tak terelakkan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan suka membicarakan orang lain alias bergosip, entah itu membicarakan kelebihan atau kekurangannya\u00a0 (negatif atau positif).\u00a0 Tapi umumnya, yang namanya gosip selalu berkonotasi negatif yaitu membicarakan keburukan, kelemahan, kekurangan atau aib orang lain.\u00a0 Biasanya kalau orang membicarakan kelemahan\/kekurangan seseorang, ia tidak akan pernah kehabisan bahan, karena selalu ada saja bumbu-bumbu yang ditambahkan.\u00a0 Orang yang suka sekali menggosip bisa dikategorikan sebagai orang yang bocor mulut, karena tak pernah bisa menahan diri untuk membicarakan orang lain.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam kehidupan sehari-hari aktivitas menggosip ini biasanya disukai oleh para wanita, emak-emak atau para ibu rumah tangga;\u00a0 mereka menganggap bahwa menggosip adalah salah satu kegiatan yang mengasyikkan di kala senggang, tapi lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan.\u00a0 Orang yang suka menggosip disebut penggosip, yaitu orang yang mempunyai kebiasaan menceritakan sensasi atau membicarakan orang lain disertai bumbu-tumbu tambahan supaya semakin sedap didengar, entah itu beritanya benar atau tidak, biasanya bersumber dan meyebar dari mulut ke mulut.\u00a0 Berhati-hatilah!\u00a0 Menggosip adalah masalah yang sangat serius di hadapan Tuhan dan merupakan perkataan sia-sia yang sangat berbahaya, karena bisa berdampak buruk bagi orang yang diperbincangkan atau pun si penyebar gosip itu sendiri.\u00a0 Gosip yang negatif dapat menimbulkan fitnah, pertengkaran, merusak persahabatan\/pertemanan\/persaudaraan, karena\u00a0 <i>&#8220;&#8230;siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.&#8221;<\/i>\u00a0 (Amsal 17:9).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Setiap perkataan sia-sia yang keluar dari mulut kita\u00a0 (salah satunya gosip), akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan:\u00a0 <i>&#8220;<\/i><span id=\"r\"><i>Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.&#8221;<\/i>\u00a0 (Matius 12:37).\u00a0 Berhentilah menggosip atau membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain!\u00a0 Jangan sampai menjadi senjata makan tuan:\u00a0 kita menuai akibat perbuatan kita, karena kita bocor mulut.<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>&#8220;Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.&#8221;\u00a0 Amsal 10:19<\/b><\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div>(airhidup)<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;&#8220;Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut.&#8221;\u00a0 Amsal 20:19 Adalah fakta yang tak terelakkan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan suka membicarakan orang lain alias bergosip, entah itu membicarakan kelebihan atau kekurangannya\u00a0 (negatif atau positif).\u00a0 Tapi umumnya, yang namanya gosip selalu berkonotasi negatif yaitu membicarakan keburukan, kelemahan, kekurangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46342,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"single_blog_custom":"","parallax":"0","fullscreen":"0","sidebar":"","second_sidebar":"","sticky_sidebar":"0","share_position":"","share_float_style":"","show_share_counter":"0","show_view_counter":"0","show_featured":"0","show_post_meta":"0","show_post_author":"0","show_post_author_image":"0","show_post_date":"0","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"0","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post":"0","trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"78"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[78],"tags":[],"class_list":["post-46340","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":46342,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ssst.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ssst.jpg?fit=300%2C168&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ssst.jpg"},"categories_detail":[{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/ssst.jpg?fit=300%2C168&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2722","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46340"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46340\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46342"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}